MasukLara mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tersisa. Wajah Damian tampak buram di atasnya. "Pak… saya... saya capek..."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian mengangkat tubuh Lara dalam satu gerakan cepat dan menggendongnya ala bridal style.
Lara yang sudah tidak memiliki tenaga untuk memprotes hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Damian yang berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.
Damian membawa Lara masuk ke gedung melalui lift eksklusif, lalu langsung menuju ruang kerjanya.
Dia tidak meletakkan Lara di sofa luar, melainkan membawanya masuk ke ruang istirahat pribadi yang tersembunyi di balik pintu kayu di dalam ruang kerjanya sendiri.
Damian membaringkan Lara dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur minimalis yang rapi.
"Aku panggil dokter sekarang," ujar Damian, tangannya sudah meraih ponsel dengan jari gemetar.
"Jangan, Pak..." Lara menahan lengan Damian, suaranya lemah namun kukuh. "Tolong... jangan. Saya cuma butuh istirahat sebentar aja. Lima belas menit. Saya mohon."
Damian terdiam, menatap Lara yang pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran di dahi. Wajah wanita itu tampak begitu rapuh, seolah bisa hancur jika dia sedikit saja bersikap kasar.
Damian akhirnya mengangguk pelan. Dia meletakkan kembali ponselnya, lalu menarik kursi ke samping tempat tidur.
Alih-alih pergi untuk melanjutkan pekerjaannya, Damian justru tetap duduk di sana. Dia memerhatikan setiap tarikan napas Lara yang perlahan kembali teratur.
Keheningan menyelimuti ruangan itu, membuat atmosfer di antara mereka terasa sangat berbeda.
Lara terlelap karena kelelahan yang ekstrem. Saat dia terbangun, ruangan itu sudah gelap, hanya diterangi lampu meja yang temaram.
Dia terkesiap saat menyadari Damian masih ada di sana, duduk dengan tenang sambil menatapnya.
"Sudah bangun?" tanya Damian pelan.
Lara bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Maaf, Pak. Saya ketiduran," ujarnya merasa tak enak hati. “Bapak… kenapa masih di sini?”
“Jadi saya harusnya di mana?”
Lara menggaruk pelipisnya, mati kutu. “Uhm… kalau begitu… saya akan kembali ke ruangan saya. Kerjaan—”
"Lupakan soal pekerjaan untuk malam ini," potong Damian. Dia berdiri, lalu mengambil jas yang tadi sempat ia lepas. "Aku antar kamu pulang."
Lara segera menolak. “Tidak perlu, Pak. Saya naik bus aja,” ujar Lara. Ia segera bangun dari kasur. “Saya sudah banyak merepotkan Bapak hari ini.”
Damian berjalan mendekat, menatap Lara dengan tatapan yang tidak menerima bantahan.
"Ini bukan tawaran, Lara. Ini perintah. Aku tidak akan membiarkan asistenku yang baru saja pingsan pulang sendirian di malam hari. Aku masih punya hati."
Lara mencoba mencari alasan lain, namun melihat tatapan tajam dan otoriter Damian, dia tahu tak ada gunanya membantah. Damian tidak akan membiarkannya pergi sendiri.
"Kita berangkat sekarang."
Damian berbalik dan keluar dari ruang istirahat, Lara mengikutinya dengan perasaan campur aduk.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.
Lara terus menatap ke luar jendela, merasa cemas luar biasa. Bagaimana jika Damian melihat rumahnya yang berantakan? Bagaimana jika dia melihat betapa menyedihkan hidup Lara sebenarnya?
“Saya turun di sini saja, Pak,” ujar Lara begitu mereka tiba di depan gang rumah kontrakannya.
“Saya antar sampai depan rumah.”
Ucapan Damian terdengar mutlak. Lara hanya bisa pasrah.
Begitu mobil berhenti di depan rumah kontrakannya, Damian menatap bangunan tua itu dengan alis terangkat.
"Kamu tinggal di sini?"
Lara tidak menjawab, dia keluar dari mobil dengan cepat. Namun, Damian justru ikut turun dan berjalan di belakangnya.
"Pak, Bapak tidak perlu—"
“Kamu mau membiarkan tamu nunggu di luar?”
Lara menghela napas panjang. Ia pun membuka pintu rumahnya, dan saat itulah dia sadar telah melakukan kesalahan fatal.
Pintu yang semalam dirusak oleh Faris masih terlihat sangat memprihatinkan, dan bagian dalam rumah masih berantakan karena pencurian emas belum sempat dirapikan.
Damian melangkah masuk ke dalam rumah, matanya menyapu setiap sudut yang berantakan, dari sofa yang sobek hingga perabot yang terbalik.
Tatapannya kemudian berhenti pada Lara, yang berdiri mematung dengan wajah memerah karena malu yang amat sangat.
Damian tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Dia hanya menatap sekeliling dengan pandangan yang perlahan berubah dari kebingungan menjadi kemarahan.
"Jadi, ini alasanmu selalu terlihat hancur?" suara Damian rendah, nyaris seperti geraman. Dia berbalik menatap Lara dengan mata yang menyala. "Tinggal di tempat sampah dan diperlakukan seperti barang tidak berharga?"
Lara menunduk, air matanya hampir jatuh. "Ini bukan urusan Bapak..."
Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Lara terpojok ke dinding yang retak.
"Tentu saja ini urusanku, Lara. Kamu asistenku. Dan aku tidak suka orangku dihancurkan oleh pecundang yang bahkan tidak bisa memberi tempat tinggal layak!"
Lara menatap Damian dengan mata nanar. "Lalu Bapak mau apa? Mengasihani saya?"
Damian menatapnya dengan intensitas yang membuat Lara hampir berhenti bernapas. "Tidak. Aku tidak mengasihanimu. Aku akan mengakhiri ini semua."
Telapak tangan Damian yang besar dan hangat menelusuri rahang Lara dengan ujung ibu jari yang bergerak pelan."Lara," panggil Damian berbisik. Suaranya serak, rendah, dan sarat perhatian."Hm?" Lara menatap balik manik mata gelap pria itu. Tangannya yang semula bertengger di dada Damian perlahan naik, merayap hingga ke tengkuk kokoh suaminya."Badanmu benar-benar tidak apa-apa?" Damian bertanya memastikan, seolah ingin menegaskan batas kenyamanan wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah lebih jauh. "Dokter memang bilang rahimmu sudah pulih total, tapi kalau kamu masih cemas... kita bisa berhenti kapan saja."Lara tersenyum tipis. Rasa haru yang hangat menyelinap di balik rusuknya. Sikap penuh kehati-hatian Damian justru menepis setiap sisa ketakutan yang pernah ada di benaknya.Lara menarik tengkuk Damian ke bawah, mempersempit sisa jarak di antara bibir mereka. "Aku nggak cemas sama sekali, Damian. Aku percaya sama kamu."Ciuman itu mendarat lembut. Damian memulainya denga
Lara melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya menyapu ruang depan yang didesain minimalis. Sofa panjang menghadap ke dinding, sementara di sisi kiri terdapat dapur bersih dengan meja bar kecil yang langsung berhadapan dengan pintu kaca geser ke arah taman belakang. "Taman belakangnya lucu banget," gumam Lara seraya melangkah ke dekat pintu kaca. Di luar, sepetak rumput mini tertata rapi diapit pohon kamboja berbunga putih dan deretan tanaman bambu air di sepanjang pagar bata merah. Damian menyusul di belakangnya, membawa dua koper sedang di kedua tangannya. Pria itu meletakkan koper di samping tangga kayu menuju lantai dua. "Dulu waktu beli, aku minta bagian belakang dibuat terbuka begini supaya ada angin masuk," kata Damian seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya. "Kamar tidur ada di atas. Mau lihat sekarang?" Lara menoleh dan mengangguk antusias. Mereka menaiki anak tangga kayu yang tidak berderit sama sekali. Di lantai dua, kamar tidur utama menghadap langsung
"Bagaimana para saksi? Sah?""Sah.""Alhamdulillah."Kata itu meluncur serempak di ruang tengah yang sejuk. Hembusan napas lega terdengar jelas dari beberapa orang yang duduk mengelilingi meja kayu berkain putih polos.Lara yang duduk di samping Damian menundukkan kepala sejenak, merasakan getaran hangat yang mendadak meluap di balik dadanya. Di atas meja, dua map dokumen hijau dan merah marun berlogo emas sudah terbuka lebar.Petugas pencatat nikah tersenyum ramah seraya menyodorkan pulpen bertinta hitam ke hadapan mereka. "Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Damian, Bu Lara."Damian mengambil pulpen itu tanpa ragu. Goresan tanda tangannya mantap dan tegas di atas kertas tebal bermaterai. Setelah itu, ia menyerahkan pulpennya kepada Lara.Tangan Lara sempat gemetar tipis saat menyentuh kertas, namun telapak tangan Damian yang hangat langsung bertumpu di paha atasnya, menyalurkan ketenangan yang ia butuhkan. Tanda tangan kedua resmi terukir berdampingan.Arman, yang berdiri rap
Plak.Sebuah ember plastik hitam berisi air cucian sabun yang sudah keruh dibanting tepat di depan kaki Amara. Percikan airnya mengenai ujung celana katun biru tua bernomor punggung tahanan yang ia kenakan."Sikat sampai kerak lumutnya rontok," tegur seorang wanita gempal dengan tato naga pudar di lengan kanannya. Wanita itu melempar sikat ijuk bergagang patah ke lantai semen. "Giliran lu bebersih lorong sel."Amara mematung di samping pintu jeruji besi. Matanya yang merah menyala menatap sikat kotor itu dengan rasa jijik yang luar biasa."Lu nggak tahu siapa gue?!" desis Amara tajam, suaranya tercekat di tenggorokan. "Keluarga Danuarta bisa beli tempat busuk ini dan seisinya dalam semalam. Jangan berani-berani perintah gue!"Wanita bertato itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru mendengus geli, melangkah maju dua langkah hingga tubuh besarnya membayangi Amara. Telunjuknya mengetuk pelipis Amara dengan dorongan kasar."Keluarga Danuarta yang mana, Neng? Yang rekeningnya disita kejaks
Lara membuka matanya perlahan.Sensasi pertama yang menyapanya pagi itu adalah kehangatan dada kokoh yang menempel di pipinya, serta detak jantung yang berdenyut tenang dan berirama. Lengan kekar Damian masih melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh Lara seolah enggan memberi celah bagi udara dingin untuk menyusup.Lara mendongak sedikit. Wajah Damian tertidur lelap tepat di depannya.Dalam tidurnya, wajah mantan direktur itu tampak polos, santai, dan jauh lebih muda. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan di dahi.Senyum kecil tersungging di bibir Lara.Perlahan, tangannya terangkat dari balik selimut. Jemarinya menyentuh helai rambut di kening Damian, lalu turun menyusuri rahang pria itu yang mulai ditumbuhi bayang cambang tipis. Sentuhannya sangat ringan, hampir menyerupai sapuan angin.Namun belum sempat Lara menarik kembali tangannya, jemari Damian yang bebas mendadak bergerak cepat menangkap pergelangan tangannya.Mata Damian terbuka perlahan. Manik matanya yang g
"Lara, tidak perlu..."Damian menahan kedua pergelangan tangan Lara yang bertengger di kerah kemejanya. Napas pria itu masih berat, dadanya naik turun dengan ritme yang memburu. "Kamu baru saja selesai. Badanmu butuh istirahat."Lara tidak mundur sedikit pun. Alih-alih melepaskan genggaman, ia justru memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Damian yang menggelap."Aku nggak selemah itu, Damian," bisik Lara, suaranya tenang namun sarat ketegasan yang tak biasa. "Tadi kamu mikirin kenyamananku sampai menahan dirimu sendiri kayak gini. Sekarang giliranku."Damian menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang menahan dorongan hasrat yang sejak tadi bergolak di balik dinding kendali dirinya. "Lara, ini bukan soal giliran—"Kata-kata Damian terputus saat Lara menunduk, mendaratkan ciuman lembut di sudut bibirnya, lalu turun menyusuri rahang pria itu hingga ke lekuk lehernya. Hembusan napas hangat Lara di kulit sensitif itu membuat tubuh Da







