Accueil / Romansa / Brondongku Psikopat / Cengkraman Raksasa

Partager

Cengkraman Raksasa

last update Date de publication: 2026-07-17 08:07:08

Brak!!

Pintu apartemen di pusat kota Frankfurt itu tertendang kasar hingga engselnya berderit parah. Sebelum sempat Bram melangkah keluar membawa mantel dan paspornya, sesosok pria asing bertubuh kekar langsung menerobos masuk. Setelan jas hitamnya tampak ketat membungkus otot-ototnya yang masif, khas mantan militer Eropa Timur.

Tanpa basa-basi, moncong pistol berperedam suara hitam pekat sudah ditodongkan tepat ke arah dada Bram.

"Mau pergi ke mana, Tuan Bram? Sayangnya, penerbangan Anda hari
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Brondongku Psikopat   Aliansi Iblis

    Tangan Jeremy terasa sedingin es saat Kiana menjabatnya. Sirene polisi meraung semakin dekat, memantul di antara dinding beton basemen yang hancur. Waktu mereka tidak banyak."Ikut aku. Sekarang," desis Jeremy, langsung menarik tangan Kiana dengan kasar menuju sudut gelap area parkir luar.Sebuah mobil sedan sport berwarna abu-abu gelap terparkir tersembunyi di balik bayangan pohon besar. Jeremy membuka pintunya dengan cepat, mendorong Kiana masuk ke kursi penumpang sebelum dia sendiri melompat ke kursi kemudi. Mesin mobil menderu halus, lalu melesat pergi tepat saat tiga mobil polisi pertama menerobos masuk ke area penthouse.Kiana mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya masih menatap ke luar jendela, ke arah van hitam Laura menghilang."Ke mana Laura bawa Bram?" tanya Kiana, suaranya bergetar menahan amarah.Jeremy memutar kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk membuka laptop dengan layar retak di pangkuannya. "Laura punya safe house di pinggiran Frankfu

  • Brondongku Psikopat   Kesepakatan Berdarah

    Napas Kiana memburu. Dadanya terasa seperti mau meledak, tersedak asap tebal dan bau mesiu yang menyesakkan lorong basemen yang remang-remang. Ledakan keras beberapa saat lalu tidak hanya memecahkan dinding kaca di atas, tetapi juga menghancurkan sistem kelistrikan gedung, memicu kepanikan massal di ruang bawah tanah ini.Dalam kekacauan merah temaram dari lampu darurat yang berkedip-kedip, Kiana berlari tanpa arah. Beruntung baginya, seluruh anak buah Jeremy tampak panik dan kocar-kacir, terpusat sepenuhnya untuk naik ke atas demi melindungi bos mereka. Tidak ada yang memedulikan sosoknya yang kotor dan terhuyung-huyung di antara reruntuhan semen.Aku harus keluar. Aku harus hidup! Kiana menggigit bibirnya sampai berdarah, memaksakan kakinya yang lemas untuk terus melangkah melintasi jalur evakuasi yang berdebu.Begitu berhasil mendorong pintu besi darurat yang berat, hawa dingin malam kota Frankfurt langsung menerpa wajahnya yang bersimbah peluh. Kiana terbatuk, menghirup udara sega

  • Brondongku Psikopat   Dendam Mantan

    "KIANA!!!"Jeritan Bram menggema, menyayat keheningan gudang itu. Dunianya runtuh dalam satu detik saat suara letusan senjata api itu menembus pelantang suara ponsel Jeremy.Akan tetapi, tubuh Bram tidak lagi peduli pada rasa sakit atau tali yang baru saja dilepas kasar. Menggunakan sisa adrenalin yang membakar dadanya, Bram menerjang maju. Dia melompati meja kaca, menggunakan seluruh berat badannya untuk merobohkan Jeremy Baran.Bruk! Prang!Meja kaca itu bergeser, botol dan gelas wine mahal hancur berkeping-keping di atas lantai marmer hitam. Bram berhasil mencengkeram kerah jas abu-abu Jeremy, menekan pria itu ke lantai dengan mata yang memerah dan air mata kemarahan yang mulai mengalir."Bajingan! Kamu bunuh dia! Kamu bilang mau lepasin dia, brengsek!" teriak Bram histeris. Kepalan tangannya melayang, menghantam rahang Jeremy hingga kepala pria itu terhentak ke samping."Bram! Hentikan! Diam kamu!" Jeremy mengerang, mencoba menahan lengan Bram yang kembali terangkat. Pengawal Jere

  • Brondongku Psikopat   Jebakan di Balik Kabut

    Kepala Bram rasanya mau pecah. Denyut di pelipisnya terasa begitu menyiksa saat kesadarannya perlahan kembali. Bau obat bius yang menyengat dan kimiawi masih tertinggal pekat di indra penciumannya, membuat perutnya mual."Sial..." lenguh Bram, mencoba menggerakkan kedua tangannya.Nihil. Tangannya terikat erat ke belakang di sebuah kursi besi. Sentuhan logam dingin itu terasa menusuk kulit pergelangan tangannya yang mulai lecet. Kokoh dan sama sekali tidak memberikan ruang untuk bergerak sedikit pun.Mata Bram mengerjap beberapa kali. Pandangannya buram dan berbayang, sebelum akhirnya dia berusaha keras menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan yang temaram. Begitu pandangannya jernih, jantungnya langsung mencelos ke dasar lambung. Ruangan ini bukan lagi gudang tua Mainkai yang kotor, basah, dan berbau amis sungai. Ini adalah sebuah ruangan penthouse mewah berlantai marmer hitam mengilat dengan dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gemerlap kota Frankfurt dari ketinggian, ter

  • Brondongku Psikopat   Jeremy Baran

    Bram menatap layar ponselnya dengan dada yang mendadak lowbat. Napasnya tertahan. Pesan singkat dari nomor tak dikenal itu terasa seperti vonis mati.‘Wanitamu ada di tangan kami sekarang. Jika ingin dia selamat, bawa seluruh data enkripsi Anindya Karya ke dermaga tua Mainkai dalam waktu tiga puluh menit, atau kamu hanya akan menerima jasadnya.’"Bram? Ada apa? Wajahmu kok tiba-tiba pucat begitu?" Laura menyentuh lengan tuksedo Bram, mencoba mencari perhatian setelah drama tamparan Kiana tadi. "Ayo kembali ke meja investor. Jangan biarkan jalang itu merusak malam penting kita."Bram langsung menepis tangan Laura kasar. Sorot matanya yang semula sedingin es, kini berubah menjadi kilatan amarah yang menyala. "Lepas, Laura. Jangan pernah sentuh aku lagi.""Kamu berani membentakku demi dia?!" Laura berdesis, matanya melotot tajam. "Ingat posisimu, Bram! Satu telepon dariku, dan Kiana bisa membusuk di penjara Jakarta!"Bram tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Laura mendadak merin

  • Brondongku Psikopat   Labirin Kebohongan

    Bandara Internasional Frankfurt begitu riuh, namun bagi Kiana, dunia seakan mendadak hening. Akhirnya setelah pengajuan Visa selama satu minggu, ia berhasil mendarat di Frankfurt. Cengkeramannya pada tali tas selempang mengerat saat dia melangkah keluar dari area kedatangan. Udara dingin Jerman langsung menusuk pori-pori kulitnya. Matanya bergerak liar, menembus kerumunan orang asing yang berlalu-lalang.Kedatangannya ke Frankfurt dibilang begitu nekat dan seperti taruhan belaka, hanya berdasarkan Logo di latar belakang foto Bram dan Laura. Kiana googling bangunan itu dan Kiana menemukan itu adalah gedung Eurotower, kantor pusat operasional luar negeri Anindya Karya di sini. Dan Bram pasti ada di sekitar sana."Bram bukan orang seperti itu. Aku butuh penjelasan langsung dari mulutnya," tegas Kiana kepada hatinya.Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit kawasan finansial Frankfurt, Bram berdiri menatap hamparan kota dari balik jendela kaca besar. Kemeja hitamnya terkanc

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status