LOGINBen Horik menangis tersedu-sedu, merangkak menyeret rantainya ke hadapan kaki Jordan dan Maximus untuk memohon ampun. Namun, Maximus segera menendang wajah pria itu, yang telah berkali-kali hampir membuat nyawanya melayang.Tak butuh waktu lama, ruangan tahanan khusus itu seketika berubah total menjadi arena pelampiasan dendam kesumat.Para tenaga medis kini datang berbaris di dekat pintu, memperhatikan dengan waspada sambil menunggu isyarat dari Elias untuk memberikan pertolongan darurat, sebab aturan negara melarang para tahanan itu tewas sebelum diadili.Wajah Mister Bough sudah hancur berdarah-darah, bengkak, dan dipenuhi lebam kebiruan. Kelopak matanya bahkan hampir tertutup rapat akibat hantaman bertubi-tubi. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Kai urung untuk terus melayangkan pukulan mautnya."Ini untuk ibuku! Dan ini untuk adikku!" pekik Kai histeris, terus menghujani wajah Bough dengan pukulan bertubi-tubi sampai Jasper dengan sigap menarik pinggang pemuda itu ke belaka
Hari berikutnya, di dalam fasilitas tahanan khusus yang dijaga ketat oleh aparat keamanan negara, pintu besi berjeruji tebal itu terbuka lebar.Jordan melangkah masuk dengan tegap dan dingin. Di sisi kanan dan kirinya, barisan lelaki tangguh mendampingi, ada Maximus, Gustav, Kai, serta Jasper, kakak laki-laki Vanesha yang baru saja tiba dari Filipina.Elias menyambut kedatangan rombongan Jordan yang tentu saja dilakukan secara rahasia."Selamat datang, Bos Jordan," ucap Elias, menundukkan kepalanya penuh hormat kepada pemuda bermata biru itu yang kini memimpin organisasi mafia peninggalan Rollo Connor.Jordan memberikan tanggapan berupa anggukan kepala tanpa kata. Matanya melirik sekilas ke arah seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakang Elias."Dia adalah Tiger, mantan asisten pribadi Mister Bough," bisik Maximus, memandang tajam penuh intimidasi ke arah Tiger.Dahulu, Maximus dan Tiger sering saling berbalas tembakan, dan pria itu berkali-kali memperalat orang-orangnya untuk m
Langit yang sebelumnya gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, kini dipecah oleh deru helikopter dengan lampu sorotnya yang menyinari sekeliling. Pun dari kejauhan, bergema suara sirine dan deru mesin mobil yang mendekati lokasi Jordan, Lagertha, Maximus, dan anak buah mereka.Sementara itu, di dasar lembah, puluhan pembunuh bayaran dari kelompok Viper gadungan tewas bergelimpangan dihabisi oleh Zero seorang diri."Beraninya kalian para manusia sampah mengaku sebagai kelompok Viper, huh?! Apa kalian tidak pernah berpikir bahwa Viper yang asli akan datang? Viper tidak pernah membentuk kelompok dan tidak memiliki koloni menjijikkan seperti kalian!" dengkus Zero bengis, menatap tajam pada pembunuh bayaran terakhir yang menatapnya dengan bola mata membelalak ketakutan sebelum nyawanya melayang.Tak lama kemudian, sebuah mobil baja tiba dan langsung berhenti berjarak sekitar tiga meter di depan rombongan Jordan.Menteri Jonas turun dengan tergesa-gesa tanpa mengenakan pakaian dinas resmi. Ia
"Beritahu Kai untuk mundur perlahan..." ucap Lagertha tenang seolah tahu ada bahaya yang mengancam di depan Vanesha dan Kai, sementara ia terus membidik tepat sasaran lawan-lawan mereka bersama Maximus dan Jordan yang menembak sambil melindunginya."Ada Mister Bough dan Ben Horik di depan..." seru Vanesha dengan suara gemetar ketakutan, mendekap Joshua yang terbangun dan menangis histeris mencari-cari Jordan serta Lagertha.Sudut bibir Lagertha tersenyum menyeringai mendengar laporan dari Vanesha, "Ada Mister Bough dan Ben Horik menghadang mobil Kai." tuturnya pelan memberitahu Jordan dan Maximus yang melihat mobil Kai bergerak mundur kembali ke arah mereka.Di dalam mobil, Vanesha yang awalnya duduk di bangku penumpang samping Kai, berpindah ke kursi belakang sambil tetap memeluk erat tubuh Joshua yang merengek gelisah dengan air mata sedih membanjiri wajah montoknya.
Dua bulan telah berlalu. Keadaan di Swedia yang sempat gempar karena kejahatan Mister Bough dan Ben Horik, kini sudah kembali tenang.Seminari membuat permintaan maaf secara terbuka di media yang ditujukan kepada Jordan dan keluarganya. Namun, Jordan menolak untuk muncul atau menanggapi pernyataan dari institusi tersebut.Bagi Jordan, semua itu sudah menjadi masa lalu. Ibunya, Mary Helena, bahkan telah meninggal dunia dengan damai tanpa pernah menyimpan rasa sakit hati ataupun dendam atas fitnah keji yang pernah dialaminya.Kendati demikian, bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Mister Bough dan Ben Horik masih belum berhasil diringkus oleh agen intelijen negara yang terus memperketat pencarian. Pemerintahan Swedia juga telah berkoordinasi secara intensif dengan Interpol serta jaringan agen intelijen negara-negara tetangga untuk menutup selur
Kemarahan yang sama kini juga meletup di setiap sudut jalanan Swedia. Bukti video amatir warga yang terekam kamera ponsel, yang secara kebetulan pernah melihat Yuri dan Vincent berkencan di tempat hiburan setelah 'kematian' yang diumumkan seminari, berhamburan di media sosial, semakin memperkuat bukti bahwa seluruh skenario keji itu murni rekayasa busuk untuk menumbalkan Jordan."Mereka benar-benar iblis berwujud manusia! Tidak cukup dengan menghancurkan masa depan Jordan, bahkan setelah Jordan dibebaskan pun mereka masih memfitnahnya dengan menyebut monster pembunuh kejam!" caci para warga sambil meludah, seolah membuang sial karena sempat mempercayai fitnah rekayasa Mister Bough dan Ben Horik.Di ujung siaran investigasi nasional, layar televisi serentak menampilkan sebuah logo resmi keamanan negara dengan deretan angka tebal berwarna merah menyala. Sebuah imbauan tegas berkumandang dari pen
Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m
Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan. Namun ... Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan p
Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun. Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan. Sebaliknya Jordan justru te
Jordan terbangun saat mendengar suara langkah kaki dan keributan orang di luar pintu kamarnya. Namun betapa terkejutnya pria muda itu saat mendapati ada tubuh wanita telanjang di sebelahnya yang dia mendapati dirinya juga tanpa ada pakaian satu helai benangpun menutupi tubuhnya selain selimut tipis







