LOGINMalam itu terasa lebih panjang dari sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar pergi. Pria tua dari Gunung Tianyi duduk di dekat ranjang, sesekali memeriksa nadi Ming Zhu, sesekali menambahkan ramuan ke dalam mangkuk kecil yang aromanya semakin tajam memenuhi ruangan.Jarum-jarum masih tertancap di beberapa titik tubuh Ming Zhu. Tubuhnya tetap lemah. Namun sesuatu telah berubah. Napasnya lebih stabil. Tidak lagi terputus-putus seperti sebelumnya. Ming Yue berdiri di sisi lain, memperhatikan setiap detail dengan seksama. Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, bahunya tidak setegang sebelumnya. “Dia bertahan,” gumamnya pelan. Pria tua itu mendengus. “Jangan terlalu cepat senang. Ini baru langkah pertama.” Ia melirik ke arah Liang Wei. “Kau. Keluar,” katanya singkat. Perintah itu datang tiba-tiba. Semua orang terdiam. Liang Wei tidak bergerak. “Aku tetap di sini.” “Kalau kau tetap di sini, kau akan mengganggu.” nada pria tua itu datar, namun tak terbantahkan. “Aura kematianmu te
Ssreekkk~ “Siapa disana?!” seru Ye Shuang. Brukk~ “Aku,” ucap Hei Yan. “Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Ye Shuang. “Tuan memintaku untuk memastikan perjalanan kalian aman. Nona Ming, dalam kondisi kritis. Maka dari itu, kita harus cepat,” jelas Hei Yan. Kabut Lereng Gunung Tianyi terbelah oleh dua bayangan yang bergerak cepat. Perjalanan turun tidak lebih mudah dari saat naik bahkan lebih berbahaya. Jalan sempit, jurang di kedua sisi, dan beberapa sosok yang mencoba menghadang, namun semuanya berakhir tanpa banyak suara. Hei Yan tidak pernah ragu. Dan Ye Shuang tidak pernah menoleh ke belakang. Di tengah mereka, pria tua itu berjalan atau lebih tepatnya, dipaksa berjalan lebih cepat dari yang ia inginkan. “Benar-benar tidak punya sopan santun,” gerutunya, meski napasnya tetap stabil. “Sudah lama tidak ada yang menyeretku turun gunung seperti ini,” lanjutnya kesal. “Diam dan berjalan,” balas Ye Shuang dingin. Pria tua itu melirik sekilas ke arah Hei Yan, yang berj
Perjalanan ke Gunung Tianyi bukanlah sesuatu yang bisa ditempuh dengan mudah. Kabut tebal menyelimuti lerengnya hampir sepanjang waktu, jalan setapak berliku seperti labirin, dan cerita tentang orang-orang yang tersesat tanpa jejak bukanlah sekadar rumor. Namun Ye Shuang tidak pernah mempercayai rumor. Ia hanya percaya pada tujuan. Angin gunung menerpa keras saat ia melangkah tanpa ragu, melewati jalur sempit, tebing curam, hingga akhirnya mencapai sebuah tempat yang tersembunyi di balik hutan pinus tua. Sebuah pondok sederhana. Terlihat biasa saja, namun justru itulah yang membuatnya mencurigakan. Ye Shuang berhenti beberapa langkah dari pintu. “Keluar,” ucapnya. Suaranya datar, namun cukup untuk memecah keheningan. Tidak ada jawaban. Hanya ada suara angin.Namun sesaat kemudian— “Jarang ada tamu yang datang tanpa membawa sopan santun,” sahut seseorang dari dalam. Pintu terbuka perlahan. Seorang pria tua keluar, rambutnya memutih, matanya tajam, terlalu tajam untuk seseo
“Kalau kau ingin dia hidup, pastikan dirimu sendiri tidak mati lebih dulu. Bau darah di bajumu sudah sangat mengganggu,” celetuk Ming Yue. Su Mu mendengus pelan dibelakang. “Akhirnya ada yang bicara masuk akal.” Namun Liang Wei tidak bergeming. Ia tetap di sana, di sisi Ming Zhu, seolah dunia di luar ruangan itu sudah tidak ada artinya lagi. “Aku sudah kembali,” bisiknya lirih, menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh tangan Ming Zhu. “Jadi, kau juga harus kembali,” lanjutnya. Lampu minyak berkelip pelan. Ming Yue bangkit, memberi ruang, namun tidak benar-benar pergi. Ia berdiri tak jauh, mengawasi sebagai kakak, sekaligus satu-satunya orang yang bisa menjaga garis tipis antara hidup dan mati saat ini. “Dia jatuh cinta pada adikmu,” bisik Su Mu pada Ming Yue. Ming Yue menghela napasnya pelan. “Aku sudah sadar sejak pertama kali bertemu dengannya.” Malam berganti tanpa ada yang benar-benar menyadarinya. Lampu minyak di kamar itu sudah diganti beberapa kali. Aroma her
Didalam aula, ketiga penjaga bayangan berhasil menumbangkan semuanya. Dan yang paling mengejutkan adalah, pedang milik Ye Shuang sudah berada di leher penasihat agung istana. Liang Wei kemudian kembali masuk. “Tuan, kami mendapatkan bukti pengkhianatannya,” ucap Mo Lin kemudian menyerahkan sebuah gulungan dokumen pada Liang Wei. Liang Wei memberi isyarat. “Serahkan pada kaisar nanti,” ucap nya. Mereka kemudian menyeret istana ke Balai pertemuan istana. Disana para pejabat sudah berkumpul. Penasihat Agung, yang sebelumnya masih berusaha mempertahankan wibawanya di dalam aula, kini dipaksa berlutut di hadapan singgasana. Tangannya terikat, jubah kebesarannya kotor oleh debu dan darah. Aula istana dipenuhi ketegangan. Para pejabat saling pandang, tidak berani bersuara. Kaisar duduk diam di atas singgasananya, wajahnya dingin, tak terbaca. “Bawa ke depan,” ucap Kaisar. Suara itu pelan, namun menggema. Penasihat Agung diseret lebih dekat. Ia masih berusaha tersenyum tipis
“Kita masuk,” bisik Liang Wei. Langkah mereka senyap saat mendekati aula dalam. Cahaya dari dalam tumpah ke lantai batu, terlalu terang untuk sebuah pertemuan rahasia. Tidak ada suara percakapan. Tidak ada bayangan bergerak. Hanya sebuah ruangan kosong. Liang Wei berhenti setengah langkah di depan pintu. “Terlalu bersih,” gumamnya. Ming Zhu tidak menjawab. Ia sudah melangkah masuk lebih dulu. Aula dalam terbuka luas. Tiang-tiang tinggi berdiri diam, kain tirai menggantung tanpa tersentuh angin. Meja utama di tengah ruangan tersusun rapi. Namun tidak ada satu pun tanda bahwa tempat ini baru saja digunakan. Tidak ada cangkir. Tidak ada dokumen terbuka. Tidak ada kursi yang bergeser. Seolah tidak pernah ada siapa pun di sini. Liang Wei masuk menyusul, matanya langsung menyapu seluruh ruangan. “Ini bukan sekadar umpan,” katanya pelan. “Ini panggung yang sudah disiapkan,” lanjutnya. Ming Zhu berjalan perlahan ke tengah aula. Setiap langkahnya hati-hati. Mengamati. Mengh
Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya. Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa s
“Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”
Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.
“Identitasmu akan tetap menjadi rahasia,” ucap Liang Wei. “Kenapa? Tuan bisa saja menyerahkan hamba atau menyeret hamba ke istana. Itu lebih aman bagi, Tuan,” ucap Ming Zhu. Lalu, perlahan, ia mendekat lagi—kali ini hanya beberapa senti dari wajah Ming Zhu. “Karena,” bisiknya rendah, “aku bel







