Share

Bab 323

Penulis: Ayesha
Ketika melihat putrinya yang mungil berjinjit memasang hiasan, hati Brielle mendadak terasa nyeri.

"Mama, lihat deh, aku gantungnya bagus nggak?" tanya Anya sambil tersenyum ceria.

"Bagus sekali," jawab Brielle. Namun begitu berbalik, air matanya tiba-tiba jatuh tanpa bisa ditahan.

"Mama, aku mau gantung yang di sana lagi ya. Nanti kalau sudah besar, aku juga bisa bantu Mama kerja! Aku 'kan asisten kecil Mama."

Brielle menggigit bibir, air matanya berderai deras. Dia menutup mulut dengan tangan,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kepedean kamu Raline...mana mgkn brielle ngejar Raka minta rujuk...in your dream aja....
goodnovel comment avatar
Suryat
brielle dan raka sama sama egois..
goodnovel comment avatar
Renadwijo
ga mikirin perasaan anya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1064

    Brielle kembali ke rumah. Setelah masuk ke ruang kerja, air matanya akhirnya tidak bisa lagi ditahan. Dia menangis karena ayahnya.Memikirkan seseorang yang mendedikasikan diri pada penelitian sepanjang hidupnya, tapi malah dipandang sebagai sebuah peluang bisnis bagi sebagian orang di masa-masa terakhirnya.Beberapa menit kemudian, Brielle mengusap air matanya hingga kering, sorot matanya perlahan berubah menjadi tegas.Mungkin mengejar kebenaran memang tidak lagi ada artinya sekarang. Akan tetapi, dia tidak boleh lemah. Di masa depan, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang dipedulikannya dalam bentuk apa pun.Pukul sembilan, Lastri yang turun untuk memanggil Anya. Anya pun naik ke lantai atas dengan patuh.Sebelum tidur, Anya berkata dengan sedikit murung, "Papa bilang dia mau pergi beberapa hari, nggak tinggal di bawah lagi."Brielle menghiburnya, "Mungkin Papa sedang sakit, jadi harus pergi berobat. Mama yang temani Anya.""Mama, Papa kasihan sekali sendirian. Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1063

    "Baik, aku akan panggil Anya naik untuk makan," kata Brielle.Brielle datang ke lantai 27 dan menekan bel. Melihatnya datang, Gavin lalu tersenyum, "Bu Brielle datang, ya. Kebetulan aku ada urusan dan harus pergi. Tolong bantu jaga Pak Raka sebentar."Brielle sedikit terkejut, lalu bertanya, "Gimana kondisinya sekarang?""Sekarang Pak Raka sudah dalam kondisi demam ringan, tapi dokter khawatir malam ini dia bisa kembali demam tinggi," kata Gavin dengan nada khawatir."Ya." Brielle mengangguk.Gavin langsung terlihat lega, "Kalau begitu, maaf merepotkan Bu Brielle. Aku pamit dulu."Ekspresi Gavin seperti baru saja melepaskan beban berat. Dia membuka pintu dan pergi dengan santai.Raka tidak ada di ruang tamu. Brielle mendengar suara dari ruang bermain. Raka sedang duduk di sofa menemani putrinya bermain balok. Gaga berbaring di sofa, mulutnya bersandar manja di paha Raka sambil menikmati usapan tangannya dengan mata setengah terpejam.Pemandangan ayah, anak, dan seekor anjing itu sebena

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1062

    "Papa, kamu harus cepat sembuh ya! Minggu depan aku ada lomba olahraga orang tua dan anak, aku mau Papa dan Mama ikut menemaniku," kata Anya.Raka tersenyum dan mengangguk, "Oke, Papa pasti datang."Brielle kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibawanya pulang. Dia teringat bahwa di laptop milik ayahnya ada catatan tentang penyakit darah. Dia pun mengambilnya dan mulai membacanya.Semakin dibaca, Brielle menyadari bahwa dalam catatan milik ayahnya itu banyak sekali penelitian tentang leukemia. Brielle mengernyit. Kenapa dalam dua tahun terakhir hidupnya, ayahnya begitu mati-matian meneliti leukemia?Meski ada juga catatan tentang penyakit darah lainnya, jumlahnya tidak banyak. Jadi jelas, di masa-masa terakhirnya, fokus ayahnya bukan pada penyakit darah secara umum, melainkan leukemia.Brielle membuka sistem laboratorium milik Doktor Smith, lalu memasukkan database penelitian leukemia. Di dalamnya ternyata juga ada arah penelitian dan catatan terkait leukemia, bahk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1061

    Karena saat itu Brielle memang polos dan cantik, Gavin langsung terpukau. Waktu itu dia bahkan sempat menghela napas kagum, merasa bahwa istri Raka ini benar-benar orang yang baik.Dibandingkan dengan Devina yang serakah meminta materi dan popularitas, permintaan Brielle begitu minim sampai sering kali terabaikan. Namun sekarang, Brielle telah berubah hingga terasa seolah tak terjangkau lagi.Cairan infus menetes sedikit demi sedikit masuk ke lengan Raka dan Raka pun tertidur.Gavin mendekat untuk merapikan selimutnya dengan hati-hati, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.Bagaimanapun juga, Gavin tetap berharap bosnya bisa mendapatkan Brielle kembali. Kalau tidak, dilihat dari sifat bosnya itu, mungkin Raka akan melajang seumur hidup.....Pukul lima lewat tiga puluh, Brielle menjemput putrinya pulang. Dia tidak berniat memberi tahu putrinya bahwa Raka sedang sakit.Namun begitu sampai di rumah, saat dia hanya pergi sebentar untuk mencuci tangan, Lastri sudah lebih dulu mengatakannya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1060

    Raka memejamkan mata, bahkan kelopak matanya tidak terangkat sedikit pun."Kamu yang tangani." Suaranya dingin, tanpa sedikit pun emosi.Gavin langsung mengerti maksudnya. Dia mengambil ponsel, lalu berjalan ke arah balkon untuk menjawab panggilan itu."Bu Devina, ada perlu apa?" tanya Gavin dengan nada sopan."Di mana Raka? Aku sudah berkali-kali meneleponnya, tapi nggak tersambung. Apa dia lagi sibuk?" Suara Devina seperti biasa, lembut dan ramah."Pak Raka lagi rapat dan nggak bisa menerima telepon. Kalau ada sesuatu, bisa sampaikan padaku," jawab Gavin."Sebenarnya nggak ada apa-apa. Aku cuma ingin tanya kabarnya," ucap Devina sambil tersenyum."Pak Raka baik-baik saja. Bu Devina nggak perlu khawatir.""Baiklah, kalau begitu aku nggak akan ganggu." Devina pun menutup telepon.Gavin memegang ponsel itu, lalu kembali duduk. Dulu, tidak peduli seberapa tidak sabarnya Raka, di permukaan dia tetap menjaga formalitas. Setidaknya hubungan sosial dasar masih dipertahankan.Sekarang, setela

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1059

    Kata-kata Brielle dari awal sampai akhir sepenuhnya berdiri di sudut pandang objektif dan rasional. Tidak terdengar sedikit pun emosi pribadi di dalamnya.Bagaimana mungkin Raka tidak mengerti? Dari sudut pandang medis, dia memang benar."Aku mengerti maksudmu," kata Raka dengan suara serak. Namun kemudian, dia melanjutkan dengan nada rendah dan tegas, "Tapi aku nggak membutuhkannya."Nada suaranya mengandung keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Suara Brielle yang semula tenang tiba-tiba mengandung sedikit kejengkelan. "Raka, sekarang kalau cuma mengandalkanmu seorang sebagai donor, risikonya sangat besar. Lagi pula, kamu baru beberapa kali diambil darah saja sudah jatuh sakit. Jangan terlalu melebih-lebihkan kondisi fisik sendiri."Kerutan di antara alis Raka tiba-tiba mengendur. Bahkan tanpa sadar, sebuah senyuman yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. Jadi, alasan Brielle bersikeras mempertahankan Devina sebenarnya juga karena diam-diam mengkhawatirkan kondisi tubuhnya?"Kamu ..

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 96

    Belasan barang lelang amal berikutnya pun terjual dalam sekejap. Devina berhasil mendapatkan barang lelang termahal malam ini.Acara makan malam resmi dimulai. Alunan musik lembut memenuhi ruangan, aroma anggur mewah menyebar di udara. Para tamu masih asyik membicarakan barang-barang yang baru saja

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 106

    Tak lama kemudian, dua gadis kecil itu kembali asyik bermain bersama. Namun, hati Raline mulai terusik. Kenapa ada ikat rambut wanita di mobil Lambert?Jangan-jangan ... dia sedang punya pacar?Pikiran itu membuat napasnya tercekat. Dia diam-diam melirik profil wajah Lambert yang tampan dari samping

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 75

    Setelah keluar dari lantai sepuluh, akhirnya telinga Brielle sedikit tenang. Dia tersenyum tipis. Jadi, Faye dengan entengnya mengambil alih hasil penemuannya?Bunyi lift menandakan pintu terbuka. Brielle melangkah menuju ruangannya. Golda pun menyambut dengan semangat. "Kak Brielle sudah datang!"M

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 79

    "Ada apa?" Suara Raka terdengar serak, wajah tampannya tampak mengantuk.Brielle menurunkan pandangan. Sesaat, kilat kebencian melintas di matanya. Dia turun dari tempat tidur, tidak ingin melihat Raka lagi.Tatapan Raka tertuju ke arah punggung Brielle. Sorot mata yang biasanya tajam, kini semakin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status