Masuk
Pembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”
Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Julietta.
Kini keluarga dari kedua mempelai dan tetangga kanan – kiri yang tak mungkin kalau tak diundang mulai membentuk kelompok-kelompok, mengobrol gembira sambil menikmati cemilan yang semuanya berkualitas premium.
"Iva, silakan kalau mau istirahat dulu." Ibu mertuanya tersenyum hangat sembari menepuk lembut punggung anak mantunya. Wanita berusia mapan yang tampil mempesona itu tau betapa pegalnya terbalut kebaya sempit selama berjam-jam. Ditambah lagi dengan berbagai macam asesoris tradisional lengkap yang dilekatkan di tubuh ramping Ivanka.
"Mana bisa pengantin baru disuruh istirahat jam segini mbak." Salah satu kerabat sang suami yang tak dikenal oleh Ivanka menimpali sambil dengan sengaja mengedip-ngedip genit. "Pasti menjelang subuh baru bisa tidur." wanita itu merendahkan suara. "Apalagi Elang bugar perkasa begitu."
Ibu mertua Ivanka yang santun dan lembut itu tertawa pelan sembari menutup mulut menggunakan kipas berenda yang ada ditangannya. Rania Rajendra tak menimpali malah makin mendekat lalu merangkul Ivanka. "Sudah, jangan diambil hati Va. Masuk aja ke kamar untuk isirahat ya."
"Bener nggak apa-apa Ma?" mata Ivanka mengerjap. Sebenarnya ia juga malu menghilang dari tempat acara sekarang namun sedari tadi godaan demi godaan memang lebih banyak ditujukan kepadanya sampai ia merasa risih. Ia memilih menyingkir karena candaan mereka mulai melewati batas. Seputar kasur dan aktivitas di atas kasur melulu.
"Iya nggak apa-apa Va, beneran. Nanti begitu Mama menemukan Elang, Mama akan langsung menyuruhnya menyusul kamu ke dalam." Wanita itu menarik napas panjang. "Paling-paling dia lagi ngumpul sama teman-teman sablengnya di gazebo."
Pipi Ivanka merona. Ia mengangguk malu-malu. "Kalau begitu saya permisi dulu Ma." Gadis itu berjalan pelan-pelan meninggalkan tempat acara didampingi dua orang pegawai perias pengantin yang stand by sejak tadi pagi.
Satu orang akan membantunya berganti pakaian sementara satu orang lagi akan membantu membersihkan mukanya yang terasa tebal dan lengket oleh make up.
Ivanka mengeluhkan mukanya yang seberat lima ratus kilogram!
Periasnya tertawa geli sembari menjanjikan kalau mukanya akan kembali ringan, mulus dan polos seperti biasa setelah dibersihkan.
Sebentar saja mereka bertiga sudah akrab. Sambil melepaskan kaitan kancing kebaya Ivanka yang memang berada di punggung, mereka bertiga saling bertukar cerita. Seru sekali karena ternyata mereka memiliki beberapa hal favorit yang sama.
Ruangan itu berubah hening saat pintu kamar membuka.
Dua orang asisten perias tadi langsung menundukkan kepala lalu bekerja membuka kancing-kancing kemeja Ivanka dalam kesunyian.
Kedatangan Elang Rajendra seolah menjadi pertanda bahwa waktu mereka untuk keluar dari kamar sudah tiba.
Gerakan kedua orang itu berubah agak gugup dan terburu-buru, tak bersantai-santai seperti sebelumnya. Apalagi sambil berbagi kisah dan tertawa-tawa.
Suasana menjadi mencekam.
Padahal Elang melihat ke arah mereka pun tidak. Ia melewati tiga orang wanita yang berada di dalam kamarnya begitu saja tanpa kata. Lelaki berperawakan tinggi tegap itu langsung menghilang ke dalam kamar mandi.
"Kami permisi mbak." ucap salah satu dari mereka padahal tugasnya belum seratus persen selesai. Dua orang itu ngibrit besamaan keluar kamar begitu saja.
“Iya makasih mbak…” ucapan Ivanka hanya menyapa angin karena pintu kamar langsung menutup. Tatapannya berpindah ke pintu kamar mandi. "Ah keduluan." senyuman Ivanka kembali menyungging. "Padahal aku juga sudah kepingin banget ke toilet." Gadis itu pura-pura cemberut sambil tetap menatap pintu yang menutup rapat.
Tapi siapa yang bisa marah kalau sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka menampakkan Elang yang sudah berganti mengenakan pakaian santai. Ohh... God! Tampilan segar lelaki itu begitu menggoda iman.
Sejak dulu Ivanka lebih menyukai tampilan Elang yang seperti ini ; kaus oblong dan celana kolor sebatas lutut. Lebih... manusiawi.
Lelaki itu memilih duduk di sofa single yang terletak di sudut ruangan sambil menyilangkan sebelah kaki. Tangannya meraih hand phone yang entah kapan diletakkannya di atas meja kecil tepat disamping sofa. Jemari Elang sibuk menggulir layar.
"Mas Elang laper nggak? Apa mau aku ambilkan makanan atau cemilan kesini?" Astaga, pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Elang bergeming. Jangankan menjawab, melirik pun tidak.
Ivanka tidak merasa sakit hati dengan respon dingin membeku itu. Ia punya ide lain. Sebenarnya bisa saja Ivanka membuka sendiri sisa kancing-kancing kebayanya yang sudah longgar tapi ia ingin menggoda suami.
Keraguan menerpa gadis muda itu. Setahu Ivanka, Elang memang tak pernah kelihatan menggandeng perempuan. Itu sebabnya, lelaki itu perlu dipancing dulu agar bereaksi.
Ivanka menggigit bibir bawahnya. Apakah aku terlalu agresif? Tanyanya dalam hati. Memangnya ada lelaki yang jadi ilfeel karena istrinya terlalu genit? Harusnya enggak. Tapi ini Elang. Lelaki itu berbeda. Ah… Ivanka jadi mengkeret. "M... mas bisa bantu buka?" tapi ia paksakan dirinya untuk mencoba.
Tiba-tiba Elang mengangkat muka, beranjak dari single sofa menghampiri istrinya. Sorot mata lelaki itu tertuju lurus pada Ivanka.
Seketika jantung Ivanka berdebar. "Ma... mau apa mas? Apa mas mau mengajakku bercinta?" Ya Tuhan... bisa-bisanya pertanyaan seperti itu terlontar dari mulutnya!
Elang tak terpengaruh. Wajahnya biasa saja mendnegar pertanyaan sang istri. "Berapa nomor hand phone kamu?" tanyanya dingin sembari mengantongi handphonenya sendiri agar tangannya dapat membuka dua kancing terbawah kebaya pengantin yang dikenakan Ivanka. Setelah itu, ia kembali mengambil handphonenya, bersiap mencatat.
Ivanka menyebutkan nomornya dengan nada malu-malu. Pikirnya Elang akan marah kepadanya karena wajah lelaki itu seolah digelayuti mendung pekat yang mengerikan. Ia juga sempat berpikir kalau Elang akan menyergap tubuhnya ke tempat tidur. Ohh… pipinya merona lagi. Namanya juga pengantin baru, jauh sedikit pastilah diserang rindu.
Bahunya menjengit manakala tak sampai semenit hand phonenya mengeluarkan bunyi notifikasi.
"Buka." ucap Elang masih dengan nada dinginnya. Kaki yang panjang dan kokoh itu melangkah kembali ke kursi.
Ivanka memilih untuk menanggalkan kebayanya dulu, menyisakan dalaman krem lengan panjang, barulah duduk di tepi tempat tidur, membuka pesan yang ternyata berasal dari suaminya.
Sebuah dokumen yang harus di d******d. Mata Ivanka yang semula berbinar indah seketika meredup membaca judul dokumen tersebut. "Su... surat perjanjian kontrak pernikahan?" tanyanya terbata-bata. "Kita kan sudah menikah secara sah." ujarnya kemudian dengan wajah terangkat. "Apa maksudnya ini mas?"
Sahutan Elang amatlah pendek dan kaku. "Baca."
Satu kata itu kembali membuat Ivanka mengkeret. Tegas dan terkesan garang sekali suara Elang. Ivanka menunduk, membaca baris demi baris kalimat dalam dokumen itu. Semakin banyak ia membaca dokumen berjumlah tiga lembar itu, semakin panas matanya.
Dua butiran bening meleleh dari sudut-sudut mata gadis berusia dua puluh lima itu seiring ia selesai membaca.
"Sudah mengerti?" Elang menatap dari dari posisinya yang berseberangan dengan Ivanka. "Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Aku nggak mempunyai rasa sedikitpun kepadamu. Satu-satunya alasanku menerima pernikahan ini adalah kondisi ibuku yang sakit. Beliau menderita lemah jantung jadi aku tak kuasa menolak keinginannya. Aku tak ingin ada apa-apa dengan ibu."
Nada bicara Elang melembut tapi hati Ivanka malah tertusuk-tusuk.
Di jaman sekarang ini, ada berapa laki-laki yang memiliki kebaikan seperti Elang? Sanggup mengorbankan perasaannya demi sang ibu. Rasanya nggak banyak dan Ivanka merasa terluka karena orang sebaik itu ternyata tidak menyukainya.
Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."
.
.
.
to be continued
Rapat dadakan antara perusahaan sekolah telah berlangsung selama 10 menit. Elang, Silva, Pak Haryadi, Amran dan tim pengawas yang dibentuk oleh CSR The Ocean dalam waktu kurang dari satu jam, menyimak penjelasan Pak Sudiana.Berapa lama batas toleransi keterlambatan di sekolah ini? Pertanyaan itu mengambang di kepala Elang sejak lima menit yang lalu. Mungkin lima belas menit, ia menjawab sendiri dalam hati, berharap Ivanka yang tak kelihatan di ruangan sempit itu akan muncul dipintu.Hingga dua puluh menit lamanya, tak ada tanda-tanda istrinya bakal ikut bergabung dalam rapat dadakan ini. Elang mulai kehilangan minat. Duduknya mulai gelisah. Beberapa kali ia berganti-ganti melihat jam tangan dan handphonenya. Baginya, dua puluh menit itu sudah diluar batas toleransi keterlambatan.Padahal, biasanya di acara-acara seperti ini, ia hanya menyandar santai sambil sesekali bertingkah nakal. Meremas tangan Silva atau kadang - tapi amat sangat jarang - balas mengelus paha sang kekasih kalau p
"Amran, siapkan meeting dengan CSR dan bagian keuangan." Elang berhenti sejenak di meja sekretarisnya sebelum meneruskan langkah ke ruang kerja."Siap pak."Silva terburu mengejar langkah kekasihnya. "Mas, nggak sarapan dulu?""Aku kepingin merampungkan ini segera supaya bisa mengurus hal lainnya." Elang tak punya nafsu makan sejak kemarin. Ia berdiri di balik meja kerjanya, sibuk memeriksa berkas yang sudah diletakkan disitu oleh Amran."Aku nggak mau makan kalau mas nggak makan." Sebenarnya Silva nggak terlalu heran dengan sikap Elang yang begini. Dari dulu kekasihnya memang gila kerja. Kadang Elang harus diancam dulu hanya untuk diajak makan.Elang mengangkat kepala. "Kenapa akhir-akhir ini sikapmu sangat mengganggu?"Sepasang alis Silva yang melengkung sempurna terangkat tinggi. "Mengganggu gimana mas?""Apa maksudmu meneror aku?" Elang bersidekap."Aku nggak mungkin menelepon berkali-kali kalau mas mengangkat teleponku." Silva berusaha menahan emosi yang telah tersulut."Hidupku
Iva merinding mendengar gelegar suara suaminya yang mirip guntur saat hujan deras.Napas istrinya yang mendadak tersengal tertangkap oleh pendengaran Elang. Lelaki itu langsung menekan areal di antara kedua matanya. "Maaf." Katanya datar."Iya Mas. Aku juga minta maaf karena belum bisa pulang. Ibu-ibu disini akan menganggap aku nggak punya sopan santun kalau pamit duluan. Malam ini aja ya mas, please... ijinkan aku. Aku langsung pulang kok kalau acaranya selesai." Gadis itu memejam. Ah... untung saja Elang menelepon di handphone khusus-nya. Setelah ini, jangan harap ia akan mengangkat telepon dari lelaki itu lagi."Sampai jam berapa kamu disana?" Elang menyugar rambutnya. Kekhawatirannya membesar dengan cepat. Bagaimana kalau Iva keceplosan? "Hati-hati saat bicara Va.""Iya mas, iya. Udah dulu ya. Nggak enak nih sama ibu-ibu kalau menelepon terlalu lama." Ia diam, tapi tak langsung menutup telepon. Tak ada suara sambungan terputus yang artinya Elang juga belum menutup teleponnya. "Mas
Gaun floral merk ternama itu ia beli saat liburan ke Eropa. Ia suka saat kekasihnya mengenakan itu. Silva kelihatan cantik ketika memakainya. Jantungnya berdebum.Kalau mau jujur, ada banyak clue yang menunjukkan kalau Ivanka mengetahui sesuatu tapi Elang tak mau mengakui karena ada istilah 'kebetulan' dan ada istilah 'cocoklogi' di bumi ini.Sesuatu yang sebenarnya tak saling berkaitan tapi nampak pas kalau dikait-kaitkan.Meskipun begitu, Elang tetap merasa heran. Apa Ivanka nggak melihat label di bagian leher gaun itu? Asal buang aja!"Pak, silakan motornya." Mang sarif mendorong motor matic dengan helm menyangkut disalah satu spion."Mang itu.. kain yang bunga-bunga itu diambil dan tolong dicuci. Itu nggak sengaja terikut disitu." Ia tau kalau apa yang ia katakan amat absurd tapi Elang tak peduli.Mang Sarif mendekati tempat sampah. "Oh... baik pak. Nanti saya minta istri saya mencucinya." Lelaki paruh baya itu menatap terheran-heran sebab baru kali ini tuannya memberi perintah se
Jam dua siang Ivanka sudah berada di kamar kos-nya. Ia tak lagi menunda-nunda kepulangan seperti biasa. Justru ia sangat bersemangat. Gadis berambut sebahu itu menatap ruangan yang masih terasa asing sambil tersenyum. Ia tak peduli sudah berapa lama dan bekas siapa saja sprei yang terpasang disitu. Langsung saja ia menghempaskan diri di atas kasur. Kakinya bergerak kesana kemari dengan lincah."Kebebasaaaaan." ucapnya pelan dengan kedua tangan terentang lebar.Puas menjajal kasur, ia mulai berbenah. Memasang keset, memindahkan pakaian dari tote bag-nya ke lemari lalu keluar menuju ke dapur umum untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia beli bersama Saras.Langkahnya terhenti di ruang tengah rumah kost besar itu. Terdapat tv tiga puluh dua inch dan sofa panjang disitu. Ia membayangkan riuhnya menonton bersama. Yah, walaupun sudah lama sekali Iva nggak menonton tv. Nanti, pikirnya riang, ia akan bergabung. Ivanka meneruskan langkahnya ke kamar, menyusun peralatan makannya disamping lem
Gundukan selimut di atas ranjang berukuran single itu kelihatan gemetar. Ia mendekat. Rasa tak enak menelusup saat mendengar suara istrinya yang mencicit ketakutan bagai tikus kejepit.Tiap kali guntur menggelegar, dilihatnya bahu Iva menjengit. Ia ingat bagaimana Iva bersimbah air mata dimalam pertama mereka pindah kesini.Dengan hati-hati Elang menyingkap selimut, sedikit saja. Napasnya tertahan mendapati Ivanka menjadikan guling sebagai bantal sedangkan bantal ditutupkan oleh gadis itu ke kepalanya."Iva..." Elang berjongkok di samping tempat tidur. "Ayo pindah ke kamar utama." Ajaknya pelan. Ia tak ingin menakuti vadis itu. "Iva." Ulangnya sembari menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh sang istri.Lelaki itu menelan ludah menatap separuh paha Ivanka yang terbuka. "Va..." desisnya serak."Aku bisa mas, aku berani. Leave me." Iva tak dapat lagi memikirkan bagaimana Elang bisa berada di dalam kamarnya padahal saat masuk tadi ia sudah mengunci pintu. Kepalanya hanya dipenuhi r
"Siapa mas?"Elang menerima panggilan itu. "Halo Ma, gimana kondisi mama?" Ia tau mamanya yang tengah sakit sudah memaksakan diri demi acara pernikahannya. Salah satu alasan lain Elang terburu keluar dari rumah adalah itu. Ia ingin rumah segera sepi sehingga Mamanya bisa beristirahat. "Aku baik Ma,
Hujan turun dengan deras disertai kilat dan guntur.Ivanka menjauh dari jendela. "Mas… kamu dimana?” desisnya dilanda takut.Kaca jendela mendadak terang benderang. Begitu pula halaman samping yang gelap oleh kelabunya langit. Pohon besar diluar sana terlihat meliuk kencang. Anehnya, semakin menaku
Keluarga besar Rajendra berkumpul di ruang makan. Suara obrolan dan canda terdengar jelas.Mengingat pesan Elang, Ivanka mengumbar senyum manisnya kepada semua orang."Santai amat jalannya yang belum malam pertama.”Mata Ivanka membulat mendengar siapa yang bicara. Wanita yang semalam ternyata masi
Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."Ivanka tak mau mengangguk karena ia ingin menjadi istri sungguhan, bukan istri pura-pura dari lelaki yang amat ia cintai, lelaki yang s







