LOGINDi depan konter sebuah toko perhiasan mewah di pusat kota, tampak sesosok pria berpakaian kasual sedang membungkuk memilih sesuatu.Sejak dia masuk, seluruh pramuniaga di toko itu langsung terpikat oleh auranya. Bukan hanya tampan, posturnya juga tegap, dengan kesan gagah dan maskulin yang terbentuk secara alami."Ganteng banget! Benar-benar kualitas premium," bisik salah satu pramuniaga."Jangan-jangan dia aktor?""Sepertinya bukan. Dia malah jauh lebih tampan dari aktor papan atas."Niro seolah-olah tak menyadari pandangan yang tertuju padanya. Dia hanya fokus memilih perhiasan. Di wajahnya terpancar aura bangsawan yang seolah-olah sudah ada sejak lahir.Niro menyadari bahwa Brielle selama ini hampir selalu memakai jam tangan di pergelangan tangannya dan jarang sekali memakai kalung. Karena itu, hadiah yang ingin dia berikan kali ini haruslah sesuatu yang bisa dipakai sehari-hari.Bros? Anting?Akhirnya, Niro berhenti di konter anting. Jari-jarinya yang panjang mengetuk ringan permuk
Setelah bermain sekitar sepuluh menit, Anya keluar dan mendapati ayahnya sudah pergi. Dia merasa agak kecewa, tetapi tidak menangis atau membuat keributan.Brielle kembali ke ruang kerja. Ponsel di sampingnya berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat nomor tak dikenal.Dia mengangkat telepon. "Halo, siapa ini?"Dari seberang terdengar suara perempuan yang ramah. "Halo! Apa ini Profesor Brielle? Aku Hannah, asisten Bu Agnes. Profesor Brielle masih ingat aku?"Brielle langsung teringat gadis yang tubuhnya agak berisi itu. Dia tersenyum. "Ingat. Bu Agnes mencariku?""Begini, Bu Agnes akan mengadakan sebuah acara pertunjukan amal penggalangan dana pada hari Sabtu minggu ini, terutama untuk mengumpulkan dana bagi pasien leukemia," jelas Hannah dengan antusias. "Bu Agnes mengatakan bahwa penelitian Profesor Brielle di bidang ini sangat menonjol, jadi berharap dapat mengundang Profesor Brielle sebagai tamu kehormatan untuk hadir.""Jam berapa acaranya?" tanya Brielle."Sabtu ini pukul 7 malam, d
Lambert tersenyum simpul. "Baiklah. Lagi pula, meskipun kamu dan Brielle sudah cerai, tinggal di bawah demi menjaga Anya juga akan memudahkanmu merawat anak."Raka meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa.Saat itu, pintu lift terbuka. Lambert melangkah keluar lebih dulu, disusul Raka di belakangnya, sambil membawa dua kantong boneka musik yang tampak elegan.Mendengar bel pintu, Lastri segera keluar dari dapur dan berkata, "Vivian, pasti pamanmu yang datang."Lastri melirik layar video interkom. Begitu melihat wajah Lambert, dia pun merasa lega dan membuka pintu. Namun, saat melihat ke luar, dia terkejut. "Tuan Lambert, Tuan Raka, kenapa kalian berdua datang?"Lambert tersenyum tipis. "Aku mau jemput Vivian pulang.""Oh! Silakan masuk!" kata Lastri sambil segera mengambilkan dua pasang sandal pria."Anak-anak ada di ruang bermain. Silakan duduk sebentar, aku naik dulu buat beri tahu Nyonya," ujar Lastri, lalu melangkah cepat menuju tangga spiral.Brielle masih sibuk bekerja di ruang k
Brielle mengangguk sambil berpikir, lalu melanjutkan diskusi dengan Harvis sebentar lagi. Karena penyakit itu terlalu langka, Harvis sendiri juga tidak terlalu banyak memahaminya.Saat itu, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengambilnya dan melihat pesan dari Lambert.[ Brielle, bisa tolong jemput Vivian hari ini? Aku ada rapat sampai jam 5.30 sore. ]Menjemput Vivian bagi Brielle hanyalah perkara sepele. Dia tentu bersedia membantu.[ Oke, kamu fokus rapat saja. Aku akan jemput Vivian, lalu membawanya ke rumahku untuk bermain sebentar. ][ Terima kasih. ]Sore harinya, Brielle datang lebih awal ke sekolah. Setelah berbicara dengan guru, dia pun menggandeng Anya dan Vivian keluar dari gerbang sekolah. Di perjalanan, dia sempat membelikan mereka beberapa kue.Kedua anak kecil itu turun dari mobil dengan gembira. Anya langsung menggandeng Vivian dan berkata, "Vivian, aku ajak kamu lihat Smartie yang dikasih papaku. Dia hebat sekali."Vivian juga ingin melihat Smartie.Begitu masuk rumah, Anya
Di seberang sana, Devina terdiam beberapa detik. "Kalau mau menghadapi Brielle, keluarkan kemampuanmu sendiri. Itu akan memberinya tamparan lebih keras."Faye tertegun. Dia segera teringat bahwa Devina hanyalah saudari tiri seayahnya, bukan kakak kandungnya. Meminta bantuan padanya memang tidak sebaik mengandalkan diri sendiri.Nalar Faye pun sedikit kembali. Dia mengembuskan napas dan berkata, "Kamu benar, tapi kamu dan Pak Raka juga nggak mungkin terus begini, 'kan? Kamu hampir 28 tahun. Kalau nggak menikah selagi masih muda, mau nunggu sampai kapan? Kamu nggak takut Pak Raka berubah pikiran?"Faye masih ingin menguji kapan sebenarnya Devina akan menikah dengan Raka. Dia berharap Devina bisa menopang Keluarga Datau."Dua tahun belakangan ini Raka hampir sepenuhnya sibuk dengan pekerjaan. Aku juga nggak ingin mendesaknya di saat seperti ini," ujar Devina dari seberang, lalu menambahkan, "Ke depannya aku juga ada pertunjukan amal, jadi aku juga sibuk.""Dengan statusmu sekarang, masih
"Kak Harvis, ini kenapa?" tanya Brielle dengan nada khawatir."Tadi waktu menahan babinya, aku nggak sengaja tergores kukunya. Bukan masalah besar kok.""Aku bantu bersihkan dan perban ya," kata Brielle sambil pergi mengambil kotak P3K.Saat Brielle duduk di laboratorium untuk membersihkan dan membalut luka Harvis, Faye kebetulan masuk sambil membawa berkas. Melihat pemandangan itu, matanya sontak membelalak. Jemarinya mencengkeram berkas di tangannya dengan erat.Tadi dia juga sempat melihat luka Harvis dan menawarkan untuk membantunya membalutnya, tetapi Harvis menolaknya dengan tegas.Namun sekarang, Harvis justru duduk diam, membiarkan Brielle membersihkan dan membalut lukanya?Jangan-jangan Harvis sengaja membiarkan luka itu supaya Brielle melihatnya dan merasa kasihan?Harvis mengangkat kepala dan melihat Faye, lalu berkata padanya, "Taruh saja berkasnya di atas meja.""Kak Harvis, kamu nggak apa-apa? Parah nggak?" Faye melangkah maju dengan nada khawatir."Nggak apa-apa, cuma lu







