LOGINBrielle menoleh menatapnya. Walaupun dia tidak yakin apakah Raka benar-benar sedang flu, yang pasti dia memang tidak ingin menjemput anak bersama dengan Raka."Nggak perlu. Kamu pulang saja," tolak Brielle dengan datar.Tatapan mata Raka yang dalam sedikit meredup. Namun, dia tidak langsung pergi. Dia hanya mundur dua langkah sambil bersandar pada badan mobil, dan pandangannya tetap tertuju pada sisi wajah Brielle.Brielle bisa merasakan tatapannya. Beberapa detik kemudian, Brielle menoleh dan menatapnya dengan tajam.Ditatap seperti itu oleh Brielle, seulas senyum melintas di mata Raka. Barulah dia membuka pintu mobil, lalu membungkuk masuk ke dalam dan menyalakan mobil untuk pergi.Brielle merapikan rambut panjangnya. Bagaimanapun juga, suasana hatinya sedikit terpengaruh.Saat itu, gerbang sekolah sudah dibuka. Brielle berjalan menuju pintu sekolah bersama para orang tua lain. Ketika Anya keluar, kepalanya tertunduk seolah-olah sedang mengalami pukulan besar. Brielle segera berjongk
Madeline sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa muda. Ketika mendengar suara Brielle, dia terkejut menoleh, lalu wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan."Brielle, kenapa kamu kembali?"Madeline mengatakan beberapa hal kepada para mahasiswa itu, lalu berjalan ke arah mereka. Brielle memperhatikan wajahnya. Sepertinya pemulihan setelah operasinya berjalan cukup baik."Bu Madeline, kalau begitu kalian lanjut mengobrol. Aku kembali ke laboratorium dulu," kata Harvis dengan sopan.Setelah Harvis pergi, Madeline memperhatikan Brielle dengan saksama lalu bertanya pelan, "Brielle, gimana keadaanmu belakangan ini? Anakmu baik-baik saja?"Brielle teringat kejadian pingsan dan dirawat di rumah sakit sebelumnya. Tentu saja dia hanya menyampaikan kabar baik, "Aku baik-baik saja. Bu Madeline sendiri gimana? Gimana pemulihan tubuh Ibu?""Semua indikator sudah mencapai standar. Sekarang timku juga sudah dibubarkan. Setiap minggu aku hanya datang beberapa kali ke kampus untuk mengajar," kata Madeli
"Zondi, kamu juga jangan kecapekan." Brielle mengingatkannya.Hati Zondi terasa hangat. "Aku tahu. Kalian pergi saja makan yang enak."Setelah Zondi pergi, pandangan Harvis jatuh pada wajah Brielle yang terlihat agak pucat. "Gimana situasi di sana sekarang?""Kita ke restoran dulu, kita bicara sambil makan," kata Brielle kepadanya. Belakangan ini memang terlalu banyak hal yang terjadi. Kalau harus mencari seseorang yang benar-benar bisa menjadi pendengar yang baik, Harvis jelas salah satu yang terbaik.Di restoran yang berada di seberang laboratorium, Brielle menceritakan situasi di pihak Doktor Smith. Dia juga sedikit menyinggung tentang hubungan transaksi antara Devina dan Raka.Harvis terdiam cukup lama karena terkejut, baru kemudian bereaksi. "Maksudmu, Raka dan Devina sebenarnya bukan hubungan kekasih, tetapi sejak awal hanyalah hubungan transaksi?""Apakah mereka kekasih atau bukan, aku nggak tahu. Tapi memang ada hubungan transaksi di antara mereka. Raka meminta Devina setidakny
"Selain urusan Anya, tolong jangan ganggu kehidupanku lagi setelah ini." Brielle menatapnya dengan tenang. "Tolong pisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan jelas."Setelah berkata demikian, Brielle berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.Raka berdiri di tempatnya. Dia menatap punggung Brielle yang menjauh, tangannya mengepal pelan, tetapi dia tidak mengejar.Saat itu, Karyo keluar untuk mengambil air minum. Ketika melihat Raka, dia sekalian mengingatkan, "Pak Raka, kamu juga harus lebih banyak beristirahat. Aku lihat tekananmu juga sangat besar."Sekarang Karyo sudah berusia 54 tahun dan rambutnya masih hitam. Sementara pria muda di depannya ini bahkan belum berusia 30 tahun, tetapi rambutnya sudah mulai beruban. Kalau tekanannya terus sebesar ini, mungkin rambutnya akan memutih lebih cepat."Terima kasih, Pak Karyo." Raka mengangguk memberi isyarat, lalu tubuhnya yang tinggi melangkah menuju arah lift.Saat melewati meja perawat, beberapa perawat langsung diam-diam memperhatikan
Keesokan paginya setelah mengantar Anya ke sekolah, Brielle menerima pemberitahuan dari rumah sakit. Semua hasil pemeriksaan kesehatannya sudah keluar dan perawat memintanya datang untuk mengambil laporan.Brielle sebenarnya cukup tahu kondisi tubuhnya sendiri. Hari itu dia tiba tiba pingsan karena tubuhnya sudah bekerja di luar batas dan tidak mampu lagi menahannya.Dia datang ke meja perawat di rumah sakit. Perawat itu mencari laporan miliknya, lalu berkata dengan sedikit heran, "Eh? Aku ingat tadi pagi laporanmu sudah keluar."Pada saat itu, seorang perawat lain yang baru kembali dari kesibukan mengenali Brielle."Doktor Brielle, kamu sudah datang. Laporanmu sudah diambil oleh suamimu ... oh, maksudku mantan suamimu. Dia sedang berada di kantor dokter sekarang."Brielle tertegun beberapa detik.Raka mengambil laporan pemeriksaannya?Setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat, Brielle berjalan menuju pintu kantor dokter. Pintu itu terbuka dan dari dalam terdengar suara Raka yang
Siria tersenyum dan mengangguk. "Bagus kalau begitu. Antarkan aku pulang saja."Hati Jay langsung terasa lega, seolah perjalanan berikutnya akan menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. "Aku pengin dengar musik," kata Siria.Jay segera membuka kunci ponselnya dan menyerahkannya padanya. "Kamu mau dengar lagu apa, pilih saja sendiri."Siria agak terkejut. Tatapannya tertuju pada wajah Jay yang tersenyum. Dia lalu menerima ponsel itu dan memilih lagu yang dia sukai. Musik yang ceria langsung terdengar di dalam mobil, seolah malam di luar pun menjadi lebih tenang.Setelah mengantar Siria sampai ke rumahnya, Siria berkata kepada Jay, "Hati-hati nyetirnya.""Oke," jawab Jay.Namun, dia tidak langsung menginjak pedal gas untuk pergi.Siria menatapnya lalu tersenyum. "Kenapa kamu belum pergi?"Jay tertegun sejenak, lalu baru menyalakan mobil dan pergi. Namun, dia masih menatap sosok Siria melalui kaca spion sampai mobilnya berbelok dan tidak bisa melihatnya lagi.Dalam perjalanan pulang, Ja
"Malam ini Brielle membawa Anya ke rumahku untuk makan malam. Menurutmu, enak nggak?" Lambert balik bertanya.Di seberang, Jay langsung terdiam, tidak tahu harus berbicara apa. "Baiklah! Kita atur lain kali saja."Selesai berbicara, dia menutup telepon.Ponsel Brielle bergetar di atas sofa. Anya yan
Wajah kecil itu kini tumbuh semakin cantik. Dua kepang kecilnya bergoyang lembut saat berjalan, memperlihatkan dahi putih mulusnya. Sementara itu, sepasang matanya yang besar berkilau seperti batu permata hitam.Brielle menunduk dan mengecup kepala kecil putrinya, lalu menggandeng tangannya keluar r
Lambert tidak melanjutkan topik sebelumnya. Ketika mobil mulai mendekati jalan utama menuju kawasan kota tua, dia menoleh sekilas dan bertanya dengan lembut, "Mau mampir minum kopi dulu? Biar santai sedikit."Brielle melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menolak halus, "Aku masih ada pekerjaan
Begitu Lambert melepaskan tangannya, dia melihat posisi pegangan tongkat Brielle agak miring. Dia pun kembali berdiri di belakangnya — tubuhnya yang tinggi menjulang hampir menutupi sosok Brielle sepenuhnya. Suaranya terdengar lembut di telinganya."Pergelangan tanganmu rileks sedikit.""Iya, begitu







