Home / Romansa / Budak Cinta Berondong Nakal / Bab 4. Bukan Kebetulan

Share

Bab 4. Bukan Kebetulan

Author: Ai
last update Last Updated: 2025-12-05 08:03:25

Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki kami. Sepasang bibir kami sudah menyatu. Saling menghisap dan mengecap. Dan sepertinya aku sangat menikmati. Demikian dengan pria berondong yang usianya jauh di bawahku itu.

Bersamaan dengan tangannya yang sudah menyusup ke balik pangkal pahaku pintu diketuk seseorang.

“Ada orang,” bisikku tersengal. Namun wajahku dan wajah Alpha Benjamin memerah menahan sesuatu.

“Kita lanjutkan nanti,” ucapnya sambil menarik tangannya yang berada di kedua pangkal kedua pahaku.

Napasku tersengal dengan dada bergemuruh hebat. Aku merapikan baju dan rok dinasku sebelum selanjutnya seseorang itu masuk ke dalam ruangan Alpha.

Keterkejutan itu milikku bukan milik Alpha. Pria muda itu tampak dingin dan tenang saat menatap seseorang melangkah ke arahnya.

“Aku ke sini mencari Dior. Ada kerjaan yang harus dia selesaikan di ruanganku.” Jantungku berdetak hebat dengan wajah memanas. Rupanya hal itu dapat ditangkap oleh Alpha.

“Kerjaan apa yang mengharuskan Nona Dior bekerja di ruangan Paman? Dia mempunyai meja kerja sendiri. Sudah seharusnya bekerja di meja kerjanya bukan ruangan kerja Paman. Karena itu bisa menimbulkan rumor tidak baik di perusahaan ini nantinya.”

Damian, pria yang baru saja masuk ke ruangan Alpha itu menelan salivanya. Kedua matanya menatap wajahku yang pias seolah meminta bantuan agar tidak dipersulit oleh sang keponakannya.

“Paman bisa pergi kalau sudah selesai. Mulai sekarang Nona Dior langsung berhubungan denganku. Mengenai masalah pekerjaannya sebagai pemimpin keuangan. Langsung melapor ke sini bukan ke Paman lagi.”

Merasa dilangkahi dengan sikap Alpha, laki-laki berusia matang itu ingin mengajukan komplainnya. Namun rupanya sosok Alpha sudah sigap terlebih dahulu. Gesture tangannya terangkat ke depan wajahnya.

“Ini perusahaanku, Paman. Tolong patuhi aturan yang sudah aku buat. Kalau Paman masih ingin bekerja di Perusahaan ANT.”

Bom!

Rasanya baru kali ini dalam waktu belum ada sehari kepemimpinannya diambil alih seketika oleh pihak yang punya hak.

Damian mengepalkan kedua tangannya. Merasakan seperti ditampar hingga membuat hatinya tercabik.

“Dior. Kamu tunggu saja dan lihat apa yang akan aku lakukan!” geramnya dengan langkah sudah menjauh dari ruangan utama milik Alpha.

“Takut?” Suara bernada pertanyaan itu membuatku terhenyak lantas menggeleng setelah mendongak. “Mulai hari ini kamu bekerja langsung kepadaku.” Keningku mengernyit namun tidak diacuhkan oleh Alpha.

“Kembalilah bekerja. Nanti pulangnya kita bicarakan lagi.” Aku mengangguk lantas membungkuk hormat dan keluar dari ruangan itu.

Sementara Alpha menerima panggilan telepon sepeninggalnya aku.

“Sudah aku bilang, ini hanya sepihak dari keluargamu. Kita tidak pernah saling menyukai, Cleo.”

“Aku menyukaimu, Alpha. Sudah sangat lama. Dan pernikahan ini memang aku yang mau selain untuk bisnis di antara keluarga besar kita.”

Alpha menghela napas panjang. Tidak terkejut ataupun kaget mendengar jawaban bertubi dari wanita yang bernama Cleo Maila itu.

“Aku sudah mempunyai wanita yang sangat aku sukai bahkan aku menginginkannya, Cleo. Maaf, aku nggak bisa.”

Jantung Cleo di hantam benda berat. Terasa sangat nyeri dan sakit saat mendengar perkataan Alpha yang sangat terang-terangan.

Panggilan itu lalu terputus saat waktu sudah menunjukkan jam pulang. Aku sendiri bergegas membereskan barang-barangku.

“Dior. Kita bicara!” Aku terkejut saat menyadari tangan Damian sudah menarik lenganku dengan kasar.

Chalondra yang melihat itu terkejut dan tampak kaget.

“Eehh, Dior! Kamu mau kemana?” teriaknya masih terdengar di telingaku. Damian membawaku ke pintu darurat.

“Damian! Lepaskan aku,” teriakku sengit sambil berusaha menepis tangan pria itu. Mencoba melepaskan diri dari cengkeraman mematikan Damian.

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mendengarkan aku dulu!”

“Apa yang harus aku dengarkan lagi, Dam! Semua sudah jelas. Tak perlu kamu menjelaskan apapun kepadaku. Lagi pula

Aku sudah bisa terima dengan semua perbuatanmu. Kalau memang itu sudah tabiat kamu, aku tidak bisa bertahan lagi. Semoga kamu puas melakukan ini dengan adik tiriku sendiri.”

Damian tidak sabaran melihat apa yang aku katakan.

“Kamu salah paham!” Keningku mengerut kuat bahkan kedua mataku melotot sudah mau keluar mendengar kalimat pendek yang dia ucapkan dengan kasar.

“Salah paham!” Aku mengulang perkataannya. “Salah paham apanya, Dam? Kamu dan Alexa bersama sudah lama. Kalian mengkhianati kepercayaanku. Dan kamu bilang dengan entengnya ini cuma salah paham!”

Suaraku agak aku tekan saking marahnya emosi yang ada di dalam hatiku. Damian tampak gusar. Namun mulutnya diam tak bersuara. Hanya wajahnya menunjukkan sikap tak terima dengan apa yang aku ucapkan untuknya.

“Pokoknya aku tidak mau putus denganmu.” Lagi-lagi dahiku bergurat tajam membekas ada kerutan kasar di sana. “Sebelum surat warisan itu jatuh ke tanganku aku tidak akan melepaskan kamu, Dior. Kalian harus aku manfaatkan.” Ada kemenangan di dalam hati Damian.

“Kamu sudah gila! Nggak waras!” makiku kesal dan langsung melampiaskan ke Damian.

“Aku nggak peduli,” desisnya membuatku semakin muak.

“Kamu memang tidak pernah memikirkan kondisi orang lain, Dam! Kamu NPD!”

Perkataanku yang tajam itu rupanya menyentil perasaan seorang Damian. Pria yang terkenal sangat jahat dan pedas berbicara itu mendekatiku dengan cepat. Mengunci tubuhku di salah satu dinding tangga darurat.

“Dam. A-apa yang kamu lakukan?” tanyaku panik saat pria itu tiba-tiba menyerang dan mengunci tubuhku. Aku terkurung di dalam tubuhnya yang begitu tinggi.

“Lepaskan aku, Dam.” Kembali suaraku tersendat ada ketakutan yang tiba-tiba menyergapku. Apalagi saat Damian mengamuk dan tantrum.

“Selama ini kamu selalu berdalih tidak siap aku sentuh kini sudah waktunya sebelum kita saling berpisah dan tak saling hubungan lagi.” Damian menggeleng dengan kasar.

“Kamu itu hanya milikku, Antonia Dior! Sampai kapanpun aku tak akan pernah melepaskanmu apalagi mengizinkanmu menjadi milik orang lain. Langkahi dulu mayat ku !”

Memang terdengar agak lain apa yang dikatakan oleh Damian itu. Entah apa yang membuatnya sepede itu padahal dia baru saja melakukan kesalahan yang tidak semua perempuan bisa memaafkannya.

“Maaf, Dam. Aku tidak bisa dan selanjutnya apa yang kamu lakukan tidak bisa aku cegah karena aku tidak ada hubungan lagi denganmu.” Wajah Damian memerah.

“Ingat, Dior! Kita sudah 11 tahun. Aku rasa kamu tidak akan pernah bisa melupakan aku apalagi menjauhiku.”

Ada tawa sinis yang keluar dari bibirku yang tipis dan melengkung.

“Asal kamu tahu, Dam. Perasaan itu mendadak habis dan tak tersisa setelah aku tahu di belakangku kamu dan Alexa bermain gila. Bagi aku kesalahan itu sudah tidak termaafkan lagi.”

Damian terkejut. Dia tak menyangka kalau kali ini akan mendapatkan penolakan dari wanita yang sudah ngebucin kepadanya selama 11 tahun. Wanita itu adalah aku. Antonia Dior. Perempuan yang gila cinta kepada pria berengsek seperti Damian. Yang bisa berkhianat dan berselingkuh dengan wanita yang berstatus adik tiriku.

Setelah lama berdebat dan ada kesempatan aku pergi dari tempat itu, aku bergerak dengan cepat. Namun sekali lagi tubuhku ditarik oleh Damian. Laki-laki itu menarikku dengan kuat. Damian menciumi wajahku dengan kesenangan yang dia tampakkan. Bahkan tangannya bergerilya ke mana-mana membuat rasa jijik di hatiku.

“Lepaskan aku, Dam! Jangan lakukan!” teriakku saat Damian menjamah kemeja kerjaku.

Brak!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 41. Penculikan

    Saat aku buka mata aku yakin berada di ruangan yang tidak aku kenal. Wajahku sedikit merasakan pedih. Aku yakin saat aku pingsan dan tak sadarkan diri tadi mereka memaksa aku dan menyeret badanku. “Siapa yang sangat kejam dan tega melakukan ini?” tanyaku dalam hati. Namun pikiranku langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja aku temui. “Apa dia lagi yang melakukannya?” Hatiku kembali bertanya. Mataku nanar melihat ke sekitar. Dan itu adalah sebuah ruko lantai atas yang terbuka. Saat aku melihat ke bawah terasa ada yang berdesir di dalam hatiku. Rupanya aku berada di ketinggian dan duduk di pinggir gedung dengan tangan terikat. “Tidak main-main rupanya,” gumamku.Beberapa orang datang dengan tubuh besar dan wajah sangar. Aku melihat ke arah mereka.“Sudah bangun?” Aku mendengus.“Siapa yang menyuruh kalian?” tanyaku penasaran. Ada suara tawa yang sangat aku benci. Suara tawa meledek bahkan mengejek.“Apa itu penting? Kami hanya ditugaskan untuk membawa kamu ke sini dan menerjunk

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 40. Pertempuran Mematikan

    Rupanya pria matang dan separuh baya itu hanya menghela napas setelah mendengar perkataan dari sang puteri kecilnya. “Kalau memang yang dikatakan oleh Yiyi benar, itu artinya kita secepatnya melenyapkannya.” Keterkejutan itu jelas teringat dari wajah sosok yang tidak kalah dewasa dan matang. “Tapi Tuan. Dia adalah punggung Perusahaan Chalton yang Anda dirikan. Bahkan kalau dia mau dengan jentikan jarinya perusahaan itu dalam sekejap akan ambruk.” Kembali napas itu terdengar menahan beban berat. Tarikan napasnya begitu kasar membuat suasana lebih mencekam di sore hari itu. Namun rupanya pria dewasa itu menenangkan suasana itu dengan menyeruput teh hijaunya yang sudah siap dari tadi. “Lenyapkan dia tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Sudah saatnya bayi kecilku tampil sempurna di depan semua orang.” “Baik, Tuan.” Pria itu tersenyum dengan seringai yang cukup menyeramkan. Tak ada yang menyangka di balik ketenangan dan kedewasaannya itu tersimpan sebuah monster yang menakut

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 39. Permainan Di Balik Rahasia

    Laki-laki itu tersenyum saat perempuan muda yang berbeda usia hampir 10 tahun itu menyatakan perasaannya. Gadis muda itu seolah sudah sangat berpengalaman. Dia membalas elusan lembut itu dengan kakinya yang menjuntai ke lantai. Diangkatnya dan menelusuri tubuh tegap pria itu. Membuat sosok Gava menahan napas dan memejamkan mata meskipun hanya untuk menikmati sensasi yang diberikan oleh gadis dalam dekapannya itu. Melihat itu, sosok wanita muda itu menerbitkan senyum licik nya. “Ternayata benar yang dikatakan mama. Pria itu mudah sekali dicari kelemahannya. Gava. Aku pastikan kamu akan membayar setiap luka yang pernah kamu torehkan di hidup mamaku,” batinnya berucap keras dengan mata mengkilat. Namun ketika dia menyadari pria bernama Gava Chalton itu membuka matanya seketika kilatan itu meredup sayu. “Yiyi. Jangan seperti ini. Aku tidak ingin merusakmu. Jangan buat Pamanmu ini khilaf.” Kembali gadis muda yang berusia 20 tahun itu menerbitkan senyumnya. Kali ini senyum penuh dengan k

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 38. Suasana Baru

    Aku menunggunya terbangun. Demam tinggi itu bisa dilewatinya semalaman penuh. Kondisi tubuhnya yang tiba-tiba drop membuatku panik sesaat. Namun dengan sedikit keahlianku, aku berusaha membuat demam itu turun tanpa memanggil dokter ke rumah. “Sayang.” Aku mengangkat kepalaku saat ada suara memanggil namaku. Apalagi tangan itu mengelus rambutku dengan lembut. “Sudah bangun rupanya.” Alpha memberikan gesture agar aku naik ke atas pembaringan. “Aku merepotkanmu?” Dengan cepat aku menggeleng. “Kenapa begitu pertanyaannya?” Alpha meraih kepalaku. Menyelundupkannya di leher panjang itu. Memberikan perlindungan dan kenyamanan yang tidak pernah aku temukan dari pria lain. “Tidak ada yang namanya merepotkan kalau sudah bersama seperti ini.” Laki-laki itu mendengus hangat. Napasnya terasa sampai di ubun-ubunku. “Hari ini kita ke Kantor Urusan Agama. Kita rujuk.” Aku hanya diam. Itu artinya aku menyetujuinya. Dan benar saja. Setelah kondisi badannya membaik dengan cepat dia mengurus

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 37. Permusuhan

    “Apa yang Kakek lakukan di sini?” Nada suara itu terdengar keras. Namun tak seorangpun berani mendekat termasuk dokter dan perawat rumah sakit. Aku sendiri membiarkan kedua orang itu saling bersiteru. Mencoba memahami situasi yang sesungguhnya hingga aku menemukan kelemahan dari sosok yang sekarang berdebat hebat dengan Alpha. “Alpha. Jangan menjadi cucu durhaka. Thalia adalah puteri semata wayangku. Dia masuk rumah sakit dan koma sudah sewajarnya aku menjengukmu.” Tiba-tiba tawa sinis terdengar jelas dari bibir Alpha. Membuat mau tidak mau mataku menatap ke arah mereka berdua. “Menjenguk? Bukankah mamaku di sini karena perbuatan Kakek. Kakek sengaja ingin membunuh Mama dengan alasan agar mama tidak memiliki hak atas harta warisan Kakek. Kakek sengaja melimpahkan semua kekuasaan dan kekayaan itu atas nama cucu haram Kakek, bukan?” Plak! Aku terkejut. Satu tamparan itu terdengar keras sudah mendarat dengan mulus di pipi putih Alpha. Namun pria tampanku itu bergeming. Mengum

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 36. Saat Dia Kembali Lagi

    Aku tertegun saat melihat sosok itu terlihat berdiri sempurna. Tidak ada sedikitpun cacat di tubuh kekar dan tegap itu. “Kamu tidak terkejut melihat aku?” tanyanya membuatku semakin bergeming. Bukankah memang ini sudah menjadi skenario kalian? Kalian semua berkonspirasi membohongi aku. Dan aku terlihat seperti orang bodoh menjadi boneka mainan kalian.” Mendengar jawabanku dengan kalimat panjang itu sosok tampan itu tertegun. “Maafkan aku, Dior.” Terdengar suara itu kembali. Aku tertawa kecil namun terdengar olehnya sangat sinis. “Aku yakin kali ini kamu sangat membenciku.” Mataku nanar melihatnya. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku dengan nada sangat dingin. Bahkan sekarang raut wajahku begitu menampakkan sinar kebencian. “Aku hanya ingin memilikimu. Tapi rupanya Alpha lebih licik. Memanfaatkan berita kematianku untuk menjadikannya sebagai ahli waris.” Sesungguhnya aku tersenyum dalam hati namun terselip satu pertanyaan yang tiba-tiba menggema di hatiku. “Kalian bena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status