Home / Romansa / Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai! / Chapter 7 : “Istriku….”

Share

Chapter 7 : “Istriku….”

Author: Desyra Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-03 14:55:48

Fokus Cantika buyar sepanjang sore ini. Raganya ada di ruang kerja, mengerjakan setumpuk laporan pasien untuk diserahkan ke konsulennya Dokter Martin. Namun, pikirannya terus tertuju penuh pada Adrian.

Cantika melirik jam tangannya. Ini sudah pukul lima sore, seharusnya jika selesai operasi pukul dua siang, maka bius Adrian sudah mulai menghilang dan pria itu akan sadar.

“Apa… dia sudah siuman?” gumam Cantika. Tatapannya menerawang ke arah ponselnya di meja.

Seketika Cantika mendengkus keras, lalu menggeleng. Apa yang dia harapkan? Ditelepon saat Adrian siuman?

Selama setahun pernikahan, kabar Adrian pun Cantika tidak pernah mengetahuinya sama sekali. Apakah pria itu sakit atau baik-baik saja saat bekerja? Sekarang tentu semakin tidak mungkin mengingat pernikahan mereka sudah meja hijau.

Pada akhirnya, Cantika hanya bisa menghela napas dalam. Dia memejam sejenak. Setidaknya dari pengetahuan profesionalnya, Adrian akan baik-baik saja dan bisa bekerja kembali nantinya.

“Lebih baik ngerjain laporan.” Cantika menyemangati diri sendiri. Dia memaksa senyumnya terpasang di wajah. “Tidak ada suaminya yang menafkahi lagi, jadi harus menafkahi diri sendiri.”

Baru saja dia menulis satu lembar, Cantika mendengar bunyi pintu dibuka. Dia melirik sejenak ke belakang. Beberapa rekan kerjanya muncul, lalu menyapa, “Dokter Cantika!”

Cantika hanya menyunggingkan senyum dan mengangguk ramah.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi duk pelan bersamaan dengan sebuah botol air mineral di meja Cantika. Refleks, dia mendongak. Anita sudah berdiri di sebelahnya.

“Pagi operasi, terus lanjut entah ke mana, balik-balik operasi, kelar operasi masih harus ngerjain laporan.” Anita berdecak pelan. “Hidup bener-bener nggak mudah ya, Can.”

“Kalau mudah nggak ada orang niat bunuh diri kali, Nit.” Cantika membuka segel tutup botolnya, lalu menenggaknya lambat-lambat. “By the way, thanks airnya.”

Anita menjentikan jari, lalu mengangguk. “As your friend yang kebetulan sesama dokter juga, gue tetap harus mengingatkan sesibuk apa pun 2 liter air per hari itu wajib.”

Cantika hanya terkekeh pelan, sebelum kemudian kembali fokus dengan laporannya.

Awalnya, Cantika mengira rekan-rekannya akan sibuk mengerjakan laporan sama seperti dirinya. Namun, Anita dan lainnya membentuk kelompok kecil tepat di dekat televisi. Topik mereka satu, Adrian.

“Eh, katanya Pak Adrian, si jubir kepresidenan yang ganteng itu masuk rumah sakit ini, kan?”

“Iya, di bangsal VIP. Barusan operasi darurat sama lo kan Can?” Anita tiba-tiba menarik Cantika ke dalam obrolannya.

Cantika mengangguk. Tidak mungkin berbohong, bukan? Apalagi ini Adrian, seorang pejabat terkenal, pasti seluruh orang di rumah sakit akan mengetahui siapa saja yang bertugas untuk menangani pria itu.

“Tapi ini nggak ada beritanya sih di media.” Rekan kerja Cantika yang lain ikut berkomentar. Dia menggulir ponselnya dengan serius. “Kayaknya beritanya ditutup rapat-rapat. Mungkin karena kerjaannya kali, ya?”

“Kalau ini kerjaannya, kenapa dia kecelakaan tunggal ya tadi? Kebetulan gue pas jaga IGD. Kaget aja orang nganterin dia udah berdarah-darah dan bilang kecelakaan tunggal.”

“Aneh.” Anita kembali bersuara. “Seorang Pak Adrian Baskara, juru bicara kepresidenan menyetir mobil sendirian? Bukannya dia harusnya punya sopir pribadi? Atau at least rekan yang nemenin dia ke mana-mana. Orang penting lho?!”

“Mungkin buru-buru ke suatu tempat kali, ya?” Rekannya tiba-tiba memelankan suaranya sedikit. “Atau jangan-jangan mau ketemu sama pacar rahasianya?”

Seketika Cantika tersedak ludahnya sendiri. Dia terbatuk-batuk mendengar gosip rekan kerjanya itu.

“Sayang, kita nggak bisa tanya-tanya masalah operasi dan kondisi Pak Adrian ya, Can?” Anita kembali bertanya pada Cantika. “Pihak rumah sakit ngelarang.”

Cantika hanya mengangguk kaku seraya menatap para rekannya. “Begitulah. Sori, ya. Orang penting soalnya.”

Seketika Cantika menghela napas lega. Karena jabatan Adrian yang tinggi, kepala rumah sakit langsung mengultimatum para dokter dan perawat yang mengurus Adrian untuk merahasiakan kondisi dan apa yang terjadi selama di ruang operasi. 

Hal ini sedikit banyak melegakan Cantika. Dia tak lagi memikirkan alasan jika mendadak gosip mengenai dirinya menggenggam tangan Adrian saat operasi atau drama pria itu memanggil nama Cantika beberapa kali. Para dokter termasuk konsulennya pun ikut tutup mata dan mulut masalah ini.

Bunyi deringan ponsel seketika menyentak Cantika. Dia menoleh. Matanya langsung melebar saat menemukan nama Budi di layar.

Dengan gegas, Cantika meraih ponselnya, lalu berlari kecil keluar ruang kerjanya. Dia memasuki tangga darurat yang berada tepat di tikungan terdekat dari ruangannya.

“Ya, Pak Budi?” jawab Cantika begitu mengangkat panggilan asisten pribadi Adrian itu.

“Maaf mengganggu, Bu Cantika. Saya harap tidak menganggu,” ucap Budi pelan dan berbasa-basi. “Bapak sudah siuman.”

Kelegaan langsung membanjiri Cantika. Kabar baik, sekalipun dia tidak bisa menjenguk pria itu. 

“Syukurlah,” jawab Cantika. “Bapak baru bisa konsumsi makanan dua sampai empat jam setelah siuman dan harus makanan dari rumah sakit, ya.”

“Maaf, Bu. Bapak… cari-cari Ibu. Beliau tanya Ibu di mana dan kenapa tidak datang ke kamarnya?”

Sontak Cantika melongo mendengarnya. “Adrian… cari saya?”

“Iya, Bu. Pak Adrian cari Ibu. Katanya kalau Ibu nggak segera datang, Pak Adrian yang akan cari Ibu ke ruangan Ibu.”

Mata Cantika langsung terbelalak. Ancaman Adrian itu terdengar asal, tapi wanita itu tahu bahwa pria itu tidak pernah main-main.

Fine.” Cantika mendengkus keras. “Saya ke sana sekarang!”

Panggilan Budi segera Cantika tutup. Dia memasukkan kembali ponsel ke saku jas dokternya, lalu mematung sejenak.

Apa yang sebenarnya Adrian rencanakan? Cantika berpikir. Aneh, kenapa dia mendadak dicari oleh pria itu?

Cantika tersentak. Ingatan akan tujuan pria itu sebelum kecelakaan muncul di kepala, sidang perceraian. Mungkin… Adrian ingin membahas sidang perceraian yang gagal untuk kali kedua.

“Pada akhirnya….” Cantika menghela napas dalam. “Yang harus berakhir, memang harus diakhiri.”

Buru-buru Cantika menuju bangsal VIP yang ada di lantai teratas bangunan rumah sakit. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ini bukan hanya karena kemungkinan bertemu Aruna dan Alex lagi, tapi juga dilihat oleh para rekan kerjanya. 

Gosip di ruang operasi gagal. Gosip di bangsal VIP mungkin bisa dilanjutkan. Cantika agak jengkel.

Sesampainya di depan kamar Adrian, Cantika mengetuk pintu sejenak. Benda itu terbuka, sosok Budi pun muncul. Dia langsung mempersilakan Cantika masuk, sementara pria itu keluar.

Di dalam ruangan, Cantika cukup terkejut hanya menemukan Adrian sendirian. Kepala ranjang pria itu sudah dimiringkan hingga 45 derajat agar Adrian bisa sedikit duduk santai. Dia menoleh dengan perban di kepalanya. Senyumnya tersungging. Tangannya terulur ke arah Cantika.

“Kamu mau apa?” todong Cantika. Dia berdiri di sisi ranjang Adrian. 

“Istriku….”

Cantika terbelalak mendengar panggilan Adrian. “Kamu… bilang apa?”

“Istriku….” Tiba-tiba saja Adrian menggapai tangan Cantika. Wanita itu yang masih terkejut dengan sendirinya menurut untuk duduk di sisi ranjang Adrian.

“Aku kangen banget, istriku,” ucap Adrian sambil memeluk Cantika.

Sebenarnya… apa yang terjadi? Cantika membeku di tempat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 50 : Kebenaran Dalam USB

    Seperti pencuri, Cantika mengendap-endap memasuki ruang kerja Adrian. Aneh, padahal dia tidak melakukan kesalahan. Alibinya sempurna, ada laporan pasien di tangan dan juga laptop pribadinya.Hanya saja, di balik cardigan tebal putihnya ini, Cantika menyimpan sebuah rahasia. Mungkin itu yang membuat jantungnya terus berdegup kencang hingga sekarang.Perlahan Cantika menaruh laptopnya di meja kerja Adrian, bersisian dengan laptop pribadi pria itu. Digesernya kursi kerja Adrian, lalu didudukinya untuk dirinya sendiri.Sesaat, Cantika terdiam dan menunggu layar laptopnya menyala sempurna, sebelum dia berpangku dagu hanya untuk melamun. Wanita itu berpikir, haruskah dia langsung mencari tahu isi USB itu atau tidak. Atau dia mengalihkan pikirannya lagi dengan mengerjakan laporan pasien yang tidak mendesak itu?

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 49 : Mati Penasaran

    Selama bermenit-menit, Cantika hanya tertegun menatap USB itu. Matanya yang sudah tinggal beberapa watt itu mengerjap. Sedangkan otaknya yang agak kosong tak menemukan korelasi antara pasien kecilnya dengan USB ini.“Apa… isinya video ucapan terima kasih?” pikir Cantika.Wanita itu manggut-manggut. Bisa saja itu terjadi, lagi pula karena masih anak-anak, tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk memberikan sesuatu yang mahal, jadi memberikan video ucapan terima kasih adalah hal yang wajar.“Terima kasih ya, pasien kecil,” gumam Cantika. Senyum kecilnya mengembang lebar.Sayangnya, Cantika tidak bisa langsung melihat video ataupun isi USB itu sekarang juga. Terlebih dia sudah menguap lebar-lebar sekarang.

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 48 : Hadiah Misterius

    Sesuai janjinya dengan Mario, Cantika bergegas menuju taman belakang rumah sakit. Langit masih keemasan saat dia keluar area bangunan. Hal yang membuat wanita itu merasakan perbedaan besar dengan taman belakang tengah malam itu.Saat ini, taman belakang tampak cukup padat oleh manusia. Beberapa pasien terlihat dari kondisi mereka yang diperban atau terus batuk-batuk. Sementara yang lain pengantar. Ada juga para nakes yang berjaga, baik untuk tugas atau memang melepas penat.Cantika sendiri jarang ke taman belakang. Baginya tempat ini terlalu ramai. Dia lebih suka di tempat kerja dan menenggelamkan diri dalam laporan-laporan pasien atau tugas dari konsulen lainnya.Ramai membuat Cantika agak kesusahan mencari keberadaan Mario. Terlebih pria itu tidak memberitahukan lokasi keberadaan.

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 47 : Izin Menampar Mertua

    Adrian sama sekali tidak bisa tenang. Tangannya terus mengetuk-ketuk pahanya dengan tidak sabaran. Tatapannya tertuju pada jalanan padat merayap ibu kota saat jam makan siang. Sedangkan sejak tadi, dia tak tenang dan kepalanya penuh berisikan Cantika.Bayangan akan adegan Aruna menampar Cantika terus berputar di kepala Adrian. Hati pria itu sakit. Ibu kandungnya menyakiti istri yang dia cintai. Pantas saja Cantika menceraikannya bahkan meminta cek dua puluh miliar itu.“Pak Budi,” panggil Adrian di sela-sela lamunannya. Dia melirik Budi yang kini menoleh di kursi sebelah sopir. “Saya nggak bisa biarin Bu Aruna bersikap buruk terhadap istri saya. Saya butuh cara untuk membuatnya berhenti.”Budi terdiam sejenak, sebelum berkata, “Mungkin… jalan-jalan ke luar negeri untuk menjernihk

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 46 : Pak Presiden

    Adrian datang tepat waktu. Pukul sebelas kurang lima menit, mobilnya sudah berhenti tepat di pintu masuk istana kepresidenan. Para penjaga langsung berbaris rapi untuk menyambutnya seolah pria itu adalah tamu penting.Mobil berhenti dan sebelum Adrian turun, pria itu berpesan pada Budi yang duduk tepat di sebelah sopir, “Pak, kalau saya nggak keluar sampai jam tiga tolong atur orang buat antar Cantika. Oh satu lagi, perketat penjagaan istri saya.”Budi mengangguk patuh, sebelum akhirnya Adrian turun dari mobil.Seperti biasa, begitu Adrian menginjakkan kaki di istana kepresidenan, maka asisten pribadi Candra akan langsung menyambutnya. Senyum yang terukir di wajahnya memang terkesan ramah, tetapi semua hanya topeng saja.Dalam pemerintahan atau tepatnya dunia

  • Bu Dokter, Suamimu Tak Mau Cerai!   Chapter 45 : Menantu vs Mertua

    Bel rumah berbunyi seperti pertanda mimpi buruk Cantika akan segera datang. Sesaat wanita itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Sebelum bergerak pelan menuju pintu dan membukanya.Sesuai yang tidak diharapkan, Aruna berdiri di depan pintu. Rambut panjangnya yang selalu disanggul itu siang ini tampak cantik dengan hiasan rambut berwarna merah. Gaun panjang putih dengan corak bunga pas badan. Tangannya menenteng tas kulit buaya yang terkenal mahal.Aruna bersedekap. Dia menatap Cantika sejenak, sebelum mendengkus keras seraya membuang muka.“Dasar wanita sombong dan nggak tahu malu.” Aruna mulai mengeluarkan kata-kata hinaan untuk Cantika. Dia melenggang masuk apartemen dan dengan sengaja menabrak pundak Cantika keras-keras. “Bisa-bisanya hapus saya dari daftar pemegang akses masuk apa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status