LOGINHati-hati Alina! singa betina di keluarga Reynard udah mulai curiga wkwk. Hei jangan lupa baca novel terbaruku ya buat yang suda genre tiongkok/transmigrasi/masuk ke tubuh judulnya Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!
"Sean! Buka mulutmu, Sayang. Ini Nenek buatkan sup sayur spesial untukmu!" Suara Nyonya Ella terdengar riang namun memendam rasa tidak sabar. Sendok berisi sup bening itu terus ditodongkan ke arah mulut kecil Sean di meja makan pagi itu. Karena hari ini akhir pekan, seluruh anggota keluarga berada di rumah. Sean, yang duduk di kursi tingginya, menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak kecil itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, memalingkan wajahnya jauh-jauh dari sendok sang nenek. "Tidak mau! Masakan Nenek tidak enak! Pahit!" pangkas Sean seraya merengek gencar, membuat suasana meja makan yang semula tenang berubah heboh. "Sean, jangan keras kepala," tegur Tuan Richard dengan nada tegas dari balik korannya. "Nenekmu sudah bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuatkanmu sarapan sehat." "Tapi Sean tidak mau!" jerit anak itu makin keras, matanya mulai berkaca-kaca. "Sean cuma mau makan masakan Tante Alina! Cuma masakan Tante Alina yang enak!" Nyonya Ella menahan napas,
"Jaga ucapan Ibu! Alina ini wanita baik-baik!" Suara Reynard terdengar berat dan tegas, memotong ketegangan yang mendadak membeku di aula utama. Pria itu melangkah satu garis ke depan, berdiri kokoh di antara ibunya dan Alina. Nyonya Ella menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatap putranya tajam. "Baik-baik bagaimana, Reynard? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengasuh yang sopan!" "Alina itu tetangga di kompleks depan rumah saya yang dulu sering Sean ganggu," potong Reynard cepat, berusaha memberikan alasan masuk akal yang telah ia rancang. "Karena hanya pada Alina Sean mau menurut dan tenang, saya akhirnya memutuskan untuk memintanya menjadi pengasuh Sean." Nyonya Ella mendengus ganjil, tawa kecil yang sarat akan rasa tidak percaya lolos dari bibirnya. "Kau pikir Ibu bisa langsung percaya begitu saja? Sudah puluhan pengasuh dari yayasan terbaik yang kita sewa, dan tidak ada satu pun yang bertahan dari tabi
"Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes
"Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb
"Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke
"Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya. Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?" Tuan Richard mendengus kasar. "Urusan? Kau bertanya apa urusanku? Sean alergi kacang, dia masuk rumah sakit, dan kau tidak memberitahuku sepatah kata pun! Kemarin, anak buahku melapor jika cucuku berjalan pincang karena jatuh di sekolah, dan lagi-lagi, aku harus tahu dari orang lain, bukan dari kau ayahnya!" Di dapur yang berjarak cukup jauh, Alina yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam mematung. Ia mendengar setiap kata yang terlontar, hatinya mencelos saat mendengar suara kemarahan Tuan Richard yang me







