Mag-log inGedoran pintu dari kejaran musuh di hotel berhasil diredam penuh oleh serbuan balik pasukan pengawal pribadi milik Ibu Widya dan Madam Elena secara satset. Kontrak investasi bernilai triliunan rupiah pun resmi disahkan, membuka jalan bagi impian besar sang pemuda miskin penjual jamu keliling.
Beberapa hari kemudian, pelataran pusat kota dipenuhi oleh karangan bunga mewah setinggi dua meter.
Bangunan megah berlantai empat berdiri gagah dengan plang emas raksasa bertuliskan Toko J
Layar proyektor digital di aula rektorat Fakultas Kedokteran memancarkan notifikasi resmi dengan stempel emas dari London, Inggris. Jurnal medis paling prestisius di planet bumi, The Lancet, secara resmi menerbitkan artikel riset utama berjudul “Integrasi Fitofarmaka Molekuler Emas & Kedokteran Modern: Terapi Kuratif Kanker Stadium Awal oleh Arjuna Dewangga dan Aurel Wijaya”.Server publikasi ilmiah global seketika tumbang akibat jutaan unduhan dari para peneliti di seluruh dunia.Ibu Amanda selaku Dekan Kedokteran menatap layar monitor dengan mata berkaca-kaca haru, memegangi pundak tegap Juna.Aurel Wijaya melompat gembira, merangkul leher Juna secara satset hingga jas laboratorium putihnya tersingkap anggun.Sepasang melon padat milik sang ilmuwan farmasi menempel kencang di dada bidang sang mahasiswa kedokteran."A-Aa... anu, Kak Aurel! S-Su-
Pintu kaca kedap udara laboratorium steril lantai lima terbuka mendesing secara satset. Suhu ruangan terkunci stabil pada angka delapan belas derajat Celsius, diiringi dengungan puluhan mesin pemutar sentrifugasi dan mikroskop elektron beresolusi atom.Aurel berdiri membelakangi meja isolasi kaca, mengenakan jas laboratorium putih ketat yang mencetak lekuk pinggang rampingnya.Sepasang melon padat milik sang ilmuwan farmasi membusung anggun di balik kancing jas, berguncang halus saat tangannya mengocok tabung reaksi berisi larutan tanaman keladi tikus dan daun sirsak emas.Juna melangkah tegap mendekati meja isolasi, mengenakan kacamata pelindung radiasi berbingkai titanium."A-Aa... anu, Kak Aurel! S-Su-Sumpah, formula ekstrak herbal di tabung nomer empat itu suhunya sudah lewat batas didih!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Secara kalkulasi biokimia molekuler, senyawa flavono
Ratusan ekskavator dan alat berat berderu kencang di lahan seluas lima puluh hektare di kawasan pusat medis ibu kota. Papan proyek raksasa berhuruf emas terpampang megah di hadapan ribuan tamu undangan, bertuliskan "Pembangunan Rumah Sakit Herbal & Kedokteran Modern Arjuna Dewangga".Juna berdiri tegap di podium utama mengenakan jas putih dokter berpadu kemeja sutra hitam, memegang sekop perak peletakan batu pertama.Ibu Arini Kusuma bersama Clarissa Wijaya, Madam Elena, Aurel, Siska Anastasya, dan Mbak Ratna mengapit di barisan VIP dengan gaun resmi yang sangat memikat.Beberapa Guru Besar dan dokter senior berkacamata tebal di barisan akademisi tampak berbisik sinis sambil menggelengkan kepala."A-Aa... anu, para dokter senior! S-Su-Sumpah, peletakan batu pertama ini beneran langkah awal kolaborasi medis kita!" cicit Juna berpura-pura santun diawal."Secara teori kedokteran
Pesawat jet pribadi berbadan lebar milik konsorsium Arjuna Dewangga menyentuh landasan pacu bandara internasional dengan mulus. Sorot sinar matahari pagi menyinari gerbang kedatangan VIP yang telah dipadati ribuan orang, spanduk raksasa, dan puluhan stasiun televisi nasional.Juna melangkah turun menuruni tangga pesawat dengan setelan jas hitam sutra berpadu kemeja putih gading, memancarkan pesona Tingkat Dewa Pengasihan.Ibu Arini Kusuma bersama Clarissa Wijaya, Madam Elena, Aurel, dan Nyai Sekar berjalan anggun mengapit panggul tegap sang juragan muda.Lautan mahasiswa Fakultas Kedokteran bersama jajaran Guru Besar dan Rektorat bersorak gegap gempita menyambut pahlawan kampus mereka."A-Aa... anu, Pak Rektor! S-Su-Sumpah, sambutan di bandara ini beneran ramai banget sampai bikin Juna canggung!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Kamu adalah kebanggaan mutlak universitas kita da
Pintu ganda kamar suite kepresidenan di lantai teratas hotel bintang lima tertutup rapat secara satset, mengunci pemandangan gemerlap gedung pencakar langit ibu kota di balik dinding kaca raksasa. Aroma wangi parfum vanila Prancis berpadu semerbak dengan hawa hangat yang membakar udara kamar.Juna menurunkan tubuh sintal Madam Elena ke atas karpet wol sutra tebal di samping ranjang berlapis emas murni.Madam Elena bersandar anggun di kaki tempat tidur, menatap lurus mata keemasan Juna dengan helaan napas yang mulai tersengal-sengal pendek."A-Aa... anu, Madam Elena! S-Su-Sumpah, kamar suite hotel luar negeri ini mewah banget sampai lantainya bertabur emas!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Kemewahan ruangan ini tidak ada artinya dibanding keperkasaan Inti Jantan Emas milikmu, Arjuna!" desah Madam Elena dengan vokal serak basah."Ratu bisnis internasional yang terkenal kejam dan
Jet pribadi mewah milik konsorsium Madam Elena mendarat mulus di landasan pacu bandara internasional ibu kota metropolitan. Kabut tipis menyelimuti deretan gedung pencakar langit, memantulkan gemerlap lampu malam dari pusat distrik keuangan terpadat.Juna melangkah menuruni tangga jet dengan setelan jas hitam sutra bergaris emas, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang sangat kental.Madam Elena mendampingi di samping kanan dengan gaun merah marun berbelahan paha tinggi, memperlihatkan aura penguasa bisnis global.Clarissa Wijaya dan Aurel menyusul di barisan belakang sambil menenteng tas koper dokumen akuisisi bursa efek."A-Aa... anu, Madam Elena! S-Su-Sumpah, gedung kantor pusat Klan Sindhu di seberang sana megah banget!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Gedung megah itu sebentar lagi bakal berganti nama menjadi Menara Arjuna Dewangga, Sayang!" pangkas Madam Elena te
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng
Suara manja Mbak Ratna yang bocor melalui speaker ponsel seketika membuat Juna panik sampe keringat dingin. Ibu Arini Kusuma pun mengernyitkan alisnya yang indah, menatap saku celana Juna dengan pandangan menyelidik yang penuh curiga."A-A-Anu Bu... ini... ini panggilan darurat dari konter jamu!" s
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi







