Home / Romansa / Bos, Jangan Sebar Rahasiaku / Bab 32 MEMINTA JATAH LAGI

Share

Bab 32 MEMINTA JATAH LAGI

Author: AlenU
last update publish date: 2026-05-21 20:00:09

Kesepakatan yang baru saja terkunci di antara mereka meninggalkan sisa ketegangan yang perlahan mencair, digantikan oleh kecanggangan yang baru. Rey bangkit dari sofa, merapikan kaus hitamnya sekilas, lalu menoleh ke arah Moana yang masih duduk bertopang dagu di atas lututnya.

​"Kamu pasti lapar. Tunggu di sini, aku akan membuatkan sesuatu untuk mengganjal perut kita." Ucap Rey santai sembari melangkah menuju dapur bersih yang bernuansa maskulin itu.

​Moana mengerutkan kening, menatap punggung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 52 TUNGGU AKU DATANG

    "Arga, jangan nekat! Jarak dari kota ke sini itu butuh waktu berjam-jam, kamu jangan..."​Belum sempat Moana menyelesaikan kalimatnya, layar ponselnya sudah berubah gelap. Arga memutuskan panggilan video itu secara sepihak, meninggalkan Moana yang terpaku dengan dada yang bergemuruh hebat karena cemas. Ia tahu betul jika Arga sudah berada di titik puncaknya, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Merutuki situasi yang mendadak menjadi begitu rumit dalam hitungan menit.​Di seberang meja kecil itu, Danu yang sejak tadi menyimak perdebatan Moana di telepon tampak terdiam. Senyum menawan yang sebelumnya ia pamerkan kini telah memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Danu meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan kaca dengan bunyi denting. Udara sore di teras itu mendadak terasa jauh lebih dingin.​"Moana," panggil Danu dengan nada suara yang kini jauh lebih serius, kehilangan nada menggoda yang ia gunakan sejak siang tadi. "Laki-laki di telepon tadi...

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 51 CEMBURU BUTA

    Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana.​"Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."​Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya.​"Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.​Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 50 DESAKAN PERJODOHAN

    ​Moana, yang tampak anggun mengenakan kebaya modern berwarna salem dengan rambut yang disanggul modern sederhana, berdiri di samping ibunya. Ia membagikan senyum terbaiknya kepada setiap tamu yang datang, menyodorkan buku tamu, dan memberikan suvenir dengan ramah. Tugas itu awalnya terasa menyenangkan, hingga rombongan ibu-ibu dari lingkungan sekitar dan beberapa kerabat jauh mulai berdatangan dalam gelombang yang lebih besar.​Saat itulah, bisik-bisik yang tidak nyaman mulai merayap ke telinganya.​"Lho, ini Moana, kan? Anaknya Pak Dosen? Pangling ya, tambah cantik setelah kerja di kota," puji seorang wanita paruh baya berkalung emas tebal. Namun, kalimat itu tidak berhenti di sana. "Tapi, Sinta yang lebih muda saja sudah sah hari ini. Moana kapan menyusul? Dia kan sudah waktunya nikah juga, usianya sudah lebih dari cukup untuk seorang gadis menikah. Jangan terlalu asyik mengejar karier di kota besar, nanti malah kelewatan."​Senyum di wajah Moana seketika membeku. Kalimat serupa, de

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 49 ADA AJA GODAANNYA.

    Pagi hari di pedesaan selalu membawa aroma yang khas, perpaduan antara embun yang membasahi dedaunan, tanah basah, dan wangi kayu terbakar dari dapur-dapur tetangga. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar seketika menyadarkan Moana dari tidur nyenyaknya. Rasa lelah akibat perjalanan lima jam semalam telah menguap, digantikan oleh kesegaran udara kampung halaman yang mustahil ia dapatkan di ibu kota.​Moana meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu melirik ponsel di atas meja di samping ranjangnya. Ada satu pesan singkat dari Rey yang dikirimkan pada sepertiga malam. “Selamat pagi, Sayang. Semoga tidurmu nyenyak. Jangan lupa sarapan.” Senyum Moana langsung merekah. Dengan suasana hati yang membubung indah, ia bergegas mandi dan bersiap.​Ketika melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah, pendengaran Moana langsung menangkap sayup-sayup obrolan yang akrab dan hangat. Di meja makan kayu jati yang terletak di dekat dapur, dua orang paling berharga dala

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 48 TERHALANG JARAK RATUSAN KILO METER

    Malam semakin larut ketika keintiman yang hangat itu perlahan berganti menjadi keheningan yang berat akan perpisahan. Jam dinding di kamar apartemen Rey menunjukkan pukul setengah enam sore ketika bunyi alarm dari ponsel Moana memecah kesunyian. Moana tersentak pelan, menyadari bahwa waktu indahnya bersama Rey harus terjeda oleh realitas.​"Rey, travel ku akan menjemput sebentar lagi," bisik Moana lirih, suaranya masih agak serak.​Rey tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat pelukannya pada tubuh mungil Moana, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu sembari menghirup aroma familier yang pasti akan sangat dirindukannya beberapa hari ke depan. Dengan berat hati, Rey akhirnya melonggarkan pelukannya. Ia mengecup kening Moana lama sekali, seolah sedang menyalurkan seluruh energi dan perlindungan untuk perjalanan kekasihnya.​Mereka pun bersiap. Rey dengan telaten membantu Moana merapikan pakaian dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ketika mobil travel berwarna p

  • Bos, Jangan Sebar Rahasiaku   Bab 47 PENYATUAN YANG HANGAT SEBELUM PERPISAHAN

    ​Moana buru-buru menyembunyikan kartu ucapan tersebut ke dalam laci mejanya, mengabaikan godaan bertubi-tubi dari rekan-rekan kerjanya yang masih menatap buket mawar raksasa itu dengan mata berbinar. Jantungnya berdegup kencang, memompakan kebahagiaan yang memuncak hingga ke ujung jemari. Mengambil ponselnya dengan gerakan samar di bawah meja, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mengetikkan sesuatu untuk sang CEO.​Moana: Pak CEO, ini berlebihan sekali! Satu kantor langsung heboh. Tapi... terima kasih banyak untuk bunganya yang cantik dan cokelatnya. Aku suka sekali. Pria pemilik huruf R ternyata bisa romantis juga ya?​Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponsel Moana bergetar di telapak tangannya.​Rey: Apapun untuk membuat senyum itu kembali di wajahmu, Sayang. Habiskan cokelatnya, dan pastikan kamu tidak kelelahan. Aku tidak sabar menunggu jam pulang kantor.​Membaca balasan itu, Moana harus menggigit bibir dalamnya kuat-kuat agar tidak memekik pelan di tempat. Sisa h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status