مشاركة

Bab 666

مؤلف: Ayesha
Lambert juga melihat Brielle datang. Dia membuka pintu dan turun dari mobil, lalu tersenyum. "Kamu sudah sampai."

"Gimana tanganmu?" tanya Brielle dengan khawatir.

"Sudah jauh lebih baik. Selain nggak boleh angkat barang berat untuk sementara, pada dasarnya nggak memengaruhi aktivitas sehari-hari," sahut Lambert.

Rasa terima kasih dalam mata Brielle belum hilang. Dua kali Lambert menyelamatkannya, seumur hidup dia tidak akan lupa.

Lambert tiba-tiba bertanya dengan suara rendah, "Brielle, Sabtu ini kamu ada waktu?"

Melihat ekspresinya yang serius, Brielle mengangguk. "Sabtu aku nggak lembur. Ada apa? Perlu aku bantu?"

"Sabtu adalah perayaan ulang tahun ke-30 perusahaan keluarga kami. Aku ingin mengundangmu." Lambert takut Brielle menolak, jadi menambahkan, "Aku juga berharap kamu bawa Anya agar bisa bermain sama Vivian."

Brielle tertegun selama beberapa detik. Tatapan Lambert penuh harapan. Kehadiran Brielle sangat penting baginya.

Brielle tentu mempertimbangkan pandangan orang luar. Di
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (4)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
brielle bnr kata Bu Madeline...kalau ktmu yg cocok gpp....skalian utk mengobati trauma kegagalan rmh tangga kmrn...biar mantan nyesal....asli pengen liat Raka nyesel.seumur hidupnya
goodnovel comment avatar
Mommy Lily
ya ampun gak nyangka sudah sampai bab 666
goodnovel comment avatar
Iin Iin
pilih salah satu antara Lambert atau Niro Brielle, mereka berdua orang baik dan tulus sama kamu...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 744

    Raka memang sengaja menghalangi kedekatannya dengan Lambert.Tidak banyak hal yang benar-benar dipedulikan Raka, tetapi harga diri dan martabat termasuk yang utama baginya. Karena itu, meski Brielle bergaul dengan lawan jenis lain, Raka tidak akan terlalu mencampuri urusannya.Namun, begitu menyangkut Lambert, rasanya seperti menampar wajahnya sendiri."Brielle, sampai jumpa nanti," kata Lambert dengan lembut saat Brielle hendak pergi.Brielle mengangguk, lalu keluar dan naik shuttle menuju vila nomor delapan.Vila itu luas dan terang. Dekorasi kayu alami memancarkan kehangatan. Anya berlari kegirangan ke kamar utama terbesar. "Ini kamar aku dan Mama."Lalu dia berlari ke kamar tamu. "Ini kamar Papa."Koper Brielle belum dibuka. Dia sesekali melirik ponselnya, seolah menunggu sesuatu. Brielle sedang menanti kabar dari resepsionis."Istirahat dulu saja. Kalau ada kabar, pihak resepsionis pasti menghubungimu," ujar Raka dengan suara rendah.Sepuluh menit kemudian, ponsel Brielle berderin

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 743

    Keesokan paginya, Brielle menghubungi Novika. Selanjutnya akan ada sesi pertukaran akademik. Puncak konferensi sudah berakhir kemarin dan Novika juga akan segera pulang ke dalam negeri.Setelah kejadian semalam, Brielle memutuskan untuk meluangkan waktu dan menemani putrinya bermain beberapa hari ke depan.Saat sarapan, Brielle memberi tahu Anya bahwa Vivian akan datang. Anya langsung berseri-seri."Benarkah? Vivian benar-benar akan datang?""Ya. Seharusnya sudah di perjalanan," jawab Brielle.Tak lama kemudian, Raka mengetuk pintu dan masuk. Anya berlari memeluk kakinya dengan gembira."Papa, Vivian dan Paman Lambert hari ini akan datang ke Negara Danmark."Pandangan Raka melirik Brielle sekilas. Dia tersenyum lembut kepada putrinya. "Ya. Papa sudah bertanya sama Paman Lambert. Dia akan tiba sore ini. Kita bisa bertemu mereka di hotel baru.""Berarti kita bisa bermain ski bersama?" tanya Anya antusias."Tentu. Kita pindah ke hotel yang lebih dekat dengan arena ski sekarang," jawab Rak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 742

    Brielle memalingkan wajah dan berkata dingin, "Kamu nggak punya hak untuk mencampuri pergaulanku.""Kamu harus banget ya buat aku kesal?" Nada bicara Raka terdengar rendah sambil menahan emosi. "Apa kamu benaran nggak tahu niat Lambert sama kamu?"Brielle tiba-tiba merasa lucu sekaligus marah. Dia sebenarnya tidak ingin bertengkar, tetapi ucapan pria itu benar-benar membuatnya tidak bisa menahan diri."Raka, sadarilah satu hal. Sekarang aku lajang. Aku punya kebebasan dan hak untuk berhubungan dengan siapa pun," kata Brielle dengan nada sinis."Jadi kamu benar-benar menyukai Lambert?" tanya Raka dengan suara serak, seolah dari kalimat Brielle dia menangkap niat untuk memulai hubungan baru.Brielle tidak berniat menjawab. Dalam hatinya, Lambert adalah teman, penolong, dan seseorang yang dia hormati. Tidak ada alasan baginya untuk menjelaskan hal itu kepada Raka secara rinci.Di luar jendela, kepingan salju berjatuhan. Di dalam ruangan terasa hangat seperti musim semi. Brielle sudah mele

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 741

    Suara yang lembut itu membuat sorot mata Raka sedikit meredup.Brielle meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke arah pintu dan berkata kepada Raka, "Kamu pulang saja. Aku mau istirahat."Mengingat malam ini Raka sudah menjaga Anya, sikap Brielle kepadanya terbilang cukup baik."Istirahatlah yang cukup," ujar Raka saat melewatinya.Brielle menutup pintu, lalu pergi mandi. Orang yang mengirim pesan barusan bukan orang lain, melainkan Syahira, hanya obrolan ringan antar sahabat.Keesokan paginya, seperti biasa Brielle mengantar Anya ke depan kamar Raka, lalu dia kembali pergi mengikuti konferensi. Konferensi ini berlangsung tiga hari penuh dan setelah itu masih ada dua hari diskusi akademik lanjutan.Brielle menghadiri rapat hingga pukul sepuluh malam sebelum kembali ke hotel. Seperti biasa, Raka menggendong Anya yang sudah tertidur dan membawanya ke kamar utama Brielle.Saat Raka menutup pintu dan keluar, ponsel Brielle tiba-tiba berdering. Dia mengangkatnya dan melihat layar. Ternyata yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 740

    "Profesor, inilah Dokter Brielle," ujar Smith.Pakar senior itu terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan nada kagum, "Usia semuda ini sudah meraih pencapaian seperti itu. Bagus sekali. Smith pernah menyebutkan penelitianmu tentang leukemia. Anak muda yang luar biasa."Brielle sangat mengaguminya. Buku-buku karya profesor tersebut juga merupakan bacaan wajib yang selalu dia pelajari siang dan malam.Setelah berbincang sejenak, konferensi pun resmi dimulai. Penyelenggara mengatur beberapa akademisi papan atas untuk naik ke panggung dan menyampaikan presentasi. Setiap sesi terasa sangat memukau. Brielle memegang buku catatan, jemarinya yang ramping bergerak cepat menuliskan poin-poin penting.Saat jeda minum teh, Novika melihat Brielle masih sibuk mencatat. Dengan rasa sayang, dia membawa secangkir teh hangat dan menyerahkannya. "Minumlah sedikit. Biar tubuhmu hangat.""Terima kasih, Dokter Novika," kata Brielle sambil tersenyum."Kelihatannya kamu sangat diperhatikan di sini," ujar No

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 739

    Brielle menggandeng Anya dan melangkah cepat keluar dari lift, sengaja menjaga jarak dari Raka.Raka berjalan santai di belakang. Sosoknya yang tinggi memantulkan bayangan panjang di lorong, sementara pandangannya tertuju pada punggung ibu dan anak di depannya.Sesampainya di depan pintu kamar Brielle, Anya tak kuasa menoleh ke arah ayahnya. "Mama, Papa malam ini bisa tinggal sama kita?"Brielle membungkuk dan berkata lembut, "Papa punya kamarnya sendiri.""Tapi ...." Anya mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin tinggal sama Papa dan Mama."Raka berjongkok, menahan bahu kecil putrinya. "Papa masih harus mengurus pekerjaan. Besok baru Papa bisa menemanimu bermain, ya?"Anya pun hanya bisa mengangguk pelan.Brielle membuka pintu kamar dan menggandeng Anya masuk, lalu menutup pintu. Dia menatap putrinya dan berkata dengan hati-hati, "Anya, Papa dan Mama sekarang sudah nggak bersama lagi, tapi kami tetap sama-sama menyayangimu."Anya mengangguk, seolah mengerti setengah-setengah. Tiba-tiba dia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status