Share

Jatuh ke Dasar Lembah Kematian

last update Last Updated: 2025-04-13 07:46:09

Secara naluri, Suro Joyo sejati merasa muak dan mual melihat sosok Badas Wikatra yang mewujud sebagai dirinya. Wajah asli Badas terbungkus ketampanan wajah Suro Joyo. Selain itu, dengan meminjam wajah Suro Joyo, Badas berhasil menipu daya seluruh rakyat Krendobumi saat malam pengangkatan Suro Joyo jadi-jadian menjadi raja di Krendobumi.

Sebagian besar rakyat Krendobumi memang mudah ditipu dengan tampilan wajah bersih dari seseorang yang punya kepentingan untuk meraih kekuasaan. Badas punya ambisi menjadi raja di Krendobumi. Maka dia menggunakan ajian malih rupa untuk mengubah tampilan wajah dan fisiknya menjadi Suro Joyo. Suro Joyo, pewaris tunggal yang sah tahta Krendobumi tentu saja dielu-elukan seluruh rakyat Krendobumi. Ketika Badas menyamar sebagai Suro Joyo, mendapat perlakuan istimewa dari orang tua Suro Joyo, semua punggawa, dan seluruh rakyat Krendobumi.

Kesempatan emas itu dimanfaatkan Badas untuk menggapai ambisi secara mudah dan cepat. Tanpa melalui peperangan. Cukup dengan tipu daya, Badas berhasil naik tahta sebagai Suro Joyo jadi-jadian. Setelah Badas naik tahta, dia langsung mengekskusi mati orang tua Suro Joyo, seluruh punggawa, dan semua pengikut setia Agung Paramarta. Malam pengangkatan Suro Joyo jadi-jadian menjadi raja Krendobumi menjadi malam pembantaian yang keji dalam sejarah Kerajaan Krendobumi.

Pagi harinya Badas kembali ke wujud semula. Saat itu juga dia mengumumkan kepada seluruh rakyat Krendobumi bahwa dirinya menjadi penguasai Krendobumi. Dia Raja Krendobumi. Tahta Kerajaan Krendobumi beralih dari Agung Paramarta ke tangan Badas Wikatra dengan menggunakan tipu daya .

“Sekarang saatnya aku memenuhi satu keinginanku,” kata Badas dalam hati. “Suro Joyo harus lenyap dari kehidupan ini. Aku belum merasa tenang kalau mendengar kabar Suro Joyo masih hidup. Dengan kematian Suro Joyo nanti, aku bisa tidur lebih nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk seperti yang dialami Jati Kawangwang pada zaman dulu.”

Jati Kawangwang dulu pernah merebut tahta dari Agung Paramarta. Namun pada akhirnya tahta kembali direbut Suro Joyo melalui jalan kematian Jati Kawangwang di tangan pendekar muda itu.

Badas Wikatra tidak ingin bernasib seperti Jati Kawangwang. Dia kini bertekat bulat menghabisi Suro Joyo! Namun Badas lengah selama beberapa kejapan mata karena pikirannya melambung di langit. Sebuah batu hitam sebesar kambing menghantam wajahnya!

Badas dalam wujud Suro Joyo terlempar beberapa tombak. Dia tersungkur ke bebatuan dalam keadaan tengkurap. Pelan-pelan dia bangun dengan wajah babak belur! Kini ketampanannya sebagai Suro Joyo jadi-jadian berkurang. Luka-luka baret memenuhi wajahnya.

Itu salah satu kelemahan yang mesti dia terima ketika menggunakan ajian malih rupa. Kesaktian sejatinya hilang untuk sementara waktu mengikuti sosok manusia yang disamarnya.

Tiba-tiba Badas merasa kepalanya terasa pening. Saatnya kembali ke wujud semula telah tiba. Ajian malih rupa hanya bertahan selama satu hari satu malam. Sekarang waktunya menjadi sosok Suro Joyo telah habis. Pelan-pelan seluruh tampilan Suro Joyo jadi-jadian berubah.

Dalam beberapa kejapan mata, Suro Joyo jadi-jadian berubah ke wujud semula ..., Badas Wikatra! Sosok tinggi besar, kekar, kokoh, perkasa, dan terlihat otot menonjol di seluruh tubuhnya. Wajah Badas seperti sosok hantu yang menakutkan bagi siapa pun yang baru pertama melihatnya, termasuk Suro Joyo!

 “Hahaha haha..., ternyata wajahmu menyeramkan seperti genderuwo,” ejek Suro Joyo dengan tawa khasnya yang membuat orang lain kesal. Juga geram.

“Memang tidak salah katamu, Suro!” balas Badas. “Tapi Si Buruk Rupa ini yang telah membunuh Agung Paramarta dan Niken Sari secara langsung. Tanganku ini yang menebas mereka dengan pedang baja yang tajamnya melebihi pisau cukur, muehehe hehehe...!”

Pelan-pelan Badas menghunus pedang saktinya. Sebuah pedang baja, panjang, dan gagangnya berbentuk kepala harimau. Ada hawa panas keluar dari pedang di tangan Badas. Dalam dunia persilatan, pedang sakti itu bernama Pedang Kalacundang. Keinginan Badas untuk mengakhiri pertarungan tak terbendung lagi. Dia ingin menyingkirkan sosok muda di depannya.

“Iblis laknat!” Suro Joyo geram. “Baru kusadari sekarang..., kamu bukan hanya manusia buruk rupa yang jahatnya luar biasa. Kamu ternyata iblis kerak neraka yang menjelma

jadi manusia. Tak ada cara lain untuk menghentikan perilaku kotormu, kecuali membuatmu musnah dari muka bawana!”

Suro Joyo langsung menghantamkan pukulan jarak jauh dari telapak tangan kanannya. Dia langsung menggunakan Ajian Rajah Cakra Geni untuk menghabisi lawan.

Namun Badas sudah bisa menebak pikiran Suro Joyo. Dia langsung menggunakan Pedang Kalacundang untuk menangkisnya. Pukulan jarak jauh Suro Joyo berbalik arah. Suro Joyo menggeserkan tubuh ke kanan untuk menghindari hantaman balik dari ajiannya.

Pohon besar kena hantaman Ajian Rajah Cakra Geni. Pohon itu hancur berkepingan jadi serpihan-serpihan kecil. Bertebaran di udara, berjatuhan di dasar Lembah Siungbowong. Lembah yang sering disebut lembah kematian karena banyaknya pendekar hebat di masa lalu yang tewas akibat jatuh di dasarnya. Dasar Lembah Siungbowong berupa ribuan batu hitam yang tajam mencuat ke arah langit.

Ketika Suro Joyo menghindari hantaman balik dari ajiannya, Badas melesat ke arahnya dengan ujung Pedang Kalacundang mengarah dada!

Suro Joyo menghindar dengan melemparkan tubuhnya ke kiri. Dia tak tahu ada batu besar di sisi kiri. Kening kiri menghantam batu hitam.

Pandangan mata terasa gelap selama beberapa kejapan mata. Pada saat bersamaan, Badas menggerakkan tangan ke kanan dengan cepat. Gagang Pedang Kalacundang menghantam punggung Suro Joyo. Pendekar Rajah Maut Cakra Geni itu tersorong ke depan, menghantam pohon tua yang batangnya mengeras baja!

Pohon tua itu berada di tepi jurang, di atas Lembah Siungbowong. Setelah membentur pohon tua yang umurnya ratusan tahun, tubuh Suro Joyo terjun ke dasar lembah kematian!

“Huahahahaha..., kamu bakal mampus menyusul leluhurmu, Suro!” teriak Badas keras penuh kemenangan.

Lamat-lamat Suro Joyo mendengar ucapan Badas yang diselingi tawa terbahak-bahak membahana di seantero perbukitan. Tawa gembira Badas makin menggema, sehingga yang bersangkutan tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Dia terlalu lama mendongak ke angkasa sewaktu merayakan kegembiraaannya.

“Sekarang sudah tidak ada lagi orang yang bakal mengusikku," teriak Badas dengan suara menggema. “Aku akan menjadi penguasa tunggal di Krendobumi, Wanabisala, dan Tirtawisa!”

Pada saat bersamaan, Suro Joyo merasa ajalnya akan tiba. Kesadarannya pelan-pelan berkurang karena benturan di kepala. Kini dalam pikirannya terbayang wajah ayah dan ibunya.

“Kalau aku mati, sudah tidak ada beban lagi dalam hatiku,” kata hati Suro Joyo. “Aku berusaha merebut kembali tahta Krendobumi dari Badas Wikatra. Namun karena dia lebih kuat dan lebih sakti, aku tidak mampu melawannya. Semoga sepeninggalku nanti ada pendekar lain yang bisa menumpas Badas dan seluruh antek-anteknya. Di belahan bumi mana pun tidak akan tenang kalau ada manusia semacam Badas Wikatra menjadi penghuninya.”

Tubuh Suro Joyo terus meluncur bebas menuju lembah kematian. Batu-batu runcing di dasar lembah, siap menyambut tubuh pendekar yang mengenakan pakaian warna merah. Merah seperti warna darah!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Menjadi Raja di Krendobumi

    Suro Joyo memejamkan mata sejenak. Ia sudah mengalahkan tiran. Ia sudah membalaskan dendam keluarganya. Ia telah melihat wajah Ayumanis dan Westi Ningtyas di tengah kerumunan, dan ia tahu bahwa ia telah membuat pilihan hati yang rumit—pilihan yang akan ia bawa sebagai beban maupun berkat. Tapi, tahta ini, singgasana megah di belakangnya, terasa seperti sangkar yang terbuat dari emas murni."Aku mengerti kewajibanku," jawab Suro Joyo, suaranya dalam dan terdengar jelas di seluruh aula yang hening. "Aku telah menerima takdir ini sejak aku mengangkat Tombak Bowong untuk pertama kalinya. Tetapi, aku telah melalui api dan badai sebagai seorang ksatria pengembara, bukan sebagai raden istana. Aku telah melihat penderitaan rakyat jelata dari dekat, bukan dari balik jendela benteng ini."Lodra Dahana, yang berdiri gagah dengan zirah upacara Garbaloka, melangkah maju. "Tuanku Raja, tradisi menetapkan bahwa seorang Raja harus berakar di Istana. Hanya dari sini, hukum dan ketertiban dapat ditegak

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Menuju Aula Penobatan

    Suro Joyo bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke puing-puing istana yang tengah diperbaiki. Angin sepoi-sepoi membawa dinginnya kenyataan baru. Ia merasakan beban di punggungnya, bukan lagi beban balas dendam, melainkan beban tanggung jawab atas seluruh rakyatnya.Tiba-tiba, benda sakti pemberian Brajawala, yang Suro Joyo sebut ‘Benda Brajawala’ (atau ‘Brajawala’) di tangannya bergetar hebat. Itu bukan hanya sensasi panas, melainkan sebuah denyutan ritmis. Suro Joyo meremasnya, dan tanpa sadar, ia memfokuskan ajian penyerap energi ke benda itu.Energi Ki Tambung berinteraksi dengan esensi misterius dari benda Brajawala, dan sebuah kejutan listrik menjalari kesadaran Suro Joyo. Seketika, dinding-dinding aula dewan menghilang.Suro Joyo tidak lagi di Krendobumi. Ia berada dalam visi yang dingin dan suram.Ia berdiri di puncak tebing yang tak dikenal. Di bawahnya, hamparan lautan yang gelap dihiasi oleh ratusan kapal perang dengan layar hitam yang mena

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3   Serangan dari Samudra Kencana

    Ranunggabaya, salah satu sosok bertopeng perak itu maju selangkah. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga, udara di antara mereka mengeras. Sebuah panah es kristal setajam belati terbang cepat ke arah dada Suro Joyo.Suro Joyo menangkisnya dengan Tombak Bowong, tetapi panah itu meledak dalam kontak, menyebarkan pecahan es tajam ke segala arah.Syut! Syut!“Di mana teman-temanmu?” gertak Suro Joyo. “Datangkan semuanya kemari untuk kulenyapkan!”Ranunggabaya hanya hanya tertawa dingin sambil menghunus pedang saktinya. Dia serang Suro Joyo dengan penuh semangat.Suro Joyo melayani serangan lawan dengan berkelit. Dia simpan tombak saktinya di angan-angan. Dia ingin menuntaskan perseteruannya dengan Ranunggabaya.Pertarungan Ranunggabaya lawan Suro Joyo berlangsung seru dan keras. Sekali waktu Suro Joyo berhasil menendang Ranunggabaya. Pedang lepas dari tangan. Pada saat yang tepat, Suro Joyo mengeluarkan ajian lamanya yang disimpan rapat-rapat. Ajian Rajah Cakra Geni!Dari t

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Mengejar Ranunggabaya

    Ada satu nama yang sering menjadi topik pembicaraan di kalangan Badas Wikatra nasibnya masih mengambang. Dialah Ranunggabaya.“Ia sudah mundur ke wilayah perbatasan Karangtirta, Tuanku,” lapor Lodra Dahana suatu sore, saat mereka memeriksa perbaikan Balai Kota yang rusak parah akibat pertempuran. “Kami curiga ia sedang menggalang kekuatan, menuntut janji yang dulu pernah dilontarkan Badas Wikatra padanya. Garbaloka telah mengirim mata-mata, tapi Karangtirta adalah sarang persembunyian yang sulit ditembus.”“Biarkan dia menuntut takhta yang dia inginkan,” sahut Arum Hapsari, menyapu debu dari peta yang terbentang di meja. “Fokus kita harus di sini. Gudang pangan utama di Bendasana sudah hampir penuh, tapi kita kekurangan tenaga ahli untuk memperbaiki irigasi di Kadipaten selatan. Itu mendesak untuk ditangani jika kita ingin panen besar enam bulan mendatang bisa ditampung.”Suro Joyo mengangguk, sorot matanya yang tajam tertuju pada wilayah yang ditunjuk Arum. Ia mengenakan pakaian yang

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Pemusnahan Agniawuri

    Suro Joyo berdiri di balkon istana. Ia mengamati langit yang berhias bintang dan merasakan aura dingin yang aneh, meskipun udara musim kemarau harusnya hangat.Ia tiba-tiba merasakan kepalanya pusing, dan pandangannya sekilas tertutup oleh bayangan hitam yang bergerak sangat cepat.“Sebuah ilusi?” Suro Joyo mengernyit. “Bukan. Ini racun.”Ia segera mengaktifkan Ajian Penyerapnya, mencoba mengusir rasa sakit yang tiba-tiba menyerang indra penciumannya—bau belerang yang sangat tajam, bau yang tidak seharusnya ada di sana.Tiba-tiba, telinganya berdenging. Bukan dengungan biasa, melainkan bisikan ribuan suara yang berteriak dalam kegelapan.Suro Joyo mencengkeram kepalanya, merasa seolah otaknya ditarik ke dalam jurang yang gelap.Di Gua Raga Sungsang, Agniawuri kembali tertawa, kali ini histeris. Ia melihat melalui mata kabut gelapnya, menyaksikan Suro Joyo mulai menderita.“Ya! Rasakan! Rasakan nerakaku, Raja!”Tapi, saat Agniawuri mengira ia telah menang, ia merasakan gigitan balik da

  • Brubuh Krendobumi - Pendekar Kembara Semesta Seri 3    Pesan Ki Pandansekti yang Mengagetkan

    “Mereka menguji Krendobumi saat Badas Wikatra masih berkuasa. Sekarang, setelah Badas Wikatra tumbang, mereka melihat kesempatan untuk menelan wilayah ini sepenuhnya, menggunakan pasukan baja mereka sebagai ujung tombak,” jelas Ki Pandansekti. “Tugasmu, Suro Joyo, bukan lagi hanya memimpin prajuritmu. Tugasmu adalah menemukan inti spiritual Krendobumi yang sejati.”“Apa yang harus saya lakukan, Ki?”“Kau telah menguasai ajian penyerap energi dari Ki Tambung. Kau telah menemukan Tombak Bowong. Itu semua adalah kekuatan eksternal, alat untuk bertarung. Tetapi Darmawangsa tidak akan bisa dikalahkan oleh besi atau tombak. Mereka harus dilawan dengan energi yang paling murni, yang tidak bisa dibeli atau ditempa.”Suro Joyo menunggu, menahan napas. Ini adalah nasihat terakhir yang ia butuhkan, bukan tentang formasi tempur, tetapi tentang inti keberadaannya.“Di balik pusaka dan ajianmu, kau memiliki sesuatu yang istimewa. Sebuah ‘Manik’,” Ki Pandansekti berbisik. “Manik itu adalah alasan me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status