INICIAR SESIÓNJay berdiri sambil memandang Devina dari atas, tatapannya tajam seolah bisa menembus segalanya."Kamu kira aku masih orang bodoh seperti dulu yang bisa kamu tipu cuma dengan beberapa tetes air mata? Air matamu sekarang bukan penyesalan, tapi takut kehilangan aku sebagai cadangan. Takut kehilangan sumber daya dan materi yang bisa aku kasih ke kamu."Air mata Devina masih menggenang di sudut matanya, tapi wajahnya sudah menunjukkan kepanikan karena isi hatinya terbongkar."Jay, kenapa kamu bisa bicara seperti itu ...."Jay langsung memotongnya, "Nggak usah akting. Jalani sendiri jalan yang kamu pilih. Soal waktu dan uang yang aku habiskan untuk kamu, aku anggap sudah selesai. Jadi, jangan pernah lagi muncul di depanku seumur hidup ini. Jangan datang lagi membuatku muak."Nada bicara Jay terdengar tenang, tapi setiap katanya seperti pisau yang menusuk hati Devina. Devina akhirnya benar-benar sadar bahwa semua kepura-puraan dan cara liciknya sudah tidak berguna lagi di hadapan Jay yang sud
Devina membelalakkan mata. Terutama saat Jay menyebut Lambert, dia langsung panik seolah semua rahasia dan pikirannya sudah dibaca oleh Jay."Jay, kamu ini ngomong apa sih? Aku dan Lambert dari dulu cuma teman!""Sudah sampai sekarang, kamu masih pikir aku ini pantas jadi orang bodoh yang kamu permainkan seenaknya?"Tubuh Devina langsung terasa dingin. Apa sebenarnya yang sudah diketahui Jay? Kenapa dia bisa tiba-tiba melihat semuanya dengan jelas?"Bukan begitu, Jay, kamu dengarkan aku. Aku dan Raka hanya hubungan transaksi, aku dan Lambert juga cuma teman. Tapi kamu tahu perasaanku ke kamu itu sungguhan. Aku nggak pernah menyangkal kalau aku suka kamu."Devina buru-buru melangkah maju dan ingin meraih lengan Jay, ingin menjelaskan semua perasaannya. Namun, Jay menghindari sentuhannya dengan jijik."Jangan sentuh aku."Jay mundur satu langkah untuk menjaga jarak darinya. Rasa jijik di matanya hampir meluap."Devina, mulai sekarang aku nggak sudi lagi disukai kamu. Ke depannya, jangan
Senyum Devina sempat membeku dua detik, lalu dia tiba-tiba menunjukkan ekspresi memohon. "Bu Siria, bisa bantu aku? Biarkan aku bertemu Jay dulu untuk bicarakan urusan pribadi?"Siria tertegun. Melihat waktu janji dengan Jay masih cukup lama, dia mengangguk. "Oke, kamu naik saja dulu. Nanti aku menyusul."Devina langsung diam-diam merasa senang. Dia masih belum tahu kenapa Jay menghindarinya, jadi dia harus mencari tahu dulu. Kalau Siria ada di sana, itu akan mengganggu caranya berbicara dengan Jay."Terima kasih banyak, Bu Siria. Kamu baik sekali," kata Devina dengan penuh rasa terima kasih.Siria berkata, "Aku tunggu di lobi saja. Kamu naik dulu."Devina melirik jam tangannya, lalu berjalan cepat menuju arah lift. Para resepsionis tidak berani menghentikan kedua wanita yang dekat dengan Jay ini. Apalagi, Devina adalah tamu kehormatan Jay sebelumnya. Setiap kali Devina datang, dia tidak pernah perlu membuat janji dan bisa keluar masuk sesuka hati.Sementara Siria, belakangan ini dia s
Devina menggenggam ponselnya erat. Tentu saja dia tahu itu hanya alasan dari Gavin, Raka memang tidak ingin menerima teleponnya."Pak Gavin, ini soal kerja sama antara Grup Datau. Aku ingin minta Raka ....""Bu Devina." Gavin tiba-tiba memotongnya dengan nada yang tetap tenang, "Untuk urusan kerja sama bisnis, silakan langsung hubungi divisi terkait. Pak Raka nggak menangani hal-hal seperti itu. Kalau nggak ada hal lain, aku tutup teleponnya.""Tunggu, Gavin ...." Devina berseru dengan cemas, "Apa kamu nggak bisa bantu menyambungkannya? Atau kasih tahu aku dia ada di mana, aku akan datang sendiri menemuinya.""Maaf, Bu Devina. Jadwal Pak Raka nggak bisa diinformasikan. Sampai jumpa." Gavin menutup telepon dengan tegas.Devina duduk kaku di tempat, mendengar nada sambung yang berulang-ulang, seolah menjadi ejekan baginya. Rasa terhina dan tak berdaya langsung membanjiri dirinya. Kapan dia pernah diperlakukan sedingin ini? Bahkan Gavin sekarang bersikap seperti ini padanya?Devina menggi
Perasaan dan kondisi batin Raline sekarang memang sudah banyak berubah. Dari awal yang penuh ketakutan terhadap penyakitnya, kini dia benar-benar sudah lebih tenang. Lagi pula, jika dia bisa pulih, itu berarti penyakit ibunya juga memiliki harapan untuk disembuhkan.....Di vila, Devina baru saja menerima telepon dari ibunya dan suasana hatinya sedang buruk. Freyna membawa kontrak iklan yang baru diterima dan meletakkannya di depannya."Devina, aku tahu belakangan ini suasana hatimu nggak baik. Tapi, uang yang datang sendiri ini, apa nggak sebaiknya kita ...."Devina melihat kontrak iklan itu, lalu berkata dengan kesal, "Iklan sampah apa ini? Kamu suruh aku jadi bintang iklan popok?""Bukan, maksudku ...." Freyna mencoba menjelaskan.Devina membanting kontrak itu ke meja dengan marah, "Kamu pikir aku sudah terpuruk sampai harus menerima iklan apa saja? Iklan yang merendahkan statusku begini, jangan pernah kamu bawa lagi."Freyna menghela napas, lalu membujuk dengan sabar, "Devina, seka
Dari balik kaca, Brielle melihat Raka yang duduk tenang di kursi dan lengannya terulur. Perawat melakukan prosedur pengambilan darah dengan terampil.Seolah menyadari keberadaan Brielle di luar, Raka mengangkat kepala. Tatapannya kembali dalam dan tenang seperti biasa. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, lalu Brielle langsung berbalik untuk pergi.Perawat mencabut jarum dan menekan bekas tusukan dengan kapas. Raka mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu berdiri. Dia menggulung lengan kemeja dan memperlihatkan lengannya yang kokoh. Setelah menekan beberapa detik, dia merapikan kembali lengan bajunya dan berjalan menuju pintu dengan tenang.Brielle baru hendak masuk ke kantor ketika mendengar langkah kaki di belakangnya. Dia pun berbalik.Raka berdiri beberapa langkah darinya dan menjaga jarak yang tepat."Dokter Brielle," sapanya dengan nada bicara formal.Brielle mengangkat pandangan dengan dingin. "Ada perlu?""Aku datang untuk menyelesaikan pengambilan darah minggu ini,"
Hari ini setelah Brielle dan Madeline selesai menyusun laporan, ponsel Brielle berbunyi. Brielle mengira itu pesan kerja, tetapi ketika melihat, ternyata pesan itu dikirim oleh Niro.[ Brielle, ada paket yang kemungkinan akan dikirim hari ini. Ingat untuk menerimanya. ]Brielle terkejut. Apakah Niro
"Aku sudah kasih tahu Bu Madeline tentang keputusanku. Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Setelah menuangkan kopi, Brielle menuju kantor pribadinya."Setengah jam lagi, aku akan datang menemuimu." Nada bicara Raka tidak memberi ruang untuk penolakan.Brielle bahkan belum sempat menjawab keti
"Aku ada urusan," sahut Harvis.Namun, Faye mengira itu cuma alasan untuk menutupi kenyataan bahwa dia diabaikan. Dia merasa tidak adil untuk Harvis dan berkata dengan nada tak puas, "Bahkan Brielle saja bisa ikut makan bareng Pak Justin dan yang lain. Bu Madeline sama Profesor Louie agak pilih kasi
Pukul 8 pagi, Anya bangun. Lastri sudah menyiapkan sarapan. Mereka berencana berangkat pukul 9 pagi.Sekitar pukul 8.30 pagi, Gaga yang sedang tidur tengkurap di ruang tamu tiba-tiba mencium sesuatu. Dia pun berdiri dengan waspada dan berlari ke luar halaman sambil mengendus-endus.Saat itu, bel rum







