공유

Bab 663

작가: Ayesha
Brielle mengerutkan kening. Untuk jenis rapat seperti ini, orang yang bukan dari tim proyek sama sekali tidak perlu ikut.

Tatapan Raka berhenti pada sisi wajah Brielle, membawa emosi rumit yang sulit dibaca.

Pemandangan ini dilihat oleh Faye yang duduk di seberang. Hatinya semakin tidak nyaman. Raka sepertinya bukan datang untuk ikut rapat, tetapi datang untuk melihat Brielle.

Jared berdeham pelan, lalu memulai rapat. "Besok, tim eksperimen kita akan pergi ke basis eksperimen dan mulai bekerja."

Saat itu, ponsel Brielle bergetar. Ada pesan masuk.

Brielle refleks mengambil ponsel dan melihatnya. Pesan dari Niro.

[ Aku kembali ke Kota Amadeus untuk istirahat dan memulihkan cedera. Aku cuma kasih tahu. Kamu nggak usah datang untuk menjenguk kok! ]

Setelah membaca, sudut bibir Brielle terangkat sedikit, jelas menunjukkan senyuman.

Di sampingnya, sepasang tatapan panas langsung menoleh ke arahnya. Tatapan Raka jatuh ke layar ponselnya dengan sorot mata gelap yang sulit ditebak.

Brielle pun
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (16)
goodnovel comment avatar
Adryani Soraya
udh terlalu panjang bab nya,tapi engga the end, bosan tidak ada ujungnya
goodnovel comment avatar
Neneng Rianah
lagian Raka dulu cuma nganggap brili ngambek2 doank malah ditanya mau ngambek sampe kapan padahal berita dia sama Devina dh kaya apaan tau
goodnovel comment avatar
Antono Kastani
Anya sakit hampir mati ditelp 12 x TDK diangkat Raka malah keloni Davina pesta meriah ulth Davina diluar negeri dihotel mewah acaranya mewah mengundang banyak wartawan dan setiap stasiun tv menayangkan pdhal briele nangis darah Anya cuci paru2 dirg operasi hanya briele sendiri semua Kel Raka pesta
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 748

    Wajah Raka langsung menggelap. "Apa sebenarnya yang terjadi?""Aku juga nggak tahu. Setelah Kak Devina selesai mandi, dia tiba-tiba pingsan di lantai. Saat aku menyentuhnya, tubuhnya panas sekali dan dia terus memanggil namamu ...."Tangan Raka yang memegang ponsel mengencang. "Siapa yang merawatnya?""Ibu dan ayahnya, tapi aku rasa orang yang paling ingin ditemui Kak Devina adalah kamu. Kak, cepat pulang!"Urat di pelipis Raka tampak menegang. Dia tanpa sadar mengepalkan tangan, lalu berkata dengan suara serak, "Sampaikan padanya, aku akan segera pulang.""Serius? Kalau begitu, cepat pulang ya! Pasti karena Kak Devina tahu kamu pergi main ski dengan Brielle, makanya dia jatuh sakit.""Kamu yang bilang ke dia?" Suara Raka terdengar dingin dan menakutkan.Di seberang sana, Raline terkejut dan tergagap. "Di ... dia yang tanya padaku." Kemudian, Raline segera meminta maaf, "Maaf, Kak, aku nggak sengaja. Aku janji, ke depannya aku nggak akan pernah lagi membicarakan soal kamu dan Brielle d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 747

    Raka mengajari putrinya bermain ski. Anya meluncur dengan sangat baik. Tekniknya juga cukup bagus.Sementara itu, Vivian lebih penakut. Dia bergerak dengan sangat hati-hati dan pelan.Setelah Brielle terjatuh tiga kali berturut-turut, Anya merasa tak tega melihatnya. Dia mendorong ayahnya dan berkata, "Papa, cepat ajari Mama dong!"Melihat putrinya juga sudah mulai lelah, Raka berkata, "Kamu istirahat di sini dulu. Tunggu Papa."Setelah itu, Raka menoleh ke arah Gavin di samping dan berkata, "Jaga Anya sebentar.""Siap, Bos." Gavin tersenyum.Raka lalu meluncur ke arah Brielle. Saat ini, Brielle sedang berbaring di atas salju untuk beristirahat."Perlu bantuan, Profesor Brielle?" Raka membungkuk dan mengulurkan tangan."Aku bisa sendiri." Brielle memalingkan wajah, menopang tubuh dengan tongkat ski dan berusaha berdiri. Namun, dia berada di bagian lereng kecil yang agak curam, jadi begitu berdiri, dia langsung meluncur ke depan.Raka segera mengejarnya. Saat ini, tubuh bagian atas Brie

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 746

    "Sudah empat tahun," kata Lambert dengan nada santai. "Seharusnya belum terlalu kaku.""Aku mau lihat Papa main ski," sela Anya."Aku juga mau lihat Paman main ski," timpal Vivian.Lambert tersenyum. "Besok kami temani kalian main seharian dulu. Kita hanya akan main di jalur pemula. Vivian, kamu pernah main ski?"Vivian menggeleng. "Belum.""Aku pernah," kata Anya tiba-tiba."Uhuk!" Tiba-tiba, Raka tersedak anggur merah. Dia menutup mulutnya sambil terbatuk pelan.Perhatian Anya langsung teralihkan. "Papa nggak apa-apa?""Nggak apa-apa. Besok waktu main ski, Papa akan ajari kamu dengan baik."Saat itu, ubi panggang keju disajikan. Anya terlihat sangat ingin memakannya. Raka tersenyum lembut dan berkata, "Makan pelan-pelan. Hati-hati panas."Wajah Brielle tak menunjukkan emosi apa pun. Dia dengan telaten membagi ubi keju itu untuk kedua anak kecil.Di seberang, Lambert memandang dengan tatapan lembut, lalu berkata kepada Brielle, "Hari ini mungkin hari paling bahagia bagi Vivian sejak d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 745

    Raka mengepalkan tinjunya di sisi tubuhnya, lalu berbalik dan pergi.Gavin menoleh ke belakang sekali lagi. Brielle dan Lambert berdiri berdampingan, tampak seperti sepasang kekasih. Ditambah lagi tawa ceria kedua anak itu, pemandangan tersebut terlihat begitu harmonis dan indah.Dari sudut matanya, Lambert menangkap sosok Raka yang menghilang. Dia melepaskan tangan yang tadi bertumpu di bahu Brielle dan berkata dengan nada meminta maaf, "Maaf, tadi aku terbawa emosi."Brielle melepas syal dari lehernya dan menyerahkannya kembali kepadanya. "Dingin sekali. Kamu pakai saja. Aku akan masuk ambil punyaku."Lambert terdiam sejenak sebelum menerima kembali syal itu. Sementara itu, Brielle sudah melangkah cepat masuk ke ruang tamu. Dia tidak tahu bahwa Raka sempat datang tadi. Dia juga tidak menyadari bahwa Lambert sengaja melakukan sesuatu agar Raka salah paham.Hal itu hanya diketahui Lambert seorang.Lambert melakukan semua itu karena dia melihat satu hal. Sahabat baiknya, Raka, berniat r

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 744

    Raka memang sengaja menghalangi kedekatannya dengan Lambert.Tidak banyak hal yang benar-benar dipedulikan Raka, tetapi harga diri dan martabat termasuk yang utama baginya. Karena itu, meski Brielle bergaul dengan lawan jenis lain, Raka tidak akan terlalu mencampuri urusannya.Namun, begitu menyangkut Lambert, rasanya seperti menampar wajahnya sendiri."Brielle, sampai jumpa nanti," kata Lambert dengan lembut saat Brielle hendak pergi.Brielle mengangguk, lalu keluar dan naik shuttle menuju vila nomor delapan.Vila itu luas dan terang. Dekorasi kayu alami memancarkan kehangatan. Anya berlari kegirangan ke kamar utama terbesar. "Ini kamar aku dan Mama."Lalu dia berlari ke kamar tamu. "Ini kamar Papa."Koper Brielle belum dibuka. Dia sesekali melirik ponselnya, seolah menunggu sesuatu. Brielle sedang menanti kabar dari resepsionis."Istirahat dulu saja. Kalau ada kabar, pihak resepsionis pasti menghubungimu," ujar Raka dengan suara rendah.Sepuluh menit kemudian, ponsel Brielle berderin

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 743

    Keesokan paginya, Brielle menghubungi Novika. Selanjutnya akan ada sesi pertukaran akademik. Puncak konferensi sudah berakhir kemarin dan Novika juga akan segera pulang ke dalam negeri.Setelah kejadian semalam, Brielle memutuskan untuk meluangkan waktu dan menemani putrinya bermain beberapa hari ke depan.Saat sarapan, Brielle memberi tahu Anya bahwa Vivian akan datang. Anya langsung berseri-seri."Benarkah? Vivian benar-benar akan datang?""Ya. Seharusnya sudah di perjalanan," jawab Brielle.Tak lama kemudian, Raka mengetuk pintu dan masuk. Anya berlari memeluk kakinya dengan gembira."Papa, Vivian dan Paman Lambert hari ini akan datang ke Negara Danmark."Pandangan Raka melirik Brielle sekilas. Dia tersenyum lembut kepada putrinya. "Ya. Papa sudah bertanya sama Paman Lambert. Dia akan tiba sore ini. Kita bisa bertemu mereka di hotel baru.""Berarti kita bisa bermain ski bersama?" tanya Anya antusias."Tentu. Kita pindah ke hotel yang lebih dekat dengan arena ski sekarang," jawab Rak

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status