LOGINTelapak tangan Damian yang besar dan hangat menelusuri rahang Lara dengan ujung ibu jari yang bergerak pelan."Lara," panggil Damian berbisik. Suaranya serak, rendah, dan sarat perhatian."Hm?" Lara menatap balik manik mata gelap pria itu. Tangannya yang semula bertengger di dada Damian perlahan naik, merayap hingga ke tengkuk kokoh suaminya."Badanmu benar-benar tidak apa-apa?" Damian bertanya memastikan, seolah ingin menegaskan batas kenyamanan wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah lebih jauh. "Dokter memang bilang rahimmu sudah pulih total, tapi kalau kamu masih cemas... kita bisa berhenti kapan saja."Lara tersenyum tipis. Rasa haru yang hangat menyelinap di balik rusuknya. Sikap penuh kehati-hatian Damian justru menepis setiap sisa ketakutan yang pernah ada di benaknya.Lara menarik tengkuk Damian ke bawah, mempersempit sisa jarak di antara bibir mereka. "Aku nggak cemas sama sekali, Damian. Aku percaya sama kamu."Ciuman itu mendarat lembut. Damian memulainya denga
Lara melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya menyapu ruang depan yang didesain minimalis. Sofa panjang menghadap ke dinding, sementara di sisi kiri terdapat dapur bersih dengan meja bar kecil yang langsung berhadapan dengan pintu kaca geser ke arah taman belakang. "Taman belakangnya lucu banget," gumam Lara seraya melangkah ke dekat pintu kaca. Di luar, sepetak rumput mini tertata rapi diapit pohon kamboja berbunga putih dan deretan tanaman bambu air di sepanjang pagar bata merah. Damian menyusul di belakangnya, membawa dua koper sedang di kedua tangannya. Pria itu meletakkan koper di samping tangga kayu menuju lantai dua. "Dulu waktu beli, aku minta bagian belakang dibuat terbuka begini supaya ada angin masuk," kata Damian seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya. "Kamar tidur ada di atas. Mau lihat sekarang?" Lara menoleh dan mengangguk antusias. Mereka menaiki anak tangga kayu yang tidak berderit sama sekali. Di lantai dua, kamar tidur utama menghadap langsung
"Bagaimana para saksi? Sah?""Sah.""Alhamdulillah."Kata itu meluncur serempak di ruang tengah yang sejuk. Hembusan napas lega terdengar jelas dari beberapa orang yang duduk mengelilingi meja kayu berkain putih polos.Lara yang duduk di samping Damian menundukkan kepala sejenak, merasakan getaran hangat yang mendadak meluap di balik dadanya. Di atas meja, dua map dokumen hijau dan merah marun berlogo emas sudah terbuka lebar.Petugas pencatat nikah tersenyum ramah seraya menyodorkan pulpen bertinta hitam ke hadapan mereka. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Damian, Bu Lara."Damian mengambil pulpen itu tanpa ragu. Goresan tanda tangannya mantap dan tegas di atas kertas tebal bermaterai. Setelah itu, ia menyerahkan pulpennya kepada Lara.Tangan Lara sempat gemetar tipis saat menyentuh kertas, namun telapak tangan Damian yang hangat langsung bertumpu di paha atasnya, menyalurkan ketenangan yang ia butuhkan. Tanda tangan kedua resmi terukir berdampingan.Arman, yang berdiri rap
Plak.Sebuah ember plastik hitam berisi air cucian sabun yang sudah keruh dibanting tepat di depan kaki Amara. Percikan airnya mengenai ujung celana katun biru tua bernomor punggung tahanan yang ia kenakan."Sikat sampai kerak lumutnya rontok," tegur seorang wanita gempal dengan tato naga pudar di lengan kanannya. Wanita itu melempar sikat ijuk bergagang patah ke lantai semen. "Giliran lu bebersih lorong sel."Amara mematung di samping pintu jeruji besi. Matanya yang merah menyala menatap sikat kotor itu dengan rasa jijik yang luar biasa."Lu nggak tahu siapa gue?!" desis Amara tajam, suaranya tercekat di tenggorokan. "Keluarga Danuarta bisa beli tempat busuk ini dan seisinya dalam semalam. Jangan berani-berani perintah gue!"Wanita bertato itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru mendengus geli, melangkah maju dua langkah hingga tubuh besarnya membayangi Amara. Telunjuknya mengetuk pelipis Amara dengan dorongan kasar."Keluarga Danuarta yang mana, Neng? Yang rekeningnya disita kejaks
Lara membuka matanya perlahan.Sensasi pertama yang menyapanya pagi itu adalah kehangatan dada kokoh yang menempel di pipinya, serta detak jantung yang berdenyut tenang dan berirama. Lengan kekar Damian masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh Lara seolah enggan memberi celah bagi udara dingin untuk menyusup.Lara mendongak sedikit. Wajah Damian tertidur lelap tepat di depannya.Dalam tidurnya, wajah mantan direktur itu tampak polos, santai, dan jauh lebih muda. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan di dahi.Senyum kecil tersungging di bibir Lara.Perlahan, tangannya terangkat dari balik selimut. Jemarinya menyentuh helai rambut di kening Damian, lalu turun menyusuri rahang pria itu yang mulai ditumbuhi bayang cambang tipis. Sentuhannya sangat ringan, hampir menyerupai sapuan angin.Namun belum sempat Lara menarik kembali tangannya, jemari Damian yang bebas mendadak bergerak cepat menangkap pergelangan tangannya.Mata Damian terbuka perlahan. Manik matanya yang g
"Lara, tidak perlu..."Damian menahan kedua pergelangan tangan Lara yang bertengger di kerah kemejanya. Napas pria itu masih berat, dadanya naik turun dengan ritme yang memburu. "Kamu baru saja selesai. Badanmu butuh istirahat."Lara tidak mundur sedikit pun. Alih-alih melepaskan genggaman, ia justru memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Damian yang menggelap."Aku nggak selemah itu, Damian," bisik Lara, suaranya tenang namun sarat ketegasan yang tak biasa. "Tadi kamu mikirin kenyamananku sampai menahan dirimu sendiri kayak gini. Sekarang giliranku."Damian menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang menahan dorongan hasrat yang sejak tadi bergolak di balik dinding kendali dirinya. "Lara, ini bukan soal giliran—"Kata-kata Damian terputus saat Lara menunduk, mendaratkan ciuman lembut di sudut bibirnya, lalu turun menyusuri rahang pria itu hingga ke lekuk lehernya. Hembusan napas hangat Lara di kulit sensitif itu membuat tubuh Da







