ログイン“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya.
”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Kenapa, sih? Dari tadi lo nanya itu mulu,” tanya Tere penasaran. ”Nggak, biar gue nggak syok kayak kemarin ngeliat ada yang make out di sofa gue, punya apartemen sendiri malah di tempat orang. Dasar nggak sopan!” Tere tertawa tanpa merasa bersalah. “Tadinya dia nganterin gue doang, Nai. Sambil nunggu lo pulang, eh lo nggak pulang-pulang. Mula-mulanya make out lalu lama-lama, kok, enak? Makanya jadi—hahaha!” Tere tertawa saat Naila menoyor kepalanya. “Parah, make out tanpa permisi di tempat orang." ”Ada angin apa si bos tadi ngasih masukan?” Gabriel tiba-tiba duduk sambil membawa piringnya. ”Tumben baik,” timpal Agus, ikut duduk di samping Naila. ”Nggak usah banyak bacot, udah dikasih arahan bukannya bersyukur malah pada ngomel, heran gue sama kalian.” ”Tapi aneh aja, Nai. Biasanya cuma bilang ‘pikir aja sendiri, kalian arsiteknya, kan?’ Lah, dia pikir dia bukan arsitek? Kadang-kadang pengen gue santet tapi nggak kenal dukun,” ujar Edo. ”Kenalnya cuma dukun beranak ‘kan, Do?” Tere tertawa. ”Itu juga Mas Edo ngutang sama dukunnya,” ledek Naila. ”Gila aja lo, ya kali bini gue beranak di dukun.” Edo meraih americano-nya, “tapi tetap kaget dia tiba-tiba jadi baik.” ”Berarti doa gue diijabah, doa orang teraniaya biasanya dikabulkan lebih cepat.” Agus menyeringai lebar. ”Tuhan juga ogah kali denger doa orang nggak pernah bersyukur kayak lo.” ”Tapi kalian jangan cepat puas dulu, selama yang gue tahu, si bos nggak pernah baik gitu aja,” ujar Naila. “Kita lihat aja sampai kapan dia baik ke kita. Menurut gue, bentar lagi juga bakal marah-marah kayak biasa.” ”Lo jangan gitu, dong. Ini mumpung kita semangat karena nggak diomelin tadi,” jawab Edo. ”Iya, Nai, malah nakutin.” Gabriel ikut angkat bicara. Naila menghela napas sambil geleng-geleng kepala, sibuk menyuap sushi ke dalam mulutnya. “Terserah kalian,” ujarnya dengan mulut penuh. ”Lo makan sushi mulu, nggak bosan?” Agus menoleh ke piring Naila. ”Dia emang penggila sushi, lah elo makan soto mulu, nggak eneg?” balas Tere. ”Belajarlah dari soto. Walaupun terdiri dari banyak elemen, dia tetap menyatu dalam satu mangkok yang harmonis. Seperti kita semua.” “Preeeet!” Semua temannya berteriak bersamaan, membuat Agus tertawa keras. “Soto itu kayak hidup, kadang kuahnya bening, kadang keruh, tapi rasanya selalu bikin kangen,” sambung Edo tiba-tiba. ”Mabok lo, Mas?” Naila memandang bingung. “Kuah soto itu seperti semangat hidup, harus terus mengalir biar semuanya terasa hangat.” Gabriel tiba-tiba ikut mengatakan kalimat random tentang soto. Tere dan Naila saling berpandangan lalu keduanya mengerang jijik. “Hidup tanpa soto itu—“ ”Udah, udah!” Naila menutup mulut Agus dengan tisu, “lo makan aja nanti soto lo diembat Gaby.” Agus tertawa sambil melirik Gabriel yang memang diam-diam mengincar mangkuk sotonya, pria itu berdehem cepat lalu mulai makan agar tidak direbut oleh Gabriel. “Hai, guys, gue ikut gabung, boleh nggak?” Semua mata tertuju pada seorang perempuan yang memegangi nampan berisi makanannya. ”Oh, Alexa, boleh, sini duduk di samping gue.” Gabriel menarikkan kursi untuk Alexa. ”Thanks.” Alexa tersenyum manis, “gue perhatiin kalian bareng terus setiap makan siang, seru banget.” ”Kenapa? Lo nggak punya temen?” tanya Tere sinis. ”Re, jahat bener.” Gabriel melotot. Naila diam-diam menahan tawa sambil memasukkan sushi ke mulutnya. ”Duh, susah banget,” Alexa berusaha keras membuka tutup botol air mineralnya. ”Sini, gue bukain,” Agus mengambil alih botol itu dan membukanya dalam sekali gerakan. ”Thanks, keras banget soalnya.” Alexa tersenyum manis. ”Nggak sekalian lo suapin, Gus? Dia juga kayaknya susah mau pegang sendok karena kuku palsunya runcing banget.” Lagi-lagi Tere berujar sinis. ”Lo ada masalah sama gue, Re? Nggak suka gue duduk di sini? Kalau nggak suka nggak apa-apa, gue bisa cari meja lain.” ”Nggak usah dengerin dia, Lexa, lo duduk aja, dia emang begitu mulutnya. Pedesnya ngalahin gacoan level delapan.” Gabriel buru-buru menahan Alexa yang hendak berdiri, “Duduk aja, makan bareng.” ”Thanks, Gaby.” Alexa lagi-lagi memberikan senyum yang manis. Tere membuat gelagat seperti akan muntah sementara Naila hanya tertawa saja. Sahabatnya itu memang sulit berpura-pura baik terhadap orang yang tidak disukainya. ”Makan siang lo sayuran doang?” Tere tidak tahan untuk bertanya. ”Iya, biasanya memang begini.” ”Sama dong kayak kambing peliharan engkong gue, cuma makan rumput doang. Sama-sama hijau kayak makanan lo.” Secara tidak langsung Tere mengatai Alexa seperti kambing. Naila hampir tersedak oleh tawa dan sushi yang ada di dalam mulutnya, ia menyamarkan tawanya dengan batuk kecil, wanita itu meraih gelas ocha dan meminumnya sampai setengah. “Minggu ini long weekend, kalian ada planing ngapain, guys?” Alexa bertanya sambil memasukkan salad ke dalam mulutnya, ia mengalihkan pembicaraan dan mengabaikan Tere sepenuhnya. ”Nggak ada, gue dikejar deadline, jadi bakal kerja di rumah,” jawab Agus. ”Gue ngurus anak,” sambung Edo. ”Gue mau ke Bandung, ketemu nyokap.” Gabriel ikut menjawab. ”Gue—“ ”Kalau gue rencana mau Singapore, mau ketemu Opa.” Alexa menyela Tere sebelum wanita itu selesai bicara, membuat Tere memicing tajam. Naila menendang kaki Tere di bawah meja, sejak awal Naila memang tidak berniat menjawab pertanyaan itu. ”Opa lo di Singapore?” ”Iya, stay di sana, sekarang udah jadi citizen Singapore, sih. Opa minta gue ikut stay di sana, tapi gue masih betah di Jakarta, masih suka kerja di sini.” Naila dan Tere saling berpandangan sambil menahan raut jijik agar tidak terlalu kentara di wajah mereka. ”Cinta banget sama tanah air?” “Dibilang cinta sih cinta, Gab. Cuma emang nyokap sama bokap gue masih sini, kecuali kalau mereka ikut pindah, gue juga bakal pindah.” ”Nggak nanya,” celetuk Tere. Naila menopang dagu dengan telapak tangan, sudah menghabiskan sushi dan juga ocha-nya sejak tadi, ia menunggu Tere menghabiskan pastanya sebelum mereka kembali ke kantor. Kantin ini memang berada di gedung yang sama dengan kantor mereka, berada di lantai dua Renaldi Corp. Alexa masih sibuk menceritakan perihal keluarganya yang akan ke Singapore untuk bertemu sang kakek, mereka rutin mengunjungi Singapore satu bulan sekali—begitulah menurut cerita Alexa yang tidak begitu didengar oleh Naila karena ia sibuk berkirim pesan dengan Devan.Hari pertama balik ke kantor setelah liburan panjang, Naila melangkah masuk dengan senyum tipis di wajah. Aroma kopi di pantry terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin suasana hatinya masih terbawa sisa liburan bersama Devan.“Nah, akhirnya traveler kita balik juga!” suara Edo langsung menyambut begitu Naila menaruh tas di mejanya.Gabriel, yang lagi nongkrong di meja Agus, langsung nimbrung, “gimana liburannya?”Naila mendesah sambil beres-beres dokumen di meja. “Biasa aja,” jawabnya santai, meskipun ada senyum kecil di ujung bibirnya.“Yaelah, masa biasa aja? Sama pak bos gitu lho!” sahut Edo yang langsung melangkah mendekat. “Lo beneran nggak mau cerita? Mana upload video pak bos lagi main snowboarding. Sengaja ngasih bahan gibah dia. Atau sengaja mau pamerin pacarnya?” Naila hanya tertawa kecil sambil balik badan ke layar komputer. “Males ah cerita. Lo kebanyakan gosip sih,” jawabnya sambil menyalakan komputer, “terus kalau gue emang mau pamer, kenapa emangnya? Masalah buat kal
“Devan!” Naila berseru sambil tertawa, merentangkan kedua tangannya, menikmati sensasi terangkat dari tanah. Devan tersenyum nakal, melingkarkan tangannya lebih erat di tubuh Naila. Dengan lembut, Devan memutar tubuh Naila di udara. Naila tertawa lepas, wajahnya bersinar karena kebahagiaan. “Kamu nggak capek? Aku berat, loh,” katanya sambil tertawa riang.“Nggak, kamu ringan,” jawab Devan, semakin mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, Devan meraih wajah Naila, menariknya dekat, dan tanpa kata, mereka mulai berciuman. Naila menutup matanya, menikmati setiap detik yang terlewati. Ia merasa begitu bahagia, impian yang sudah lama ia simpan akhirnya terwujud. Berdansa dengan orang yang ia cintai di bawah salju, dan kini, ciuman yang lembut dan penuh makna ini, menjadi hadiah yang lebih dari cukup untuknya. Bibir mereka bergerak dengan lembut, Devan mengesap bibir bawahnya dengan perlahan, dengan kelembutan yang membuat Naila memeluk lehernya lebih erat, saat pria itu ganti menyesap
Sambil tersenyum lebar, Devan membelai bokong itu dan kembali menghujam, membuat tangan Naila berpegangan pada dinding sementara pria itu menghentak masuk dari belakangnya dengan kuat.Esoknya, mereka menuju lereng ski. Naila mengenakan pakaian ski lengkap yang membuatnya tampak lucu dengan topi bulu. Devan tertawa kecil saat melihatnya mencoba berdiri dengan susah payah di atas papan ski.“Jangan ketawa, aku serius belajar ini,” protes Naila. “Kamu kan tahu aku nggak bisa main ski.”“Oke, oke,” Devan menahan tawanya dan berdiri di belakang Naila, membantunya menjaga keseimbangan. “Rileks, Sayang, aku nggak bakal biarin kamu jatuh.” Di lereng ski yang putih bersih, suara tawa Naila memenuhi udara dingin yang menggigit. Devan berdiri di dekatnya, memegang kedua lengan Naila yang bergetar entah karena dingin atau gugup. “Sayang, santai aja,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan wanita itu yang sudah terjatuh beberapa kali.“Ih susah banget!” keluh Naila sambil mencoba berdi
Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Mengusap kepala wanita itu yang ditutupi oleh beanie. Naila menoleh ke arah Devan, senyumnya kecil namun hangat. “Makasih udah ajak aku ke sini.”Devan hanya tersenyum kecil. “Apa pun buat kamu.”Setibanya di resort ski, Naila langsung terkagum-kagum melihat bangunan kayu bergaya tradisional Jepang yang dihiasi lentera-lentera kecil di sekelilingnya. Mereka bergegas check-in dan menuju kamar mereka yang hangat, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju dari jendela besar di dalamnya, semuanya
Setelah itu, Arabella melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Naila. “Gimana kalau kita makan sekarang? Tante tahu ada resto enak di sekitar sini, ah jadi ingat masa-masa Tante kerja di sini,” Arabella tertawa pelan. “Tante kenal sama ayahnya Dev juga di kantor ini, dia atasan Tante, sama kayak kamu dan Dev sekarang. Dev pasti sama kayak ayahnya, hobi ngomel, kan?” Arabella menggandeng tangan Naila sambil membawanya melangkah keluar dari lobi, Naila terkejut namun dengan cepat mengikuti, “dia itu kayak ayahnya banget tahu, Nai. Hobi ngomel, marah-marah nggak jelas, kadang manja-manja nggak jelas, juga suka tantrum. Ayahnya aja sampai setua ini masih suka tantrum, kok. Mana cemburuannya kuat banget,” celoteh Arabella di sampingnya. Naila tersenyum kecil membayangkan Devan dan ayahnya pasti sangat mirip, bukan hanya wajah ternyata kelakuannya juga hampir sama.Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di restoran kecil yang tenang, dengan suasana yang nyaman dan elegan. Mereka
Naila sedang berdiri di depan mesin kopi, ia bersandar di tepi meja sambil menunggu kopinya. Wanita itu menoleh sekilas saat Agus masuk ke pantry dan mengambil cup, ikut membuat kopi di sampingnya.”Revisian lo masih banyak? Mau gue bantu? Biar lo bisa liburan dengan tenang.”Naila menoleh, “duh, ada angin apa, nih? Baik banget. Lagi ada maunya lo, ya?”Agus tersenyum kecil, “kerjaan gue udah banyak yang selesai soalnya. Udah bisa santai dikit.””Nggak usah, gue bisa, kok. Udah mau selesai juga, sebelum cuti semuanya udah kelar. Thanks,” Naila tersenyum kecil.Agus ikut bersandar di meja kopi, sejak pertemuan mereka yang mengejutkan di Jogja bulan lalu, mereka belum pernah benar-benar membicarakannya lagi. Baik Naila maupun Agus bersikap seolah-olah pertemuan itu tidak pernah terjadi. Namun sejauh apa pun mereka berpura-pura, tetap saja suatu saat mereka harus membicarakannya.”Gimana waktu di Jogja bulan lalu?” Naila bertanya pelan. Akhirnya wanita itu yang membahasnya lebih dulu. Ag







