Beranda / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 8 # Larangan Aneh

Share

Bab 8 # Larangan Aneh

Penulis: Pelangi Jelita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 16:00:51
“JANGAN MEMBELA.”

Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?”

“Iya, Pak.”

“Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!”

Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...”

“WAKTU?!”

Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras.

“Kamu pikir perusahaan ini mainan?!”

Inara tercekat.

“Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.”

“Ekspresi kamu bilang.”

Hening.

Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun.

“Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.”

Kalimat itu jatuh seperti bom kecil.

Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh.

Nizam menatap Inara lama.

“Kamu mengajari saya cara memimpin?”

“Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.”

Hening makin menekan.

“Keluar.”

Suara Nizam rendah. Dingin.

“Sekarang.”

Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.”

Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang.

“Bos…”

“JANGAN B
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos Galak, I Love U   Bab 11 # Tindakan Nekat Bella

    Malam itu, Nizam tidak langsung pulang. Ia duduk lama di kursi belakang mobil, menatap keluar jendela tanpa fokus. Lampu-lampu jalanan berpendar seperti bayangan yang tak bisa ia sentuh. Dadanya sesak, perasaan yang ia benci, yang tak pernah ia beri izin untuk tinggal. “Riza,” ucapnya akhirnya, suaranya datar tapi berat. “Iya, Bos?” “Antar saya ke rumah Inara.” Riza menoleh cepat. “Sekarang, Bos?” “Sekarang.” Mobil berbelok. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Riza terlalu mengenal bosnya untuk berdebat. Begitu mobil berhenti di depan rumah Inara, Nizam langsung menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras. Sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman. Bukan mobil Inara. Bukan pula mobil kantor. Nizam menatapnya lama, seolah berharap mobil itu lenyap jika ia cukup lama menatap. N

  • Bos Galak, I Love U   Bab 10 # Yang Terucap

    Ruangan itu mendadak terasa sempit. Nizam berdiri kaku di dekat pintu, sementara Inara masih berdiri beberapa langkah dari papanya. Wajahnya jelas menyimpan keterkejutan bukan hanya karena pertemuan tak terduga, tapi karena situasi yang terasa… janggal. “Inara,” ulang Gunawan dengan suara hangat. “Silakan duduk.” Inara menoleh sekilas ke arah Nizam, lalu menurut. “Papa kenal Inara dari mana?” tanya Nizam akhirnya, berusaha terdengar biasa. Gunawan menyesap kopinya dengan santai. “Kemarin di mall.” Nizam mengernyit. “Mall?” Gunawan mengangguk. “Papa kecopetan. Jatuh dan karyawanmu ini yang menolong.” Inara langsung menunduk. “Kebetulan saja, Pak.” “Kebetulan yang sangat berarti,” jawab Gunawan cepat. “Bahkan membayarkan belanjaan Papa lima juta lebih.” Niz

  • Bos Galak, I Love U   Bab 9 # Makin Galak

    Di lantai dua puluh lima Niaga Perkasa, suasana kantor masih terasa tegang meski jam kerja hampir usai. Beberapa karyawan memilih bertahan di depan layar, berpura-pura sibuk, hanya agar tak perlu berpapasan langsung dengan sang bos galak yang sejak pagi seperti kehilangan rem. Di ruangannya, Nizam Respati Anwar berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan Inara bersama pria itu terus terulang di kepalanya. Cara Inara tersenyum, cara pria itu menunduk sedikit saat berbicara, cara mereka berjalan berdampingan terlihat cocok. Nizam mengembuskan napas keras. Kenapa aku peduli? Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya dingin. Bella melangkah masuk, mengenakan gaun kerja elegan. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. “Belum pulang zam?” tanyanya lembut.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 8 # Larangan Aneh

    “JANGAN MEMBELA.” Nada Nizam meninggi. “Kamu lulusan luar negeri, kan?” “Iya, Pak.” “Harusnya kamu tahu, angka sekecil ini bisa berdampak besar!” Inara mencoba tenang. “Kalau Bapak beri saya waktu ...” “WAKTU?!” Nizam berdiri. Kursinya bergeser keras. “Kamu pikir perusahaan ini mainan?!” Inara tercekat. “Saya tidak pernah bilang begitu, Pak.” “Ekspresi kamu bilang.” Hening. Inara menggenggam jemarinya. Dadanya naik turun. “Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada kesalahan, saya siap diperbaiki. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan teriakan.” Kalimat itu jatuh seperti bom kecil. Riza yang berdiri di sudut ruangan refleks menoleh. Nizam menatap Inara lama. “Kamu mengajari saya cara memimpin?” “Tidak,” jawab Inara lirih. “Saya hanya ingin bekerja dengan sehat.” Hening makin menekan. “Keluar.” Suara Nizam rendah. Dingin. “Sekarang.” Inara menunduk singkat. “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Riza menghela napas panjang. “Bos…” “JANGAN B

  • Bos Galak, I Love U   Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

    HAH?!” “Turki loh, Inara!” “Pak bos ke mana?” “Lagi jalan sama Mbak Bella.” “Yah… nggak seru dong.” Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.” “Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.” Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon. “Nana?” “Iya, Mas.” “Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?” “Aku flu Mas” “Kamu di mana?” “Di Turki.” Hening. “…Turki?” “Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.” “Kamu ke Turki bareng bos?” “Iya.” Inara bersin. “Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat. Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit. “Kamu demam flu,” katanya tegas. “Kelihatan banget ya?” “Kamu pucat.” “Cuma flu Mas.” “Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.” Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.” “Kamu dari dulu gitu.” “Mas ngapain n

  • Bos Galak, I Love U   Bab 6 # Yang Tak Terucapkan

    “Zam… itu bukankah Inara?” Nizam menoleh. Diam. Di sudut kafe, Inara duduk santai. Hoodie dilepas, rambutnya digerai. Ia tertawa lepas bersama dua pria dan satu wanita lokal. Bahasa Turki dan Inggris bercampur, terdengar akrab. “Dia kelihatan enjoy dan nyaman,” Bella berkomentar pelan. Nizam tidak menjawab, Bella melangkah lebih dulu. “Inara?” Inara menoleh. “Oh… Pak Nizam. Mbak Bella.” Ia berdiri refleks. “Kamu di sini?” tanya Bella, senyumnya tipis. “Iya. Ketemu teman lama,” jawab Inara santai. Nizam akhirnya bicara. “Kamu bilang tadi sedang di luar.” “Iya, Pak. Ini maksudnya,” jawab Inara jujur, tanpa nada defensif. Bella menoleh ke teman-teman Inara. “Teman kuliah?” “Teman magang dulu,” salah satu pria Turki menyahut ramah. “Oh,” Bella mengangguk. “Pantas kelihatan akrab.” Hening sebentar. Nizam berdehem. “Kamu tidak ikut jalan hari ini.” Inara tersenyum kecil. “Bapak kelihatan sibuk. Saya tidak enak.” “Itu bukan maksud saya,” suara Niz

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status