Share

Bab 322

Penulis: Ayesha
Malam itu, Anya tetap bermalam di rumah Keluarga Pramudita. Brielle berpikir, wajar saja putrinya senang berada di sana, karena anak kecil memang menyukai suasana meriah saat hari raya.

Beberapa hari terakhir dia hampir terus berada di laboratorium. Rumahnya bahkan belum ditempeli hiasan tahun baru, tidak ada selembar pun dekorasi atau lampion. Dia pun bertekad setelah selesai membahas pendanaan proyek besok, sore harinya dia akan pergi membeli beberapa perlengkapan.

Bagi dirinya pribadi, semua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
Raka sok2 an baik...dah ga ngaruh...brielle dah terlanjur sakit hati dan kecewa
goodnovel comment avatar
Yantii Daok
di mana 2 sll ada ulat bulu
goodnovel comment avatar
auro peanuts
alurnya template banget astaga
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1056

    Brielle mengerutkan kening dan berkata, "Asistenmu nggak bisa menghubungimu. Dia sangat khawatir, jadi menyuruhku datang melihatmu."Raka mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu bersandar pada kusen pintu. "Nggak apa-apa, hanya sedikit ... demam."Melihat keadaannya, Brielle memang merasa dia seperti sedang demam."Suruh orang antar kamu ke rumah sakit," usul Brielle."Nggak perlu. Setelah tidur sebentar juga akan membaik." Raka menggeleng. Setelah itu, dia juga tidak menutup pintu dan langsung berjalan menuju ruang tamu.Brielle mengernyit. Cara pria ini menghadapi sakit masih saja begitu asal-asalan. Namun, Brielle tidak ingin ikut campur. Kemungkinan besar panggilan Gavin tidak diangkat hanya karena tadi dia sedang mandi dan tidak mendengarnya.Brielle berbalik hendak pergi. Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara kaca pecah. Langkahnya langsung terhenti. Dia kembali ke pintu dan melangkah masuk ke area foyer.Di ruang tamu, Raka menahan tubuhnya dengan satu tangan di me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1055

    [ Jadi, ini berarti kamu setuju? ][ Setuju apa? ][ Setuju jadi pacarku. ]Jay menarik napas dalam-dalam lalu menekan kirim.Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu, Jay tidak mendapat balasan. Dia langsung menekan nomor Siria dan meneleponnya."Halo!" Terdengar suara Siria dari seberang."Siria." Suara Jay begitu bersemangat sampai sedikit serak. "Aku ... aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku?""Jay, sekarang sudah hampir jam 2 pagi. Kamu mabuk ya? Jangan-jangan kamu salah orang lagi?" Siria bertanya dengan nada serius.Kepala Jay langsung berdengung. Dia teringat malam ketika dia pernah salah mengira Siria sebagai Devina. Dengan nada cemas tetapi tulus, dia berkata, "Nggak. Siria, aku nggak salah orang.""Aku ingin mengatakan langsung padamu kalau yang kusukai adalah kamu. Kamu, Siria. Aku ingin secara resmi dan sungguh-sungguh memintamu menjadi pacarku."Di sana, Siria terdengar tertawa. Akhirnya, dengan sedikit nada tak berdaya tetapi juga geli, dia berkata, "Aku belum pernah de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1054

    Lambert bersandar di sofa. Kepahitan di matanya semakin dalam. Pada perjalanan ke Kyoza waktu itu, dia benar-benar merasakan perasaan Niro terhadap Brielle. Perasaan yang membara, terang-terangan, tanpa disembunyikan sedikit pun.Tidak seperti dirinya, yang terlalu banyak pertimbangan dan tidak berani melangkah maju. Sementara Niro, selama Brielle hanya mengangguk, dia adalah orang yang bisa langsung memberinya sebuah rumah.Melihat kesuraman di mata Lambert, Jay menggaruk kepalanya. "Kalau begitu, bukankah kamu dan Raka sama sekali sudah nggak punya kesempatan lagi?"Lambert mengusap pelipisnya, lalu menggeleng."Nggak bisa juga dibilang begitu. Semuanya tergantung pilihan Brielle. Dia bukan orang yang menilai seseorang dari latar belakang keluarga.""Tapi dengan kondisi Niro seperti itu, kalau dia yang mengejar lebih dulu, menurutku Brielle akan sulit untuk nggak tergoda." Jay memiliki pandangan lain."Aku sudah nggak punya kesempatan. Kita lihat saja kemampuan Raka." Setelah mengata

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1053

    Mata Lambert berkilat sejenak, seolah-olah memahami sesuatu."Raka memang lebih kuat menahan beban daripada kita, itu nggak diragukan lagi. Hanya saja, dia benar-benar menyakiti Brielle."Jay tiba-tiba mengangkat kepalanya. Seolah-olah teringat sesuatu, dia meninju meja dengan keras. "Kalau bicara soal menyakiti Brielle, aku juga pernah melakukan kebodohan itu."Sekilas rasa bersalah melintas di mata Jay. Dia merasa saat itu pasti seperti kerasukan setan. Dia benar-benar menuruti setiap perkataan Devina, bahkan sempat mengatakan beberapa kata kasar yang seharusnya tidak dia ucapkan kepada Brielle.Tatapan Lambert beralih kepadanya. "Yang kamu maksud adalah kejadian saat ulang tahun Vivian hari itu?""Benar, malam itu. Sebenarnya aku nggak ingin ganggu kalian, tapi dia bilang hadiahnya sudah dibeli dan setelah menyerahkannya langsung pergi, jadi aku bawa dia ke sana." Jay berhenti sejenak, lalu berkata dengan menyesal, "Aku benar-benar pantas mati. Aku rasa perceraian Raka dan Brielle i

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1052

    Telepon itu berdering selama tujuh detik sebelum akhirnya diangkat. Dari seberang terdengar suara Devina yang biasa, sedikit malas dan manja."Halo, Jay? Sudah selarut ini, kenapa meneleponku?"Jika setengah jam yang lalu mendengar suara ini, hati Jay pasti akan langsung melunak. Namun sekarang, yang dia rasakan hanya rasa mual.Begitu mual sampai dia tiba-tiba mengepalkan tangan, menarik ponsel dari telinganya, lalu menekan tombol putus dengan keras dan langsung mengakhiri panggilan itu.Di seberangnya, Lambert melihat semuanya dan tidak merasa terkejut. Dia tahu sifat Jay. Jika disuruh memaki Devina habis-habisan lewat telepon, dia pasti tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, memutuskan semuanya dengan bersih seperti ini justru lebih sesuai dengan gayanya."Kenapa? Nggak mau minta penjelasan darinya?" Lambert mengangkat alis dan bertanya."Menjijikkan. Sekarang setiap memikirkan dia, aku hanya merasa jijik." Jay melempar ponselnya ke samping, lalu menjatuhkan diri kembali ke sofa.Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1051

    Di bawah cahaya lampu, wajah Jay tampak sedikit pucat. Selama tujuh tahun ini, Devina selalu menunjukkan keterikatan penuh kepada Raka di hadapannya, lalu berbalik memperlakukannya dengan sikap ambigu. Kadang dekat, kadang jauh.Setiap kali dia hampir menyerah, Devina selalu memberinya sedikit harapan. Ditambah lagi dengan sikap dan kata-katanya yang seolah-olah tidak disengaja, tetapi di setiap kesempatan menampilkan sisi rapuhnya.Semakin Jay mengingat semuanya, semakin dia merasakan ketidakberdayaan karena dipermainkan dan ditipu. Dia tiba-tiba meneguk habis minuman di dalam gelasnya. Detik berikutnya, amarah yang tak diketahui asalnya membuatnya melempar gelas itu dengan keras ke lantai."Sialan, aku benar-benar orang bodoh." Jay menggeram pelan. Suaranya penuh ejekan terhadap dirinya sendiri dan rasa sakit.Dia bisa menerima kenyataan bahwa Devina mencintai Raka, tetapi tidak mendapat balasan. Namun, ternyata tujuh tahun lalu Devina bahkan pernah memberi isyarat kepada Lambert. It

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 671

    Setelah turun dari pelukan Raka, Anya langsung menggenggam tangan Brielle. Pelukan Raka pun mendadak kosong, alisnya sedikit berkerut.Brielle menggandeng putrinya berdiri sejenak. Anya teringat mainannya yang masih berada di sofa di samping Raka, lalu berkata, "Mama, mainanku masih ada di sofa sebe

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 680

    Raka menatap foto-foto itu selama beberapa detik. Dia teringat bahwa dia sempat menanyakan pada Brielle apakah dia akan ikut kegiatan tersebut pada hari Rabu. Waktu itu, Brielle jelas mengatakan tidak akan ikut.Lalu, kenapa sekarang dia malah membawa Anya ikut? Apakah dia sengaja melakukannya agar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 659

    Raka berdiri di luar gerbang halaman. Angin malam menyapu wajahnya yang tegang. Dia menoleh ke arah jendela lantai dua yang masih menyala, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi.Di kamar lantai dua, Brielle berbaring miring di sisi putrinya. Sesekali dia menyentuh kening Anya. Anya t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 690

    "Kak Harvis, ini kenapa?" tanya Brielle dengan nada khawatir."Tadi waktu menahan babinya, aku nggak sengaja tergores kukunya. Bukan masalah besar kok.""Aku bantu bersihkan dan perban ya," kata Brielle sambil pergi mengambil kotak P3K.Saat Brielle duduk di laboratorium untuk membersihkan dan memba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status