공유

Awal mula teror

작가: QuinzeeQ
last update 게시일: 2026-03-28 21:06:48

Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya.

Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa saat, lalu menghela napas pelan. Ketegangan yang sejak tadi ia tahan di depan Su Mu kini sedikit mereda.

“Kau terlihat sangat tegang. Su Mu pasti semakin curiga,” ucap Ming Zhu sembari mulai merapika
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rahasia lama dinasti Ming

    Liang Wei menghela napasnya perlahan. Kotak kayu tua dan lukisan yang ditemukan tadi disimpan kembali dengan hati-hati. Pria itu tidak membuang waktu untuk memeriksa isinya lebih jauh malam itu. Ada sesuatu yang lebih penting. Yaitu jejak orang yang masih menggunakan tempat ini. Dan kemungkinan hubungan mereka dengan penyerangan terhadap Ming Zhu. "Tidak ada yang menyentuh barang-barang di ruangan ini lagi," perintah Liang Wei. "Baik, Yang Mulia,” jawab Mo Lin. Sementara itu, Tuan Tianyi berjalan perlahan mengelilingi kamar utama. Tangannya menyentuh dinding kayu tua, rak buku, dan beberapa perabot yang tampak biasa saja. Lalu tiba-tiba ia berhenti. "Di sini,” ucapnya. Semua segera mendekat. Tianyi menekan salah satu ukiran bunga plum di kaki lemari tua. Klik. Suara mekanisme terdengar dari balik dinding. Mata Hei Yan langsung membesar. "Akhirnya sesuatu yang menarik,” gumamnya. Salah satu panel dinding perlahan bergeser. Di baliknya muncul lorong sempit yang t

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Aula Lama

    Tok. Tok. Dua ketukan terdengar dari jendela. Semua langsung waspada. Dan Ye Shuang bergerak paling cepat. Dalam sekejap ia sudah membuka jendela dan menarik seseorang masuk. “Yang Mulia,” ucap seorang penjaga bayangan yang ditugaskan untuk mengintai Aula Phoenix. Pria itu langsung memberi hormat. “Laporan,” ucap Liang Wei cepat. “Hamba mengikuti kepala dayang pribadi Permaisuri malam ini. Dia keluar dari Aula Phoenix setelah tengah malam,” jelasnya. “Pergi kemana?” tanya Liang Wei menyipitkan matanya. “Ke Aula kosong bekas kediaman Mendiang Permaisuri Shen Yurong, Yang Mulia,” lanjutnya gugup. Ruangan langsung hening. Ming Zhu perlahan menegang. Tepat seperti dugaan mereka sebelumnya. Liang Wei tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun tatapannya berubah lebih tajam. “Dia masuk?” tanya Liang Wei. “Ya, Yang Mulia.” “Berapa lama?” “Hampir setengah jam,” jawabnya. “Dia melakukan apa disana?” “Itulah masalahnya Yang Mulia. Kepala dayang itu tidak masuk sendiria

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Jejak baru

    Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di lehernya. Ming Yue masih duduk di samping adiknya dengan wajah belum tenang sepenuhnya. Sementara di luar ruangan, Liang Wei berdiri di aula depan bersama Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu. Mayat pembunuh tadi sudah dipindahkan ke ruang bawah paviliun untuk diperiksa. Tatapan Liang Wei dingin seperti es. “Laporan,” ucapnya dengan ekspresi dingin. Mo Lin melangkah maju lebih dulu. “Tubuhnya tidak memiliki tanda keluarga atau organisasi mana pun, Yang Mulia,” jelas Mo Lin. Hei Yan mendecakkan lidah. “Profesional sekali,” celetuknya. “Namun ada bekas luka bakar kecil di belakang leher. Ini sangat mirip dengan tanda hukuman budak bayangan,” jelas Mo Lin lagi. Ye Shuang ikut bica

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penyerangan di Paviliun Giok

    Malam itu, setelah meninggalkan Paviliun Teratai, mereka semua akhirnya kembali ke Paviliun Giok. Suasana di koridor istana jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Liang Wei, Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu masih mendiskusikan rencana penyelidikan aula lama Permaisuri Shen Yurong di ruang depan paviliun, sementara Ming Zhu memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Uap hangat memenuhi kamar mandi pribadi kecil di balik tirai sutra. Aroma herbal lembut memenuhi udara. Ming Zhu perlahan menuangkan air hangat ke bahunya, mencoba menenangkan pikirannya setelah seharian penuh ketegangan. Namun entah kenapa, malam itu terasa terlalu sunyi. Ming Zhu perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bergerak ke arah jendela kayu yang sedikit terbuka. Angin malam masuk pelan, membuat nyala lilin bergoyang samar. Dan tepat saat itu— CRAAT! Seseorang tiba-tiba menerobos masuk dari balik tirai. Mata Ming Zhu langsung membesar. Sosok berpakaian hitam itu bergerak

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kericuhan di paviliun teratai

    “Aku tidak pernah menyangka hidupku akan berakhir membersihkan kandang sambil mendengar Hei Yan menyanyikan lagu sedih tentang kebebasan,” celetuk Mo Lin. Ming Zhu tertawa makin keras. “Dia benar-benar bernyanyi?” tanya Ming Zhu dengan wajah tak percaya. Ye Shuang mengangguk kecil. “Lima belas lagu, Putri Ming,” ucap Ye Shuang datar. “PENGKHIANAT!” teriak Hei Yan. Untuk pertama kalinya bahkan Mo Lin terlihat hampir tersenyum. Sementara Liang Wei, yang biasanya akan mengusir mereka sejak awal, justru membiarkan ketiga pria itu tetap di paviliun. Hei Yan yang akhirnya duduk sembarangan langsung menyipitkan mata ke arah Liang Wei dan Ming Zhu. “Tapi serius, kenapa suasana di sini terasa lembut?” Mo Lin langsung menoleh. Ye Shuang juga perlahan mengangkat kepala. Ming Zhu langsung salah tingkah. “Tidak ada apa-apa!” ujar Ming Zhu cepat. Hei Yan menunjuk cepat. “Lihat! Dia panik!” seru Hei Yan. “Dan Yang Mulia diam saja,” tambah Mo Lin tenang. Hening. Semua ma

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Paviliun Teratai

    “Pangeran Ketiga,, kau membawa nama mendiang ibumu ke aula kerajaan hanya demi kasus racun?” ucap Permaisuri lembut. Liang Wei menatap beliau tanpa menghindar sedikit pun. “Karena keduanya mungkin berkaitan,” balas Liang Wei. Beberapa menteri langsung menunduk lebih dalam. Ucapan itu nyaris seperti tuduhan terbuka bahwa ada rahasia besar di balik kematian Permaisuri Shen Yurong dahulu. Permaisuri Zhao Lianhua tersenyum tipis. Namun kehangatan dalam senyum itu telah hilang. “Sudah bertahun-tahun aku membesarkanmu, Dan sekarang kau mulai mencurigai seluruh istana karena rumor lama?” Tatapan Liang Wei tetap dingin. “Aku tidak percaya rumor,” balasnya datar. “Lalu?” “Aku percaya bukti,” ucapnya. Suasana aula langsung semakin menyesakkan. Perdana Menteri Xu bahkan diam-diam mulai berkeringat. Karena perang dingin antara Permaisuri dan Pangeran Ketiga bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan. Satu pihak adalah ibu resmi istana. Satu lagi adalah pangeran paling berpeng

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perasaan Ming Zhu

    Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang W

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   tusuk konde

    “Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perilaku Liang Wei

    Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Bisikan Pelayan

    “Identitasmu akan tetap menjadi rahasia,” ucap Liang Wei. “Kenapa? Tuan bisa saja menyerahkan hamba atau menyeret hamba ke istana. Itu lebih aman bagi, Tuan,” ucap Ming Zhu. Lalu, perlahan, ia mendekat lagi—kali ini hanya beberapa senti dari wajah Ming Zhu. “Karena,” bisiknya rendah, “aku bel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status