INICIAR SESIÓNHujan badai seolah ingin menenggelamkan kota, tetapi Kiya tetap berjalan dengan dagu terangkat. Gaun emerald yang tadinya berkilau kini berat karena air. Ia tidak butuh cermin untuk tahu betapa berantakannya ia sekarang. Namun, bagi Kiya, kecantikan yang rapuh adalah senjata yang paling mematikan.
Kiya berhenti di depan pintu baja hitam dengan logo singa perak yang dingin—The Black Vault, bar paling eksklusif milik keluarga Valerius.
"Maaf, Nona. Anda basah kuyup. Tempat ini memiliki standar pakaian," cegat seorang penjaga bertubuh raksasa di depan pintu.
Kiya tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, membiarkan rambutnya yang basah tersampir di bahu, memperlihatkan tatapan matanya yang tajam dan berani.
"Katakan pada Kenzo Valerius, wanita yang baru saja dirampok kerajaannya oleh Julian Cavendish ada di sini untuk menawarkan kesepakatan yang tidak bisa ia tolak," suara Kiya tenang, namun penuh penekanan.
Penjaga itu ragu sejenak, tetapi melihat aura 'mahal' yang masih terpancar dari Kiya meski ia tampak seperti kucing yang terjebak badai. Akhirnya penjaga itu berkomunikasi melalui earpiece.
Tak lama, pintu itu terbuka. "Tuan Kenzo menunggu di lantai paling atas."
Kiya melangkah masuk. Aroma tembakau mahal dan whisky menyambutnya. Di sudut paling gelap ruangan VIP, seorang pria duduk sendirian.
Kenzo Valerius.
Pria itu adalah predator di puncak rantai makanan bisnis, rival yang selama enam tahun ini menjadi mimpi buruk bagi Julian Cavendish.
"Nyonya Cavendish," suara Kenzo berat dan rendah, bergema di ruangan yang sunyi. "Atau bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Panggil aku Kiya. Karena mulai malam ini, nama Cavendish tidak lagi berhak bersanding dengan namaku," sahut Kiya, berjalan mendekat dan meraih gelas whisky milik Kenzo dan meminumnya hingga tandas.
Kiya lalu menarik kursi tepat di depan Kenzo, duduk menyilangkan kaki dan membiarkan belahan gaunnya terbuka sedikit.
Kenzo mengangkat sebelah alisnya. Ia terbiasa melihat wanita gemetar di hadapannya, bukan wanita yang berani mendekatinya dan mencuri minumannya. "Berani sekali. Jadi, apa yang ingin kau tawarkan? Aku tidak menerima sumbangan desain untuk amal."
Kiya mencondongkan tubuh ke depan, jemarinya yang lentik merayap di atas meja, menyentuh ujung kuku Kenzo. "Aku menawarkan kehancuran Julian Cavendish. Aku tahu semua rahasia produksinya, kelemahan rantai pasokannya, dan sketsa-sketsa terbaik yang belum sempat ia rilis. Aku bisa membuat Valerius Group melampaui Cavendish dalam satu musim."
Kenzo menyeringai sinis. "Aku punya ratusan desainer, Kiya. Aku tidak butuh satu wanita patah hati untuk memenangkan pasar."
"Lalu apa yang kau inginkan?" tantang Kiya.
Kenzo menatap Kiya dengan seringaian licik. "Aku punya segalanya, kecuali satu hal. Aku butuh pewaris yang memiliki darah Valerius di nadinya."
Napas Kiya tertahan.
"Jika kau ingin aku menghancurkan Julian habis-habisan, imbalannya bukan sekadar gambar di atas kertas," lanjut Kenzo dengan nada yang sangat dingin namun intens. "Aku ingin kau memberikan keturunan untuk Valerius."
Terdesak oleh bayangan wajah sombong Isabella dan penolakan kejam dari Arthur, dendam di hati Kiya meledak melampaui rasa takutnya. Julian menghinanya karena tidak lagi menarik di ranjang? Maka Kiya akan membuktikan bahwa Julian salah dengan melayani pria yang paling dibencinya.
Kiya mengangguk tegas, matanya berkilat penuh tekad yang gelap. "Setuju. Jadikan aku milikmu, dan hancurkan mereka sampai ke akarnya."
Tanpa membuang waktu, Kenzo berdiri dan menggendong Kiya dalam dekapannya, meninggalkan bar itu di bawah tatapan syok para tamu. Mereka menuju hotel mewah yang berada tepat di atas gedung tersebut.
Di dalam kamar penthouse yang hanya diterangi pendar lampu kota dari jendela besar, Kenzo meletakkan Kiya di atas ranjang king-size.
Matanya sedingin es, namun ada percikan gairah yang mulai tersulut di sana. "Kau yakin bisa menjual dirimu demi dendam?"
Kiya tidak gentar. Ia justru melingkarkan tangannya di leher Kenzo, memainkan ujung rambut pria itu dengan centil. "Ini bukan sekadar menjual diri, Kenzo. Ini kerja sama. Kau butuh pewaris untuk mengamankan takhtamu di Valerius, dan aku butuh kekuatanmu untuk menginjak Julian sampai ke dasar tanah."
Keberanian Kiya meruntuhkan benteng pertahanan Kenzo. Pria yang biasanya tak tersentuh itu kini merasakan dorongan posesif yang luar biasa. Ia tidak peduli jika ini adalah jebakan. Wanita di hadapannya terlalu mempesona untuk dilepaskan.
"Ingat, Kiya," bisik Kenzo saat ia mulai menanggalkan jasnya, menatap Kiya yang kini menyerahkan dirinya sepenuhnya di atas sprei sutra yang dingin. "Malam ini kau membuat pakta dengan iblis. Tidak ada jalan keluar."
Kiya menarik kerah kemeja Kenzo, memperpendek jarak di antara mereka hingga napas mereka menyatu. "Aku memang tidak berniat keluar, Kenzo."
Kenzo tidak lagi menahan diri. Ia mencium Kiya dengan kasar dan posesif, sebuah ciuman yang tidak mengandung kasih sayang, melainkan pernyataan kepemilikan yang mutlak. Tangannya yang besar menjelajahi lekuk tubuh Kiya yang masih lembap oleh sisa air hujan, mengklaim setiap inci kulit yang selama ini disia-siakan oleh Julian.
Di bawah pendar lampu kota yang menembus jendela kaca penthouse, gairah itu meledak dalam ritme yang intens dan penuh tuntutan. Kenzo bergerak dengan kekuatan seorang predator yang akhirnya mendapatkan mangsa paling berharganya, sementara Kiya menyambutnya dengan keberanian seorang wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
Setiap sentuhan Kenzo terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kenangan pahit tentang Julian dari tubuhnya. Di tengah desahan dan keringat yang menyatu, Kiya memejamkan mata erat, meremas bahu kokoh Kenzo seolah pria itu adalah satu-satunya pegangannya agar tidak tenggelam dalam samudera dendam. Ia membiarkan Kenzo menanamkan benih kekuasaannya, menerima setiap perlakuan intens pria itu sebagai stempel bahwa mulai detik ini, ia adalah senjata paling mematikan milik Valerius.
Malam itu, di bawah bayang-bayang pencakar langit, Krystalia Adiningrat menyerahkan setiap inci tubuh dan jiwanya kepada sang rival demi sebuah pembalasan dendam yang paling manis. Ia tidak lagi peduli pada harga diri; yang ia inginkan hanyalah melihat Julian merangkak di bawah kakinya, memohon ampun pada wanita yang pernah ia sebut sampah.
Kehancuran Cavendish baru saja dimulai, dan itu lahir dari atas ranjang musuh bebuyutannya sendiri.
Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid
Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud
Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"
Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia
Julian Cavendish berjalan dengan kepala setengah tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat dokumen tebal milik Richard Sterling. Setelan jasnya bukan lagi merek rancangan desainer Paris, melainkan katun kaku khas seragam para asisten. Ego yang dulu setinggi langit kini dipaksa merangkak di dalam lumpur.Julian berhenti di depan pintu jati besar berlogo lambang negara, menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum mendorong pintu tersebut."Kau lambat, Julian," ucap Richard Sterling dingin tanpa menoleh. Pria tua itu tetap duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menghisap cerutu hingga asap abu-abu pekat memenuhi ruangan.Julian meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kaku. "Maaf, Om. Ada beberapa berkas audit yang harus saya rapikan terlebih dahulu."Richard tersenyum sinis, lalu melempar sebuah map baru berwarna hitam ke hadapan Julian. "Ini proyek pertamamu sebagai asistenku. Alirkan dana kampanye dari tiga perusahaan cangkang ini ke beberapa vendo
"Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa
Hari yang dinanti tiba. Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya Grand Fashion Show Valerius Group dipenuhi oleh jurnalis, kritikus mode kelas dunia, dan jajaran sosialita papan atas. Aroma kemewahan tercium di setiap sudut, namun ketegangan di balik panggung jauh lebih terasa.Kiya berdir
Suara deru helikopter dan teriakan tim pencari memecah kesunyian hutan yang masih basah. Matahari pagi baru saja mengintip di balik perbukitan saat Giselle Valerius — sepupu dari Kenzo yang secara kebetulan juga sahabat dari Kiya — melompat turun dari kendaraan off-road dengan wajah panik. "Kenzo!
Pagi itu, studio RnD Valerius Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sarah dan kelompoknya terlihat berbisik-bisik di sudut ruangan, sesekali melirik ke arah meja Kiya di pojok gudang dengan tatapan kemenangan yang sulit disembunyikan. Kiya sendiri datang sedikit terlambat, tampil segar dengan bla
Tujuh hari. Bagi banyak orang, tujuh hari adalah waktu yang singkat untuk sekadar menyembuhkan luka lecet. Namun bagi Krystalia, tujuh hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengubur bangkai cintanya dalam-dalam dan membangun fondasi neraka bagi Julian Cavendish.Palu hakim baru saja diketuk







