Masuk“Kamu tidak tahu akibatnya ke aku nantinya,” gumam Selena lirih. Tatapannya menunduk, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk diangkat dengan kata-kata.Haris meraih tangan Selena, menggenggamnya dengan mantap. Dia menatap wajah wanita itu lekat, memastikan Selena benar-benar mendengarnya. “Sel, Pak Dirga bukan orang yang mudah menghakimi. Dia tidak akan menyebarkan cerita ini ke mana-mana sampai kamu sendiri siap. Seperti kamu percaya Mala dan Bian, seperti itu juga aku percaya Pak Dirga.”Selena menghela napas panjang. “Kamu baru kenal sama beliau. Kenapa bisa langsung percaya?”“Dia anak buahku juga,” jawab Haris tenang. “Aku menilainya dari caranya bekerja, dari sikapnya selama ini. Dan aku percaya.”“Bagaimana kalau dia tidak seperti yang kamu yakini?” Selena masih belum sepenuhnya yakin. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan, takut jika hidupnya kembali berantakan hanya karena satu keputusan.Haris tidak langsung menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Selena sedikit lebih era
“Saya masih menunggu Bian,” ujar Haris, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun pikirannya tidak berhenti berputar.Apalagi melihat tatapan mata Pak Dirga. Lelaki itu sudah dewasa, dia paham apa yang sebenarnya terjadi yang dilihatnya.Pak Dirga berjalan mendekat ke ranjang Selena. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran kepada admin kebanggaannya yang sangat pintar.“Bian masih di kantor polisi, Pak. Tadi Dion langsung kita serahkan ke pihak berwajib. Jujur saja, tidak ada yang menyangka akan sejauh ini. Selama ini Dion terlihat baik, sopan, dan tenang,” jawab Pak Dirga.Haris hanya mengangguk singkat. Pikirannya kembali ke kejadian di kantor, saat pintu ruangan itu didobrak dan Selena tergeletak dengan darah mengalir di kepalanya. Setiap detailnya masih terlalu jelas.Beberapa rekan kerja bergantian masuk ke kamar Selena. Mereka membawa buah, bunga, dan kata-kata penguatan. Namun, tatapan mereka tidak sepenuhnya netral. Ada rasa penasaran
“Jangan berkata seperti itu,” ujar Haris mengelus kepala Selena dengan lembut.“Tapi—““Bukan kamu yang salah, tapi dia. Dan percaya padaku, dia akan menyesal setelah ini.”Airmata Selena tidak mau berhenti, rasanya begitu sesak kalau mengingat bagaimana Dion memaksanya. Lelaki itu yang selama ini terlihat santai dan sabar, dia mendekati Selena dengan caranya.Tapi, entah mengapa hari ini Dion seperti kerasukan setan.“Aku mau pulang,” rengek Selena kemudian.Selena sudah merasa baik-baik saja, dia terbayang Haisa akan mencarinya nanti kalau dia tidak pulang. Sekalipun Haisa dekat dengan Bu Wati, tapi Haisa setiap sore akan selalu menunggu kedatangan ibunya.“Kamu masih harus perlu dirawat, Sel. Besok kita akan cek kepala kamu, takutnya ada masalah dari benturan tadi,” jawab Haris.“Aku gapapa kok.”“Kita gak tahu ada apa-apa atau gaknya kalau gak periksa, Sel.”Selena menggelengkan kepalanya. “Haisa sendirian.”“Aku sudah menelpon Ibu, sudah memberitahukan keadaan kamu disini. Dan ib
“Hah?”Bian tampak bengong, matanya menatap kosong tanpa fokus. Teriakan Mala justru membuat kepalanya semakin penuh. Otaknya seakan berhenti bekerja.Bau darah yang menyengat hidungnya membuat dadanya mendadak sesak. Napasnya memburu, keringat dingin muncul di pelipis. Trauma lama itu datang tanpa permisi.“Bian!” bentak Mala lagi, kali ini lebih keras.Haris yang mendengar teriakan Mala itu tersentak. Ia tidak menunggu lebih lama. Dengan gerakan cepat, ia segera menggendong tubuh Selena dengan hati-hati. Wajah Selena pucat, darah mengalir di bawah kepalanya, membuat jantung Haris serasa diremas kuat-kuat.“Aku akan membawanya ke rumah sakit!” ucap Haris tegas.Mala segera menarik tangan Bian agar ikut bergerak. Langkah Haris panjang dan cepat menuju mobilnya.Di belakang mereka, beberapa karyawan sudah mengamankan Dion. Lelaki itu terduduk lemas, wajahnya babak belur, sudut bibirnya berdarah. Matanya terpejam, seolah baru sadar dengan apa yang telah ia lakukan.Sebelum benar-benar p
“Dion, jangan macam-macam,” ujar Selena dengan suara tegas meski dadanya terasa sesak.Ia masih berusaha terlihat tenang. Selena sudah berdiri. Kakinya sudah melangkah mundur, berusaha menciptakan jarak.Matanya bergerak cepat menatap sekeliling ruangan, mencari celah sekecil apa pun untuk bisa keluar. Namun peluang itu hampir tidak ada. Dion justru mencabut kunci dari pintu dan menyelipkannya ke saku celananya, seolah ingin memastikan Selena benar-benar terjebak.Di dalam hatinya, ketakutan itu tumbuh liar. Karena ia tahu, jam istirahat masih beberapa menit lagi. Dan memang kebiasaan orang-orang yang ada di kantor akan menghabiskan waktu makan siang ini di luar ruangan.Dengan tangan gemetar, Selena menekan tombol panggil di ponselnya. Ia bahkan tidak sempat memperhatikan siapa yang terhubung. Yang penting, ada seseorang yang tahu ia dalam bahaya. Ia hanya butuh pertolongan, tidak peduli siapapun itu.“Aku hanya ingin mendengar alasan kenapa kamu selalu menghindariku,” ujar Dion samb
“Maaf, Pak Haris. Ada sedikit kesalahpahaman,” ujar Pak Dirga cepat, mencoba meredakan suasana.Apalagi ini masih sangat pagi, sekalipun jam kerja belum dimulai, tapi kubikel rata-rata sudah terisi, karyawan sudah berdatangan. Takutnya ini menjadi masalah besar.Haris menatap Dion dan Selena secara bergantian. Tatapannya datar, tetapi tajam. Dion hanya bisa menunduk, napasnya naik turun tidak beraturan, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung gejolak emosi yang sedang mengamuk di dalamnya.Berbeda dengan Selena.Perempuan itu justru bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan tenang ia menyalakan komputer, merapikan map, lalu mulai memeriksa lembaran pekerjaan di atas mejanya. Tangannya memang sedikit bergetar, tetapi wajahnya tetap terkunci dalam ekspresi profesional yang nyaris dingin.“Ini kantor,” ujar Haris akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Kalau ada masalah pribadi, jangan dibawa ke sini. Selesaikan di luar kantor, jangan menjadikan kantor ini ajang pertunjukan hub







