Share

5. Pasangan Gila!

Penulis: hanbyeol
last update Tanggal publikasi: 2026-05-10 01:34:56

Suara deru helikopter dan teriakan tim pencari memecah kesunyian hutan yang masih basah. Matahari pagi baru saja mengintip di balik perbukitan saat Giselle Valerius — sepupu dari Kenzo yang secara kebetulan juga sahabat dari Kiya — melompat turun dari kendaraan off-road dengan wajah panik. 

"Kenzo! Kiya! Kalian di mana?!" teriak Giselle histeris.

Di belakangnya, Lucas—asisten pribadi Kenzo yang selalu tampak rapi dan tenang—kini terlihat berantakan dengan sepatu bot penuh lumpur. "Nona Giselle, tenanglah. Tim SAR sudah melacak koordinat helikopter Tuan Kenzo."

Saat mereka mencapai mulut gua, pemandangan di dalamnya membuat semua orang terpaku. Kenzo Valerius duduk bersandar di dinding batu, kemeja hitamnya sudah tidak terkancing, membungkus tubuh Kiya yang mungil di dalam dekapan dadanya yang bidang. Jas mahalnya menyelimuti bagian bawah tubuh wanitanya.

"Tuan!" Lucas berlari mendekat.

Kenzo mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Wajahnya yang biasanya sedingin es kini tampak kuyu, matanya merah karena terjaga sepanjang malam. "Jangan berisik. Dia baru saja tertidur."

Giselle berlutut di samping mereka, tangannya menyentuh dahi Kiya. "Astaga! Kenzo, dia demam tinggi!"

Kiya bergumam dalam tidurnya, wajahnya yang pucat kini dihiasi rona merah yang tidak sehat di kedua pipinya. Jemarinya masih mencengkeram erat kemeja Kenzo, seolah takut pria itu akan menghilang jika ia melepaskannya.

"Siapkan tandu dan tim medis sekarang juga!" perintah Kenzo pada Lucas dengan suara bariton yang parau namun tetap penuh otoritas.

***

Tiga jam kemudian, aroma antiseptik menguasai ruangan. Kiya terbaring di atas ranjang rumah sakit VVIP milik keluarga Valerius. Selang infus terpasang di tangan kirinya, dan sebuah kompres dingin menempel di dahinya.

Kenzo berdiri di depan jendela besar, menatap tajam ke arah gedung perusahaan rivalnya, Cavendish Fashion, yang terlihat dari kejauhan. Pintu kamar terbuka, dan Giselle masuk membawa nampan berisi cokelat panas.

"Dokter bilang dia hanya kelelahan dan terkena hipotermia ringan yang memicu demam," ucap Giselle sambil menatap sepupunya itu. "Tapi kau tahu kan dia hampir mati hanya demi sebotol warna?"

Kenzo tidak berbalik. "Dia wanita paling bodoh sekaligus paling keras kepala yang pernah kutemui."

"Atau mungkin dia hanya pejuang yang tahu cara memenangkan perang," sahut Giselle.

Tiba-tiba, terdengar suara lenguhan di atas tempat tidur. Kiya membuka matanya perlahan, berusaha duduk meski kepalanya terasa seperti dihantam palu.

"Pigmennya... di mana pigmennya?" suara Kiya serak, hampir hilang.

"Tetap di tempatmu, Krystalia!" Kenzo dengan cepat melangkah mendekati tempat tidur dan menekan bahu Kiya agar kembali berbaring.

"Kenzo... aku harus kembali ke studio," Kiya mencoba menepis tangan Kenzo dengan lemas. "Koleksi itu tidak bisa menjahit dirinya sendiri. Besok pagi harus rilis, dan aku belum mengecek kancing terakhirnya."

"Kau sedang sakit, Kiya! Kau tidak sadarkan diri di hutan!" bentak Kenzo, matanya berkilat marah.

Kiya justru menatap Kenzo dengan tatapan menantang yang mempesona. "Tuan Valerius, kau sudah mendapatkan 'bayaranmu' di gua tadi malam, bukan? Sekarang biarkan aku menyelesaikan tugasku. Aku tidak mau menang karena belas kasihanmu, aku mau menang karena karyaku lebih hebat dari mantan suamiku."

Kenzo terdiam. Ia melihat kegigihan yang membara di mata Kiya, sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada wanita mana pun yang pernah ia temui.

"Kau gila," desis Kenzo.

"Aku memang gila. Dan kau mencintai kegilaan itu," balas Kiya sambil mengedipkan satu matanya dengan nakal meskipun ia masih menggigil. "Sekarang, bantu aku berdiri atau aku akan mencopot infus ini sendiri."

Giselle hanya bisa melongo melihat interaksi itu. "Astaga, kalian benar-benar pasangan gila!"

***

Malam harinya, studio RnD Valerius Group menjadi saksi bisu sebuah kegilaan. Kiya duduk di kursi roda—atas paksaan Kenzo—dengan kompres yang masih menempel di dahinya. Ia mengarahkan para penjahit dengan presisi yang luar biasa. Pigmen Crimson Sunset yang ia pertaruhkan dengan nyawanya kini telah berubah menjadi gaun masterpiece yang luar biasa.

Kenzo berdiri di sudut ruangan, menjaga Kiya seperti anjing penjaga yang posesif. Lucas sesekali masuk memberikan laporan penjualan pre-order yang mulai melonjak meskipun acara puncaknya baru besok.

Tiba-tiba, pintu studio terbuka kasar. Julian Cavendish dan Isabella masuk dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak sengaja mendengar kabar bahwa desainer rahasia Valerius adalah Kiya.

"Kiya! Apa benar kau yang merusak pengiriman kainku?!" teriak Julian.

Kiya menghela napas pelan. Tenaganya terlalu berharga untuk meladeni serangga kecil yang mengganggu seperti Julian. "Kau bicara apa, sih?! Julian, aku terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk mengurus sampahmu!"

"Kau wanita tidak tahu diri! Kau mencuri ide-ideku!" Isabella ikut berteriak.

Kiya tertawa meremehkan. "Idemu, Isabella? Seingatku, kau bahkan tidak bisa membedakan sutra dan katun," sindir Kiya tajam. Ia menatap Julian. "Besok pagi, seluruh dunia akan melihat bagaimana Cavendish hancur. Dan kau akan menyaksikan itu dari barisan paling depan!"

"Keluar dari sini, Julian," suara Kenzo menggelegar, dingin dan mematikan. "Sebelum aku membuatmu tidak bisa lagi berjalan di atas karpet merah mana pun."

Melihat Kenzo yang begitu melindungi Kiya, Julian mematung. Ia tidak menyangka wanita yang ia buang seperti sampah kini dijaga oleh pria paling berkuasa di industri ini. Dengan wajah merah padam karena malu, Julian dan Isabella terpaksa mundur.

Kiya mendongak, menatap Kenzo yang setia berdiri di belakang kursi rodanya. "Terima kasih, Tuan Kulkas. Ternyata kau cukup berguna juga."

Kenzo menunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Kiya. "Selesaikan pekerjaanmu dalam satu jam. Jika tidak, aku akan menyeretmu kembali ke tempat tidur—dengan atau tanpa kursi roda ini!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   27. Kebebasan Dan Parfum Bau Bensin

    Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   26. Setelah Api

    Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   25. Eksekusi Di Altar Parlemen

    Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   24. Taring yang Tersembunyi

    Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   23. Benalu di Balik Dinding Parlemen

    Julian Cavendish berjalan dengan kepala setengah tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat dokumen tebal milik Richard Sterling. Setelan jasnya bukan lagi merek rancangan desainer Paris, melainkan katun kaku khas seragam para asisten. Ego yang dulu setinggi langit kini dipaksa merangkak di dalam lumpur.Julian berhenti di depan pintu jati besar berlogo lambang negara, menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum mendorong pintu tersebut."Kau lambat, Julian," ucap Richard Sterling dingin tanpa menoleh. Pria tua itu tetap duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menghisap cerutu hingga asap abu-abu pekat memenuhi ruangan.Julian meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kaku. "Maaf, Om. Ada beberapa berkas audit yang harus saya rapikan terlebih dahulu."Richard tersenyum sinis, lalu melempar sebuah map baru berwarna hitam ke hadapan Julian. "Ini proyek pertamamu sebagai asistenku. Alirkan dana kampanye dari tiga perusahaan cangkang ini ke beberapa vendo

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   22. Distorsi di Balik Kaca Isolasi

    "Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   6. Kejayaan Sang Ratu

    Hari yang dinanti tiba. Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya Grand Fashion Show Valerius Group dipenuhi oleh jurnalis, kritikus mode kelas dunia, dan jajaran sosialita papan atas. Aroma kemewahan tercium di setiap sudut, namun ketegangan di balik panggung jauh lebih terasa.Kiya berdir

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   4. Cara Licik Sang Ratu

    Pagi itu, studio RnD Valerius Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Sarah dan kelompoknya terlihat berbisik-bisik di sudut ruangan, sesekali melirik ke arah meja Kiya di pojok gudang dengan tatapan kemenangan yang sulit disembunyikan. Kiya sendiri datang sedikit terlambat, tampil segar dengan bla

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   3. Singgasana Berduri

    Tujuh hari. Bagi banyak orang, tujuh hari adalah waktu yang singkat untuk sekadar menyembuhkan luka lecet. Namun bagi Krystalia, tujuh hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengubur bangkai cintanya dalam-dalam dan membangun fondasi neraka bagi Julian Cavendish.Palu hakim baru saja diketuk

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   2. Pakta Dengan Iblis

    Hujan badai seolah ingin menenggelamkan kota, tetapi Kiya tetap berjalan dengan dagu terangkat. Gaun emerald yang tadinya berkilau kini berat karena air. Ia tidak butuh cermin untuk tahu betapa berantakannya ia sekarang. Namun, bagi Kiya, kecantikan yang rapuh adalah senjata yang paling mematikan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status