MasukPagi itu, studio RnD Valerius Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sarah dan kelompoknya terlihat berbisik-bisik di sudut ruangan, sesekali melirik ke arah meja Kiya di pojok gudang dengan tatapan kemenangan yang sulit disembunyikan. Kiya sendiri datang sedikit terlambat, tampil segar dengan blazer merah menyala yang kontras dengan suasana studio yang kaku.
"Selamat pagi," sapa Kiya dengan nada yang sangat ceria, hampir terlihat polos. Ia duduk di mejanya dan pura-pura terkejut saat melihat tumpukan sketsa di mejanya menghilang. "Oh! Dimana sketsaku? Aku menaruhnya di meja semalam."
Sarah melangkah maju dengan senyum miring. "Sketsa sampah itu? Mungkin sudah dibuang oleh petugas kebersihan, Kiya. Sudah relakan saja. Lagipula, hari ini adalah presentasi konsep besar di depan Tuan Kenzo. Kami tidak punya waktu untuk membantumu mencari hal tidak penting."
Tepat pukul sepuluh, Kenzo Valerius memasuki ruang rapat utama dengan langkah tegap yang mengintimidasi. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam ke arah deretan desainer di depannya. Kiya duduk di barisan paling belakang, menyesap kopi dengan tenang sementara Sarah berdiri di depan layar besar.
"Tuan Kenzo," ucap Sarah dengan suara yang dibuat-buat lembut. "Kami telah merancang sebuah mahakarya. Koleksi ini menggunakan teknik Asymmetrical Drape yang revolusioner. Kami menyebutnya 'The Phoenix'."
Layar menampilkan sketsa-sketsa yang sangat familiar bagi Kiya. Itu adalah sketsa "palsu" yang ia tinggalkan di meja semalam. Sketsa yang terlihat sangat indah secara visual, namun menyimpan cacat teknis yang fatal pada struktur bebannya.
Kenzo menatap layar itu, lalu melirik ke arah Kiya yang memberikan kedipan menggoda padanya. "Teruskan," ucap Kenzo singkat.
"Kekuatan desain ini ada pada kerah sculpted dan potongan pinggang yang ekstrem," lanjut Sarah dengan percaya diri. "Kami sudah membuat satu prototype fisik untuk menunjukkan betapa sempurnanya pola ini."
Seorang model masuk mengenakan gaun dari kain sutra kaku sesuai sketsa tersebut. Awalnya, semua orang terpukau. Gaun itu tampak megah dan sangat provokatif. Namun, saat si model mencapai tengah ruangan dan melakukan putaran (pivot), terdengar suara krek yang tajam.
Jahitan di bagian dada tertarik hingga nyaris robek. Model itu panik, berusaha menutupi bagian tubuhnya yang hampir terekspos.
"Apa-apaan ini?!" bentak Kenzo, suaranya menggelegar membuat seisi ruangan gemetar.
Sarah mendadak pucat pasi. "I-ini... sepertinya ada kesalahan saat penjahitan! Tadi malam polanya terlihat sangat sempurna!"
Kiya berdiri dengan anggun, berjalan perlahan menuju tengah ruangan. "Tentu saja terlihat sempurna di atas kertas, Sarah. Karena pola itu memang dirancang untuk gagal jika benar-benar dijahit."
"Pola yang kau curi dari mejaku semalam adalah umpan, Sarah," bisik Kiya, cukup keras untuk didengar semua orang. "Hanya desainer amatir yang mencuri desain tanpa memahami logika anatomi di baliknya."
Kiya mendekati sang model. Hanya dengan beberapa tusukan jarum pentul dan teknik draping tangan yang jenius, Kiya memperbaiki gaun rusak itu menjadi mahakarya baru dalam tiga puluh detik.
Tanpa perlu banyak kata, Kenzo langsung memecat Sarah dan seluruh timnya saat itu juga. Studio RnD kini bersih dari orang-orang tidak becus sepeti mereka.
Namun masalah baru muncul tanpa diduga: pigmen warna Crimson Sunset yang menjadi kunci koleksi musim baru tertahan di desa terpencil akibat longsor.
"Aku akan mengambilnya sendiri," tegas Kiya.
"Jangan konyol, Kiya. Jalurnya berbahaya," cegat Kenzo.
Kiya hanya memberikan senyum yang provokatif dan mendekatkan diri pada Kenzo sambil berbisik, "Tuan Valerius, kalau aku tidak nekat, mana mungkin aku berani naik ke atas ranjangmu, bukan?"
Kiya berangkat mengendarai jeep sendirian. Ia berhasil mendapatkan pigmen tersebut, namun dalam perjalanan pulang, badai hujan menghalanginya. Sinyal ponselnya mati, dan ban mobilnya terperosok ke dalam lumpur di pinggir tebing hutan yang gelap.
Kiya turun dari mobil, pakaian mahalnya kini berlumuran lumpur. Di tengah keputusasaan, suara deru baling-baling membelah langit malam. Sebuah helikopter dengan logo perak Valerius mendarat di area terbuka tak jauh dari sana.
Kenzo Valerius keluar dari helikopter, melangkah menerjang hujan dengan kemarahan yang meluap. Ia menemukan Kiya yang sedang berusaha mendorong mobilnya sekuat tenaga.
"KRYSTALIA! Apa kau sudah gila?!" teriak Kenzo, suaranya mengalahkan badai. Ia mencengkeram bahu Kiya, memutar tubuh wanita itu agar menatapnya. "Nyawamu lebih murah dari sebotol pigmen warna ini?"
Kiya, yang rambutnya sudah lepek dan wajahnya penuh percikan lumpur, justru tertawa kecil. "Kenzo, aku baru tahu kau terlihat sangat tampan saat sedang panik. Berhenti berteriak, telingaku sakit!"
"Kau hampir mati konyol di hutan ini!" Kenzo benar-benar murka. "Kita harus pergi sekarang!"
"Mobilnya tidak bisa ditinggal, pigmennya ada di dalam!" Kiya balas berteriak, masih sempat-sempatnya bersikap keras kepala.
"Persetan dengan pigmen itu!" Kenzo menarik tangan Kiya dengan paksa, namun hujan turun semakin lebat, mengubah jalanan menjadi aliran air yang deras. Jalan menuju tempat helikopter mendarat mulai longsor kecil, memutus akses mereka kembali.
"Hebat sekali," gerutu Kenzo, napasnya memburu. Ia menatap ke sekeliling, hanya ada kegelapan dan hutan lebat. "Sekarang kita terjebak disini!"
Kiya menyandarkan tubuhnya yang lemas ke pohon tinggi di belakangnya. "Setidaknya kau terjebak dengan wanita paling cantik di kota ini, Tuan Valerius. Bukankah itu keberuntungan?"
Kenzo menatap Kiya dengan tatapan antara ingin membunuh wanita itu atau menciumnya sampai habis. Ia melepaskan jas hitamnya, menyampirkannya ke bahu Kiya, lalu merangkul pinggang wanita itu dengan protektif.
"Diam dan jalan! Ada gua kecil di sebelah sana," perintah Kenzo.
Sepanjang jalan setapak, Kenzo tidak berhenti mengomel tentang betapa bodohnya tindakan Kiya, sementara Kiya menghadapinya dengan kesabaran ekstra—dan sesekali sindiran centil.
"Kau tahu, Kenzo? Kalau terus mengomel seperti ini, kau benar-benar seperti gadun tua!" ejek Kiya kesal.
"Dan kau terlihat seperti kucing kecebur got yang tidak tahu terimakasih!" balas Kenzo tajam, namun tangannya justru semakin erat memeluk Kiya agar wanita itu tidak jatuh.
Saat mereka akhirnya sampai di dalam gua yang sempit dan remang-remang, udara dingin semakin menusuk tulang. Kiya jatuh terduduk, tubuhnya bergetar hebat. Kenzo berlutut di depannya, berusaha mencari cara untuk menciptakan kehangatan.
"Kemarilah," ucap Kenzo rendah, menarik Kiya ke dalam pelukannya.
"Tuan Kulkas... ternyata kau bisa hangat juga ya," bisik Kiya lemas, tangannya membalas pelukan Kenzo. Bahkan di saat seperti ini pun, Kenzo bisa merasakan debaran jantungnya hampir tidak terkendali. Kenzo tidak bisa lagi menahan obsesinya pada wanita di pelukannya ini.
Kenzo menarik dagu Kiya, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap dan kelam. "Kau sengaja melakukan ini, bukan? Membuatku gila karena mencemaskanmu?"
Kiya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik kerah kemeja Kenzo, menghapus jarak di antara mereka. "Lalu kenapa kau datang menjemputku, Kenzo? Kalau aku tidak berharga bagimu, kau pasti sudah membiarkanku membeku di sini."
Kenzo mengerang rendah, sebuah suara yang penuh dengan kekalahan sekaligus keinginan yang mendalam. Ia meraup bibir Kiya dalam sebuah ciuman yang ganas, seolah ingin menghukum sekaligus menghangatkan wanita itu.
Kiya membalasnya dengan keberanian yang sama, jemarinya yang dingin menyusup ke balik kemeja basah Kenzo, mencari kehangatan di atas otot-otot dadanya yang keras.
Kenzo melepaskan jasnya di atas tanah berbatu, membaringkan Kiya di sana dengan gerakan yang dominan. Di bawah temaram kilatan petir yang sesekali menerangi gua, ia menanggalkan sisa-sisa penghalang di antara mereka. Kulit Kiya yang pucat tampak bercahaya di tengah kegelapan, kontras dengan jemari Kenzo yang besar dan kasar saat mulai menjelajahi setiap inci lekuk tubuhnya.
Sentuhan Kenzo tidak lagi sedingin julukannya. Setiap usapan dan kecupannya terasa membara, membakar kedinginan yang tadi menyiksa Kiya. Kiya melingkarkan kakinya di pinggang Kenzo, menarik pria itu semakin dalam ke dalam pelukannya. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit atau lelah; yang ada hanyalah kebutuhan untuk saling memiliki di antara keduanya.
Saat mereka mencapai puncak gairah yang meledak-ledak, Kiya memeluk leher Kenzo erat, membisikkan namanya dengan suara yang parau. Kenzo membenamkan wajahnya di ceruk leher Kiya, menghirup aroma wanita itu yang kini bercampur dengan bau hujan dan keringat.
Malam itu, di tempat yang paling tidak terduga, sang Singa Valerius benar-benar bertekuk lutut. Kiya tersenyum tipis di balik kegelapan sebelum matanya mulai terasa berat karena demam yang mulai menyerang. Ia telah berhasil. Ia tidak hanya mendapatkan perlindungan Kenzo, ia telah mendapatkan jiwanya.
Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid
Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud
Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"
Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia
Julian Cavendish berjalan dengan kepala setengah tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat dokumen tebal milik Richard Sterling. Setelan jasnya bukan lagi merek rancangan desainer Paris, melainkan katun kaku khas seragam para asisten. Ego yang dulu setinggi langit kini dipaksa merangkak di dalam lumpur.Julian berhenti di depan pintu jati besar berlogo lambang negara, menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum mendorong pintu tersebut."Kau lambat, Julian," ucap Richard Sterling dingin tanpa menoleh. Pria tua itu tetap duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menghisap cerutu hingga asap abu-abu pekat memenuhi ruangan.Julian meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kaku. "Maaf, Om. Ada beberapa berkas audit yang harus saya rapikan terlebih dahulu."Richard tersenyum sinis, lalu melempar sebuah map baru berwarna hitam ke hadapan Julian. "Ini proyek pertamamu sebagai asistenku. Alirkan dana kampanye dari tiga perusahaan cangkang ini ke beberapa vendo
"Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa
Hari yang dinanti tiba. Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya Grand Fashion Show Valerius Group dipenuhi oleh jurnalis, kritikus mode kelas dunia, dan jajaran sosialita papan atas. Aroma kemewahan tercium di setiap sudut, namun ketegangan di balik panggung jauh lebih terasa.Kiya berdir
Suara deru helikopter dan teriakan tim pencari memecah kesunyian hutan yang masih basah. Matahari pagi baru saja mengintip di balik perbukitan saat Giselle Valerius — sepupu dari Kenzo yang secara kebetulan juga sahabat dari Kiya — melompat turun dari kendaraan off-road dengan wajah panik. "Kenzo!
Tujuh hari. Bagi banyak orang, tujuh hari adalah waktu yang singkat untuk sekadar menyembuhkan luka lecet. Namun bagi Krystalia, tujuh hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengubur bangkai cintanya dalam-dalam dan membangun fondasi neraka bagi Julian Cavendish.Palu hakim baru saja diketuk
Hujan badai seolah ingin menenggelamkan kota, tetapi Kiya tetap berjalan dengan dagu terangkat. Gaun emerald yang tadinya berkilau kini berat karena air. Ia tidak butuh cermin untuk tahu betapa berantakannya ia sekarang. Namun, bagi Kiya, kecantikan yang rapuh adalah senjata yang paling mematikan.







