Home / Fantasi / Bu, Jangan, Juna Masih Muda! / Bab 8 Keranjang Bola yang Runtuh

Share

Bab 8 Keranjang Bola yang Runtuh

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-06-20 08:05:56

Napas panas Ibu Sarah bertiup langsung di permukaan kulit leher Juna, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ekstrem ke seluruh tubuh.

Sentuhan jari Juna di kulit bahu Ibu Sarah memicu gairah yang membuat tubuh guru olahraga itu tersentak pelan.

Wanita atletis itu menyandarkan sedikit berat badannya ke arah belakang, mencari kehangatan dari telapak tangan muridnya yang kini mengusap punggungnya secara perlahan.

Deggg...

Jantung Juna berdegup gila-gilaan karena bokong padat Ibu Sarah mulai menempel ketat pada area sensitif di bagian bawah perutnya.

Kain handuk yang digosokkan Juna bergerak naik turun mengikuti lekuk otot punggung Ibu Sarah yang berkilau oleh sisa keringat.

Napas Ibu Sarah mulai terdengar berat, memejamkan mata menikmati hawa kejantanan yang memancar kuat dari tubuh pemuda di belakangnya.

"Terus di sebelah situ, Arjuna. Usap lebih kuat lagi, badan saya rasanya rileks sekali," rintih Ibu Sarah dengan suara serak yang mendesah pelan.

"A-A-Anu, i-iya Bu. Ini Juna udah usap paling bersih kok, ta-ta-tapi Ibu jangan nyender begini dong Bu," jawab Juna dengan tangan yang gemetar hebat.

'Aduh, cobaan apa lagi ini?! "Batangan nakal" milikku sudah benar-benar ditarik pelatuknya sampai mentok!' batin Juna menjerit panik.

Di sisi lain, Juna harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan anunya yang semakin mengeras menekan resleting celana seragamnya hingga terasa sangat sempit.

Sensasi mengusap kulit wanita dewasa yang setengah telanjang di ruangan sempit benar-benar menguji pertahanan akal sehat pemuda miskin itu.

Padahal, dia hanya berniat melakukan tugasnya dengan cepat lalu segera pergi menuju parkiran sepeda.

Terus, Ibu Sarah menoleh ke belakang, menatap langsung ke dalam mata Juna dengan bibir setengah terbuka, seolah menantang pemuda itu untuk melakukan hal yang lebih jauh.

"Kamu tegang ya, Arjuna? Saya bisa merasakan sesuatu yang keras sedang menekan bagian belakang paha saya," bisik Ibu Sarah sambil tersenyum nakal.

"Su-Su-Sumpah Bu! Itu... itu cuma kunci motor Juna di dalam kantong celana, bukan apa-apa kok Bu!" seru Juna berbohong dengan wajah memerah menahan malu.

Ibu Sarah terkekeh pelan melihat kepanikan Juna, lalu dia membalikkan tubuhnya secara total hingga dada besarnya kini benar-benar berhadapan langsung.

Kain bra hitam yang longgar tanpa pengait itu bergoyang sensual, memperlihatkan gumpalan "melon" kembar yang begitu padat dan menggiurkan.

"Jangan bohong pada guru olahragamu sendiri, Arjuna. Sini, biarkan saya memeriksa kunci motor macam apa yang bisa sekeras ini," ucap Ibu Sarah sambil merayapkan jemarinya ke dada Juna.

"Aa... anu Bu, ta-ta-tapi Juna harus buru-buru pulang karena Ibu Juna sendirian di rumah!" jawab Juna gagap sambil melangkah mundur sampai mentok ke tumpukan matras.

Ibu Sarah tidak memedulikan alasan itu, dia justru semakin gencar memajukan tubuhnya yang harum minyak urut bercampur keringat seksi.

Tepat ketika wajah mereka berdua semakin mendekat dan hidung mereka nyaris berciuman, kenop pintu ruangan tiba-tiba diputar kasar dari luar.

Brakkkk!

Engsel pintu besi tua itu menjerit keras karena dorongan bertenaga dari arah koridor luar gudang peralatan.

Pintu terbuka lebar, menampilkan Siska Anastasya, adik tingkat primadona kelas yang sangat agresif, berdiri memmatung sambil memegang keranjang bola voli.

Mata gadis muda itu membelalak lebar melihat posisi intim kakak kelas incarannya bersama guru olahraga tersebut di ruangan remang-remang.

"Kak Juna...?! Ibu Sarah...?! Kalian berdua lagi ngapain berduaan di tempat gelap kayak gini?!" pekik Siska dengan suara melengking tinggi penuh keterkejutan.

Juna seketika melompat mundur sejauh dua meter, melempar handuk putih di tangannya ke lantai matras dengan wajah pucat pasi.

"S-Siska?! Ini... ini nggak kayak yang kamu lihat! Su-Su-Sumpah, Juna cuma disuruh ngelap punggung Bu Sarah yang pegal!" seru Juna berteriak histeris mencoba menyelamatkan nama baiknya.

'Mampus aku! Kenapa bocah manja ini bisa ada di sini sih?! Habis sudah reputasiku sebagai penjual jamu jujur!' batin Juna overthinking setengah mati.

Ibu Sarah buru-buru menyambar kaus olahraganya di atas meja besi, lalu menutupi dadanya yang tumpah ruah dengan wajah dongkol karena kegiatannya diganggu.

"Siska! Kamu tidak diajarkan sopan santun ya?! Kenapa masuk ke ruangan guru tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?!" bentak Ibu Sarah mengembalikan wibawa galaknya.

Siska tidak menjawab bentakan itu, melainkan menatap bergantian antara dada Ibu Sarah yang berantakan dan celana seragam Juna yang tampak menonjol aneh.

Keranjang bola voli di tangan gadis itu terlepas akibat rasa syok yang luar biasa mendalam menghantam batin manusianya.

Gubraakkk!

Wadah anyaman plastik itu terguling di ambang lantai keramik, membiarkan puluhan bola voli menggelinding masuk ke dalam ruangan menciptakan suara pantulan yang memecah keheningan menegangkan itu.

Bola-bola kulit tersebut berputar liar menabrak kaki Juna dan kaki Ibu Sarah, menambah kekacauan di dalam gudang peralatan olahraga yang sempit.

"Kak Juna jahat banget! Siska cariin ke mana-mana dari tadi, ternyata malah asyik berduaan sama guru di sini!" jerit Siska dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan cemburu.

"Ta-Ta-Tapi Siska, dengerin dulu penjelasan Kak Juna! Ini beneran perintah darurat dari Bu Sarah untuk antar jamu sakti!" sahut Juna mencoba melangkah mendekat sambil mengibas-ngibaskan tangannya panik.

Siska melangkah mundur satu tapak, menunjuk wajah Juna dengan telunjuknya yang bergetar karena emosi remaja yang meluap-luap.

"Siska nggak mau denger! Siska bakal aduin kejadian mesum ini ke Kak Clarissa Ketua OSIS biar Kak Juna langsung dihukum berat!" ancam Siska ketus sambil bersiap membalikkan badannya untuk berlari.

Mendengar nama Clarissa Wijaya disebut, jantung Juna rasanya seperti mau copot dari rongga dadanya.

'Waduh, kalau si es batu ningrat itu sampai tahu kejadian ini, beasiswa miskin milikku pasti langsung dicabut tanpa ampun!' batin Juna bersorak ketakutan dalam hati.

Ibu Sarah bergerak lebih cepat, dia langsung menyergap pergelangan tangan Siska sebelum siswi agresif itu sempat melarikan diri ke koridor utama.

"Kamu jangan coba-coba mengancam saya, Siska Anastasya! Sekali kamu berani bicara macam-macam keluar dari ruangan ini, nilai olahraga kamu semester ini akan saya kasih angka merah!" ancam Ibu Sarah dengan tatapan mata predatornya yang sangat mengintimidasi.

Siska tersentak, nyalinya yang tadi berapi-api mendadak ciut berhadapan langsung dengan ketegasan guru paling killer di lapangan basket itu.

"T-T-Tapi Bu... Kak Juna itu punyaku! Ibu nggak boleh ambil Kak Juna dari Siska!" cicit Siska dengan suara manja yang mulai ketakutan namun tetap keras kepala.

Juna hanya bisa melongo menyaksikan perebutan dirinya oleh dua wanita yang memiliki rentang usia jauh berbeda di depannya.

Aura pengasihan dari ilmu kultivasi pengasihan Juna rupanya masih menguar pekat di udara, membuat akal sehat Siska dan Ibu Sarah semakin terkunci dalam obsesi gila.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 200 Mahkota Kejayaan Abadi Sang Kaisar Jamu

    Sinar mentari pagi keemasan memancar hangat menembus dinding kaca lantai teratas gedung pusat Rumah Sakit Internasional Arjuna Dewangga. Panorama ibu kota membentang luas di bawah sana, memperlihatkan bendera raksasa konsorsium herbal berkibar megah di setiap sudut jalan protokol.Juna berdiri kokoh di balkon ruang kantor kepresidenan mengenakan setelan jas kaisar medis hitam berpadu sulaman naga emas murni.Di ruang tengah yang luas berlapis karpet sutra merah, seluruh aliansi wanita tercantik di jagat raya duduk berkumpul mengelilingi sofa utama.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun di singgasana tengah, memangku hasil pemindaian ultrasonografi berkas emas dari laboratorium medis.Sepasang melon montok milik sang permaisuri utama membusung anggun di balik balutan gaun sutra hijau zamrud longgar, memancarkan aura keibuan yang sangat teduh.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena berdi

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 199 Malam Pertama Penyatuan Takhta Sejati

    Lampu kristal gantung di kamar pengantin Royal Suite meredup lembut, menyisakan pendar keemasan lilin aromaterapi mawar di atas meja marmer. Ranjang berukuran lima kali lima meter terhampar megah dengan sprei sutra emas bertabur sepuluh ribu kelopak bunga mawar merah.Nyonya Arini Dewangga berdiri di samping tempat tidur, membelakangi cermin rias seraya melepas satu per satu tusuk konde emas dari sanggulnya.Kebaya sutra hijau zamrud yang membalut raga sintal sang permaisuri utama perlahan melorot ke lantai keramik marmer secara satset.Raga molek seputih pualam milik sang guru idola terpampang indah hanya berbalut kain kemben sutra tipis yang nyaris transparan.Sepasang melon montok berukuran padat matang membusung kencang, berguncang halus mengiringi tarikan napasnya yang mulai memburu.Juna melangkah tegap mendekati sang permaisuri, mengenakan celana tidur sutra hitam tanpa se

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 198 Resepsi Kejayaan dan Penghormatan Aliansi Ratu

    Lampu sorot keemasan menyorot megah ke arah panggung pelaminan seluas lima puluh meter di ballroom utama Hotel Grand Imperial. Karpet sutra merah dipenuhi jajaran ribuan buket bunga anggrek bulan langka, menyambut kehadiran lima ribu tamu undangan dari kalangan kepala negara, konglomerat dunia, jenderal militer, dan dewan guru besar kedokteran.Juna berdiri gagah di singgasana tengah mengenakan beskap beludru hitam berhias sulaman naga emas murni, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun tepat di samping kanan Juna, memancarkan pesona Permaisuri Utama dengan kebaya hijau zamrud berlapis brokat emas.Sepasang melon montok milik sang permaisuri membusung padat dan kenyal di balik kebaya ketat, menonjolkan lekuk panggul sintal yang memikat setiap pasang mata.Di sisi kiri dan kanan singgasana utama, enam kursi beludru emas terisi anggun oleh Clari

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 197 Akad Nikah nan Agung

    Karpet merah tebal berhias taburan kelopak mawar putih dan melati keraton terbentang megah di lorong utama ballroom Hotel Grand Imperial. Lampu gantung kristal berlapis emas memancarkan kemilau cahaya agung, menerangi ribuan tamu kehormatan dari kalangan menteri, jenderal militer, konglomerat, hingga duta besar puluhan negara sahabat.Juna duduk tegak di meja akad marmer putih berukir emas mengenakan beskap pengantin beludru hitam bercorak prada emas khas raja Jawa.Keris pusaka bertahtakan batu mirah delima terselip kokoh di pinggang belakangnya, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Ibu Arini Kusuma duduk anggun di sisi kanan Juna mengenakan kebaya pengantin sutra hijau zamrud berpadu brokat emas murni berhias untaian melati ronce.Riasan paes agung keraton membingkai wajah cantiknya yang sangat merona, menonjolkan lekuk sepasang melon montok yang membusung anggun dan padat

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 196 Malam Bimbingan Terakhir Sebelum Akad

    Lampu kamar tidur utama di penthouse lantai tiga puluh lima diredupkan, menyisakan pendar keemasan dari lampu tidur kristal di sudut dinding. Semerbak wangi minyak melati keraton dan aroma teh chamomile hangat berpadu menenangkan udara sejuk berpendingin ruangan.Juna duduk bersandar di kepala ranjang berbalut sprei sutra emas, mengenakan celana tidur longgar tanpa mengenakan atasan kemeja.Dada bidang berotot tebal milik sang pahlawan medis terpampang kokoh, menyemburkan hawa hangat khas Inti Jantan Emas.Ibu Arini Kusuma duduk menyamping di dekat panggul tegap Juna, mengenakan gaun tidur sutra putih gading berenda tipis.Kain sutra tipis itu mencetak jelas lekuk pinggang sintalnya, memperlihatkan sepasang melon montok yang membusung matang dan kenyal."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, malam ini rasanya bener-bener beda dibanding malam-malam biasa!" cicit Juna pura-pura lugu

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 195 Persiapan Pernikahan Agung

    Aroma wangi bunga melati keraton dan mawar merah berpadu semerbak di aula utama gedung serbaguna keluarga Wijaya. Puluhan staf protokoler kepresidenan sibuk menyortir ribuan kotak undangan beludru merah marun berukir lempengan emas murni dua puluh empat karat.Juna berdiri di samping meja display undangan mengenakan kemeja sutra hitam lengan panjang, mengamati kesibukan persiapan bersama seluruh wanitanya.Clarissa Wijaya berdiri anggun memegang daftar manifes tamu kenegaraan, didampingi oleh Madam Elena yang memeriksa jalur distribusi diplomatik.Ibu Arini Kusuma duduk berdampingan dengan Aurel dan Nyai Sekar, tersenyum haru menatap ukiran nama "Arjuna Dewangga & Arini Kusuma" di atas lempengan emas."A-Aa... anu, Kak Clarissa! S-Su-Sumpah, undangan berlapis emas murni ini beneran dikirim ke seluruh kepala negara sahabat dan menteri kabinet?!" cicit Juna pura-pura lugu diawal.

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 5 Ketua OSIS Cantik nan Jelita

    Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 4 Kultivasi untuk Bu Arini

    Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 3 Sentuhan Penyembuh

    Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 2 Tawaran 20 Juta

    "Arini! Saya tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" teriak Pak Broto dari luar toilet dengan nada mengancam.Juna membeku di tempat, tangannya gemetaran hebat hingga botol jamu di keranjangnya beradu menimbulkan bunyi denting yang berisik.“Mampus... mampus... kalau Pak Broto lihat aku di sini sama Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status