LOGINSuasana kamar VVIP rumah sakit terasa jauh lebih hidup pada pagi menjelang siang itu. Seorang dokter spesialis berjas putih tampak berdiri di sisi ranjang sambil merapikan papan catatan medis, sementara di sebelahnya, Zea duduk bersandar dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya."Hasil pemeriksaan laboratorium terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa, Nyonya Zea," ucap sang dokter ramah sambil tersenyum lebar. "Luka di tubuh Anda sudah menutup sempurna, kondisi fisik Anda pulih jauh lebih cepat dari perkiraan medis, dan sistem imun Anda sudah stabil kembali. Secara keseluruhan, Anda sudah dinyatakan sehat dan boleh pulang hari ini."Mendengar pengumuman itu, mata Zea langsung berbinar terang. Ia menepuk kedua tangannya pelan, menunjukkan ekspresi gembira yang tidak bisa disembunyikan."Yeay! Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan berbau obat ini," seru Zea antusias sambil menatap suaminya. "Dengar itu, Daren? Aku sudah boleh pulang!"Namun, reaksi yang ditunjukkan
Zea mengerjap beberapa kali, melepaskan tawa kecil renyah yang terdengar hambar di tengah sunyinya ruangan VVIP. Kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah mata hitam suaminya yang masih menatapnya tanpa kedip."Kau kenapa mendadak membahas soal anak, Daren?" tanya Zea di sela kekeuhannya, mencoba mencairkan atmosfer tegang yang tiba-tiba mengurung mereka. "Kita bahkan baru saja keluar dari mimpi buruk di ruang isolasi, dan sekarang otak pintarmu malah melompat jauh ke urusan popok bayi."Daren sama sekali tidak ikut tersenyum. Sudut bibirnya tidak bergerak sedikit pun. Sorot matanya justru semakin dalam, menghujam manik mata Zea dengan intensitas yang membuat tawa di bibir wanita itu perlahan surut."Aku tidak sedang bercanda, Zea," ucap Daren dengan suara bariton yang terdengar begitu serius. "Aku bertanya dengan sungguh-sungguh."Melihat keseriusan yang kelewat batas itu, Zea merengutkan dahi. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh, meski sebelah tangan Daren langsung melingkar kenc
Udara di koridor sayap barat rumah sakit mendadak terasa jauh lebih berat setelah Daren menjabarkan seluruh penjelasan Dokter Aris. William Elvano terhenyak di tempatnya berdiri, kedua tangannya yang semula terlipat di dada perlahan terkulai lemas ke sisi tubuh. Pria paruh baya itu mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna rentetan kalimat penuh syarat biologis yang baru saja dilontarkan oleh putra sulungnya."Tunggu sebentar," gerak bibir William bergetar tipis, menatap lurus ke arah Daren dengan kening berkerut dalam. "Jadi kau bilang, jalan satu-satunya untuk mengakhiri mimpi buruk wabah ini adalah dengan melibatkan keturunan langsung di dalam rahim Zea?""Itu kesimpulan kasarnya, Pa," jawab Daren dengan nada suara rendah, rahangnya mengetat kaku membentuk garis tegas. "Aris tidak punya pilihan lain. Konsentrat antibodi murni di dalam tubuh Zea hanya bisa terikat dan berlipat ganda secara masif melalui jaringan plasenta saat proses kehamilan terjadi."Ethan, yang berdiri di samp
Matahari pagi menembus tirai tipis ruang perawatan VVIP rumah sakit. Suasana di dalam kamar jauh lebih hangat dan luas dibandingkan ruang steril sebelumnya. Zea perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menyambutnya.Namun, baru saja ia hendak menggerakkan tubuhnya untuk duduk, sebuah lengan kekar sudah melingkar erat di pinggangnya, menahannya bergerak."Mau ke mana, hm?" suara serak khas bangun tidur milik Daren terdengar tepat di samping telinganya. Pria itu menempel sangat rapat di atas brankar yang cukup luas, menjadikan dadanya sendiri sebagai tempat bersandar bagi Zea.Zea menoleh dengan wajah cemberut. "Daren, aku cuma mau duduk. Pegal sekali tiduran terus dari semalam.""Tidak boleh," potong Daren cepat tanpa kompromi. "Dokter bilang kau belum boleh banyak bergerak. Biar aku perbaiki posisi bantalmu."Dengan sigap Daren mengatur posisi sandaran brankar agar Zea bisa menyandar nyaman, namun tangannya sama sekali tid
Lampu meja laboratorium utama menyala terang, memecah kesepakatan sunyi di gedung riset sayap barat. Di hadapan meja kerjanya yang dipenuhi tabung reaksi dan layar monitor mikroskop, Dr. Aris berdiri dengan napas memburu namun sorot mata berbinar penuh kemenangan. Ia memegang sebuah tabung suntik kecil berisi cairan bening berkonsentrasi pekat, hasil ekstraksi sempurna dari sampel yang ia ambil secara diam-diam dari tubuh Zea beberapa jam lalu."Akhirnya..." bisik Dr. Aris pada dirinya sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan ambisi besar. "Antibodi murni dengan konsentrat setinggi ini... Ini sungguh penemuan yang luar biasa di luar batas akal manusia."Tanpa membuang waktu, Dr. Aris mengangkat jarum suntik tersebut ke udara, mengarahkannya perlahan ke lengan kirinya sendiri. Ia tampak ingin membuktikan efektivitas cairan itu secara langsung pada tubuhnya yang sudah terpapar sisa patogen ringan di laboratorium.Namun, sebelum jarum itu menembus kuli
Malam berangsur larut dan menyelimuti kawasan rumah sakit dengan keheningan. Lampu utama di dalam ruangan sudah diredupkan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan dan cahaya hijau stabil dari monitor tanda vital. Di atas brankar, Zea berbaring dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Sifat manjanya yang selama ini tersembunyi rapat di balik gengsi tinggi kini mendadak keluar begitu saja, memanfaatkan sepenuhnya rasa bersalah dan bucin tingkat akut yang sedang melanda sang suami.Daren duduk di kursi tepat di samping brankar tanpa sedikit pun berniat pindah. Pria berdarah dingin itu kini menjelma menjadi pelayan pribadi paling siaga di dunia, memegang piring kecil berisi potongan buah apel segar yang sudah dikupas bersih."Daren, potongannya jangan terlalu besar. Susah kuunyah," protes Zea sambil mengerucutkan bibirnya kesal, menatap piring di tangan suaminya dengan sebelah mata menyipit.Daren tersenyum sabar, sama sekali tidak merasa terganggu atau kehilangan







