LOGINWaktu bergulir tanpa terasa, membawa keluarga kecil Narendra melintasi tahun demi tahun yang penuh warna. Feera, tumbuh sangat cantik dengan mata bulat jernih persis milik Fara dan senyum manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.Sementara sang abang pelindung, Sefan, telah menjelma menjadi remaja tampan berusia lima belas tahun. Postur tubuhnya mulai tinggi tegap menuruni garis keturunan Sean, lengkap dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam. Namun, setinggi apa pun tubuhnya dan sekeren apa pun penampilannya di sekolah, status utamanya di rumah tidak pernah berubah. Provokator nomor satu yang hobinya membuat sang adik meradang.Sore itu di ruang tengah, pemandangan klasik kembali tersaji. Feera sedang duduk bersila di karpet bulu, menekuni buku sketsa gambarnya dengan deretan pensil warna yang tertata rapi. Ia sedang asyik mewarnai lanskap pegunungan teh, pemandangan Mae Salong yang selalu ia dengar dari dongeng masa muda kedua orang tuanya.Tiba-tiba, sebuah tangan jangkung melay
Satu tahun berlalu secepat kepakan sayap burung camar. Waktu mengalir dengan sangat indah, menyapu bersih luka lama, yang perlahan berganti dengan senyum bahagia tiada akhir.Kini, Baby Feera telah resmi menginjak usia satu tahun tiga bulan. Bayi mungil yang dulu lahir dengan bobot 1,9 kilogram, yang dahulu membuat seluruh keluarga besar menahan napas cemas. Kini telah bermetamorfosis menjadi gadis cilik yang lincah, montok, dan berpipi bulat ranum layaknya buah persik matang.Minggu pagi itu, ruang tengah kediaman Sean dan Fara dibanjiri cahaya matahari yang hangat. Seluruh perabotan bersudut tajam sengaja dilapisi bantalan busa silikon tebal, tentu saja atas instruksi ketat Sean Narendra, sang Papa yang tingkat protektifnya tak pernah turun walau satu persen pun."Ayo, Adik! Kejar Abang!" seru Sefan yang kini sudah bertambah tinggi dan pandai berbicara. Anak lelaki berusia 7 tahun itu berjongkok sekitar tiga meter di atas karpet beludru, menggoyang-goyangkan boneka dinosaurus hijau
Genap tiga bulan sudah berlalu sejak peristiwa mendebarkan di Chiang Rai dan perjalanan panjang dua bulan di Boston. Kini, kediaman pribadi Sean dan Fara tidak lagi sesepi dulu. Suasana rumah modern dua lantai itu selalu dipenuhi celoteh riang, derap langkah kaki kecil, dan tentu saja... jerit tangis nyaring dari seorang putri mungil bernama Feera.Bayi yang dulunya lahir prematur di usia kehamilan 8 bulan dengan bobot 1,9 kilogram dan membuat seisi keluarga menahan napas cemas itu, kini telah menjelma menjadi bayi gembil montok dengan lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan pahanya. Berkat perawatan telaten di Amerika dan curahan kasih sayang tanpa henti, Feera tumbuh sangat sehat, lincah, dan memiliki suara tangisan yang luar biasa lantang. Tanda mutlak bahwa organ paru-parunya sudah bekerja seratus persen sempurna.Namun, di balik kebahagiaan itu, ada dinamika baru yang kerap memicu keributan manis di pagi hari. Sifat overprotective Sean yang tak pernah surut, beradu dengan in
Setelah dua bulan penuh perjuangan dan observasi intensif di Boston, hari yang paling dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Lampu hijau dari tim dokter anak telah resmi dikantongi. Dengan kondisi fisik yang kian montok, pipi gembil yang merona segar, dan organ pernapasan yang telah bekerja sempurna tanpa alat bantu apa pun. Si keci, Baby Feera akhirnya diizinkan menempuh penerbangan panjang untuk pulang ke tanah air.Jet pribadi keluarga mendarat mulus di Bandara utama Sekarno-Hatta, saat matahari sore Jakarta memancarkan semburat jingga keemasan. Begitu roda pesawat berhenti sempurna dan tangga penurunan dipasang, Sean melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu dengan sigap membimbing Fara yang menggendong erat Feera dalam balutan selimut rajut merah muda lembut beraroma bedak bayi yang manis. Di samping mereka, Sefan melompat-lompat riang menggandeng jemari sang Papa, tak sabar ingin memamerkan Adik perempuannya kepada semua orang.Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai begitu mer
Dua minggu berlalu sejak kelahiran darurat Putri bungsu dari Fara dan Sean di Chiang Rai, Thailand. Kondisi Fara pascaoperasi sesar sudah berangsur pulih, dan Syafeera kecil menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Berat badannya pelan-pelan merambat naik, serta refleks tangis dan hisapnya semakin kuat. Namun, kendati suhu tubuh dan nutrisinya terpantau stabil, sebuah catatan medis masih menggantung tebal di dada Sean. Pembentukan organ paru-paru Feera belum sempurna seratus persen, akibat lahir terlalu dini di usia kehamilan 32 minggu. Tim dokter spesialis anak di Thailand menyatakan bahwa secara umum Feera sudah melewati masa kritisnya. Akan tetapi, ritme napas bayi mungil itu masih kerap menunjukkan desah halus yang membutuhkan bantuan stimulasi oksigen berkala. Malam itu, di kamar perawatan VIP yang tenang, Sean duduk berdampingan dengan Fara seraya memandangi lembaran hasil rekam medis dan pemindaian thoraks putri mereka. Tatapan mata Sean dipenuhi keprihatinan mendalam khas s
Pagi harinya, sinar matahari hangat Chiang Rai menembus jendela kamar VIP tempat Fara dirawat. Kondisi Fara sudah jauh lebih stabil, meski rasa nyeri pascaoperasi sesar masih sesekali menyengat ketika ia mencoba mengubah posisi duduk. Di samping ranjang Fara, Sean dengan sangat telaten menyuapkan bubur hangat dan mengusap bibir istrinya dengan tisu.Sefan kecil yang menginap di kamar sebelah bersama Opa dan Omanya masuk sambil membawa gambar baru yang ia buat sendiri. Gambar itu menampilkan empat figur manusia dengan satu lingkaran kecil di dalam kotak berpendar, reka ulang sederhana versi Sefan tentang adik bayinya di dalam inkubator."Mama! Ini Sefan gambar Adik Bayi lagi tidur di dalam kotak ajaib!" seru Sefan bangga, menunjukkan kertas gambarnya dari tepi tempat tidur.Fara tersenyum haru, mengusap kepala putra sulungnya. "Bagus banget, Jagoan. Adik pasti senang kalau lihat gambar Kakak Sefan."Papa Narendra dan Mama Sarah melangkah masuk, tak lama kemudian membawa beberapa perle
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







