LOGINUp malem-malem buat kalian biar bisa baca pagi-pagi hihi author besok bakal sibuk kayaknya, jadi up nya jam segini buat kalian🫶
"Panggil sekarang, Dokter! Jangan menunda satu detik pun!" perintah Tuan Richard tegas, melambaikan tangannya penuh urgensi. Dokter umum itu mengangguk cepat, lalu segera keluar ruangan untuk menghubungi tim dokter spesialis kandungan. Di saat yang sama, kelopak mata Alina perlahan mengerjap kaku. Rasa pening yang samar masih bersarang di kepalanya, tetapi kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. "Mas...?" bisik Alina parau, suaranya hampir tenggelam di antara keriuhan kamar rawat. "Alina! Kau sudah sadar, Sayang?!" seru Reynard cepat, langsung menerobos berlutut di tepi ranjang tanpa memedulikan kakinya yang hanya beralaskan sebelah kaos kaki robek. Ia menggenggam erat telapak tangan istrinya, mengecupinya berkali-kali. "Mana yang sakit, cantik? Katakan padaku!" "Aku... aku cuma sedikit pusing, Mas," sahut Alina pelan, mengedipkan matanya melihat penampilan suami dan ayah mertuanya yang sangat kacau. "Kenapa kalian berpenampilan seperti ini?" Sebelum pertanyaan itu terjawab, pint
"Mama, ayo ke toko mainan yang di ujung sana! Ada robot dinosaurus edisi baru yang belum Sean punya!" seru Sean riang, menarik-narik jemari Alina dengan antusiasme yang seolah tak ada habisnya. Alina memaksa bibirnya mengukir senyum hangat, menunduk menatap paras mungil anak sambungnya itu. "Iya, sayang. Ayo, tapi jalannya pelan-pelan ya?" Nyonya Ella yang berjalan anggun di sebelah Alina terkekeh pelan, menyesuaikan langkahnya. "Anak ini benar-benar tidak ada capeknya dari pagi. Kau tidak apa-apa, Alina? Wajahmu kelihatan sedikit pucat sejak kita selesai makan siang tadi." "Aku tidak apa-apa, Ibu," sahut Alina lembut, berusaha tetap tampak ceria walau sebenarnya rasa lelah luar biasa sedang menggerogoti tubuhnya. "Hanya sedikit mengantuk saja." Hari itu, atas ajakan Nyonya Ella dan rengekan Sean, mereka bertiga menghabiskan waktu seharian di pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota. Mulai dari mengelilingi gerai pakaian, menyantap makan siang, hingga mendampingi Sean menguasai a
"Memangnya... ada posisi rahasia seperti itu, Yah?" tanya Reynard berbisik dengan raut wajah memerah canggung, matanya berbinar penasaran. Tuan Richard menepuk dadanya bangga. "Tentu saja ada! Kau pikir bagaimana dulu Ayah bisa—" Klek! Pintu ruang kerja mendadak terdorong terbuka lebar. Nyonya Ella berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bertengger mantap di pinggangnya, menatap dua pria Dirgantara itu dengan pandangan menelisik penuh curiga. Secara refleks, Reynard dan Tuan Richard langsung menarik tubuh mereka mundur, duduk tegak lurus dengan jarak saling menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. "Sedang apa kalian berdua berbisik-bisik seperti itu?" tanya Nyonya Ella memicingkan mata, melangkah masuk ke dalam ruangan. "Kelihatannya serius sekali sampai pintu harus ditutup rapat." "Eh... tidak ada apa-apa, Bu!" sahut Reynard cepat, membenarkan letak kerah bajunya yang sama sekali tidak miring. "Kami cuma membicarakan... bisnis! Iya, bisnis investasi terbaru." "Iya, Ella, bena
"Tidak mau! Sean mau adik bayi, bukan bayi kucing!" seru Sean lantang, menolak mentah-mentah penawaran ayahnya seraya menghentakkan kedua tangan mungilnya di atas meja makan. Reynard menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Sean, mendengarkanmu bertanya soal adik bayi setiap hari itu membuat telinga Papa panas. Bisakah kau berhenti bertanya sehari saja?" "Mas Rey!" tegur Alina cepat, menepuk lengan suaminya dengan raut wajah tidak senang. "Kenapa malah menawarkan bayi kucing pada Sean? Jangan mempermainkan anak sendiri begitu." "Aku tidak mempermainkannya, Alina," sahut Reynard, memutar tubuhnya memandang sang istri sebelum beralih menatap anak tunggalnya dengan raut wajah serius. "Dengar ya, Sean. Papa mengatakannya sekali lagi, jangan terus-menerus menanyakan kapan adik bayi datang pada Mamamu." Sean mengerutkan keningnya, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa disalahkan. "Tapi Sean kan cuma bertanya, Pa..." "Pertanyaanmu itu bisa bikin Mama Alina se
"Kau ingin punya adik atau tidak, Sean?" tanya Reynard memotong kehebohan anaknya di ambang pintu, matanya menatap tajam bocah kecil itu. Sean mengangguk cepat tanpa ragu, kedua tangan mungilnya makin erat bertengger di pinggang. "Tentu saja mau! Sean mau adik yang lucu!" "Kalau begitu, dengarkan Papa baik-baik," ujar Reynard seraya menegakkan tubuhnya di atas sofa, menunjuk tepat ke muka anaknya dengan wajah sangat serius. "Mulai besok, kalau mau punya adik, kau tidak boleh mengganggu waktu Papa dan Mama. Jangan suka ketuk-ketuk pintu kamar malam-malam, dan jangan minta tidur bertiga lagi. Paham?" Sean mengedipkan matanya polos, keningnya berkerut bingung. "Kenapa tidak boleh mengganggu? Apa hubungannya sama adik Sean?" "Pokoknya jangan mengganggu!" tegas Reynard tidak mau memberi penjelasan lebih jauh. "Tidur saja di kamarmu sendiri dengan tenang. Kalau kau menurut, baru adiknya bisa datang. Mengerti?" Sean tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah walau wajahnya
"Tenang, Alina. Napasmu terlalu cepat sejak dari dalam mobil," bisik Reynard seraya mengusap lembut punggung tangan istrinya yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Alina menyandarkan punggungnya pada kursi tunggu koridor rumah sakit swasta tersebut. Suara mesin pendingin ruangan dan aroma antiseptik yang khas mendadak membuat dadanya sesak. Bayang-bayang masa lalu saat dirinya terbaring tak berdaya di ruang operasi seolah berputar kembali di kepalanya, memancing kepanikan yang berusaha ia tekan mati-matian. "Aku tidak apa-apa, Mas," sahut Alina dengan nada bergetar, mencoba menyunggingkan senyum tipis walau paras mewahnya tampak agak pucat. "Aku cuma... sedikit gugup." "Jika kau merasa tidak sanggup, kita bisa pulang sekarang," tegas Reynard, menatap lekat manik mata istrinya dengan raut wajah yang diliputi kecemasan. "Aku tidak akan memaksamu, Alina." Alina menggeleng pelan, meremas balik jemari tegap suaminya. "Tidak. Kita sudah di sini. Aku melakukan ini demi Sean, dan jug







