로그인Jelas, dia ingin mengantar mereka ke atas.Di belakang, Raline akhirnya menghela napas lega. Brielle bersedia menerima hadiah darinya, itu sudah merupakan pertanda baik.Sesampainya di depan pintu rumah, Raka berhenti beberapa langkah jauhnya dan tidak ikut masuk. Setelah melihat ibu dan anak itu beserta Gaga masuk ke rumah, barulah dia berbalik pergi.Anya memang gadis kecil yang sangat suka membuka hadiah. Dia sudah tak sabar ingin melihat tas baru ibunya.Brielle membuka kotak hadiah itu. Di dalamnya ternyata sebuah tas tangan merek ternama. Memang modelnya klasik dan cukup cocok untuknya."Wah, Mama, tas ini cantik sekali!" seru Anya di sampingnya.Sebenarnya Brielle bukan kekurangan uang, tetapi dia kekurangan waktu untuk berbelanja. Karena itu, barang yang dibelinya biasanya merek ternama dan tahan lama. Tas yang dia pakai sekarang bahkan sudah dua atau tiga tahun belum diganti. Kadang, barang yang sudah nyaman dipakai memang tidak bisa digantikan begitu saja oleh yang baru.Semi
Raka meletakkan cangkir tehnya. Tatapannya perlahan berubah semakin dalam. Setelah itu, dia mengambil ponsel di sampingnya, membuka nomor Brielle, lalu tanpa ragu meneleponnya."Halo? Ada apa?" Suara Brielle terdengar dari seberang sana."Aku dengar kamu mendapatkan penemuan besar." Raka berusaha menyampaikan dengan nada setenang mungkin. "Selamat.""Dari mana kamu tahu?" tanya Brielle balik."Profesor Derrick baru saja datang menemuiku," jawab Raka jujur. "Soal pengajuan paten, aku akan mengaturnya."Di seberang telepon, Brielle juga tidak menolak. Saat ini dia memang benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus hal seperti itu. Lagi pula sekarang dia bekerja di laboratorium penelitian atas nama Raka, jadi memang sudah seharusnya dia melindungi hak paten para penelitinya.Brielle terus bekerja sampai pukul delapan malam sebelum pulang ke rumah. Lastri memberitahunya bahwa Anya dan Raline sedang bermain di rumah Raka di lantai bawah, bahkan Gaga juga ikut turun ke sana.Dengan rasa lel
"Ya! Masih ada satu hal lagi." Derrick termenung sejenak lalu berkata, "Penemuan ini pasti akan menarik perhatian internasional. Aku sarankan perlindungan hak kekayaan intelektual dipersiapkan lebih awal."Ekspresi Raka langsung berubah serius. Ini memang masalah yang sangat penting. Dia mengangguk. "Baik, aku akan segera mengatur tim pengacara untuk menanganinya. Aku jamin semua paten akan didaftarkan atas nama pribadi Brielle, nggak akan dimasukkan ke dalam Grup Pramudita."Derrick menggenggam cangkir teh sambil menatap pemuda di depannya. Tampaknya dulu dia memang meremehkan Raka. Namun dalam hal perlindungannya terhadap Brielle, itu benar-benar layak dipuji."Meskipun nggak pernah ada upacara resmi, sejak dia lahir aku sudah merebut posisi ayah angkatnya. Walaupun dia nggak pernah memanggilku begitu, mulai sekarang aku juga menganggapnya setengah anakku sendiri. Mendengar perkataanmu ini, aku benar-benar sangat berterima kasih," ujar Derrick dengan tulus.Raka mengangguk. "Aku akan
Mata Brielle langsung memanas. Saat masih muda, Derrick pernah memiliki istri, tetapi kemudian istrinya tidak tahan dengan kehidupannya yang terlalu terobsesi pada penelitian lalu pergi meninggalkannya.Sekarang, dia sudah berpisah dengan istri dan anaknya selama setengah hidup dan ke depannya kemungkinan hanya akan menjadi pria tua yang hidup sendirian."Paman Derrick, di hatiku kamu sudah seperti ayah angkatku sendiri. Beberapa tahun lagi waktu kamu pensiun, aku yang akan merawatmu di masa tua," kata Brielle dengan tulus.Mata Derrick juga ikut memanas. Dia menepuk bahunya pelan. "Belum sampai tahap itu! Kamu cukup urus keluarga kecilmu sendiri saja."Setelah Derrick pergi, Brielle kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Menjelang sore, Rowan dan Zondi turun ke kantin untuk makan, sementara Brielle masih menganalisis sekelompok data gelombang otak.Tiba-tiba, dia menemukan fenomena yang tidak biasa. Saat objek eksperimen melakukan aktivitas berpikir tertentu, neuron di salah satu area
Waktu itu, Freyna yang datang lebih awal untuk menjemput di bandara juga berhasil mengambil foto-foto itu dengan sempurna. Devina langsung menyerahkannya ke media. Dia tidak tahu apakah Brielle melihatnya atau tidak, hanya saja foto-foto itu baru tayang setengah hari sudah ditemukan Gavin, lalu dia menelepon media dan meminta foto-foto itu diturunkan.Namun dia merasa, Brielle yang begitu memperhatikan setiap gerak-geriknya bersama Raka pasti sudah melihatnya.Tentu saja Devina tidak tahu, saat itu Brielle sudah menyewa detektif pribadi untuk memotret adegan itu dan mengirimkannya padanya. Semua itu menjadi bukti yang membuat Brielle semakin mantap memutuskan untuk bercerai.Devina benar-benar menyesal dulu dia tidak sedikit lebih berani. Kalau saja dia mencampurkan sesuatu ke dalam air minum Raka lalu mengirim Gavin pergi sejauh mungkin, mungkin dia dan Raka sudah lama tidur bersama.Asal mereka melakukannya sekali saja, dia tidak percaya Raka bisa menolaknya untuk kedua kali dan keti
Raka berdiri tanpa ekspresi. "Nggak apa-apa."Gavin sangat paham, bosnya membuat kontrak baru itu justru untuk menghindari berhadapan langsung dengan Ignas dan sengaja mengurangi risiko. Bagaimanapun, Ignas juga tokoh besar di dunia teknologi. Meskipun Grup Pramudita sudah punya fondasi yang kuat, mereka tetap tidak ingin menambah musuh.Apalagi sampai harus membuat dua perusahaan besar saling berkonflik hanya karena Devina.Saat Raka hampir keluar dari ruang rapat, dia menoleh dan memberi perintah, "Kirim orang untuk cek kondisi pajak Ignas."Gavin langsung mengerti. Bosnya tidak pernah bertarung tanpa persiapan. Dalam banyak hal, dia selalu memilih menyerang lebih dulu. Kalau Ignas benar-benar bersikeras membela Devina, maka konflik dengan Grup Pramudita tidak akan terhindarkan.Sementara itu, Devina sudah duduk di dalam mobil. Dia hanya terdiam. Freyna yang duduk di sampingnya juga tidak berani bertanya. Dia hanya melihat Devina terus mencengkeram jari-jarinya, menggertakkan gigi, j
Menjelang dini hari, studio Devina mengeluarkan sebuah pernyataan. Karena kondisi kesehatannya menurun, dia tidak bisa menyelesaikan syuting iklan kampanye Hari Perempuan Sedunia sehingga resmi mundur dari kegiatan tahun ini.Brielle kebetulan belum tidur. Dia membuka pernyataan dari studio Devina,
Lambert sudah kembali dari luar negeri, Vivian juga datang untuk ikut kelas."Bibi Brielle." Vivian melihatnya, lalu menyapa dengan ramah.Brielle membalas dengan senyuman lembut."Mama, boleh nggak aku ajak Vivian main ke rumah kita? Kita sudah lama banget nggak ketemu." Anya menarik tangan Brielle
Brielle membolak-balikkan laporan penelitian di ponselnya, tenggelam dalam bacaannya. Pukul 9.45 pagi, dari arah pintu lift, asisten Raka berjalan cepat menghampiri. "Bu Brielle, Pak Raka sudah menunggu di ruang rapat."Brielle tertegun. Sepertinya resepsionis sudah memberi tahu kantor pusat, jadi R
Di sisi lain, Jay yang melihat semuanya pun menawarkan diri, "Raka, biar aku yang mengantar Brielle pulang!"Devina menggigit bibir, lalu menatap Brielle sambil berkata, "Brielle, aku tahu kamu membenciku, juga nggak butuh perhatianku."Dalam hati Brielle mencibir, 'Kalau tahu nggak dibutuhkan, untu







