Home / Romansa / Terjerat Pesona Duda Tampan / Tawaran Yang Di Tolak

Share

Tawaran Yang Di Tolak

Author: Nona Lee
last update publish date: 2026-06-13 12:39:57

"Sean! Berapa kali Papa bilang jangan keluar rumah tanpa alas kaki?!" suara bariton Reynard menggelegar dari ambang pintu gerbang, memecah keheningan pagi yang cerah itu.

Sean yang sedang asyik melompat-lompat di dekat Alina seketika menjulurkan lidahnya. "Biarin! Di sini asyik, nggak kayak rumah Papa!"

Alina mematikan tuas selang airnya dengan sentakan kesal, lalu beralih menatap pria yang berjalan menyeberang jalan ke arahnya. Pagi ini, Tuan besar Dirgantara itu tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya. Dia hanya memakai kaus oblong hitam ketat yang mencetak dengan sangat jelas lekuk dada bidang dan otot lengannya yang kekar, dipadukan dengan celana jins santai. Namun, ekspresi wajahnya tetap saja sama. Angkuh, dingin, dan kaku.

"Tuan, tolong bawa anak anda pulang. Dia mengganggu pekerjaan saya," ucap Alina dingin, bahkan tanpa repot-repot menatap mata pria itu. Dia kembali menyibukkan diri merapikan pot tanaman hiasnya yang tersisa.

Reynard menghentikan langkahnya tepat di depan pagar seng rumah Alina. Matanya menyipit, memperhatikan bagaimana wanita di depannya ini mengabaikannya dengan begitu kentara. Ego tingginya terusik, namun ingatan akan tangisan Sean semalam memaksanya untuk menahan diri.

"Sean, masuk ke dalam rumah. Papa mau bicara dengan... wanita ini," perintah Reynard, nadanya sedikit melunak di ujung kalimat karena dia menyadari dirinya bahkan belum mengetahui nama tetangganya ini.

"Nggak mau! Papa pasti mau marahin Tante lagi!" tolak Sean, malah sengaja bersembunyi di balik tubuh mungil Alina dan memegangi ujung kaus oblong wanita itu.

Alina menghela napas lelah. Dia berjongkok, menyeimbangkan tingginya dengan Sean, lalu tersenyum lembut, pemandangan yang membuat Reynard kembali tertegun di tempatnya. "Sean sayang, masuk ya? Tante harus bersiap-siap kerja. Nanti kalau Tante terlambat, Tante bisa dihukum oleh bos Tante. Sean tidak mau kan melihat Tante dihukum?"

Sean mengerjipkan matanya yang bulat. "Benaran? Tante tidak bohong?"

"Tante tidak pernah bohong pada anak pintar," jawab Alina sembari mengusap gemas puncak kepala Sean.

Mendengar itu, Sean akhirnya mengangguk patuh. Dia melangkah keluar dari halaman rumah Alina dengan enggan, namun sebelum berjalan menyeberang, dia sempat menatap ayahnya dengan pandangan mengancam. "Papa jangan nakal ya sama Tante Sean!"

Setelah tubuh mungil Sean menghilang di balik pagar tinggi rumah mewah di seberang, keheningan yang canggung dan sarat akan ketegangan mendadak menyelimuti atmosfer di antara kedua orang dewasa itu. Alina berdiri, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Reynard dengan tatapan menantang.

"Jadi, ada perlu apa lagi? Apa Tuan ingin menuduh saya melakukan taktik murahan lagi pagi-pagi begini?" sindir Alina tajam, senyuman sinis terukir di bibir manisnya.

Reynard berdeham pelan, mencoba mengusir rasa canggung yang jarang sekali dia rasakan. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, berusaha mempertahankan wibawanya. "Saya kemari untuk menawarkan sesuatu yang menguntungkan bagimu."

"Menguntungkan bagi saya? Atau bagi Tuan?" Alina menaikkan sebelah alisnya.

"Bagi kita berdua," sahut Reynard datar. Dia melangkah satu tindakan lebih dekat ke arah pagar. "Saya perhatikan, putra saya... entah karena alasan bodoh apa, dia hanya mau mendengarkan ucapanmu. Dia bahkan menolak semua pengasuh yang saya siapkan. Jadi, tanpa perlu bertele-tele, saya ingin menawarkan pekerjaan kepadamu untuk menjadi pengasuh pribadi Sean."

Alina terperangah. Dia menatap pria di depannya seolah-olah pria itu baru saja kehilangan seluruh akal sehatnya. "Menjadi pengasuh anak Tuan? Apa saya tidak salah dengar?"

"Saya serius. Saya akan membayarmu tiga kali lipat dari gaji yang kau terima di tempatmu bekerja sekarang. Kau hanya perlu mengurus Sean dari pagi sampai saya pulang kerja. Bagaimana? Tawaran yang sangat mudah dan fantastis untuk wanita sepertimu, bukan?" ucap Reynard dengan nada yang terdengar begitu meremehkan, seolah dia yakin tidak ada satu pun orang di dunia ini yang sanggup menolak kekuatan uangnya.

Mendengar kalimat terakhir itu, seluruh darah di tubuh Alina kembali bergejolak hebat. Rasa sakit hati akibat tuduhan kejam pria itu semalam seketika mencuat kembali ke permukaan, membakar seluruh kesabarannya.

Alina tertawa renyah, namun suara tawa itu terdengar sangat dingin dan penuh dengan ejekan. "Tiga kali lipat? Wah, fantastis sekali ya, Tuan." Alina melangkah mendekati pagar sengnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas kilat keangkuhan di mata abu-abu pria itu. "Tapi maaf sekali, Tuan Besar yang terhormat. Uang Tuan yang melimpah itu sama sekali tidak bisa membeli harga diri saya yang sudah Tuan injak-injak dengan sangat kejam semalam!"

Reynard mengernyitkan dahi, tidak menduga akan mendapatkan penolakan sekeras ini. "Saya hanya berbicara realistis—"

"Realistis menurut standar kesombongan Tuan, kan?!" potong Alina cepat, matanya menyalang tajam. "Semalam Tuan menuduh saya sebagai wanita penggoda yang sengaja memanfaatkan anak kecil untuk mengincar harta Tuan. Tuan bahkan melarang keras saya untuk mendekati anak Tuan lagi!"

Alina mendengus sinis, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah tidak percaya. "Lalu sekarang? Belum genap dua puluh empat jam, Tuan justru datang kemari dan mengemis? Ah.. maaf, maksud saya menawarkan pekerjaan ini kepada saya? Tidakkah Tuan merasa sedang menjilat kembali ludah kotor yang sudah Tuan buang semalam?!"

"Kau—!" Wajah tampan Reynard seketika mengeras. Rahangnya mengetat kuat hingga urat-urat di lehernya menegang. Belum pernah ada satu orang pun, terutama seorang wanita dari kalangan biasa, yang berani mengonfrontasi dan mempermalukannya dengan kalimat sepedas itu tepat di depan wajahnya.

Ego Reynard benar-benar tertampar keras. Dia ingin sekali membalas, ingin sekali meruntuhkan kesombongan wanita di depannya ini dengan kekuasaan yang dia miliki. Namun, di sisi lain, logika kepalanya mengingatkan bahwa saat ini dialah pihak yang sedang membutuhkan bantuan.

"Dengar, saya akui ucapan saya semalam mungkin terlalu impulsif," ucap Reynard, suaranya merendah, mencoba menahan gejolak amarahnya sendiri yang hampir meluap. "Tapi tawaran ini murni karena kebutuhan Sean. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mengendalikannya, dan kebetulan orang itu adalah kau. Jadi, singkirkan dulu drama sakit hatimu dan berpikirlah secara rasional. Ini bisnis yang saling menguntungkan."

Alina menatap pria itu dengan pandangan yang semakin sinis. Dia menyadari satu hal menarik, pria sekaya dan seangkuh ini ternyata benar-benar tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang janda. Pria ini mengira dia hanyalah seorang gadis lajang yang bekerja di kafe dan bisa dengan mudah digoda atau diatur dengan uang. Alina sengaja tidak ingin membeberkan status pernikahannya di masa lalu, baginya, pria sombong ini tidak berhak tahu apa pun tentang privasi hidupnya.

"Bisnis?" Alina tersenyum meremehkan. Dia membalikkan badannya, mengambil selang air yang tadi tergeletak di tanah, lalu kembali menatap Reynard dengan pandangan mengusir yang sangat kentara. "Maaf, Tuan. Saya tidak tertarik berbisnis dengan pria yang tidak punya sopan santun dan hobi menuduh orang lain tanpa bukti. Silakan Tuan cari wanita lain yang mau menerima uang dan kesombongan Tuan itu. Hubungan kita... cukup sampai di sini sebagai tetangga yang tidak saling kenal."

"Tunggu! Kita belum selesai bicara!" seru Reynard, tangannya refleks mencengkeram pembatas pagar seng rumah Alina saat melihat wanita itu bersiap untuk masuk ke dalam rumah.

"Bagi saya sudah selesai, Tuan!" balas Alina tanpa menoleh sedikit pun.

Namun, baru saja kaki Alina hendak melangkah menaiki anak tangga teras rumahnya, sebuah teriakan histeris dari arah dalam rumah mewah di seberang jalan seketika menghentikan pergerakan mereka berdua.

"Papaaa! Tolong! Sean takut! Ada orang asing masuk ke dalam rumah!"

Suara jeritan Sean yang melengking tinggi penuh ketakutan itu menggema membelah keheningan komplek. Reynard dan Alina seketika menoleh ke arah rumah besar itu dengan mata membelalak sempurna. Jantung Reynard berdegup kencang, dia langsung membalikkan tubuhnya bersiap untuk berlari.

"Sean!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Introgasi Nyonya Ella

    "Kau tidak punya penyakit menular tertentu, kan? Aku tidak mau cucuku tertular hal-hal aneh dari orang luar!" Suara Nyonya Ella terdengar dingin dan menekan, berdiri tegak di tengah ruang kerja pribadinya seraya melipat tangan di dada. Matanya yang tajam menatap Alina dari atas ke bawah tanpa ampun. Alina mendongak sedikit, menggelengkan kepala dengan panik seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "T-tidak, Nyonya! Sama sekali tidak ada. Saya selalu rutin memeriksa kesehatan saya, apalagi sejak bekerja mengurus Sean." Nyonya Ella mendengus pelan, lalu melangkah satu garis lebih dekat. Tatapannya kian menelisik, seolah ingin menembus langsung ke dalam benak wanita muda di hadapannya. "Lalu... katakan padaku dengan jujur," desak Nyonya Ella dengan suara yang memelan namun sarat ancaman. "Apa kau dan Reynard punya hubungan khusus di belakangku?" Deg! Jantung Alina serasa berhenti berdetak seketika. Lidahnya mendadak kelu, dadanya bergemuruh hebat diserang rasa panik yang

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pengakuan Polos Sean

    "Bagaimana perkembangan proyek resort di Bali, Reynard? Direktur Utama menyetujui investasinya?" Tuan Richard memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang amat presisi, membuka obrolan di tengah keheningan meja makan malam itu. Reynard yang duduk berseberangan dengan ayahnya mengangguk tenang, meneguk sedikit air putih sebelum menjawab. "Semua sesuai rencana, Ayah. Analisis risiko sudah diselesaikan minggu lalu, dan penandatanganan kontrak dilakukan akhir bulan ini." "Bagus," puji Tuan Richard singkat, raut wajahnya yang selalu kaku tampak sedikit melunak. "Kau harus memastikan tidak ada celah hukum sedikit pun." Namun, percakapan bisnis yang serius itu terhenti tatkala ponsel di saku jas Tuan Richard bergetar nyaring. Pria paruh baya itu merogoh sakunya, melihat nama pemanggil di layar, lalu berdiri dari kursinya. "Aku harus mengangkat telepon penting dari jajaran komisaris dulu," pamit Tuan Richard seraya melangkah menjauh meninggalkan area meja makan. Kini di meja m

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Bagaimana Mungkin?

    "Sean! Buka mulutmu, Sayang. Ini Nenek buatkan sup sayur spesial untukmu!" Suara Nyonya Ella terdengar riang namun memendam rasa tidak sabar. Sendok berisi sup bening itu terus ditodongkan ke arah mulut kecil Sean di meja makan pagi itu. Karena hari ini akhir pekan, seluruh anggota keluarga berada di rumah. Sean, yang duduk di kursi tingginya, menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak kecil itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan, memalingkan wajahnya jauh-jauh dari sendok sang nenek. "Tidak mau! Masakan Nenek tidak enak! Pahit!" pangkas Sean seraya merengek gencar, membuat suasana meja makan yang semula tenang berubah heboh. "Sean, jangan keras kepala," tegur Tuan Richard dengan nada tegas dari balik korannya. "Nenekmu sudah bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuatkanmu sarapan sehat." "Tapi Sean tidak mau!" jerit anak itu makin keras, matanya mulai berkaca-kaca. "Sean cuma mau makan masakan Tante Alina! Cuma masakan Tante Alina yang enak!" Nyonya Ella menahan napas,

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Wanita Baik-Baik

    "Jaga ucapan Ibu! Alina ini wanita baik-baik!" Suara Reynard terdengar berat dan tegas, memotong ketegangan yang mendadak membeku di aula utama. Pria itu melangkah satu garis ke depan, berdiri kokoh di antara ibunya dan Alina. Nyonya Ella menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna, menyilangkan kedua tangan di dada seraya menatap putranya tajam. "Baik-baik bagaimana, Reynard? Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengasuh yang sopan!" "Alina itu tetangga di kompleks depan rumah saya yang dulu sering Sean ganggu," potong Reynard cepat, berusaha memberikan alasan masuk akal yang telah ia rancang. "Karena hanya pada Alina Sean mau menurut dan tenang, saya akhirnya memutuskan untuk memintanya menjadi pengasuh Sean." Nyonya Ella mendengus ganjil, tawa kecil yang sarat akan rasa tidak percaya lolos dari bibirnya. "Kau pikir Ibu bisa langsung percaya begitu saja? Sudah puluhan pengasuh dari yayasan terbaik yang kita sewa, dan tidak ada satu pun yang bertahan dari tabi

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Wanita Penggoda?!

    "Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Mengawasi Alina

    "Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status