Home / Romansa / Bos Galak, I Love U / Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

Share

Bab 7 # Kembali ke Setelah Awal

last update Last Updated: 2026-01-07 16:00:33

HAH?!”

“Turki loh, Inara!”

“Pak bos ke mana?”

“Lagi jalan sama Mbak Bella.”

“Yah… nggak seru dong.”

Inara mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Anggap aja istirahat pindah tempat.”

“Dasar kamu,” kata Bunga. “Masih saja mencoba menghibur hati.”

Inara tersenyum. Panggilan ditutup. Baru saja ponsel ditaruh, layar menyala lagi. Radit menelepon.

“Nana?”

“Iya, Mas.”

“Loh ... kenapa dengan suara kamu terdengar sengau?”

“Aku flu Mas”

“Kamu di mana?”

“Di Turki.”

Hening.

“…Turki?”

“Iya, Mas. Dapet doorprize dari kantor. Liburan bareng bos.”

“Kamu ke Turki bareng bos?”

“Iya.”

Inara bersin.

“Matikan dulu. Aku video call,” kata Radit cepat.

Panggilan terputus, lalu muncul video call Radit. Begitu wajah Inara muncul di layar, Radit mengernyit.

“Kamu demam flu,” katanya tegas.

“Kelihatan banget ya?”

“Kamu pucat.”

“Cuma flu Mas.”

“Kamu pasti kebanyakan permen sama es krim.”

Inara tertawa kecil. “Mas selalu tau.”

“Kamu dari dulu gitu.”

“Mas ngapain nelpon?”

Radit terdiam sebentar.

“Ya Kangenlah, ngajak ketemuan susahnya minta ampun, maksud Mas sebelum sibuk lagi. ngurus kerjaan di Surabaya.”

Inara tercekat.

"Emang belum sempat Mas, nanti kalau free pasti juga Nana kasih kabar"

“Ya sudah. liat kamu kayak gini, rasa rasanya Mas pengen samperin kamu...tapi jauh ” lanjut Radit.

“Ya sudah , Istirahat ya. Jangan bandel.”

“Iya, Mas.”

“Cepat sembuh.”

Panggilan ditutup. Inara memejamkan mata. hatinya mencelos tak tau bagaimana menyikapinya.

Tiba tiba kenangan itu datang tanpa izin.

**

Flashback kala masih putih abu abu

“Mas Radit…”

“Iya, Na?”

“Kalau Nana pergi, Mas nyari aku nggak?”

Radit tertawa waktu itu. “Emang kamu mau ke mana hmmm?”

“Cuma nanya.”

“Kamu kan selalu ada di deket Mas, gimana sih.”

Kalimat itu dulu terdengar manis., tapi sekarang terasa perih.

Radit adalah cinta pertama Inara, diam-diam, dalam dan sepihak.

Radit yang selalu menjemputnya, yang paham mood-nya dan selalu tau ia suka permen, es krim, dan jalan sore.

Namun Radit juga yang memperkenalkan kekasih, teman satu kampusnya.

“Nana, kenalin pacarku.”

Sejak hari itu, senyum Inara selalu setengah. Ia menjauh perlahan. Radit masih terus mendekat dan memberi perhatian lebih yang ternyata makin membuatnya tersiksa.

“Nana, sudah makan belum?”

“Nana, Mas jemput, kita pulang bareng ya.”

“Nana, kamu kenapa. kok diemin Mas terus, ada apa Na?”

Semua perhatian itu makin menyiksa, hingga akhirnya Inara memilih pergi, Australia tujuannya, bukan untuk mimpi tapi untuk menyelamatkan perasaannya.

Sementara itu, Radit berdiri terpaku saat mendengar kabar itu dari neneknya Inara.

“Dit, Inara ambil kuliah ke Australia.”

“Apa, Nana nggak pernah cerita mau melanjutkan study ke luar negeri, apalagi Australia, itu jauh Nek?”

“Iya tapi itu keinginan Nana, papanya sudah setuju.”

Radit kehilangan arah sejak Inara pergi. kebiasaan yang sering ia habiskan bersama Nana cuma bisa ia kenang setiap harinya. ia rindu berjalan bersama, menjahili, keliling cari makanan unik, dan masih banyak lagi.

Ia memiliki kekasih, tapi hatinya kosong. Baru saat Inara pergi, ia sadar : yang ia cari selama ini ternyata orang yang selalu di sampingnya menemaninya, baru terasa setelah ia tidak ada lagi di sisinya.

Ia hampir gila karena rindu, Ingin menyusul, tapi terlambat.

**

Sore itu, Nizam kembali ke hotel. Langkahnya langsung berhenti di depan kamar Inara. Ia ragu, lalu mengetuk, tapi tak ada jawaban. Ia membuka ponsel, menulis pesan, lalu menghapusnya.

Di dalam kamar, Inara tertidur.

Di dua tempat berbeda, dua pria memikirkan perempuan yang sama, dengan perasaan yang tak pernah sederhana.

**

Sepekan berlalu, mereka sudah pulang dari Turki.

Tak ada yang berubah, lebih tepatnya semuanya kembali ke setelan awal. Begitu kaki Nizam menginjakkan diri di kantor pusat Niaga Perkasa, udara seolah ikut menegang.

Wajah dingin, langkah cepat, suara tegas, bos galak itu kembali. Seakan perjalanan ke Turki hanyalah jeda singkat yang tak pernah benar-benar ada.

Bahkan sebelum jam sepuluh pagi, suara Nizam sudah terdengar empat kali. Empat kali semuanya terdengar sampai ke divisi keuangan.

“Pak Agung! Ini laporan apa?!”

“Kamu pikir angka bisa dikarang?!”

“Jangan asal tanda tangan!”

“Kalau nggak siap kerja, keluar saja!”

Inara mengusap dadanya pelan.

Tarikan napasnya panjang.

“Ya Allah… ini orang jantungnya kuat amat,” gumamnya.

Bunga yang duduk di sebelahnya menoleh. “Baru jam sembilan lewat, Nar.”

“Makanya.”

Belum sempat suasana mereda, Riza masuk ke divisi keuangan dengan wajah serius.

“Pak Nizam minta salah satu dari divisi ini menghadap sekarang.”

Sunyi, tak ada satu pun yang bergerak. Pak Agung tidak ada, sedang keluar ke bank. Staf lain menunduk, pura-pura sibuk dengan layar komputer.

Riza mengedarkan pandangan. “Siapa?”

Tak ada jawaban.

Inara menarik napas, berdiri pelan. “Saya saja, Bang.”

Riza mengangguk singkat. “Hati-hati.”

Inara hanya tersenyum tipis. Dalam hati : harus siap mental.

Begitu pintu ruangan CEO terbuka ...

“PAK AGUNG DI MANA?!”

Suara Nizam menggelegar bahkan sebelum Inara duduk.

Inara refleks berdiri lebih tegak. “Pak Agung sedang ke bank, Pak.”

“Kenapa kamu yang datang?”

“Karena saya yang ada, Pak.”

Nizam menatapnya tajam. “Kamu tahu laporan minggu ini?”

“Tahu.”

“Jelaskan.”

Belum sempat menarik napas, Inara langsung memaparkan. Angka, alur, konsep laporan baru, semuanya keluar dengan rapi. Nada suaranya tenang, jelas, tidak terbata.

Nizam menyela. “Kenapa pos ini berubah?”

“Karena kami sederhanakan, Pak. Biar audit lebih cepat.”

“Siapa yang usul?”

“Saya.”

Nizam menatapnya lama.

“Risikonya?”

“Lebih minim manipulasi, Pak.”

Sunyi. Beberapa detik berlalu. Nizam mengetuk meja sekali.

“Sudah. Kamu keluar.”

Inara terdiam. “Baik, Pak.”

“Kalau Pak Agung sudah datang, suruh menghadap saya. Sekarang.”

“Baik.”

Begitu pintu tertutup, Inara menghela napas panjang.

“Songong banget,” gumamnya.

Masuk ke ruangan divisi, wajah Inara masam total.

Bunga berbisik, “Kena semprot ya?”

“Disemprot tanpa air.”

Beberapa tertawa kecil.

Satu jam kemudian, Pak Agung akhirnya tiba. Inara menyampaikan pesan. Tak lama, teriakan itu terdengar lagi.

“PAK AGUNG! SAYA SUDAH BILANG...”

Inara kembali mengusap dada.

“Lama-lama stroke nih bos galak,” gerutunya.

Yang lain terkikik.

Dua puluh menit kemudian, Pak Agung keluar dari ruangan Nizam sambil… mengusap dada.

“Untuk jantung saya masih kuat,” katanya datar.

Semua tertawa.

“Jam satu kita rapat. Ada hal penting,” lanjut Pak Agung.

Rapat internal divisi keuangan berlangsung panas tapi produktif.

“Konsep Inara ini masuk akal,” kata salah satu staf senior.

“Lebih ringkas.”

“Audit jadi cepat.”

Pak Agung mengangguk. “Saya setuju.”

Akhirnya diputuskan : konsep laporan sederhana milik Inara akan dipakai.

Saat rapat selesai, Inara melangkah ke luar hendak ke toilet, lamun langkahnya terhenti. Suara itu lagi.

“KALIAN NGAPAIN DI KORIDOR?!”

Dua karyawan tercekat.

“Pacaran?!”

Nizam berdiri dengan wajah dingin.

“Ini kantor, bukan tempat maksiat. Di sini cari rezeki halal. Kalau mau senang-senang, ke hotel!”

Dua karyawan itu pucat. Inara yang berdiri tak jauh ikut terdiam, lalu ...

“Eh, kamu,” suara Nizam mengarah padanya.

Inara menoleh.

“Kamu kenapa di sini?”

“…mau ke toilet, Pak.”

Nizam menatap tajam. “Minat juga kayak mereka?”

Jeduk.

Rasanya ada yang jatuh di kepala Inara.

"Ya ampun… mulut ini bos mau dikuncir apa gimana sih."

Inara menahan diri sekuat tenaga, senyum profesional dipaksakan.

“Tidak, Pak.”

“Bagus.”

Nizam berlalu begitu saja, Inara menutup mata sebentar dan kembali ke ruangannya.

“Kalau aku nggak butuh kerjaan…,” gumamnya lirih.

Bunga menghampiri. “Sabar, Inara.”

Inara tersenyum tipis.

“Sabar itu ada batasnya.”

Di balik sikap galak itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terlalu sering mencari satu nama Inara Prameswari selalu jadi perhatiannya.

**

Hari itu, Niaga Perkasa seperti berdiri di bawah awan hitam. Bukan karena cuaca, tapi karena Nizam Respati Anwar.

Sejak pagi, aura dinginnya lebih menusuk dari biasanya. Langkahnya cepat, rahang mengeras, dan nada bicaranya jauh dari kata ramah.

Riza yang sudah tahunan mengenalnya saja memilih diam, mengurangi komentar, dan menyiapkan mental.

“Pak… jadwal hari ini...”

“BATALKAN YANG TIDAK PENTING.”

Riza menelan ludah. “Baik, Pak.”

Di divisi keuangan, Inara baru saja duduk ketika pesan masuk dari grup internal.

"Pak Nizam marah besar."

Ia menutup ponsel pelan.

“Kenapa lagi?” tanya Bunga.

Inara mengangkat bahu. “Kalau bos galak, itu default.”

Namun kali ini rasanya berbeda. Belum sepuluh menit, telepon meja berdering.

“Divisi keuangan. Inara menghadap sekarang.”

Inara memejamkan mata sesaat.

"Ya Allah, lagi....?????."

Begitu pintu ruangan Nizam terbuka.

“MASUK!”

Nada suaranya keras, membuat Inara refleks berdiri tegak.

“Kamu.”

“Iya, Pak.”

“Kamu tahu kenapa saya panggil?”

Inara menggeleng. “Belum, Pak.”

Nizam mendorong setumpuk berkas ke arahnya.

“Ini.”

Inara melirik cepat. “Laporan proyeksi Q3, Pak.”

“Menurut kamu ini layak?”

Inara menelan napas. “Secara data, iya. Tapi memang masih bisa ...”

“JANGAN MEMBELA DIRI.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos Galak, I Love U   Bab 55 # Di luar dugaan

    Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc

  • Bos Galak, I Love U   Bab 54 # Banyak hal yang terjadi

    Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam

  • Bos Galak, I Love U   Bab 53 # Kunjungan

    Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh

  • Bos Galak, I Love U   Bab 52 # Ngambeg

    Suasana meja pertemuan kembali mencair setelah kalimat tegas Nizam menggantung di udara. “Dia calon istriku.” Beberapa detik sunyi sempat tercipta, sebelum akhirnya tawa dan candaan pecah bersahut-sahutan.Inara yang sempat membelalak kini berusaha mengendalikan ekspresinya. Ia menarik napas pelan, lalu memasang senyum profesional. Untungnya, ia bukan orang baru di lingkungan mitra Niaga Perkasa. Beberapa wajah di meja itu sudah sering ia temui di kantor pusat Jakarta. Ia pernah presentasi di hadapan mereka, pernah berdiskusi soal strategi keuangan dan pemasaran, bahkan ikut dalam rapat-rapat penting. “Inara kan yang pegang keuangan marketing regional, ya?” sapa salah satu mitra. “Iya, Pak,” jawabnya ramah. Obrolan pun mengalir santai. Inara cepat berbaur. Ia berbincang ringan tentang perkembangan pasar, membahas peluang distribusi di Jawa Tengah, hingga menanggapi cand

  • Bos Galak, I Love U   Bab. 51 # Kecemburuan

    Di Semarang, suasana rumah tua milik keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Angin sore berembus pelan melewati halaman luas dengan pohon-pohon rindang yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh. Nizam baru saja menutup telepon dari Akbar. Kabar tentang kecelakaan Mira membuatnya cukup terpukul, meski ia berusaha tetap tenang. Bukan apa-apa. Mira adalah putri sahabat lama papanya. Sejak awal bekerja di Niaga Perkasa, gadis itu memang “dititipkan” secara tidak langsung. Nizam merasa punya tanggung jawab moral. Ia mengembuskan napas panjang. Inara yang duduk di kursi teras memperhatikannya. “Gimana, Bang? Kondisi Mira?” “Sudah dioperasi. Akbar yang urus di sana. Paling Papa juga turun tangan, apalagi ini anak temannya.” Inara mengangguk pelan. “Semoga cepat sadar, ya.” “Iya.” Beberapa detik hening.

  • Bos Galak, I Love U   Bab 50 # Kecelakaan

    Jakarta masih sibuk seperti biasa, tetapi hari itu terasa jauh lebih berat bagi Akbar. Setelah memastikan sendiri kondisi para korban, ia berdiri cukup lama di lorong rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Adelia.Tangannya sempat gemetar ketika mencari nama Lia di daftar kontak.Telepon berdering beberapa kali.“Halo, Mas Akbar?”Suara itu lembut seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun di sana. Justru itu yang membuat dada Akbar semakin sesak.“Lia… kamu lagi di mana?”“Di ruangan mas. Kenapa, Mas?”Akbar menelan ludah. Ia harus berhati-hati. Tidak boleh membuat Lia panik.“Kamu lagi banyak kerjaan?”“Nggak, baru saja selesai. Ada apa sih, Mas? Suaranya kok beda?”Akbar mengembuskan napas pelan. “Lia… kamu harus tetap tenang, ya. Mas cuma mau kasih kabar. Tadi siang ada kecelakaan di Jalan Sudirman.”Hening beberapa detik.“Kecelakaan?” suara Lia mulai be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status