Share

Malam Pertama

Author: Indah.poe.try
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-21 10:42:13

Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.

Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang.

"Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”

Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masih ikut sarapan pagi. Ia hanya mengangguk.

"Saya tunaikan disana aja Tan, tempatnya sepi, nggak perlu takut jeritan istri didengar orang.”Elang menyahuti komentar itu dengan santai.

Tawa berderai memenuhi ruang makan. 

Ivanka adalah satu-satunya orang yang tak mampu tertawa karena dikurung malu. Ah, untungnya setelah ini Elang akan membawanya ke rumah cinta mereka sendiri. 

Asisten rumah tangga sudah memasukkan koper-koper ke bagasi mobil Elang. Selesai sarapan tak ada lagi basa basi panjang, keluarga yang riuh itu mengantar hingga ke samping mobil.

"Ingat, sekarang sudah ada yang menunggu di rumah. Jangan gila kerja Lang." Mama mertuanya memeluk erat putranya. 

Elang membungkuk agar Mamanya bisa mengecup keningnya. Setelah itu ia menyalami Papanya. 

"Bulan depan Papa akan berkunjung kesana sekalian memantau perkembangan resort kita." Suara berat Pak Rajendra begitu hangat dan ramah. Setelah berkata begitu, ia berpaling pada anak mantunya.“Elang sering lupa makan kalau nggak diingatkan jadi bawakan dia bekal ya.”

Sebelum Ivanka mengangguk, Elang lebih dulu menyahut. “Aku bukan anak TK Pa.”protesnya.

Kini giliran Mama mertuanya yang memeluk erat Ivanka.“Mama titip Elang ya Va. Perempuan memang kelihatan lemah tapi sebenarnya laki-laki nggak bisa apa-apa kalau nggak ada perempuan." Ujarnya lembut.

Ivanka mengangguk. Ia merasa diberkati mendapat mertua yang sebegini sayang dan perhatian kepadanya. Sungguh, mertua yang baik adalah anugrah terindah dari Tuhan. Kerikil dalam rumah tangga akan lebih mudah tergerus apabila para orang tua menjadi support system yang baik.

Gadis itu naik ke mobil off road sang suami lalu melambai-lambai. 

Mobil bergerak lambat. 

Senyumnya belum hilang sebab matanya masih terpaku ke arah spion yang memperlihatkan keluarga besar Rajendra yang hangat dan ramah.

Hingga akhirnya mobil itu berbelok.

"Naikkan kacanya.”Elang berucap dingin sembari mengenakan kaca mata hitamnya. Begitu barisan keluarganya tak ada lagi di spion, lelaki itu langsung menambah kecepatan.

So sweet, pikir Ivanka. Mas Elang sangat peduli pada keluarganya. Itu saja sudah membuat Ivanka tenang. 

Sekarang Elang memang nggak terlalu memperhatikannya, mungkin belum karena mereka baru kenal tapi nanti… Ivanka berandai-andai. Mungkin nanti sikap Elang akan berubah 180 derajat.

Ah... itu bayangan yang indah. Makin tak sabar saja ia menikmati mahligai rumah tangga nan romantis di daerah tepi pantai Pangandaran yang sepi, berdua saja.

Resort yang tengah dikerjakan Papa mertuanya, yang kini dialih tangan kepada suaminya berada di tepi pantai yang mempesona itu.

Pembangunan tempat peristirahatan, cottage, hotel dan juga tradisional market yang dikemas berkelas sudah berjalan 65 persen. Kemungkinan tahun depan sudah selesai. Begitu yang ia dengar.

Perjalanan yang lumayan panjang dengan jalanan berkelok serasa indah bagi Ivanka yang dimabuk cinta.“Mas…” ujarnya pelan-pelan.“Apa aku boleh menurunkan kacanya sebentar? Aku ingin merasakan anginnya.”

Mobil itu sedang menanjak naik. Pemandangan di sisi Ivanka adalah perbukitan menghijau sedangkan pemandangan disisi Elang adalah jurang nan indah karena di bawah sana sawah dan pemukiman terhampar.

"Oke, tapi jangan lama-lama. Itu berbahaya.”

"Iya." Ia sebenarnya kepingin bilang kalau ini adalah pertama kalinya ia melewati jalanan ini namun sahutan kaku itu membungkam Ivanka. Jemarinya menekan, kaca menurun perlahan.“Wah… dingin banget, seperti AC! Ia memekik, tak mampu menahan kegembiraan.

Bukan hanya itu, aroma dedaunan dan tanah basah yang alami memanjakan indera penciuman Ivanka. Gadis itu menghirup udara dalam-dalam. Rambutnya berkibar, ia menyelipkan anak-anak rambut yang nakal itu ke belakang telinga lalu mengeluarkan sebelah tangannya.

"Cukup!”

Ivanka tersentak.“Eh? Eh.. i... iya, oke." Ujarnya gugup.

"Aku nggak bisa konsentrasi gara-gara ulahmu.”Sungut Elang ketus.“Gimana kalau tanganmu patah menabrak ranting yang menjuntai ke jalan?”

Mata gadis itu melebar.

“Kita juga bisa kecelakaan kalau aku menyetir sambil memastikan keselamatanmu. Harusnya aku fokus pada jalanan yang mulai menurun dan menikung tajam ini kan?”

"Iya.”Ivanka segera menaikkan kaca lalu bungkam. Ia tak berani melakukan apa-apa lagi karena apa yang dikatakan suaminya, semua adalah benar.

Jalanan mulai menurun. 

Akibat diam terlalu lama, gadis itu akhirnya tertidur. Maklum saja, semalaman tidurnya nggak tenang karena memikirkan apa yang disampaikan Elang kepadanya. Perlahan ia membuka mata saat bahunya ditusuk-tusuk.

Elang menekan ujung telunjuknya ke bahu Ivanka beberapa kali. Mulanya tanpa bicara tapi karena gadis itu tak juga terbangun, ia akhirnya bicara juga. “Sudah sampai.” Ujarnya singkat.

“Hm?”

“Turun, kita sudah sampai.” Lelaki berperawakan tinggi tegap itu turun lebih dulu dengan gerakan tak sabar. Mesin mobil masih ia biarkan menyala karena Ivanka masih mengerjap-ngerjap, belum benar-benar terbangun.

Elang berjalan cepat menuju ke rumah besar yang kelihatan tua dan antik. Alih-alih membuka pintu depan, ia malah ke bagian samping rumah. Tak lama, lelaki itu sudah kembali diikuti pria tua berusia awal lima puluhan.

Bagasi mobil dibuka. Koper-koper diturunkan.

Sambil menguap, Ivanka juga ikut turun.

"Tunjukkan dimana kamarnya, dapurnya, semuanya.”Elang berucap datar sambil menoleh sepintas ke arah Ivanka. 

"Ini rumahnya Mas?”Ivanka agak merinding melihatnya. Satu lantai, besar, suram dan jauh dari tetangga. Halamannya luas sekali.

Ini tak seperti bayangannya yang mengira akan tinggal di kawasan resort, yah… maksudnya nggak jauh dari lokasi pembangunan resort.

"Kamu ikuti arahan mang Sarif.” Elang kembali berjalan ke arah mobilnya.

"Mau kemana mas?”sambil terheran-heran gadis itu mengejar langkah-langkah panjang suaminya.

Alih-alih menjawab, Elang justru mempercepat berjalannya menuju ke mobil. Kendaraan off road itu langsung mundur, bermanuver dan hilang dari pekarangan rumah. 

Ivanka termangu sejenak. Merasa tak punya pilihan, ia berbalik, menatap pintu utama model kupu-kupu yang membuka lebar. 

Takut-takut ia melangkah masuk.

Layaknya rumah tradisional, susunan ruangan di rumah tua itu sudah bisa ditebak. Ruang tamu, ruang makan, lorong-lorong kamar dan dapur di bagian belakang. 

"Silakan Neng. Disini ada tiga kamar, kamar utama dan dua kamar yang lebih kecil. Pesannya tuan muda, neng menempati kamar ketiga yang ada diujung." Mang Sarif kelihatan tak enak hati saat mengatakannya tapi lelaki tua yang mengenakan sarung, pakaian tebal dan topi rajut itu segera menggeret koper Ivanka melewati lorong.

"Saya di ujung... lantas... su... suami saya tidur dimana?”bergetar suara Ivanka saat menanyakan itu.

"Di kamar utama.”

Gadis berusia dua puluh lima tahun itu merasa disambar petir disiang bolong. Apa maksudnya ini? Mereka pisah kamar? Ia nggak habis pikir tapi rasanya nggak mungkin untuk menanyakan alasan Elang pada lelaki tua ini.“Kamar utamanya dimana?”

"Di depan, di dekat ruang tamu.”

Tatapan Ivanka mengarah ke satu pintu yang terletak tepat di sebelah kamar utama.“Kalau kamar yang itu?”

"Kosong. Itu kamar tamu neng, biasanya kalau tuan dan nyonya besar datang dari Jakarta, menginapnya disitu.”

"Oh…” Jawaban itu melegakan sekali, kecurigaan yang sempat melintas terhapus begitu saja.

"Sisanya biasa neng, tidak ada pesan khusus dari tuan muda. Saya permisi. Kalau ada apa-apa… saya ada di belakang ya.”

Ivanka mengangguk. 

Pintu kamarnya membuka. Ia menarik napas melihat betapa sempit dan kotornya kamar itu tapi ia yakin dirinya akan betah disini.

Bibir mungil Ivanka mengukir senyum. Tempat ini romantis. Katanya dalam hati. Senang dan sedih berasal dari diri sendiri, sambungnya menyemangati diri sendiri. 

Gadis itu mencoba membayangkan bahwa setiap hari ia hanya akan berdua Elang disini. Itu saja sudah membahagiakan bukan? Ia akan punya banyak waktu untuk membuat suaminya terpesona.

Ivanka menatap keluar melalui kaca jendela kamar yang berdebu. Langit yang dihias awan kelabu menambah suasana suram dan dingin. Gadis itu mendadak merasa merinding. Ia mengurungkan niatnya untuk melihat-lihat sekitar.

Seram!

Dinyalakannya semua lampu lantas ia mulai menjelajahi rumah, dapur yang pertama. Ia butuh alat kebersihan untuk kamarnya.

Selesai merapikan kamar, Ivanka berkutat di dapur. Ia terpaksa memeriksa semua pintu kitchen set untuk mencari bahan makanan.

Angin kencang bertiup. Suara berderak ranting-ranting dan gemeresek dedaunan begitu nyaring menggesek dinding dan atap rumah. 

Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.

Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.

.

.

.

to be continued

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 9

    Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 8

    Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 7

    Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg

  • Bukan Cinta Pertama   BAB 6

    Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 5. Ramalan Nenek Tua

    "Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma, iya, ini lagi bersama Ivanka. Mama mau bicara?"Binar dimata Ivanka berkilauan saat menerima benda pipih itu dari suaminya. "Halo Ma." sapanya dengan hati diliputi kehangatan. Ia melirik Elang yang memilih duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan handphone lain lalu sibuk menggulir layar, membiarkannya bicara panjang lebar.Sambil bicara, Ivanka menatap lelaki itu. Senyumnya merekah. Rasanya masih tak percaya kalau sekarang ia berhak atas lelaki itu. Elang Rajendra adalah miliknya!"Iya Ma, tempatnya sejuk, asri, enak kok." Ivanka menenangkan kekhawatiran Mama mertua yang tertangkap oleh telinganya. "Sekarang lagi hujan deras. Mas Elang pulang untuk menemani." katanya bahagia. "Jakarta hujan

  • Bukan Cinta Pertama   Bab 4. Sebuah Nama Lain

    Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menakutkan Ivanka justru makin tak dapat mengalihkan pandang padahal tubuhnya sudah mundur beberapa langkah.Sosok terbalut pakaian serba putih berada ditengah hujan dan angin kencang.Napas Ivanka tercekat.Sosok itu mendekat dengan amat cepat, berlari menghampiri jendela kamarnya.Gadis itu tak dapat lagi menahan ketakutannya. "Aaaaarrgghhh!!!" Ivanka menjerit keras, serta merta berjongkok disamping ranjang, memeluk lututnya kencang-kencang.Jendelanya diketuk keras. "Neng! Neng buka pintunya neng, rumah ini ada bocornya nggak?"Suara itu tidak jelas tapi samar-sama ia mendengar orang bicara. Pelan sekali mengangkat muka. "Arghh!!" Ivanka ngos-ngosan menahan debur jantung dan ketakutannya saat m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status