LOGINKurang rame nggak sih komen sebelumnya... yuk ramein yang inih hihi...
Seharusnya Abra bahagia menerima kabar baik itu. Buah cintanya tumbuh sehat. Ia menatap hasil USG pada layar ponselnya. Lagi, ia tidak bisa menemani istrinya menjalani kontrol kehamilan. Sudah dua minggu berlalu sejak keberangkatannya ke lokasi bencana. [Dua minggu lagi kontrol lagi, Mas. Tapi kenapa rasanya aku nggak akan sampai dua minggu ke depan?] Abra mengusap wajahnya kasar. Janggut tipis mulai memenuhi dagunya. Dadanya sesak membaca pesan itu. Komunikasi mereka semakin sulit. Untuk sekadar mengirim kabar, Abra harus berjalan cukup jauh meninggalkan camp demi menangkap setitik sinyal. Masa tugasnya pun terpaksa diperpanjang setelah salah satu rekan dokter dipulangkan karena kondisi kesehatannya memburuk. [Mas jadi pulang?] [Mas temani aku lahiran, kan?] [Kapan, Mas?] Abra menatap lama deretan pesan itu. [Saya akan pulang, Sayang.] Untuk pertama kalinya, janji itu terasa begitu berat untuk ia kirimkan. Abra tidak pernah seragu ini sebelumnya. Sementara itu, di tempat y
Apa yang disarankan Riani sebenarnya tidak ada ruginya bagi Serayu. Namun, Serayu dan Abra telah memiliki rencana mereka sendiri. Lagi pula, ia tidak berani mengambil keputusan sebesar itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan sang suami. Pada akhirnya Riani kembali kecewa. Meski begitu, wanita itu tampaknya tak pernah lelah memberi arahan tentang banyak hal yang menurutnya terbaik. Berbeda dengan semalam, setiap pesannya mendapat balasan dari Abra, malam ini Serayu hanya ditemani kesunyian. Sejak pagi, pesan terakhir yang ia kirim masih bertanda centang satu. “Belum tidur?” Suara ibunya membuat Serayu mengalihkan pandangan dari televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. “Tumben nonton di luar.” “Belum ngantuk, Bu.” Ibunya meletakkan segelas susu hangat di atas meja. “Diminum dulu.” Serayu menatap gelas itu cukup lama. Ia teringat Abra. Lelaki itu selalu menyiapkan susu malam untuknya, bahkan saat sang suamu sedang kelelahan. Baru dua hari. Kenapa rasa
Balasan pesan dari Abra membuat senyum Serayu merekah. Suaminya itu membalas satu per satu bubble chat yang seharian tadi ia kirimkan. Di pesan terakhir, Abra bahkan mengirim foto dirinya yang tengah bersandar di kepala ranjang. “Narsis banget,” gumam Serayu sambil tersenyum. Senyum lelaki itu tipis sekali, tapi dilihat dari sisi mana pun tampannya tidak berkurang. Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. “Serayu, ayo makan,” panggil ibunya. “Iya, Bu.” Serayu membawa ponselnya ke ruang makan. Ia terus bertukar pesan dengan sang suami, seperti gadis yang sedang dimabuk asmara. [Wow! Your favorite dinner.] Serayu tersenyum saat membaca balasan Abra setelah mengirim foto makan malamnya. Ibunya melirik sekilas. Sejak duduk di meja makan, putrinya tak berhenti tersenyum menatap layar ponsel. Sesekali menyuap makanan, lalu kembali mengetik dengan gerak yang cepat. “Keburu dingin itu makanannya,” tegur sang ibu. Serayu mengangkat wajahnya. Ia meringis tipis. “Kayak ABG aja ka
Ezra segera meraih kursi roda yang terparkir di lorong dan membawanya kepada Serayu. “Duduk dulu.” Tanpa menunggu bantahan, ia membantu Serayu duduk. “Saya bawa kamu ke IGD.” Nada suaranya terdengar panik. Serayu segera menahan tangannya. “Nggak usah, Dok. Nggak perlu.” “Kamu kelihatan kesakitan.” Serayu tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata dan mengatur napas perlahan, mencoba melewati gelombang tidak nyaman yang baru saja datang. Ezra memperhatikan setiap gerakannya. Melihat Serayu mulai menenangkan diri, ia mendorong kursi roda ke tempat yang lebih nyaman. Beberapa menit berlalu. Perlahan rasa sakit itu mereda. Serayu membuka mata dan mendapati Ezra masih berdiri di dekatnya dengan wajah penuh kekhawatiran. “Kita ke IGD?” tawarnya lagi. Serayu menggeleng. “Sudah lebih baik.” “Yakin?” “Iya. Tadi tiba-tiba perutnya menegang, tapi ini udah enggak.” Ezra mengembuskan napas lega. Ezra hanya memahami teori mengenai kehamilan. Namun melihat langsung Serayu kesakitan t
Sejak pesan terakhir yang dikirim Abra dari bandara saat tiba di kota transit, Serayu belum menerima kabar apa pun lagi. Menurut jadwal, suaminya mungkin baru akan tiba di lokasi menjelang malam setelah melanjutkan perjalanan dengan pesawat kecil menuju wilayah bencana. Sejak tadi, Serayu tidak berhenti melafalkan doa dalam hati. Semoga Abra sampai dengan selamat. Dan pulang dengan selamat. “Terima kasih, lho, kopinya, Dok.” Ucapan salah satu rekannya membuat Serayu mengangkat kepala. Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan camilan sore yang disiapkan Abra untuk tim istrinya. Tak disangka, Abra telah mengatur semuanya sebelum berangkat. Tidak hanya makan siang. Siang ini ada kopi, roti, buah-buahan, bahkan makanan ringan untuk seluruh tim. Tentu saja buah untuk kesayangannya. Senyum tipis sempat muncul di wajah Serayu mengingat perlakuan suaminya. Matanya kembali jatuh ke layar ponsel. Entah sudah berapa kali hari ini ia memeriksa ruang obrolannya dengan Abra. Belum juga
Atas saran Abra, Serayu bersujud di atas ranjang sambil berusaha mengatur napasnya. Matanya berkaca-kaca menahan gelombang cinta yang datang tanpa aba-aba, nyeri sekali. “Saya rasanya mau lahiran malam ini, Mas.” Abra mengusap punggung istrinya penuh kasih sayang. Tangannya bergerak perlahan, menenangkan sekaligus menuntun Serayu mengatur ritme napas. “Saya di sini, Sayang.” Malam terus berjalan. Hingga pukul dua dini hari, rasa nyeri itu masih datang dan pergi sesuka hati. Kadang membuat Serayu meringis, kadang menghilang begitu saja seolah tidak pernah ada. Saat jedanya kali ini terasa lebih panjang, Serayu akhirnya berbaring. Abra langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Pikirannya bercabang ke mana-mana, tetapi ia berusaha tetap tenang demi wanita yang ada di pelukannya. Lambat laun, Serayu tertidur karena kelelahan. “Maafkan saya, Sayang,” gumam Abra pelan. Ia mengecup puncak kepala istrinya yang sudah terlelap. *** Pagi datang bersama suara samar penuh hati-hati, memban
Serayu nyaris terjatuh kalau saja tangan Ryan tidak cepat menangkap lengannya. Tubuhnya sempat condong ke depan–nyaris tersungkur. Napasnya terenggah, jantungnya mencelos seperti akan melompat dari tempatnya. “Wow,” ucap Ryan ikut terkejut. Lelaki itu berjalan dari arah berlawanan dan refleks be
Serayu menatap testpack itu lama-lama, jemarinya ragu menyentuh plastik bening yang membungkusnya. Jantungnya berdebar tak karuan. “Nggak mungkinlah, Mas… kita baru saja…,” kalimatnya menggantung, wajahnya memerah terlalu malu meneruskan. Abra mendekat santai, membawa segelas air. Ia duduk di sisi
Abra segera pulang, tak sabar ingin menikmati makan malam dengan sang istri dan mertuanya.Begitu pintu terbuka, Serayu menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak cerah, ada kilau bahagia yang sulit disembunyikan saat mendekati suaminya.“Mas
Sepulang bertugas, Serayu kembali merasakan tubuhnya meriang. Demam itu tidak setinggi sebelumnya, namun membuat kulitnya terasa hangat dan wajahnya memerah. Yang melegakan, kali ini tidak disertai muntah. Ia hanya merasa lelah—lebih cepat lelah dari biasanya.Abra siaga meski hatinya tidak tenang.







