Share

Bab 457

Author: Ayesha
Raut wajah Devina juga tampak kurang baik, sementara Jay menjelaskan, "Raka harus membicarakan urusan pekerjaan dengan Brielle."

Raline menggigit bibirnya. "Pekerjaan sepenting apa sih, sampai harus dibicarakan sekarang?"

Saat itu, staf acara mempersilakan beberapa tokoh senior duduk di barisan depan. Rupanya kursi barisan pertama sudah penuh. Jay pun membawa Devina dan Raline duduk di barisan kedua.

"Kak Devina, kamu nggak apa-apa?" tanya Raline dengan nada khawatir.

Devina menahan senyuman. "A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Lianzzah
nyesel kan...liat mantan muu..
goodnovel comment avatar
Suryat
Raka ngapain duduk dekat2 Brielle,merusak mata saja..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1489

    Devina menggigit bibir bawahnya, lalu memandang ke arah Lius yang sudah pergi dengan tatapan meremehkan. Dia juga bersiap meninggalkan tempat itu.Namun, saat itulah seorang pelayan menghampirinya. "Bu, Anda belum melakukan pembayaran."Tubuh Devina sedikit membeku. Dia berjalan menuju kasir, membayar tagihannya, lalu berbalik pergi.Beberapa hari terakhir, semua kebutuhan makan, tempat tinggal, dan transportasinya selalu diatur oleh orang lain. Dia memang sudah lama tidak mengeluarkan uang sendiri.Devina berjalan keluar dari arena berkuda dengan langkah gontai. Meski sekarang sudah memasuki bulan Agustus, dia justru merasakan dingin menusuk hingga ke tulang.Tanpa Lius, sementara Anwar juga sudah berhenti menanggung biaya hidupnya, tak ada lagi asisten, tak ada lagi manajer, bisa dibilang kini tak ada seorang pun di sisinya yang bersedia membantunya.Saat itu, ponselnya berdering. Devina melihat layar, lalu mengangkat telepon. "Halo.""Bu Devina, sesuai isi kontrak, hari ini adalah j

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1488

    Raka bersikap begitu lembut hingga rasanya sulit dipercaya.Anya mendongak menatap ayahnya, menarik kerah bajunya, lalu bertanya dengan suara lantang, "Papa sayang nggak sama Mama?"Tadi Devina mengatakan bahwa ayahnya tidak mencintai ibunya. Karena itu, dia benar-benar ingin menanyakan pertanyaan ini langsung kepada sang ayah.Raka tertegun sejenak. Kemudian, dia menatap mata putrinya dengan sungguh-sungguh, mengusap rambutnya, dan menjawab dengan suara rendah, "Sayang. Papa sangat mencintai Mama.""Selain Mama, Papa pernah suka sama perempuan lain nggak?" Anya kembali bertanya dengan lantang.Raka mengecup kening putrinya, lalu kembali menjawab dengan serius, "Nggak pernah."Dua kata itu membuat wajah Devina seketika dipenuhi rasa pilu. Dia dipaksa mendengar Raka menyatakan cintanya kepada Brielle tepat di depan matanya.Mata Anya langsung berbinar. Dia memeluk leher ayahnya sambil berkata, "Hm, sekarang Anya sudah tahu."Raka memeluk kepala kecil putrinya. Kemudian, dia kembali meng

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1487

    Saat itu Devina melanjutkan ucapannya, "Benar. Aku memang sengaja mendekati Anya. Setiap melihatnya, aku seperti melihat Brielle, dan itu membuatku muak.""Aku pura-pura menyayanginya, menemaninya bermain, semua itu hanya untuk menyenangkan kakakmu. Tapi dia benar-benar anak yang nggak tahu berterima kasih. Sebaik apa pun aku berpura-pura memperlakukannya, dia sama sekali nggak pernah menghargainya.""Diam!" bentak Raline dengan marah. "Waktu itu Anya masih sekecil itu dan kamu tega memanfaatkannya sekejam itu. Kamu masih berani mengatakan semua ini?"Kebencian yang mendalam melintas di mata Devina. Dengan suara tajam dia berkata, "Kalau dulu Brielle nggak merebut kakakmu dariku, yang jadi kakak iparmu sekarang pasti aku. Mana mungkin masih ada giliran untuk Brielle?"Raline langsung mengangkat alis dan membalas, "Devina, dari mana datangnya kepercayaan dirimu itu? Memangnya kakakku bakal suka sama kamu? Aku beri tahu ya, seumur hidup kakakku hanya mencintai satu wanita, yaitu Kak Brie

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1486

    Devina tertawa sinis. "Kalau bukan karena aku, kamu dan ibumu nggak mungkin bisa hidup sampai sekarang. Beginikah cara Keluarga Pramudita memperlakukan penyelamat mereka?"Raline menatapnya dengan ekspresi dingin. "Devina, keuntungan yang kamu dapatkan jauh lebih besar daripada pengorbananmu. Jadi jangan bicara sembarangan di sini. Lagi pula, dulu kamu sengaja mendekati keluargaku dengan niat tersembunyi. Aku bahkan belum menghitung semua itu denganmu."Devina mendengus kesal. "Bukankah kamu sudah menghancurkan pertunjukanku? Kalau aku sampai jatuh ke titik seperti sekarang, semua ini berkat Nona Raline.""Apa salahnya aku melaporkanmu? Bagiku, seorang seniman adalah profesi yang mulia. Kamu nggak pantas menyandangnya," balas Raline dengan tajam.Devina menggertakkan giginya karena marah. "Kalau saja kamu nggak lahir di keluarga kaya, dengan otakmu itu, kurasa menghidupi diri sendiri saja bakal susah. Masih berani menghakimi orang lain?""Ya mau gimana lagi? Memang nasibku bagus." Rali

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1485

    Lius juga tahu bahwa untuk mendapatkan hati Devina, dia pasti harus mengeluarkan sejumlah uang. Lagi pula, dia memang ingin memamerkan kemampuan finansialnya agar Devina nantinya bersedia tetap berada di sisinya dengan sepenuh hati.Kebetulan ayah sahabatnya memiliki arena berkuda terbesar di Kota Amadeus. Dia pun berkata dengan murah hati, "Tentu saja boleh. Kebetulan akhir-akhir ini aku juga ingin memilih seekor kuda yang bagus. Kita bisa pergi melihatnya sekarang."Hati Devina langsung berbunga-bunga. Sepertinya kesungguhan Lius untuk mengejarnya memang cukup besar. Tadi dia bahkan sempat khawatir pria itu pelit.Senyum merekah di bibir merah Devina. "Terima kasih, Pak Lius. Kalau begitu, ayo kita berangkat."Saat Lius bangkit dan berjalan beberapa langkah, Devina dengan alami langsung menyelipkan lengannya ke lengan pria itu.Lius seketika merasa sangat senang.Kebetulan Devina memang tipe wanita yang paling dia sukai. Saat ini, meskipun wanita itu baru saja "berpindah tangan" dari

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1484

    Sudut bibir Raka sedikit terangkat, sementara sorot matanya seolah dipenuhi bintang. "Sama sekali nggak merepotkan."Begitu Brielle turun ke halaman rumput, Anya langsung berlari menghampiri dan memeluk kakinya. "Mama, nanti kita benar-benar akan tinggal di sini?"Melihat mata putrinya yang penuh harapan, Brielle tersenyum lembut. "Iya. Sebelum kamu mulai sekolah, kita akan pindah ke sini.""Yeay! Asyik sekali! Papa juga tinggal di sebelah, 'kan?" tanya Anya lagi."Iya." Brielle mengangguk. Dia harus mengakui bahwa pekerjaannya ke depan membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa dipercaya. Raka akan menjadi rekan terbaik untuk bersama-sama merawat putri mereka.Saat itu, pria yang berdiri di balkon lantai dua mengeluarkan ponselnya dan menelepon."Segera minta tim renovasi masuk. Dalam seminggu, aku ingin tiga konsep desain interior.""Baik, Pak Raka."Sebelum pulang, Raka mengajukan izin untuk melihat-lihat sekolah. Lingkungan sekolah itu memang luar biasa, bahkan memiliki arena lati

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 35

    Beberapa kali saat bermain bola, pandangan Raka tanpa sadar terus melirik ke arah sofa tempat Brielle tadi duduk. Selesai menangani email-nya, Brielle naik ke atas dan baru turun lagi menjelang waktu makan malam.Masakan Lastri hari itu sangat lezat. Anya pun tampak lahap menyantap hidangan yang sel

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 23

    "Tidur di ranjang saja," kata Raka datar.Brielle melirik ponselnya, saat ini baru lewat tengah malam. Dia langsung mengambil keputusan untuk pulang.Kemudian, dia mengambil jaket dan menyampirkannya ke bahu, lalu menggenggam ponselnya. "Nggak perlu, aku pulang saja tidur di rumah."Gerakan Raka yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 56

    "Pak Raka, ada teman Bapak yang sakit?""Ya," jawab Raka singkat, lalu melirik sosok ramping berseragam jas lab putih di pelukan Harvis. Kemudian, dia segera melangkah masuk ke ruang rawat.Harvis masih merangkul bahu Brielle saat mereka berjalan menuju ruang rawat pasien terakhir. Dia menoleh dan m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 18

    "Kenapa bisa tiba-tiba jatuh ke lantai, ya?" tanya Brielle sambil mengusap pipi kecil putrinya."Aku juga nggak tahu, tiba-tiba saja jatuh," Anya menjawab dengan wajah kecewa.Gerakan tangan Brielle sempat terhenti saat mengelap wajah Anya. Kenapa bisa tiba-tiba jatuh? Jangan-jangan ada yang sengaja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status