ANMELDEN"Bagaimana perkembangan proyek resort di Bali, Reynard? Direktur Utama menyetujui investasinya?" Tuan Richard memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang amat presisi, membuka obrolan di tengah keheningan meja makan malam itu. Reynard yang duduk berseberangan dengan ayahnya mengangguk tenang, meneguk sedikit air putih sebelum menjawab. "Semua sesuai rencana, Ayah. Analisis risiko sudah diselesaikan minggu lalu, dan penandatanganan kontrak dilakukan akhir bulan ini." "Bagus," puji Tuan Richard singkat, raut wajahnya yang selalu kaku tampak sedikit melunak. "Kau harus memastikan tidak ada celah hukum sedikit pun." Namun, percakapan bisnis yang serius itu terhenti tatkala ponsel di saku jas Tuan Richard bergetar nyaring. Pria paruh baya itu merogoh sakunya, melihat nama pemanggil di layar, lalu berdiri dari kursinya. "Aku harus mengangkat telepon penting dari jajaran komisaris dulu," pamit Tuan Richard seraya melangkah menjauh meninggalkan area meja makan. Kini di meja m
"Sean! Buka mulutmu, Sayang. Ini Nenek buatkan sup sayur spesial untukmu!" Suara Nyonya Ella terdengar riang namun memendam rasa tidak sabar. Sendok berisi sup bening itu terus ditodongkan ke arah mulut kecil Sean di meja makan pagi itu. Karena hari ini akhir pekan, seluruh anggota keluarga berada di rumah. Sean, yang duduk di kursi tingginya, menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak kecil itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, memalingkan wajahnya jauh-jauh dari sendok sang nenek. "Tidak mau! Masakan Nenek tidak enak! Pahit!" pangkas Sean seraya merengek gencar, membuat suasana meja makan yang semula tenang berubah heboh. "Sean, jangan keras kepala," tegur Tuan Richard dengan nada tegas dari balik korannya. "Nenekmu sudah bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuatkanmu sarapan sehat." "Tapi Sean tidak mau!" jerit anak itu makin keras, matanya mulai berkaca-kaca. "Sean cuma mau makan masakan Tante Alina! Cuma masakan Tante Alina yang enak!" Nyonya Ella menahan napas,
"Jaga ucapan Ibu! Alina ini wanita baik-baik!" Suara Reynard terdengar berat dan tegas, memotong ketegangan yang mendadak membeku di aula utama. Pria itu melangkah satu garis ke depan, berdiri kokoh di antara ibunya dan Alina. Nyonya Ella menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatap putranya tajam. "Baik-baik bagaimana, Reynard? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengasuh yang sopan!" "Alina itu tetangga di kompleks depan rumah saya yang dulu sering Sean ganggu," potong Reynard cepat, berusaha memberikan alasan masuk akal yang telah ia rancang. "Karena hanya pada Alina Sean mau menurut dan tenang, saya akhirnya memutuskan untuk memintanya menjadi pengasuh Sean." Nyonya Ella mendengus ganjil, tawa kecil yang sarat akan rasa tidak percaya lolos dari bibirnya. "Kau pikir Ibu bisa langsung percaya begitu saja? Sudah puluhan pengasuh dari yayasan terbaik yang kita sewa, dan tidak ada satu pun yang bertahan dari tabi
"Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes
"Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb
"Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke







