Share

161. Sensitif

Author: Dinis Selmara
last update publish date: 2026-01-14 23:57:49
Abra turun dari mobil. Ia tak tahan lagi menyaksikan interaksi keduanya dari kejauhan.

“Sayang,” panggilnya. Nada suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.

Serayu yang sejak tadi dipenuhi amarah melirik sinis. Pandangannya kemudian beralih pada Sedanu yang kini ikut menoleh ke arah Abra.

“Saya permisi, dr. Sedanu,” ucap Serayu.

Ia menarik Abra yang menatap Sedanu dengan sorot tajam.

Abra membukakan pintu mobil untuk istrinya. Namun tatapannya kembali menusuk ke arah Sedanu yang masih berdir
Dinis Selmara

Dududu... syalala...

| 77
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Siska Anggraini
serayu hamil yaaa,please jgn keguguran lg cm gr2 si ararararrar
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Untung ada Ryan nih yg chat Abra soal foto Abra bersama Ara dan. papanya Makanya jangan kesal terus pada Ryan, ya
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Nah, bingung 'kan Abra..... Belum apa - apa Serayu sudah minta penjelasan ....& langsung tidur di luar kamar Kasihan banget deh kamu, Abra....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   363. Dunia Milik Berdua

    Predikat pasien ternakal jatuh kepada dr. Abra. Bagaimana tidak? Seorang dokter yang seharusnya menjadi pasien penurut malah ngide, memaksa istrinya tidur di ranjang pasien tepat di sampingnya. Dengan tangan kanan yang terpasang penyangga dan tangan kiri malang melintang masih terinfus pun Abra masih menyempatkan lengannya menjadi bantalan untuk kepala kesayangannya.“Ini kalau ketahuan perawat atau dokter sekalian deh, bisa-bisa saya diusir,” gumam Serayu. Meski melayangkan protes, tangannya tetap memeluk tubuh suaminya.“Siapa yang berani usir istri dokter Abra, hm?”“Ini rumah sakit orang, ya. Kamu nggak berkuasa di sini,” tekan Serayu mengingatkan.“Hanya tidur bersama istri untuk melepas rindu saja masa tidak boleh?”Mereka bercakap tanpa saling menatap satu sama lain hingga Serayu mendongak dan hanya bisa menggeleng saja. Abra pun menunduk, menatap binar mata istrinya yang sangat ia rindukan.Lalu pandangan Abra jatuh pada bibir kesayangannya. Serayu menyadari arah pandang Abr

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   362. Suami Manja

    Apa-apaan itu tadi? Serayu menggeleng saat melihat brankar yang membawa Abra didorong masuk lebih jatuh ke ruangan lain. Ia yakin ruangan itu adalah ruangan persiapan operasi. Sempat-sempatnya menggoda, pikir Serayu. Begitu keluar dari ruangan tersebut, Serayu langsung disambut oleh Aksa yang setia menunggu. “Yang lain menunggu di ruang dokter. Ibu mau istirahat saja di ruang perawatan Bapak?” tawar Aksa. Serayu cepat menggeleng. “Saya mau ke kafetaria, lalu mau nunggu di sini lagi saja,” jawab Serayu. Aksa pun mengangguk paham. Sementara Abra berjuang di dalam ruang operasi, Serayu dan Aksa menunggu di luar sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Tak banyak percakapan di antara mereka karena Serayu lebih banyak berdoa dalam diam. Ia sangat berharap yang terbaik atas keberhasilan operasi suaminya ini. Hingga akhirnya, saat dinanti pun tiba. “Keluarga dr. Abra?” Serayu cepat berdiri begitu mendengar panggilan itu. Tak lama kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa operasi tela

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   361. Kejutan Untuk Suami

    “Sudah di Bandara, ya?” Suara Riani bertanya, meski kini layar ponsel Serayu dipenuhi wajah Satria. “Sudah, Ma. Ini lagi di ruang tunggu,” jawab Serayu. “Yakin Abra nggak tahu kedatangan kamu? Nggak cepu tuh si Aksa? Dia kan tangan kanan Abra banget.” Serayu terkekeh kecil. “Serayu percaya sih sama Mas Aksa, Ma.” Riani mengangguk saja. Saat ini, Serayu memang sedang bersiap menyusul Abra ke Malaysia. Keberangkatannya sengaja ia rahasiakan sejak jauh-jauh hari. Semua orang tahu rencananya, kecuali Abra. Ia hanya ingin memberikan kejutan pada suaminya. “Serayu masuk pesawat ya, Ma,” pamit Serayu. “Hati-hati, ya. Kabari Mama kalau kamu sudah sampai.” “Iya, Ma. Serayu langsung ke rumah sakit nanti di jemput Mas Aksa.” Panggilan itu pun terputus, dan Serayu sudah berjalan menuju pesawat. Ini adalah penerbangan pertamanya ke luar negeri tanpa ditemani suami. Jujur saja, ada sedikit rasa deg-degan, tapi juga antusias karena beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Abra. Se

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   360. Dikenal

    “Saya, Dok?” Darma mengangguk kecil, memastikan bahwa perempuan di hadapannya memang orang yang ia maksud. “Saya ingat sekarang. Istri Dokter Abra,” ujar Darma akhirnya. Serayu tersenyum. “Oh, iya. Benar, saya, Dok.” “Maaf baru menyapa. Tadi sempat ragu.” Darma mengulurkan tangannya lebih dulu. “Senang bertemu dengan Anda.” Serayu sempat sungkan, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu. Bagaimanapun, di lingkungan profesi mereka, Darma lebih senior darinya. “Nggak apa-apa, Dok.” Pertemuan yang awalnya hanya sekilas itu ternyata berlanjut menjadi percakapan yang cukup panjang. Darma lebih banyak bercerita. Ia bahkan sempat menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan saat internship dan mendapat kesempatan dimentori langsung oleh Abra. Sementara Serayu lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan singkat, lebih sering lagi hanya tersenyum mendengar cerita Darma tentang suaminya. “Saya banyak dapat ilmu dari dr. Abra,” ujar Darma sambil terkekeh.

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   359. Jarak Jauh

    Hubungan Jarak jauh be like … Hari kedua Serayu mengikuti seminar. Sementara itu, Abra sudah tiba di Malaysia untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Baru beberapa saat lalu Serayu akhirnya bisa menghubungi suaminya. “Mas, maaf, ya… Saya hectic banget,” rajuk Serayu begitu panggilan mereka tersambung. Abra yang sedang duduk di tepi ranjang hotel hanya mengembuskan napas. “Nggak sesuai ekspektasi.” Serayu mengerjapkan mata. “Mas…” “Komunikasi kita jelek banget.” “Iya, maaf, Mas.” Serayu langsung membujuk dengan suara lembut. “Besok saya usahain lebih sering kabarin Mas yaaa….” “Ya sudah.” Abra mengalah. “Mas juga nggak bisa lama-lama. Harus cukup tidur sebelum besok pemeriksaan.” “Sedihnya…” Serayu mengerucutkan bibir. “But it's okay, Mas. Besok bangun langsung kabari, ya?” “Saya selalu kabari kamu.” Serayu terdiam sebentar, lalu buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, iya. Maksudnya saya yang akan kabari Mas kalau saya sudah bangun.” Abra

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   358. Sebelum Berpisah

    “Mbak,” cegat Abra membuat Riani menoleh. “Biar istri saya yang bawa Satria ke kamar.” Hati Serayu yang sendu seketika menghangat. Ia kembali meraih buah hatinya ke dalam pelukan, lalu mengangguk pamit pada sang mertua. “Kalian ini lebay sekali. Kasihan cucu Mama. Udah kelihatan capek banget,” ujar Riani, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya. “Serayu masih mau berlama-lama dengan Satria, Ma,” kata Abra mencoba memberi pengertian. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Serayu menciumi seluruh wajah anaknya. Sayangnya, Satria sekali tidak terbangun. Sepertinya, bocah kecil itu benar-benar kelelahan. Serayu tidak pernah menyesali pekerjaannya. Ia mencintai profesinya dan paham tanggung jawabnya. Namun, tidak bisa di pungkiri, setiap harus meninggalkan Satria, ada rasa berat yang memenuhi dadanya. Cukup lama Serayu hanya duduk menikmati wajah lelap Satria. Ia mengusap rambut halus anaknya perlahan penuh sayang. Cukup lama serayu hanya menikmati wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status