ログインHari pertama balik ke kantor setelah liburan panjang, Naila melangkah masuk dengan senyum tipis di wajah. Aroma kopi di pantry terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin suasana hatinya masih terbawa sisa liburan bersama Devan.“Nah, akhirnya traveler kita balik juga!” suara Edo langsung menyambut begitu Naila menaruh tas di mejanya.Gabriel, yang lagi nongkrong di meja Agus, langsung nimbrung, “gimana liburannya?”Naila mendesah sambil beres-beres dokumen di meja. “Biasa aja,” jawabnya santai, meskipun ada senyum kecil di ujung bibirnya.“Yaelah, masa biasa aja? Sama pak bos gitu lho!” sahut Edo yang langsung melangkah mendekat. “Lo beneran nggak mau cerita? Mana upload video pak bos lagi main snowboarding. Sengaja ngasih bahan gibah dia. Atau sengaja mau pamerin pacarnya?” Naila hanya tertawa kecil sambil balik badan ke layar komputer. “Males ah cerita. Lo kebanyakan gosip sih,” jawabnya sambil menyalakan komputer, “terus kalau gue emang mau pamer, kenapa emangnya? Masalah buat kal
“Devan!” Naila berseru sambil tertawa, merentangkan kedua tangannya, menikmati sensasi terangkat dari tanah. Devan tersenyum nakal, melingkarkan tangannya lebih erat di tubuh Naila. Dengan lembut, Devan memutar tubuh Naila di udara. Naila tertawa lepas, wajahnya bersinar karena kebahagiaan. “Kamu nggak capek? Aku berat, loh,” katanya sambil tertawa riang.“Nggak, kamu ringan,” jawab Devan, semakin mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, Devan meraih wajah Naila, menariknya dekat, dan tanpa kata, mereka mulai berciuman. Naila menutup matanya, menikmati setiap detik yang terlewati. Ia merasa begitu bahagia, impian yang sudah lama ia simpan akhirnya terwujud. Berdansa dengan orang yang ia cintai di bawah salju, dan kini, ciuman yang lembut dan penuh makna ini, menjadi hadiah yang lebih dari cukup untuknya. Bibir mereka bergerak dengan lembut, Devan mengesap bibir bawahnya dengan perlahan, dengan kelembutan yang membuat Naila memeluk lehernya lebih erat, saat pria itu ganti menyesap
Sambil tersenyum lebar, Devan membelai bokong itu dan kembali menghujam, membuat tangan Naila berpegangan pada dinding sementara pria itu menghentak masuk dari belakangnya dengan kuat.Esoknya, mereka menuju lereng ski. Naila mengenakan pakaian ski lengkap yang membuatnya tampak lucu dengan topi bulu. Devan tertawa kecil saat melihatnya mencoba berdiri dengan susah payah di atas papan ski.“Jangan ketawa, aku serius belajar ini,” protes Naila. “Kamu kan tahu aku nggak bisa main ski.”“Oke, oke,” Devan menahan tawanya dan berdiri di belakang Naila, membantunya menjaga keseimbangan. “Rileks, Sayang, aku nggak bakal biarin kamu jatuh.” Di lereng ski yang putih bersih, suara tawa Naila memenuhi udara dingin yang menggigit. Devan berdiri di dekatnya, memegang kedua lengan Naila yang bergetar entah karena dingin atau gugup. “Sayang, santai aja,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan wanita itu yang sudah terjatuh beberapa kali.“Ih susah banget!” keluh Naila sambil mencoba berdi
Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Mengusap kepala wanita itu yang ditutupi oleh beanie. Naila menoleh ke arah Devan, senyumnya kecil namun hangat. “Makasih udah ajak aku ke sini.”Devan hanya tersenyum kecil. “Apa pun buat kamu.”Setibanya di resort ski, Naila langsung terkagum-kagum melihat bangunan kayu bergaya tradisional Jepang yang dihiasi lentera-lentera kecil di sekelilingnya. Mereka bergegas check-in dan menuju kamar mereka yang hangat, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju dari jendela besar di dalamnya, semuanya
Setelah itu, Arabella melirik jam tangannya sebelum kembali menatap Naila. “Gimana kalau kita makan sekarang? Tante tahu ada resto enak di sekitar sini, ah jadi ingat masa-masa Tante kerja di sini,” Arabella tertawa pelan. “Tante kenal sama ayahnya Dev juga di kantor ini, dia atasan Tante, sama kayak kamu dan Dev sekarang. Dev pasti sama kayak ayahnya, hobi ngomel, kan?” Arabella menggandeng tangan Naila sambil membawanya melangkah keluar dari lobi, Naila terkejut namun dengan cepat mengikuti, “dia itu kayak ayahnya banget tahu, Nai. Hobi ngomel, marah-marah nggak jelas, kadang manja-manja nggak jelas, juga suka tantrum. Ayahnya aja sampai setua ini masih suka tantrum, kok. Mana cemburuannya kuat banget,” celoteh Arabella di sampingnya. Naila tersenyum kecil membayangkan Devan dan ayahnya pasti sangat mirip, bukan hanya wajah ternyata kelakuannya juga hampir sama.Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di restoran kecil yang tenang, dengan suasana yang nyaman dan elegan. Mereka
Naila sedang berdiri di depan mesin kopi, ia bersandar di tepi meja sambil menunggu kopinya. Wanita itu menoleh sekilas saat Agus masuk ke pantry dan mengambil cup, ikut membuat kopi di sampingnya.”Revisian lo masih banyak? Mau gue bantu? Biar lo bisa liburan dengan tenang.”Naila menoleh, “duh, ada angin apa, nih? Baik banget. Lagi ada maunya lo, ya?”Agus tersenyum kecil, “kerjaan gue udah banyak yang selesai soalnya. Udah bisa santai dikit.””Nggak usah, gue bisa, kok. Udah mau selesai juga, sebelum cuti semuanya udah kelar. Thanks,” Naila tersenyum kecil.Agus ikut bersandar di meja kopi, sejak pertemuan mereka yang mengejutkan di Jogja bulan lalu, mereka belum pernah benar-benar membicarakannya lagi. Baik Naila maupun Agus bersikap seolah-olah pertemuan itu tidak pernah terjadi. Namun sejauh apa pun mereka berpura-pura, tetap saja suatu saat mereka harus membicarakannya.”Gimana waktu di Jogja bulan lalu?” Naila bertanya pelan. Akhirnya wanita itu yang membahasnya lebih dulu. Ag







