Share

Bab 622

Author: Ayesha
Meira terdiam beberapa detik sebelum menoleh kepada putrinya. "Brielle dan Lambert benar-benar bersama?"

Raline menjawab dengan kesal, "Menurutku mereka sudah lama bersama."

Meira menghela napas. Dulu, dia berharap putrinya bisa menikah dengan Lambert. Kedua keluarga saling mengenal dengan baik, hubungan yang kuat antar-keluarga juga sudah terjalin. Namun kini, Keluarga Seraphine lebih menyukai Brielle dan Meira tidak punya alasan untuk menyanggahnya.

Karena itulah, akhir-akhir ini hubungan Meir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
ya coba aja cepetan suruh Raka nikahin kamu...berhasil ga? si Raka kayaknya msh susah move on .selebihnya mgkn menyesal..melepas berlian .
goodnovel comment avatar
Suryat
sok banget si valakor.. padahal hatinya kebat kebit lihat bersinarnya brielle
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1040

    Keesokan paginya setelah mengantar Anya ke sekolah, Brielle menerima pemberitahuan dari rumah sakit. Semua hasil pemeriksaan kesehatannya sudah keluar dan perawat memintanya datang untuk mengambil laporan.Brielle sebenarnya cukup tahu kondisi tubuhnya sendiri. Hari itu dia tiba tiba pingsan karena tubuhnya sudah bekerja di luar batas dan tidak mampu lagi menahannya.Dia datang ke meja perawat di rumah sakit. Perawat itu mencari laporan miliknya, lalu berkata dengan sedikit heran, "Eh? Aku ingat tadi pagi laporanmu sudah keluar."Pada saat itu, seorang perawat lain yang baru kembali dari kesibukan mengenali Brielle."Doktor Brielle, kamu sudah datang. Laporanmu sudah diambil oleh suamimu ... oh, maksudku mantan suamimu. Dia sedang berada di kantor dokter sekarang."Brielle tertegun beberapa detik.Raka mengambil laporan pemeriksaannya?Setelah mengucapkan terima kasih kepada perawat, Brielle berjalan menuju pintu kantor dokter. Pintu itu terbuka dan dari dalam terdengar suara Raka yang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1039

    Siria tersenyum dan mengangguk. "Bagus kalau begitu. Antarkan aku pulang saja."Hati Jay langsung terasa lega, seolah perjalanan berikutnya akan menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. "Aku pengin dengar musik," kata Siria.Jay segera membuka kunci ponselnya dan menyerahkannya padanya. "Kamu mau dengar lagu apa, pilih saja sendiri."Siria agak terkejut. Tatapannya tertuju pada wajah Jay yang tersenyum. Dia lalu menerima ponsel itu dan memilih lagu yang dia sukai. Musik yang ceria langsung terdengar di dalam mobil, seolah malam di luar pun menjadi lebih tenang.Setelah mengantar Siria sampai ke rumahnya, Siria berkata kepada Jay, "Hati-hati nyetirnya.""Oke," jawab Jay.Namun, dia tidak langsung menginjak pedal gas untuk pergi.Siria menatapnya lalu tersenyum. "Kenapa kamu belum pergi?"Jay tertegun sejenak, lalu baru menyalakan mobil dan pergi. Namun, dia masih menatap sosok Siria melalui kaca spion sampai mobilnya berbelok dan tidak bisa melihatnya lagi.Dalam perjalanan pulang, Ja

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1038

    "Benar. Bu Devina, kamu pulang saja dulu. Apa pun yang ingin kamu katakan, tunggu sampai kamu sadar baru bicara sama Jay."Devina menatap Siria, lalu melirik Jay, kemudian tersenyum tipis."Jay benar-benar beruntung bisa memiliki teman seperti Bu Siria yang begitu pengertian."Devina memang ahli dalam berbicara. Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi sebenarnya menyindir bahwa sikap pengertian Siria terasa palsu. Jay mendengar sindiran dalam kata-kata Devina dan hendak berbicara. Namun, Siria sudah lebih dulu tersenyum tipis."Teman Jay adalah temanku juga. Wajar kalau aku mengkhawatirkanmu."Dada Devina terasa sesak. Dia tahu tidak ada gunanya terus berdebat. Kalau dilanjutkan, justru akan membuatnya terlihat tidak tahu diri dan tidak bijaksana. "Baiklah ... kalau begitu aku merepotkan kalian."Devina memaksakan senyum yang sangat kaku. "Aku agak mabuk perjalanan. Aku ingin duduk di kursi depan. Bu Siria nggak keberatan, 'kan?"Devina menoleh menatap Siria. Siria tersenyum. "Ten

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1037

    "Jay ...," panggil Devina dengan suara tercekat penuh kegembiraan. "Aku kira kamu nggak peduli lagi sama aku."Melihat keadaannya seperti itu, Jay mengulurkan tangan dan berkata, "Ayo. Mobilku ada di luar. Kuantar kamu pulang."Hati Devina langsung dipenuhi kegembiraan. Dia tahu Jay tidak mungkin benar-benar meninggalkannya begitu saja. Dia meraih tangan Jay dan menggenggamnya, lalu mengambil tasnya. Saat berdiri, dia sengaja menabrakkan dadanya ke tubuh Jay.Jay terlihat sedikit canggung. Dia segera memegang bahu Devina."Kamu masih bisa berjalan?"Devina tersenyum dan menggeleng seperti anak kecil. "Nggak bisa. Aku ingin kamu menopangku."Jay hanya bisa menghela napas, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Devina dan membantunya berjalan menuju pintu bar. Di balik tatapan matanya yang tertunduk, Devina memperlihatkan senyum tipis.Sepertinya, Jay sudah membuat pilihan di antara Siria dan dirinya.Devina juga yakin dirinya tidak salah menilai. Seorang pria yang telah mencintainya se

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1036

    "Kamu nggak merasa aku ikut campur terlalu jauh?" Siria bertanya balik.Jay terdiam beberapa detik. Reaksi Siria jelas bukan marah padanya. Bahkan dia malah mengusulkan untuk mengantar Devina pulang bersama. Hal itu benar-benar di luar dugaannya."Siria, kamu benar-benar ... nggak marah sama aku?" Jay kembali memastikan. Bagaimanapun juga, pemandangan di bar tadi mungkin saja membuatnya salah paham.Ekspresi Siria tetap tenang, matanya tampak jernih dan sadar."Kenapa aku harus marah? Kamu dan Bu Devina itu teman. Wajar kalau kamu bantu dia waktu mabuk."Setelah berkata demikian, dia bertanya lagi, "Bukannya dia pacar Pak Raka?"Jay tertegun. "Kenapa kamu bisa tahu?"Setelah itu, rasa terkejut bercampur gembira muncul di hatinya. Mungkinkah Siria pernah menyelidiki Devina? Apakah itu karena dirinya?Tatapan Jay yang panas membuat Siria merasa pikirannya terbaca. Wajahnya sedikit memerah, lalu dia memalingkan kepala. "Kamu masih mau antar dia nggak?""Oke. Kamu tunggu di samping mobilku

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1035

    Namun, hatinya malah terjerat oleh sosok lain. Jay mendongak dan menatap ke arah sofa di tengah. Pada saat itu, dia melihat Siria sedang berbicara dengan seorang pria. Entah apa yang mereka bicarakan, Siria tiba-tiba mengangkat tangan dan memukul ringan bahu pria itu sambil tersenyum dan memarahinya dengan nada bercanda.Hati Jay seolah tertusuk. Dia refleks menarik kembali tangannya yang sedang digenggam oleh Devina. Hati Devina seketika menjadi sedingin tangannya. Dia mengangkat kepala dan mengikuti arah tatapan Jay.Di matanya muncul kilatan gelap dan perasaan tidak senang.Kenapa Siria juga ada di sini?Namun tak lama kemudian, sudut bibir merahnya terangkat. Tatapan itu segera digantikan oleh kilatan penuh perhitungan. Saat itu Siria sedang mengambil tasnya, jelas dia berniat meninggalkan tempat itu.Pada saat itulah tatapan Siria mengarah ke tempat Jay berada.Devina langsung menangkap kesempatan itu. Dia menekan dahinya seolah pusing, lalu hampir seluruh tubuhnya bersandar ke ar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 238

    Saat turun dari panggung, langkah Devina sedikit goyah. Dia sempat mengira akan ada yang memuji permainannya, tetapi semua orang seakan-akan melupakan keberadaannya. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada kelompok kecil di ujung lain aula.Itu adalah tempat Brielle berada."Bu Devina, permainanmu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 221

    Malam itu, Brielle menaruh surat cerai ke dalam laci yang terkunci. Putrinya biasanya suka mengobrak-abrik barang di rumah, jadi tidak boleh sampai hilang. Malamnya ketika memeluk putrinya yang lembut, hati Brielle terasa sangat tenang, bahkan mimpinya pun sangat indah.Keesokan paginya, karena ada

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 217

    Setelah Lambert mengantar Brielle turun, dia bertanya apakah Brielle pulang untuk menjemput anak, karena dia ingin meminta tolong Brielle menjemput Vivian dan makan malam di rumahnya. Dia masih belum bisa meninggalkan pekerjaannya."Tentu saja bisa, nanti jam delapan setengah saja kamu datang menjem

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 234

    Setelah beristirahat di rumah selama dua hari, suasana hati Brielle membaik dan tenaganya pun telah kembali. Pada hari ketiga, dia sudah kembali ke laboratorium untuk bekerja.Setelah menuntaskan laporan risetnya, Madeline mengusulkan agar mereka terus memperkuat verifikasi eksperimen. Dengan demiki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status