Share

Dua

Author: Nandreans
last update publish date: 2022-03-14 16:57:31

“Kamu kan sudah tiga puluh dua, Bang. Kapan mau menikah? Nanti Oma keburu meninggal lho kalau kelamaan.”

Lagi. Nenek mengeluarkan pernyataan tersebut bahkan sebelum Arjuna mendudukkan bokongnya di kursi kayu di meja makan rumahnya guna menikmati makan malam bersama seluruh anggota keluarga untuk merayakan pesta ulang tahun wanita sembilan puluh tahun tersebut.

Bisa dibilang, kalau bukan karena Nenek, bisa dipastikan Arjuna tak akan sudi pulang ke rumah ini. Bukan karena dia tak mencintai keluarganya lagi, sebaliknya dia sangat menyayangi mereka semua. Masalahnya, sebagai manusia biasa Arjuna pun punya batas kesabaran. Dia terlalu lelah.

“Lihat adik-adikmu,” lanjut Nenek sambil menoleh ke arah Juan dan Jenna yang duduk bersama pasangan masing-masing di sisi lain mereja. “Juan sebentar lagi akan menikah. Jenna malah sudah punya anak. Kamu kapan, Juna?”

“Jangankan menikah, punya pacar saja dia tidak.” Tante Wati, adik ibunya, menyahut. “Kamu suka perempuan kan, Jun?”

“Eh, maksud Tante?”

“Maksud Tante, kamu tidak suka pada laki-laki, kan?” Ketimbang memberi penjelasan, jawaban Tante Wati justru terdengar macam todongan. “Bukannya Tante suuzon, tapi masa iya selama tiga puluh tahun hidup sebagai laki-laki kamu belum pernah membawa perempuan kemari?”

“Juna hanya belum siap saja, Ti.” Mama seperti biasa akan menjadi orang pertama yang membelanya. “Tidak membawa perempuan kemari kan bukan berarti tidak pernah dekat dengan perempuan, ya, kan, Jun?”

Arjuna tersenyum kecil, tidak tahu harus merespons bagaimana sebab sejatinya apa yang dikatakan Tante Wati memang benar. Bukan! Bukan dia betulan gay, melainkan benar bila selama ini dia memang belum pernah dekat dengan perempuan mana pun selain ....

“Ya tapi, kenapa? Padahal tidak apa-apa lho membawa perempuan kemari. Kalau punya pacar, bawa saja. Biar sekalian diseleksi. Dipastikan cocok atau tidak dengan keluarga ini.”

“Ya justru karena itu, Tante!” Jenna, adik perempuan Arjuna yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. “Bila Kak Juna membawa pacarnya kemari, yang jelas begitu pamit pulang mereka bisa langsung putus.”

“Maksud kamu?”

“Bukankah sudah jelas?” Jenna meletakkan sendok dan garpu ke pinggir piring, lalu menatap wanita kepala empat di hadapannya dengan mata menyipit. “Bukankah sudah sangat jelas?”

“Oh, jadi menurut kamu Tante yang membuat pacar-pacar kakakmu tidak nyaman? Begitu?”

“Tante sendiri lho yang ngomong.”

“Astaga!” Tante Wati menutup mulutnya tak percaya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kekecewaan. “Bisa-bisanya kamu bicara begitu, Jen? Tante ini tantemu lho. Kamu malah tidak menghormati Tante. Padahal Tante sudah menganggap kamu seperti anak sendiri lho, Jen.” Dia bahkan memasang muka memelas untuk ditunjukkan kepada sang mama. “Lihat kelakuan cucu kesayangan Mama! Bisa-bisanya dia berkata seperti ini kepadaku.”

“Sudah! Sudah!” Nenek mencoba menengahi. “Jen, tolong hormati yang lebih tua. Dan kamu, Ti! Makanya, jangan suka bicara sembarangan. Mama yakin kok kalau cucu Mama tidak mungkin aneh-aneh. Dia jelas sekali menyukai perempuan, tapi ..., ada baiknya kamu memang membawa perempuan ke mari. Usiamu sudah dewasa lho, Jun. Mau tunggu apa lagi?”

“Nenek benar, Jun!” Papa yang baru datang menyahut, membuat semua orang spontan menoleh ke arah tangga tempat pria berambut putih tersebut berada. “Kamu tidak harus menanggung semuanya seorang diri. Bukan hanya kewajibanmu memperjuangkan perusahaan. Ada baiknya kamu memang beristirahat. Liburan.”

“Ajak pacarmu jalan-jalan kalau perlu,” tambah Oma. “Toh, kamu bisa kan menangani semuanya sendiri, Har?”

Harianto, ayahnya, menjawab tanpa keraguan, “Kenapa tidak, Ma? Lagi pula, aku juga sudah tidak sabar menggendong cucu dari anak laki-lakiku, kan?”

“Tenang saja, Pa. Sebentar lagi Papa akan punya cucu dari anak laki-laki kok. Juan kan akan segera menikah.” Meski diucapkan dengan nada setegar dan tak terang-terangan mungkin, tapi nada getir tetap terasa dari cara Arjuna mengalihkan pandang dari keluarganya. Dia menatap piring, berpura-pura mengiris dagang sapi dengan sekuat tenaga.

“Ya tidak bisa begitu tho!” tegas Nenek, tiba-tiba. “Juna sudah dilangkahi Jenna, masa dia mau dilangkahi Juan juga? Bisa-bisa dia betulan tidak menikah selamanya nanti.” Kalimat lanjutan ini sontak membuat –bukan hanya Arjuna tapi semua orang di meja makan kecuali Juan dan Viviane –kaget.

“Iya, Mas. Aku dan Vivi sudah bicara bertiga dengan Oma kemarin, dan kami sepakat untuk menunda tanggal pernikahan untuk memberi waktu pada Mas Juna,” terang Juan sambil melirik kekasihnya. Dia menggenggam tangan Viviane seolah berkata, kami baik-baik saja.

“Tapi untuk tanggal pertunangannya ..., tetap akan kami laksanakan bulan depan kok.” Viviane menambahkan, senyumnya dia paksa sendiri selebar mungkin. “Jadi, Kakak-kakak dan Mama tidak perlu khawatir.”

“Kamu serius, Vi?” Bu Rahayu mendelik, tak percaya. “Lalu, orang tua kamu?”

Viviane setia merekahkan senyum, dia menjawab lagi dengan, “Tenang saja, Ma. Papi dan Mami menyerahkan semua sepenuhnya ke aku dan Mas Juan.”

Nandreans

Terima kasih sudah membaca

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Buta   Bagaimana?

    Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben

  • Bukan Cinta Buta   Viviane Tahu?

    "Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T

  • Bukan Cinta Buta   Kenapa?

    "Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali

  • Bukan Cinta Buta   Ini Istri Saya

    "Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya

  • Bukan Cinta Buta   Hiburan

    "Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a

  • Bukan Cinta Buta   Putus

    Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu

  • Bukan Cinta Buta   Uang

    “Kamu serius, Mas?”Mata Tami membelalak saat menerima uang tersebut. Lebih tepatnya, tidak percaya denga napa yang dia lihat. Juna mengangguk. “Ya. Tentu saja, Tami.”“Astaga!” Tami menggeleng tegas, lalu mendorong tangan Juna dan uang itu menjauhinya. “Aku nggak bisa menerima uang ini.”“Kenapa?”“Mas

  • Bukan Cinta Buta   Siapa Yang Beruntung?

    Selepas makan malam, Tami memilih untuk menemani Juna di kamar pribadinya, sebab tak ingin membuat Nyonya Anggara curiga. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Tami hanya duduk dan membaca buku-buku koleksi suaminya, sementara Juna mengerjakan tugasnya mengetik di meja kerja.Suasana di sana sangat cerah

  • Bukan Cinta Buta   Pasangan

    Ombak yang menggulung di hadapannya, seolah menggambarkan isi kepala Tami hari ini. Perempuan mud aitu kini terduduk di teras kamar pribadinya, di teras rumah kayu biasa dia beristirahat. Namun kali ini, dia agak terganggu oleh pemikiran aneh yang terjadi sejak kedatangan Pandu tadi. Dia tahu bahwa

  • Bukan Cinta Buta   Pulang

    Juna keluar dari rumah sakit dua hari kemudian. Tami dibantu Nyonya Anggara mempersiapkan kepulangan Arjuna, sebab Anjas tengah disibukkan oleh persiapan pernikahan. “Tami, bisa kamu banu Mama melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam koper?” Nyonya Anggara yang sedang menyuapi Juna sarapan langsun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status