LOGINMalam terakhir di Tokyo hadir membawa keheningan yang tenang. Suhu udara di luar kamar ryokan, penginapan tradisional Jepang terus menurun, membuat tirai kayu yang sedikit terbuka mengembun tipis. Setelah perjalanan singkat mereka setengah hari ini mengitari Tokyo, malam ini Sean dan Fara akhirnya bisa bernapas lega. Sefan, putra kecil mereka, sudah terlelap pulas di kamar sebelah bersama Suster Nani setelah kelelahan sepanjang hari. Tanpa suara tangisan bayi atau gangguan jadwal menyusui yang biasanya memenuhi hari-hari Fara, kamar berkonsep Onsen bernuansa Jepang otentik itu mendadak menjelma menjadi pelarian pribadi yang terisolasi dari dunia luar. Kamar itu mengusung interior kayu hinoki yang mengeluarkan aroma alami nan lembut. Di sudut ruangan, sebuah kolam Onsen pribadi berbatu alam mengepulkan uap air panas yang membumbung tipis, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan dinginnya angin malam Kyoto. Cahaya dari lampion Kertas Shoji berpendar temaram, memantulkan bayang
Pagi hari ke lima, sebelum lusa benar-benar waktu mereka pulang kembali ke Indonesia. Matahari di Tokyo menyelinap malu-malu di balik tirai tipis kamar suite di salah satu hotel bintang lima terbaik di kawasan Shinjuku. Kemarin Sean memboyong istri, anak dan susternya Kembali menuju Tokyo. Karena rencananya sebelum benar-benar meninggalkan negara Sakura ini, Sean ingin mengajak jalan-jalan istrinya mengelilingi Tokyo lagi. Suasana kamar terasa hangat dan tenang. Di atas tempat tidur berukuran king, Fara sedang sibuk memeriksa kembali segala perlengkapan untuk putra kecilnya, Sefan, yang masih terlelap nyaman dalam bedongannya. Meskipun hari ini ia dan Sean berencana untuk pergi hunting foto lagi, dan keliling kota selama setengah hari, prioritas Fara sebagai seorang ibu tidak pernah berkurang sedikit pun. Di atas meja dapur kecil suite mereka, Fara sudah menata dengan rapi beberapa porsi ASI perah dalam kantong steril. "Suster Nani," panggil Fara lembut ketika pengasuh keperca
Langkah angin musim gugur bertiup lembut di Stasiun Tokyo, membawa aroma udara dingin yang khas dan deru halus kereta Shinkansen yang siap melaju. Di antara lalu lalang manusia, Sean menggenggam jemari istrinya dengan erat, memastikan kehangatan jemari itu tidak menguap tersapu angin. Penerbangan pulang mereka ke Indonesia tinggal tiga hari lagi. Koper-koper besar sudah separuh terisi di kamar hotel, dan daftar belanjaan oleh-oleh pun hampir tuntas. Namun, sebelum roda pesawat benar-benar terangkat meninggalkan bumi Jepang, Sean menyimpan satu rencana rahasia, sebuah janji pribadi yang belum sempat ia utarakan sejak awal perjalanan ini. "Kita tidak langsung balik ke hotel hari ini, kan?" tanya sang istri, menatap mata Sean dengan binar penasaran. Sean tersenyum kecil, mengusap puncak kepala istrinya perlahan. "Belum. Ada satu tempat yang wajib kamu lihat sebelum kita pulang. Tempat yang selalu jadi rumah kedua buat mas setiap kali melangkah ke negeri ini." Kereta peluru meluncu
Pagi di hari ketiga mereka di Tokyo disambut oleh hembusan angin musim gugur yang sejuk. Sean, Fara, baby Sefan yang duduk manis di kereta dorongnya, serta Suster Nani sudah bersiap meninggalkan hotel mewah di kawasan Ginza sejak pukul sembilan pagi. Hari ini agenda mereka cukup spesial. Selain menikmati pemandangan kota, Fara secara khusus meminta untuk hunting buah-buah mahal nan langka khas Jepang yang kerap berseliweran di media sosialnya. Tujuan pertama mereka adalah kawasan Ginza Sembikiya, toko buah legendaris yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan terkenal menjual buah-buahan berkualitas tinggi dengan harga fantastis. Begitu melangkah masuk, Fara langsung berdecak kagum. Etalase toko tersebut tidak terlihat seperti toko buah biasa, melainkan lebih menyerupai toko perhiasan mewah. Di sana, buah-buahan dipajang dengan sangat anggun di atas kain bludru dan lampu sorot yang hangat. Ada melon Yubari yang lekukan garisnya begitu sempurna, anggur Ruby Roman sebesar b
Setelah sarapan hangat di homestay, Sean, Fara, Baby Sefan, dan Suster Nani langsung meluncur menuju Tokyo Disneyland. Semangat Sean terlihat memuncak sejak mereka bersiap di kamar. Ia memadukan outfit kasual yang modis untuk dirinya dan Fara, serta memakaikan topi telinga Mickey Mouse yang menggemaskan pada Baby Sefan. Begitu melangkah melewati gerbang utama Disneyland, kemegahan kastil impian dan alunan musik khas Disney langsung menyambut mereka. Pengunjung lalu lalang dengan senyum mengembang, tetapi pemandangan di dalam dekapan Sean justru berbanding terbalik. Baby Sefan, yang digendong Sean menggunakan baby carrier ergonomis di dadanya, hanya diam seribu bahasa. Matanya yang bulat berkedip pelan, menatap lurus dengan ekspresi datar yang sangat polos. Tidak ada tawa melengking, tidak ada tepuk tangan heboh. Hanya wajah mungil tanpa ekspresi, seolah-olah suasana megah di sekelilingnya hanyalah pemandangan biasa. Fara yang berjalan di samping Sean memandangi anak mereka, la
Sentuhan udara sejuk khas Tokyo menyambut keluarga kecil itu begitu melangkah keluar dari Haneda Airport, perjalanan udara selama tujuh jam yang cukup melelahkan dari siang hingga sore hari akhirnya tuntas. Jam tangan di pergelangan tangan Sean menunjukkan tepat pukul 18.00 waktu setempat, saat langit Tokyo perlahan berganti warna menjadi keunguan bertabur gemerlap lampu-lampu kota. "Akhirnya sampai juga kita di Tokyo, Fara," bisik Sean lembut seraya merangkul bahu istrinya yang tampak sedikit letih namun memancarkan binar bahagia. Di samping mereka, Suster Nani dengan sigap dan penuh kehati-hatian menggendong Baby Sefan yang tertidur pulas dalam dekapan baby wrap berbulu hangat. Tanpa membuang waktu, Sean langsung memboyong istri, anak, serta pengasuhnya menuju kendaraan penjemput yang sudah disiapkan. Tujuan pertama mereka adalah sebuah homestay eksklusif milik keluarga besar Narendra yang terletak di kawasan tenang di sudut Tokyo. Rumah bergaya modern dengan sentuhan ar
Sean tengah menatap sang istri lamat-lamat dari kursi yang berada tepat di samping ranjang rumah sakit. Tatapan pria itu begitu lekat, seolah takut jika dalam hitungan detik saja wanita yang sedang duduk bersandar itu akan kembali menghilang dari pandangannya lagi. Fara yang duduk di atas ranjang
Setibanya di pekarangan rumahnya, Sean mentap sang istri yang masih sesenggukan di sampingnya. "Kenapa sih nangis begitu, bikin Mas khawatir tau nggak." ucap Sean.Fara melirik ke arah suaminya sekilas, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah lagi. "Hey, kenapa malingin wajahnya dari Mas?" bin
Sean semalam tidur di kantor, sampai hari esoknya pria itu bangun akan suara dering panggilan telefon di ponselnya. "Siapa orang yang menelfonku sepagi ini?!" teriak pria itu. Sean bangun dari tidurnya dengan terpaksa, karena panggilan itu terus masuk ke ponselnya berulang. Semalam pria itu begada
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m







