LOGINSuara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."
Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya. "Tapi kenapa setelah dua tahun kita harus bercerai mas?" Point itulah yang membuat air mata Ivanka jatuh tak tertahankan.
Rumah tangga apa yang dimalam pertama malah membahas perpisahan?
Melihat suaminya bergeming, ia melanjutkan perkataannya. "Aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu mas, aku akan menunjukkannya, membuktikannya mas." isak Ivanka. Ia tak main-main. Berbekal cintanya yang sudah tersimpan selama sepuluh tahun, rasanya ia sanggup mengabdikan diri pada suami.
"Aku belum menginginkan istri."
Kedua mata Ivanka sudah basah hingga tatapannya kabur. Jawaban barusan membuat air matanya makin deras saja. "I... iya, ba... baiklah kalau begitu. Aku nggak akan memaksa mas untuk langsung jatuh cinta sama aku tapi... setelah kita bersama, perasaan siapa yang tahu kan?" ia masih saja ngotot.
Berbeda dengan dirinya yang setia mengikuti perkembangan Elang Rajendra, memandangnya dari jauh tiap kali mereka bertemu di acara yang melibatkan keluarga mereka berdua, Elang memang tak pernah memandang ke arahnya.
Selepas SMA, lelaki itu langsung meneruskan pendidikannya diluar negeri. Setahun sekali saja Elang kembali ke Indonesia untuk hari raya. Atau kadang lelaki itu datang untuk ikut papanya belajar mengelola perusahaan selama beberapa hari.
Ivanka mengetahui detil perubahan Elang dari cowok cute yang gagah menjadi lelaki matang atletis yang luar biasa gantengnya.
"Bagus kalau kamu sudah tahu. Jangan memaksaku untuk jatuh cinta padamu karena aku tidak bisa." Elang menatap tajam mata perempuan yang baru menjadi istrinya selama hitungan jam. "Kamu... jangan memaksa dirimu untuk mencintaiku juga. Nanti kamu kecewa."
Apakah Ivanka harus berterima kasih atas peringatan gamblang itu? Ia dilanda rasa bingung. Mereka berdua bicara baik-baik, duduk berhadapan dengan tenang tapi seluruh tubuhnya terasa remuk. Apalagi hatinya.
Masih dengan mata berlinangan ia mendongak saat melihat Elang berdiri. "Mau kemana mas?"
"Tidur, aku lelah menghadapi kegembiraan semua orang di acara pernikahan tadi."
Alis Ivanka menjungkit mendengar penuturan suaminya. "Tidur dimana? Ini kamar kita berdua kan?"
"Jangan memulai, hari pernikahan kita sedang dihitung mundur, satu hari telah berkurang menuju perceraian kita." Elang meneruskan langkah. Di dekat pintu keluar, lelaki itu berhenti.
Ivanka sungguh berharap suaminya berubah pikiran lalu kembali ke kamar bersamanya.
"Secepatnya kita tanda tangani surat perjanjian pernikahan kontrak itu secara resmi di kantor kuasa hukumku."
Gadis itu tergugu, mematung di tempatnya.
Elang membuka pintu.
"Mas... jangan tidur diluar, ini malam pertama kita. Apa kata orang-orang nanti. Silakan mas tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa." Baginya, yang terpenting mereka tetap bisa satu kamar. Biarlah ia tidur berteman khayalan asalkan sumber khayalannya nyata, berada di hadapannya walau tak tersentuh.
Lelaki itu berbalik. Garis wajahnya yang aristokrat kelihatan berpikir, seolah mempertimbangan tawaran perempuan muda yang tak ia minati itu. "Aku nggak berselera melihatmu. Perutku mual gara-gara tampangmu." ucapnya datar.
Pintu itu sedikit membuka, siapapun bisa mendengar ucapan Elang tapi sepertinya lelaki itu sama sekali tak peduli.
"Aku harus bilang apa kalau ditanya ibu mas?" Raut wajah Ivanka memelas. "Paling tidak, beritahu aku mas Elang mau tidur dimana?"
"Bilang saja ada meeting mendadak. Aku akan tidur di kantor."
Ivanka menatap pintu yang menutup dengan perasaan tak menentu. Harusnya ia tak terkejut kalau seorang Elang Rajendra tak memiliki rasa suka terhadapnya. Mereka memang bagai langit dan bumi.
Elang yang metropolis tak sesuai bersanding dengan dirinya yang kelewat sederhana - kampungan - udik - dan nggak cantik. Alasan keluarga mereka bisa dekat meskipun ada jarak sosial yang lebar membentang hanyalah kenangan indah dimasa lalu antara kakek Ivanka yang pernah berjasa menolong kakeknya Elang.
Ivanka bahkan nggak tau detilnya seperti apa hingga berujung pada perjodohan ini. Nanti... pikirnya dalam keheningan dan kesendirian. Kalau kita sudah tinggal berdua aja, kamu akan melihat gimana kerennya aku sebagai istrimu mas.”
Sambil merangkak naik ke atas tempat tidur, Ivanka mengingat kembali percakapan suaminya dengan mertuanya. Saat itu mereka berdua baru berdiri meninggalkan kursi pelaminan untuk mengambil makan.
“Besok Iva mau langsung dibawa ke rumah Lang?” tanya Mama mertuanya dengan nada antusias.
Elang mengangguk.“Biar dia belajar ngurusin aku Ma.” jemari yang panjang dan langsing itu menyentuh bahu Ivanka sekilas.
Hanya sentuhan kecil tapi seluruh tubuh Ivanka serasa disengat listrik. Sensasinya bercampur aduk. Senang, bingung, takut tapi juga mendamba Uhh… rasa yang terakhir itu membuatnya gelisah bercampur malu. Ivanka berusaha keras memejamkan mata. Semakin cepat ia terlelap maka semakin cepat pula ia akan berjumpa dengan pagi.
Tak sabar lagi rasanya menempuh hidup baru bersama Elang.
Memang, kalau sudah terlanjur cinta, poop kucing rasa coklat itu benar adanya. Elang Rajendra sudah membuatnya berderai air mata lalu meninggalkannya begitu saja tapi atas nama cinta, Ivanka nggak merasa terluka, ia baik-baik saja bahkan sudah merindukan suaminya.
Tubuh ramping itu bergulingan di atas kasur selama beberapa saat. Tak tau harus berbuat apa. "Padahal ini malam pertama." desahnya.
Tangannya meraih handphone, memilih permainan lantas menyelesaikan beberapa level permainan dinner dash di hand phonenya kemudian menonton film hingga akhirnya ketiduran. Benda pipih itu jatuh disebelah keplanya, terus saja menyala sampai akhirnya mati kehabisan daya.
Pagi-pagi sekali, begitu membuka mata Ivanka menengok benda itu. Layarnya gelap tak bereaksi ketika tombol powernya ditekan. Aduh... mas Elang beneran tega nggak kesini semalaman. Keluhnya dalam hati. Gadis itu menelan rasa kecewanya. Kakinya menjulur turun ke lantai, bermaksud mencari colokan handphone.
"Enak ya tidur di ranjang orang lain?" Suara berat dan dalam itu begitu dingin dan angkuh.
Ivanka kaget, langsung didera perasaan tak enak mendengar suara berat suaminya yang ternyata berada di kamar itu. Kapan lelaki itu datang? Ia tak berani membayangkan tampang tak suka Elang kepadanya. Diperlakukan sinis oleh orang yang berhasil membuat kita jatuh cinta itu rasanya seperti diminta berjalan diatas seribu jarum.
Sakit!
"Kok nanya gitu mas?" Tapi bukan Ivanka namanya kalau langsung kalah begitu saja. "Aku tidur disitu karena mas Elang nggak ada. Sayang kan kasurnya dianggurin. Nanti nangis." senyuman manis langsung terpasang di bibir Ivanka.
Elang tak berkata apa-apa lagi. Lelaki itu memasuki ruangan, melewati istrinya begitu saja menuju ke kamar mandi.
Ivanka beranjak menuju ke lemari. Itu bukan lemarinya tapi lemari Elang. Ia harus memeriksanya satu per satu untuk menemukan apa yang ia cari. Satu set pakaian ganti : Celana, kaus, dalaman...
Selagi mencari, gadis itu teringat sesuatu. Tergesa ia bergerak ke arah kamar mandi. Ivanka mengetuk pelan namun tak sabar. "Mas... Mas Elang, Mas!" serunya dari luar pintu.
Sekitar satu menit, pintu kamar mandi membuka beberapa senti. "Apa?" tanya Elang dingin.
"Sudah bawa handuk?" Ivanka mendekap selembar handuk putih berukuran besar.
Elang menyahut sinis. "Apa kampungan itu sejenis penyakit? Kok kadar kampungan kamu parah begini?"
Ivanka tak berani menyahut. Ia mengingat-ingat kalau kamar mandi itu serupa kamar mandi hotel jadi mungkin... ada penyimpanan handuk juga di dalam kamar mandi. Ahh... ia merasa bodoh. "Maaf..." lirih ia berkata. Pipinya merona.
Pintu kamar mandi dibanting tepat di depan wajahnya.
"Ini memang salahku." Ivanka menggumam pelan. "Bukan salahnya. Sabar Iva, batu aja bisa berlubang kalau terus-terusan ditetesi air, apalagi hati..."
.
.
.
to be continued
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Juliett
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi







