Share

Bab 145

Author: Ayesha
Brielle melirik sekilas tesis itu, lalu tersenyum tipis. "Menurut Profesor Madeline sendiri bagaimana?"

Andai Brielle gagal lulus ujian kali ini, Madeline pasti akan mengira itu hanyalah peninggalan Adam. Namun dengan nilai yang begitu mencengangkan, dia benar-benar bisa memercayai bahwa itu adalah hasil karya Brielle sendiri.

Madeline menatap gadis muda nan cantik di hadapannya. Dulu setelah istri Adam meninggal karena sakit, gadis ini selalu mengikuti ayahnya. Dia berkali-kali melihat Brielle
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Siti Aminah
si Raka ga nyadar gitu kelakuannya sudah nyakitin hati brie
goodnovel comment avatar
Jihan Dwi Annisa
semoga Mrs Madeline beneran baik..
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1408

    Kali ini, Harvis merasa perlu menyadarkan Brielle.Ucapan Harvis bagaikan sebuah kerikil yang jatuh ke permukaan danau di hati Brielle. Jemarinya yang menggenggam cangkir sedikit mengencang. Bulu matanya yang panjang terkulai, menutupi emosi di balik sorot matanya.Bagaimana mungkin dia tidak merasakannya?Awalnya Raka berinvestasi di laboratorium tanpa memperhitungkan biaya, lalu sekarang pria itu perlahan-lahan terlibat dalam setiap aspek kehidupannya. Banyak hal sudah melampaui batas sewajarnya.Brielle menghela napas pelan, lalu menatap Harvis dengan tatapan yang jernih dan tenang. "Kak Harvis, aku tahu apa yang harus kulakukan."Harvis ikut menghela napas. "Sebenarnya aku juga nggak seharusnya ikut campur. Aku cuma mengatakan beberapa hal sebagai seorang teman.""Aku tahu apa maksudnya, tapi mengetahui dan cara menanggapi adalah dua hal yang jauh berbeda." Brielle menoleh ke luar jendela."Aku berterima kasih atas dukungannya dalam karierku. Demi Anya, aku juga bersedia menjaga hu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1407

    Saat pintu lift menuju lantai 27 menutup, Raka mengucapkan satu kalimat kepada Brielle, "Terima kasih."Brielle memandangi pintu lift yang telah tertutup. Hatinya bukannya tanpa gejolak sama sekali. Dia bisa merasakan permintaan maaf dan sikap mengalah dari Raka.Namun, luka masa lalu terlalu dalam. Banyak hal telah kehilangan kesempatan untuk diulang kembali.Misalnya cinta Brielle kepadanya, antusiasmenya terhadapnya, serta hati yang sejak lama telah padam untuknya.Mereka bisa menjadi teman, bisa menjadi rekan, bisa menjadi investor dan pihak yang menerima investasi. Namun, satu hal yang mustahil adalah menjadi suami istri lagi.Setelah kembali ke rumah, Brielle memberi tahu Lastri untuk tidak menyiapkan makan siangnya. Setelah itu, dia naik ke lantai atas untuk bekerja.Pukul 11.30 siang, Brielle menerima pesan dari Harvis. Dia turun ke lantai bawah. Ketika sedang memikirkan pekerjaan, tiba-tiba dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dari arah depan. Itu adalah Savana, ibu Lamb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1406

    "Kalau begitu, sekitar jam 11.30 siang aku akan nunggu di gerbang kompleks rumahmu.""Oke." Brielle mengiakan, lalu sambungan telepon di seberang pun terputus.Saat berhenti di depan lampu merah, Brielle merasa pria di sampingnya terus menatapnya. Dia menoleh. "Lihat apa?"Melihat ekspresinya, Raka langsung tahu Brielle jelas sudah lupa soal ajakan makan siang tadi."Padahal aku yang lebih dulu ajak kamu makan siang," ucap Raka dengan nada masam.Brielle berkedip, baru teringat. Di supermarket tadi, sepertinya memang Raka sempat mengajaknya. Saat itu, dia pun menolak tanpa pikir panjang."Kak Harvis cari aku karena urusan pekerjaan." Brielle mencoba memberi alasan, meskipun sebenarnya dia tidak perlu menjelaskan apa pun. Dia bebas makan dengan siapa saja."Kalau begitu, aku boleh ikut?" tanya Raka tiba-tiba."Nggak boleh." Brielle menolak dengan tegas.Raka kembali terdiam beberapa detik. Rasa sesak di dadanya justru makin berat."Kenapa?" tanyanya tak bisa menahan diri. Ada sedikit ke

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1405

    Saat mereka tiba di area kasir, Brielle mulai mengeluarkan barang-barang miliknya dan meletakkannya di meja pemindaian.Raka menoleh kepadanya dan berkata, "Sekalian saja."Setelah berkata demikian, dia sudah mengeluarkan ponselnya dan membuka kode pembayaran. Brielle langsung menghentikannya. "Aku bayar sendiri.""Cuma beberapa kebutuhan sehari-hari. Nggak seberapa." Raka tetap bersikeras ingin membayarnya.Brielle mengulurkan tangan untuk menghalangi. "Aku bayar sendiri." Nadanya bahkan lebih tegas dari Raka. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Raka. Dia melirik layar lalu berkata kepada Brielle, "Aku harus terima telepon penting. Boleh minta tolong sebentar?"Maksudnya sangat jelas. Di dalam troli masih ada sabun mandi dan satu pak kecil wiski miliknya.Brielle mengangguk. "Boleh."Raka pun melangkah pergi lebih dulu dan menuju sudut yang lebih sepi untuk menerima telepon.Setelah semua barang selesai dibayar, Brielle mendorong troli keluar dari area kasir. Pada

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1404

    Lastri yang berdiri di samping tersenyum melihat pemandangan itu. "Lihat saja Anya, senangnya bukan main. Pasti dia sangat merindukan Pak Raka."Brielle melangkah keluar rumah. Pada tubuh Raka masih terlihat aura lelah setelah perjalanan jauh, seolah baru saja turun dari pesawat."Pulanglah dan istirahat dulu. Aku yang antar Anya," kata Brielle. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu tampak sedikit kelelahan."Aku ikut denganmu." Raka menggenggam tangan putrinya sambil menatap Brielle. Anya juga segera menggenggam tangannya lebih erat."Mama, aku mau Papa ikut antarin aku ke sekolah. Tolong ya, Mama."Brielle akhirnya hanya bisa mengangguk. "Baik."Di kursi belakang mobil, Anya dan Raka terus mengobrol. Topiknya tentu saja seputar perjalanan dinas Raka. Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Anya masuk ke sekolah dengan riang.Setelah kembali ke mobil, Brielle menoleh ke arah pria yang masih duduk di kursi belakang. "Aku antar kamu pulang untuk istirahat.""Kamu sendiri mau k

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1403

    Di dalam kafe, Brielle sedang memegang cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Tatapannya penuh minat saat melihat Ferdian yang duduk di hadapannya. Kekaguman di matanya tidak pernah benar-benar hilang sepanjang percakapan mereka.Karena terlalu fokus pada diskusi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa sesosok pria tinggi baru saja masuk ke dalam kafe. Sampai akhirnya sebuah suara rendah dan menarik terdengar dari sampingnya. "Nggak mau perkenalkan kami?"Brielle terkejut dan langsung mengangkat kepala.Saat melihat pria yang tiba-tiba muncul itu, dia tidak bisa menahan rasa herannya. "Bukannya kamu sudah berangkat ke bandara?""Kebetulan lewat. Aku masuk untuk beli kopi," jawab Raka dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa. Di belakangnya, Gavin langsung memahami situasi dan segera berjalan ke meja pemesanan untuk memesan kopi.Sementara itu, tatapan Raka beralih kepada Ferdian yang duduk di seberang Brielle. Di matanya terdapat penilaian yang jelas.Brielle langsung merasakan a

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 634

    Jay mengirim pesan lagi.[ Devina, kapan kamu pulang? Perlu aku ke sana menemanimu? ][ Nggak perlu. Aku akan pulang ke negara dalam dua hari. ]Devina membalas demikian.Melihat pesan itu, Jay sedikit kecewa. Dia tahu Devina hanya ingin ditemani oleh orang yang benar-benar dia harapkan.Jay mengali

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 626

    Niro sempat tertegun. Dia sama sekali tidak bisa membantah ucapan Brielle. Saat ini, Brielle bahkan terlihat seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya dengan sangat serius.Niro menelan ludah. Instingnya mengatakan bahwa jika dia terus membantah, dengan sifat Brielle, mungkin perempuan it

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 614

    "Aku setuju berinvestasi dalam proyek BCI. Menurutku ini proyek paling menjanjikan saat ini," celetuk seorang pemegang saham senior tiba-tiba dengan semangat.Tidak lama kemudian, semua pemegang saham menampakkan ekspresi setuju.Raka tersenyum dan mengangguk. "Baik, rapat hari ini sampai di sini."

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 641

    "Anya, suruh papamu pulang ke rumah Nenek untuk ganti baju saja! Lagian nggak jauh," ujar Brielle kepada putrinya. Itu juga sekaligus memenuhi keinginan putrinya untuk berbakti dan bisa membuat Raka pergi dari sana."Papa, cepat pulang ke rumah Nenek mandi dan ganti baju ya! Nanti Papa masuk angin,"

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status