LOGIN
Braaak!
"Kerja! Kerja! Setiap hari itu saja yang kau rengekkan!" kesal Anton kepada istrinya, Selena. Dia menggebrak meja makan dengan kasar, bahkan piring, mangkok dan gelas ikut bergoyang karenanya. Saking emosinya setiap pagi mendengar istrinya merengek ingin kerja. Padahal, dia tidak kekurangan memberikan nafkah. "Tapi, aku bosan di rumah, Mas," jawab Selena. Dan selalu saja, alasan yang Selena ucapkan tidak pernah berbeda, selalu karena bosan di rumah. "Kau tidak perlu bekerja! Tugas istri itu hanya dirumah, mengurus rumah tangga!" teriak Anton semakin emosi. "Tapi..." "Aku pergi!" potong Anton dengan cepat, meraih tasnya dan berlalu dengan mobilnya. Bahkan, dia tidak menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Selena sama sekali. Selena hanya menatap debu yang ditinggalkan ban mobil suaminya. Dan beralih menatap meja makan yang tidak tersentuh. Dia hanya bisa menghela nafas berat. Ada setitik penyesalan bersarang di hatinya, seharusnya dia tidak membuka pembicaraan mengenai keinginannya untuk kembali bekerja. Dua tahun lalu, dia bekerja sebagai supervisor marketing di sebuah perusahaan. Namun, setelah menikah dia berhenti atas permintaan sang suami. Awalnya, dia menikmati hidupnya menjadi ibu rumah tangga. Namun, lama kelamaan rasa bosan mulai menghinggapi. Ditambah lagi, Anton tidak pernah memberikannya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Dia dilarang memanjakan dirinya, seperti ke salon ataupun hanya sekedar ngopi sendirian. Apalagi ketika tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya, mereka selalu bangga dengan pencapaian karir. Sedangkan dia? Selena adalah seorang sarjana, dengan usia yang baru menginjak pertengahan dua puluh tahunan. Saat tamat kuliah sempat bekerja setahun dan akhirnya menikah. Semakin lama, dia merasa semakin kesepian. Apalagi pernikahan mereka yang hampir menginjak usia dua tahun, belum juga dikarunia seorang anak. Kalau ada anak, mungkin kesepian itu akan sedikit berkurang. "Ah, penyesalan itu selalu datang terlambat. Seharusnya dulu aku mengejar karir," ujar Selena yang akhirnya menghempaskan tubuhnya di sofa dan menyalakan televisi. Begitulah cara dia menghabiskan waktu. Kring! Kring! Ponsel yang terletak diatas meja berdering, menjerit dengan keras seolah meminta untuk segera dijawab. Dengan malas, Selena meraih ponselnya. Menggeserkan ikon gagang telepon warna hijau. Dia sempat melihat, suaminya yang menelpon. "Iya, Mas." Selena menjawab dengan datar ketika terdengar suara Anton diujung sana. "Kau dimana?" tanya Anton. "Di rumah." "Malam ini, Pak Haris mau datang ke rumah. Siapkan makanan yang enak dan pastikan rumah dalam keadaan bersih dan rapi! Jangan malas!" Begitulah Anton, setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya sebuah perintah. Selena seolah pembantunya. Padahal, dulu saat mereka belum menikah, Anton begitu lembut dan sabar. Tapi, sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat. Baginya, istri itu harus menunjukkan kehebatannya di dapur, sumur dan kasur, juga tidak suka mengeluh, barulah disebut istri yang baik. "Selena, kau dengar tidak?" tanya Anton, tatkala Selena tidak segera menjawab. "Mau ngapain Mas, bos kamu datang ke rumah kita?" Selena balik bertanya. "Sudah, kau cukup lakukan saja yang aku katakan. Jangan banyak tanya! Dan ingat, jangan membuat malu!" Tut! Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Anton secara sepihak. Selena melirik jam di dinding. Sekarang pukul dua siang. Dia harus mulai bersih-bersih dan masak. Detik berikutnya, Selena mulai berkutat di dapur. Mengolah bahan menjadi makanan yang lezat. Karena ini bos besar, jadi cukup banyak yang dia masak. Beruntungnya bahan makanan di kulkas masih cukup banyak, sehingga tidak perlu belanja terlebih dahulu. Peluh membasahi dahi Selena, bahkan dia tidak sadar kalau sudah hampir seluruh tubuhnya berkeringat. Setelah selesai masak, masih mengenakan daster putih tipis, Selena melanjutkan membersihkan beberapa bagian rumah. "Ya ampun, kenapa sih harus dadakan ngasih taunya?" ujar Selena dengan sedikit kesal menggantikan taplak meja makan dengan yang baru. "Apa Mas Anton pikir menyiapkan makanan itu gampang? Tuh lihat, sekarang gak terasa sudah pukul lima," sambung Selena berbicara pada dirinya sendiri. Selena mengelap wajahnya yang berkeringat dengan tisu. Ting nong! Ting nong! Di saat pekerjaannya belum beres, bel berbunyi. "Sepertinya paketku datang," ujar Selena tersenyum. Dua hari lalu dia memesan paket skincare, dia yakin itu pesanannya yang baru tiba. Dia hanya merawat tubuhnya dengan skincare rutin, karena kalau ke salon, jangan harap mendapatkan izin dari sang suami. "Sebentar," ujar Selena sambil mengelap tangannya ke daster, menyampirkan lap meja ke bahunya dia meninggalkan sejenak pekerjaannya. Dengan langkah ringan, Selena berjalan menuju pintu. Inilah salah satu hiburannya di rumah yaitu unboxing paket. Kriet! Selena membuka pintu. Namun, matanya membola saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Bukan kurir seperti yang dia pikirkan, tapi seorang lelaki dewasa, penampilannya rapi dan berkharisma. Selena sempat terpaku sejenak melihat bos suaminya sudah berdiri disana, bukankah katanya malam nanti baru datang? "P-pak..." sapa Selena. Haris yang berdiri di ambang pintu menatapnya tidak berkedip."Kami akan memesan dalam jumlah yang banyak, Bu." "Saya tahu. Tapi, saya tidak bisa ikuti harga yang ditentukan orang lain," jawab Selena. Selena tidak akan menolak jika ada yang mau bekerja sama. Tapi, harganya sesuai dengan peraturan di tokonya. "Jadi, bisa untuk mengadakan kalau kami ada permintaan?" tanya Andi. "Sudah tentu siap." "Baiklah, deal kalau begitu," jawab Andi kemudian. Selena mengangguk dan membuat list harga sesuai dengan keinginannya. "Jadi, ini list harga sesuai dengan toko kami ya," ujar Selena sebelum menandatangani kesepakatan mereka. "Iya, Bu. Apa tidak ada fee khusus untuk saya?" tanya Andi. Selena mengernyitkan keningnya. Dia heran atas permintaan Andi. Ternyata, sejak awal dia yang menurunkan harga itu hanya untuk mendapatkan keuntungan. "Bukankah kita kerja sama dengan jelas, kenapa saya harus memberikan fee?" tanya Selena. "Kalau begitu tidak perlu, Bu." Selena tampak berpikir sejenak, sejak awal penawaran kerjasama ini rasanya sudah tidak bena
"Aku tidak akan salah menuduh orang! Kau lah memang yang mengharapkan warisan papa!""Silakan datang kesini dan lihat sendiri keadaannya," jawab Selena."Kalau aku datang kesana, kau tidak akan selamat!"Tut!Saking kesalnya mendengar Tyas yang semakin tidak ada adabnya, Selena mematikan sambungan telepon itu."Dia mirip sekali dengan ibunya," keluh Selena.Selena tidak sadar kalau sejak tadi Haris memperhatikannya dari meja makan.Tapi, disana tidak ada Haisa. Mungkin, Haisa berada di dalam ruang bermain."Ahh... Jangan pikirkan," sambungnya.Selena kembali menyalakan kompornya, melanjutkan memasak bubur untuk Haisa.Diam-diam Haris memeluknya dari belakang."Astaga...""Kamu hebat, Sayang.""Terima kasih. Entahlah, hidup ini begitu banyak kejutan untukku.""Kamu kuat, Sayang. Apapun yang terjadi, apapun yang kamu dapatkan, itu karena kamu kuat dan hebat."Selena mengangguk dan tersenyum. "Karena ada kamu.""Kamu sudah pintar menggombal sekarang."Selena tertawa. "Aku gak gombal, mem
"Hah? Apa?"Selena kebingungan mendengarnya. Tiba-tiba saja seseorang menuduhnya begitu.Bahkan dia sendiri tidak terpikirkan untuk hal itu. Dan warisan? Warisan siapa yang dimaksud?"Jujur saja, kau sengaja mendekati Papaku hanya demi warisannya, kan? Apa kau tidak tahu? Kau tidak berhak apapun terhadap lelaki itu! Kau itu hanya anak haram!"Selena menghela nafas berat. Dia sedikit terbayang siapa yang menelponnya."Tyas, kamu salah orang," jawab Selena.Dia tahu, itu pasti Tyas. Meskipun dia belum pernah bertemu ataupun berbicara kepada Tyas.Tapi, kalau mendengar pembicaraannya dan kemana arah kata-kata itu dia sudah bisa menebak."Jika kau memang Selena, maka aku tidak salah orang. Dan kau memang tujuanku.""Berarti kamu salah tujuan.""Aku tidak pernah salah."Selena memejamkan matanya, Tyas sangat mirip dengan ibunya. Emosian dan berapi-api."Maaf, aku tutup teleponnya, Tyas. Kalau kamu tidak pernah salah, maka aku yang salah telah menjawab teleponmu.""Dasar manusia sombong da
"Besok pagi aja, bagaimana?" tanya Selena."Mama benar-benar maksa harus sekarang, Kak. Aku tidak mau kakak jadi dapat masalah."Selena menghela nafas berat. "Biar aku antar ke bandara ya."Ara mengangguk pelan. "Terima kasih, Kak.""Beritahu kakak kalau ada yang kamu butuhkan."Kembali Ara mengangguk. Meskipun kalau boleh jujur, dia lebih senang hidup disini.Tidak ada tekanan, tidak ada teriakan dan tidak bertanggung jawab terhadap semua orang."Nak, jangan berhenti kuliah ya, Papa mohon," ujar Benny menatap Ara dengan penuh harap."Iya, Pa."Meski rasanya berat melepaskan Ara untuk pulang, tapi Benny juga sama seperti Ara, tidak mau Selena yang mendapatkan masalah.**Selena dan Haris mengantarkan Ara ke bandara, untung masih bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan hari ini."Kabari kakak kalau ada apa-apa," ujar Selena."Iya kak. Maaf ya kak, aku jadi merepotkan."Selena memeluk Ara erat. "Kakak tidak repot dan juga tidak merasa direpotkan."Ara masuk ke bandara sambil melambai
“Tidak akan ada fitnah, kan?” tanya Selena kemudian.“Iya, tapi Papa jadi merepotkan kamu.”“Aku tidak merasa direpotkan. Hiduplah dengan baik, dan jangan terlalu banyak pikiran. Juga, jangan lagi melakukan hal yang nekat, semua masalah pasti ada solusinya,” jawab Selena.Selena tidak mau menasehati sang ayah, dia tahu apa yang dilakukan ayahnya pastinya karena sebuah alasan yang kuat.Tapi, dia juga tidak bisa melihat ayahnya hidup menderita seperti itu. Apalagi dia tahu, keadaan mantan istrinya masih sama seperti dulu, Selena tidak mau ayahnya dimanfaatkan. Kalau menghabiskan uang untuk hal yang berguna dan untuk anak-anaknya itu tidak masalah.Tapi, dari cerita Ara, utang-utang yang dimiliki dan harus dilunaskan oleh Pak Benny itu semuanya hanya untuk gaya hidup. Mengikuti gaya hidup sosialita, padahal gaji suaminya tidak mendukung untuk gaya seperti itu.Sekarang, Bu Asti malah menggantungkan hidupnya pada Ara. Tidak mau bekerja, tapi mau uang terus menerus.“Iya, Nak. Maaf.”“Pap
“Sayang, ini kamu serius atau lagi bercanda?” tanya Haris.Dia langsung panas mendengar apa yang Selena katakan, enak sekali Anton mengakui Haisa anaknya. Sedangkan jelas kalau dia yang bermasalah dan sulit memiliki anak.Kenapa sekarang dia malah mengganggu hidup Selena dan Haris.“Tentu saja aku serius. Tadi, aku baru saja membuka pesan yang dia kirimkan. Lihat saja sendiri,” jawab Selena menunjukkan ponselnya.“Tapi, kamu menceritakannya dengan tenang sekali.”“Ya, aku juga tidak tahu harus ngapain. Mau teriak juga gak bisa, malah mengganggu para tetangga dan aku akan dikira gila nantinya. Mau menangis untuk apa? Lagian juga, aku yang hamil, aku yang melahirkan. Dan aku juga yang tahu aku berhubungan dengan siapa,” jawab Selena.Ada benarnya apa yang Selena katakan, tapi tetap saja Haris merasa heran melihat ketenangan Selena menghadapi masalah.Apa karena Selena merasa benar?Haris membaca pesan dari Anton, lelaki itu meminta Selena mengakui kalau dia adalah ayah kandung Haisa. Da
"Pak Anton, silakan masuk," ujar Haris santai.Anton mengangguk, tangannya terkepal. Apalagi saat melihat Selena yang begitu tenang saat melewatinya ketika dia keluar dari ruangan Haris.Anton marah melihat apa yang terjadi di depan matanya. "Harusnya, Pak Anton biasakan mengetuk pintu terlebih da
Bapak gila?” tanya Selena spontan.“Kok gila?”Haris menatapnya heran. Tangannya yang memang tidak pernah bisa diam kalau dekat dengan Selena, bergerak refleks merapikan anak rambut Selena yang sebenarnya sudah tertata rapi. Gerakan kecil yang terlalu akrab untuk sekadar atasan dan bawahan.“Tidak
“Ngapain kita kesini, Pak?” tanya Selena heran ketika mobil yang dikemudikan oleh Haris bukan ke arah tempat meeting yang disebutkan.“Gapapa.”“Bapak bohong ada meeting diluar?” tanya Selena.Bos nya ini benar-benar penuh kejutan, tadi melarang sopir mengantarkan, sekarang malah mengubah arah.“Ga
“Kamu ini apa-apaan sih? Jangan menuduh sembarangan!” kesal Anton sambil berdiri dan meninggalkan Selena dalam diam.“Aku tidak menuduh. Memang semalam kamu menyebut namanya,” jawab Selena.“Jangan melibatkan orang lain dalam rumah tangga kita!”Anton pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.Saat Sele







