แชร์

6. Bos Posesif

ผู้เขียน: Little Tangerine
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-17 19:05:15

Lara mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Wajah Damian tampak buram di atasnya. "Pak… saya... saya capek..."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian mengangkat tubuh Lara dalam satu gerakan cepat dan menggendongnya ala bridal style. 

Lara yang sudah tidak memiliki tenaga untuk memprotes hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Damian yang berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. 

Damian membawa Lara masuk ke gedung melalui lift eksklusif, lalu langsung menuju ruang kerjanya. 

Dia tidak meletakkan Lara di sofa luar, melainkan membawanya masuk ke ruang istirahat pribadi yang tersembunyi di balik pintu kayu di dalam ruang kerjanya sendiri.

Damian membaringkan Lara dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur minimalis yang rapi.

"Aku panggil dokter sekarang," ujar Damian, tangannya sudah meraih ponsel dengan jari gemetar.

"Jangan, Pak..." Lara menahan lengan Damian, suaranya lemah namun kukuh. "Tolong... jangan. Saya cuma butuh istirahat sebentar aja. Lima belas menit. Saya mohon."

Damian terdiam, menatap Lara yang pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran di dahi. Wajah wanita itu tampak begitu rapuh, seolah bisa hancur jika dia sedikit saja bersikap kasar. 

Damian akhirnya mengangguk pelan. Dia meletakkan kembali ponselnya, lalu menarik kursi ke samping tempat tidur.

Alih-alih pergi untuk melanjutkan pekerjaannya, Damian justru tetap duduk di sana. Dia memerhatikan setiap tarikan napas Lara yang perlahan kembali teratur. 

Keheningan menyelimuti ruangan itu, membuat atmosfer di antara mereka terasa sangat berbeda.

Lara terlelap karena kelelahan yang ekstrem. Saat dia terbangun, ruangan itu sudah gelap, hanya diterangi lampu meja yang temaram. 

Dia terkesiap saat menyadari Damian masih ada di sana, duduk dengan tenang sambil menatapnya.

"Sudah bangun?" tanya Damian pelan.

Lara bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Maaf, Pak. Saya ketiduran," ujarnya merasa tak enak hati. “Bapak… kenapa masih di sini?”

“Jadi saya harusnya di mana?”

Lara menggaruk pelipisnya, mati kutu. “Uhm… kalau begitu… saya akan kembali ke ruangan saya. Kerjaan—”

"Lupakan soal pekerjaan untuk malam ini," potong Damian. Dia berdiri, lalu mengambil jas yang tadi sempat ia lepas. "Aku antar kamu pulang."

Lara segera menolak. “Tidak perlu, Pak. Saya naik bus aja,” ujar Lara. Ia segera bangun dari kasur. “Saya sudah banyak merepotkan Bapak hari ini.”

Damian berjalan mendekat, menatap Lara dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. 

"Ini bukan tawaran, Lara. Ini perintah. Aku tidak akan membiarkan asistenku yang baru saja pingsan pulang sendirian di malam hari. Aku masih punya hati."

Lara mencoba mencari alasan lain, namun melihat tatapan tajam dan otoriter Damian, dia tahu tak ada gunanya membantah. Damian tidak akan membiarkannya pergi sendiri.

"Kita berangkat sekarang."

Damian berbalik dan keluar dari ruang istirahat, Lara mengikutinya dengan perasaan campur aduk. 

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. 

Lara terus menatap ke luar jendela, merasa cemas luar biasa. Bagaimana jika Damian melihat rumahnya yang berantakan? Bagaimana jika dia melihat betapa menyedihkan hidup Lara sebenarnya?

“Saya turun di sini saja, Pak,” ujar Lara begitu mereka tiba di depan gang rumah kontrakannya.

“Saya antar sampai depan rumah.”

Ucapan Damian terdengar mutlak. Lara hanya bisa pasrah.

Begitu mobil berhenti di depan rumah kontrakannya, Damian menatap bangunan tua itu dengan alis terangkat. 

"Kamu tinggal di sini?"

Lara tidak menjawab, dia keluar dari mobil dengan cepat. Namun, Damian justru ikut turun dan berjalan di belakangnya.

"Pak, Bapak tidak perlu—"

“Kamu mau membiarkan tamu nunggu di luar?”

Lara menghela napas panjang. Ia pun membuka pintu rumahnya, dan saat itulah dia sadar telah melakukan kesalahan fatal. 

Pintu yang semalam dirusak oleh Faris masih terlihat sangat memprihatinkan, dan bagian dalam rumah masih berantakan karena pencurian emas belum sempat dirapikan.

Damian melangkah masuk ke dalam rumah, matanya menyapu setiap sudut yang berantakan, dari sofa yang sobek hingga perabot yang terbalik. 

Tatapannya kemudian berhenti pada Lara, yang berdiri mematung dengan wajah memerah karena malu yang amat sangat.

Damian tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Dia hanya menatap sekeliling dengan pandangan yang perlahan berubah dari kebingungan menjadi kemarahan.

"Jadi, ini alasanmu selalu terlihat hancur?" suara Damian rendah, nyaris seperti geraman. Dia berbalik menatap Lara dengan mata yang menyala. "Tinggal di tempat sampah dan diperlakukan seperti barang tidak berharga?"

Lara menunduk, air matanya hampir jatuh. "Ini bukan urusan Bapak..."

Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Lara terpojok ke dinding yang retak. 

"Tentu saja ini urusanku, Lara. Kamu asistenku. Dan aku tidak suka orangku dihancurkan oleh pecundang yang bahkan tidak bisa memberi tempat tinggal layak!"

Lara menatap Damian dengan mata nanar. "Lalu Bapak mau apa? Mengasihani saya?"

Damian menatapnya dengan intensitas yang membuat Lara hampir berhenti bernapas. "Tidak. Aku tidak mengasihanimu. Aku akan mengakhiri ini semua."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   168. Utuh Seutuhnya [TAMAT]

    Beberapa bulan kemudian… Cahaya matahari pagi menerobos melalui celah tirai ruang tengah, membiaskan pendar keemasan di atas lantai. Damian melangkah keluar dari area dapur dengan kaus santai yang sedikit kusut dan apron kain tipis yang terpasang agak miring. Di dada tegapnya, seorang bayi perempuan berusia tiga bulan mengenakan sleepsuit merah muda tampak memiringkan kepala, sibuk mengunyah ujung kain yang menempel di pundak ayahnya. Damian memegang botol susu hangat di satu tangan, sementara tangan satunya lagi menyangga punggung mungil putri mereka dengan canggung tapi teramat hati-hati. "Bentar ya, sayang... botolnya masih agak hangat," gumam Damian pelan, berusaha mengarahkan dot ke mulut kecil bayinya seraya berjalan bolak-balik kecil di ruang tengah. Lara yang baru keluar dari kamar mandi berdiri terpaku di ambang pintu. Sudut bibirnya terangkat tinggi melihat pemandangan menggemaskan di depannya: mantan direktur yang kini tampak agak kelimpungan dengan rambut sedikit be

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   167. Hari yang Ditunggu

    Langkah kaki Lara melambat seiring perutnya yang kian membuncit di usia kehamilan delapan bulan.Di sudut ruang tengah rumah mereka, sebuah boks bayi kayu berwarna putih sudah berdiri rapi. Damian sedang berlutut di lantai, mengencangkan baut terakhir pada kaki boks kayu itu menggunakan obeng. Kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan otot tangannya yang tegang setiap kali memutar perkakas."Udah selesai, sayang?" tanya Lara seraya berjalan mendekat sambil memegangi pinggang belakangnya.Damian menggoyangkan struktur boks kayu itu dengan kedua tangannya, memastikan tidak ada yang goyah sedikit pun, lalu berdiri. "Sudah nih, sudah kokoh. Nggak akan goyang."Pria itu mengusap keringat tipis di pelipisnya, lalu pandangannya beralih ke wajah Lara. Dalam sekejap, raut fokusnya berubah menjadi lembut. Tangannya terulur meraih siku Lara, menuntun istrinya untuk duduk perlahan di tepi ranjang."Kan aku bilang tunggu aku yang pindahin baju-baju bayinya ke lemari," tegur Damian pelan se

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   166. Kejutan

    Dua minggu belakangan, ada yang berbeda dari keseharian Lara. Bukan cuma rasa lelah yang datang lebih cepat setiap kali ia memotong tangkai bunga di toko, tetapi juga indra penciumannya yang mendadak luar biasa peka. Pagi ini saja, aroma wangi kopi hitam segar yang diseduh Damian di dapur mendadak membuat perut Lara mual hebat. Lara tergesa-gesa berlari ke kamar mandi, membungkuk di atas kloset dan mengeluarkan cairan bening dengan dada kempas-kempis. Damian yang mendengar suara itu langsung menyusul dengan wajah cemas. Ia berlutut di samping Lara, memijat lembut tengkuk istrinya seraya mengusap punggung wanita itu. "Masih mual?" tanya Damian pelan, suaranya sarat kekhawatiran. "Hari ini nggak usah ke toko dulu ya. Biar Fani yang pegang toko sendirian. Kita ke dokter aja." Lara menyeka mulutnya dengan tisu, menggeleng pelan. "Nggak usah, Damie. Cuma masuk angin biasa kok. Kemarin malam kan sempat hujan pas kita pulang." Damian menatap wajah Lara yang agak pucat dengan dahi b

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   165. Posisi Favorit

    “Mau tidur atau mau lanjut, hm?”Lara diam sebentar. Pipinya langsung terasa panas. Tadi dia memang sudah agak mengantuk, tapi pertanyaan Damian itu membuat tubuhnya yang masih lengket dan peka itu langsung bereaksi lagi. Ia dapat merasakan milik Damian masih setengah tegang di bawah selimut, menempel hangat dan menekan di paha dalamnya. Aroma tubuh mereka yang tercampur keringat, aroma percintaan, dan parfum Damian yang samar masih menggantung di udara kamar.“Mau… lanjut,” jawab Lara pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Dia tidak berani menatap wajah Damian, malah menyembunyikan wajah di dada sang suami. Kulit Damian terasa panas di pipinya.Damian tersenyum. “Hm? Nggak kedengeran, sayang.”Lara menggigit bibir, lalu mengangkat wajah sedikit. “Mau lagi… aku mau lanjut.”“Kenapa malu-malu gitu, hm?” goda Damian sambil mengusap pinggangnya. Jari-jarinya terasa hangat, meninggalkan jejak panas di kulit Lara yang masih sensitif.Lara merengek malu, tapi tubuhnya bergerak sendiri.

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   164. Morning Florist

    Aroma harum mawar, sedap malam, dan daun eucalyptus yang baru dipotong memenuhi setiap sudut ruangan itu.Di balik meja yang berada di tengah toko, Lara cekatan memotong tangkai mawar putih dengan gunting dahan. Jari-jemarinya yang makin terampil menyusun tangkai demi tangkai ke dalam kertas pembungkus berwarna cokelat pucat, mengikatnya rapi dengan tali rami.Tiga bulan sejak pertama kali menyewa ruko kecil ini, Morning Florist sudah menemukan ritmenya. Toko makin sering dihampiri pelanggan, mulai dari penghuni perumahan sekitar hingga pesanan bunga meja untuk kafe-kafe."Mbak Lara, pesanan buket mawar merah buat Mas yang di depan sudah selesai?" tanya Fani, gadis muda yang membantu Lara mengurus toko, seraya membawa ember berisi tangkai krisan segar."Sudah, Fan. Ini tinggal kasih kartu ucapan," jawab Lara seraya tersenyum manis. Ia menempelkan stiker logo kecil berwujud kelopak bunga di sudut pembungkus.Saat Lara menyerahkan buket itu ke meja kasir, pintu kaca toko yang dipasangi

  • Bos, Kita Masih di Kantor!   163. Suami-Istri Suportif

    Aroma kopi menyambut Lara begitu ia memutar gagang pintu kaca ruko dua lantai di kawasan Dharmawangsa itu.Ruangan di lantai satu didesain terbuka dengan konsep minimalis. Meja kayu panjang berdiri di tengah ruangan, dikelilingi beberapa kursi. Tidak ada papan nama besar seperti gedung Atmadja Corp dulu, hanya ukiran kayu bertuliskan Lara Strategic Advisory di samping resepsionis.Arman sedang sibuk merapikan kabel monitor di sudut meja ketika Lara melangkah masuk membawa tas kain besar dan sebuah pot tanaman hias kecil berdaun hijau pekat."Pagi, Bu Lara," sapa Arman seraya meluruskan punggungnya."Pagi, Man. Ini aku bawain monstera kecil buat di meja depan biar agak segeran," sahut Lara seraya meletakkan pot itu di sudut meja kayu.Dari arah ruang kerja di lantai dua, langkah kaki Damian terdengar menuruni tangga. Pria itu mengenakan kemeja biru muda tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Raut wajahnya jauh lebih rileks akhir-akhir ini."Datang jam berapa, sayang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status