เข้าสู่ระบบDi ruang kunjungan tahanan, bau keringat apek dan dinding lembab mengendap pekat. Faris duduk di bangku kayu panjang seraya menggigit kuku jempolnya hingga berdarah. Baju tahanan oranye nomor empat puluh delapan yang ia kenakan tampak kebesaran di tubuhnya yang semakin kurus. Bekas lebam ungu di pelipis dan sudut bibirnya—sisa pukulan bertubi-tubi dari Damian di gudang—kini mengering menjadi kerak gelap yang kotor.Langkah sepatu berderap pelan mendekat.Seorang petugas jaga membuka gembok rantai, membiarkan seorang pria berjaket lusuh dengan tas selempang kulit imitasi masuk. Pria itu meletakkan sebuah map tipis di atas meja pembatas kayu.Faris langsung menegakkan punggungnya. Matanya yang merah menyala menatap pria itu dengan penuh tuntutan."Mana tim pengacara dari Jakarta?" cerocos Faris, suaranya parau dan terburu-buru. "Orang suruhan Amara bilang mau kirim tim hukum terbaik dari firma ternama buat ngurus penangguhan penahanan gue! Kenapa cuma lu yang datang?!"Pria di sebera
Pagi itu, bunyi ketukan kapak yang membelah kayu terdengar memenuhi pekarangan belakang vila.Brak!Sebongkah kayu gelondongan terbelah dua di atas landasan kayu tebal.Damian menurunkan kapaknya ke tanah, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Kaus oblong abu-abunya lembap oleh peluh, dan celana kain panjangnya kotor oleh serpihan kulit kayu. Namun, meski begitu, bahunya tampak jauh lebih rileks, dan napasnya berhembus teratur di udara pagi yang sejuk.Dari arah pintu kaca geser teras, langkah kaki pelan terdengar mendekat.Lara berdiri di ambang pintu, mengenakan kardigan rajut tebal dan celana panjang longgar. Wajahnya yang pucat perlahan mulai diisi semburat merah segar berkat udara bersih pegunungan. Lebam di tulang pipinya kini hanya menyisakan bayang samar kekuningan, dan perban di pergelangan tangannya sudah dilepas sejak kemarin.Ia memegang dua cangkir keramik yang mengepulkan aroma teh melati hangat.Damian menoleh, lalu buru-buru menyandarkan kapak ke dindin
Mobil sedan hitam yang membawa Kemala berhenti tepat di depan gerbang utama rumah keluarga Atmadja.Dua orang pria dengan map kulit di tangan sudah berdiri di dekat pos satpam. Satu stiker segel putih bergaris merah dari pihak juru sita bank tertempel mencolok di tiang beton pagar, menegaskan status aset yang kini dalam masa pengawasan piutang.Satpam tua membukakan gerbang dengan gerakan serba kaku. Tatapannya menunduk, tidak berani memandang majikannya.Kemala melangkah turun dari mobil. Kakinya goyah, hak sepatu mewahnya tersangkut sedikit di celah paving blok sebelum ia sempat menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Ia merapatkan mantelnya yang kusut, berjalan cepat melintasi pelataran tanpa menyapa siapa pun.Di dalam rumah, udara terasa dingin dan hampa. Tiga orang asisten rumah tangga yang biasanya sibuk merapikan ruang tamu mendadak terdiam di lorong dapur. Bisik-bisik panik mereka berhenti seketika saat mendengar derap langkah sepatu Kemala mendekat.Kemala tidak memedulikan mereka
Kertas-kertas berserakan di atas karpet ruang rapat itu. Layar monitor di dinding masih menyala merah, menampilkan deretan rekening operasional Danuarta Group yang dibekukan secara sepihak oleh bank dan otoritas pajak. Prang! Gelas kristal di tangan Jagad Danuarta melayang membentur dinding kaca, pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam. Pria itu berdiri dengan dasi yang sudah ditarik miring, napasnya memburu cepat menatap adiknya. "Satu koma empat triliun, Amara!" bentak Jagad, suaranya menggelegar memantul di dinding ruangan. "Kamu bilang proyek gabungan ini tambang emas! Kamu bilang Damian cuma bocah penakut yang kabur karena masalah perempuan! Sekarang apa ini?!" Amara berdiri mematung di sisi meja kerja, wajahnya pucat pasi tanpa sisa senyum angkuh. Tangannya gemetar memegang bundel berkas tagihan yang baru saja diantarkan petugas dinas pajak. "Aku nggak tahu kalau ada tumpukan utang lama di berkas lampiran itu, Mas," suara Amara tercekat, nada bicaranya mulai goyah.
Pagi keesokan harinya, di dalam kamar rawat, Lara duduk di kursi samping tempat tidur. Wajahnya yang pucat tertutup sedikit oleh ujung jaket rajut tebal yang dipinjamkan Damian. Tangannya menggenggam jemari ayahnya yang kasar dan masih dingin.Pria paruh baya di atas ranjang itu menoleh perlahan. Perban putih masih melingkari pelipisnya, tetapi tatapan matanya sudah jauh lebih jernih dibanding dua hari lalu."Lara mau istirahat dulu beberapa hari, Yah," bisik Lara dengan senyum yang dipaksakan sekuat tenaga. "Tempatnya tenang, dekat kebun teh di kaki bukit. Nanti kalau badan Lara udah enakan, Lara langsung ke sini lagi jenguk Ayah."Ayah Lara menatap lebam samar di pipi putrinya, lalu beralih ke perban tipis di pergelangan tangannya. Napas pria tua itu terdengar berat melalui hidung. "Kamu yang paling penting pulih dulu, Nduk. Jangan pikirin Ayah terus. Ayah udah ada ibu sama dokter."Lara mengangguk pelan, menelan rasa sesak yang mendadak mengganjal di tenggorokannya. Ia menunduk,
Di taman belakang rumah sakit, udara sore berembus sejuk membawa aroma rumput basah. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga lembut yang menembus dedaunan pohon.Damian berdiri di samping kursi roda Lara, menunduk merapikan selimut tebal yang menutupi pangkuan wanita itu hingga ke ujung kaki.“Dingin?” tanyanya lembut.Lara menggeleng. Wajahnya masih pucat, dan lingkaran gelap di bawah matanya belum hilang sepenuhnya, tetapi rona merah perlahan mulai kembali ke pipinya.Siang tadi, kabar baik akhirnya datang. Ayahnya sudah dipindahkan dari ruang ICU ke kamar rawat biasa. Napas pria tua itu sudah stabil tanpa bantuan mesin oksigen. Satu beban besar yang menghimpit dada Lara selama berhari-hari rasanya terangkat sedikit.Namun, di saku jaket yang disampirkan di pegangan kursi roda, ponsel Damian mendadak bergetar panjang.Layar ponsel menyala, menampilkan nama Amara Danuarta yang menelepon berulang kali. Panggilan itu terputus, sedetik kemudian berganti dengan nomor







