Mag-log in"Kamu kenapa kabur dari anak buahnya juragan Somat. Bukannya enak ya jadi istri juragan Somat yang kaya raya itu?" tanya Darsa, lagi dan lagi melirik ke arah bukit kembar Utari.
"Enghhh ... Itu, Tuan." Utari menjeda ucapannya sejenak, karena merasa gugup. "Sebenarnya saya dijual sama Bapak saya ke juragan Somat untuk melunasi hutang," jelas Utari dengan kepala tertunduk malu.
"Oh, ternyata begitu," sahut Darsa menganggukkan kepalanya pelan.
"Lalu, tujuan kamu sekarang ke mana?" tanya Darsa lagi pada utari.
Utari melirik takut-takut ke arah wajah tampan lelaki matang yang ada di sampingnya itu. "Saya mau ke kota, Tuan," jawab Utari pelan.
"Waduh, kalau ke kota malam-malam terus sendirian kayak gini berbahaya untuk kamu. Nanti yang ada kamu diperkosa sama orang-orang yang ada dijalanan dan asing bagi kamu. Emangnya kamu mau masuk ke lubang yang sama?" Kali ini Darsa menatap lekat wajah Utari.
"Terus saya harus bagaimana, Tuan? Saya enggak mau dikawinkan sama juragan Somat," tanya Utari yang mulai cemas kembali.
"Saya punya pilihan untuk kamu. Saya akan beli kamu dari tangan juragan Somat dan kamu tinggal di rumah saya. Atau kamu saya turunkan di sini sendirian dengan saya kasih kamu uang lima ratus ribu untuk ongkos pergi ke kota. Jadi, kamu mau milih yang mana?"
Darsa langsung menepikan mobilnya. Lalu memutarkan posisi duduknya mengarah lansung ke arah Utari. "Saya enggak bermaksud merendahkan kamu. Karena saya memang butuh seseorang untuk mengurusi rumah saya dan ibu saya yang sedang sakit juga," jelas Darsa secara rinci.
Utari pun juga memutar posisi duduknya, hingga mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Tanpa sadar, gerakan yang Utari timbulkan membuat Darsa semakin panas dingin.
"Maaf, Tuan. Apa Utari enggak merepotkan Tuan lagi? Utari takut tidak becus mengurusi rumah milik Tuan. Apalagi mengurusi orang sakit seperti ibu Tuan. Utari belum punya pengalaman sama sekali, Tuan," ucap Utari panjang lebar pada Darsa.
"Enggak apa-apa, Utari. Saya akan maklumin soal itu. Ibu saya juga bukan orang yang berpenyakit berat, beliau hanya mempunyai penyakit gula dan darah tinggi. Pekerjaan kamu cuma hanya mengingatkannya untuk minum obat, membuat makanan, dan menemani ibu saya di rumah."
"Ya sudah, Tuan. Kalau begitu Utari terima tawaran dari Tuan," putus Utari final, dengan senyuman malu-malu pada Darsa.
"Ehem! Kaki kamu seksi juga, ya," ucap Darsa keceplosan yang arah pandangannya tertuju pada betis Utari yang terbuka.
"A-apa, Tuan?" tanya Utari terbata-bata yang ingin memastikan fungsi dari pendengarannya.
Darsa spontan gelagapan. Ia memaki dalam hatinya atas kecerobohan mulutnya yang tidak bisa dikontrol sedikit pun.
"Enghhh ... Maaf, Utari. Saya enggak bermasud berpikiran kotor tentang kamu. Saya hanya mau bilang kalau baju kebaya yang kamu kenakan itu terlalu ketat," ucap Darsa yang meralat ucapannya tadi.
Dengan polosnya, Utari langsung percaya gitu saja. "Iya, Tuan. Saya juga merasa sesak di bagian dada," balas Utari, yang dengan bodohnya malah menarik kebayanya ke bawah dan sangat jelas menampakkan belahan bukit kembar yang sedap dipandang mata oleh Darsa.
"Ya sudah, ini kamu ganti saja dengan pakaian saya." Darsa memberikan totebage berisi baju bersih kepada Utari.
"Tapi, Tuan, Utari ganti bajunya di mana? Di sini ada, Tuan. Takutnya nanti Tuan mengintip Utari yang sedang berganti baju," ucap Utari dengan lirih, yang kedua pipinya sudah memerah malu.
Sebelum menjawab, Darsa terbatuk kecil. "Enggak apa-apa. Saya akan hadap depan terus, nanti kamu gantinya di kursi belakang saja."
Utari mengangguk pelan. Tangannya pun sudah memegang handle pintu Darsa. Tetapi, langsung diturukan ketika tangan besar nan kekar milik Darsa sudah berada di atas pahanya.
"Kamu jangan keluar, mending lewat sini saja," ucap Darsa, yang tanpa sadar mengelus paha Utari seduktif.
Utari semakin merasa risih atas gerakan tangan dari Darsa. "Maaf, Tuan. Bisa turunkan tangan Tuan dari atas paha Utari?" tanya Utari masih menggunakan kesopanan.
Seakan kepalanya seperti disiram oleh air yang sangat dingin. Darsa akhirnya sadar dan lagsung menarik tangannya secepat mungkin. "Oh, ya ampun. Maaf, Utari. Tangan saya memang suka gatal dan sering digesek-gesek supaya gatalnya hilang," alibi Darsa, yang tentu saja semuanya bohong.
Utari hanya bisa menganggukkan kepalanya keki. "Tuan, lampunya tolong di matikan, ya,," pinta Utari dengan suara pelan tanpa menatap ke wajah Darsa.
Darsa menganggukkan kepalanya menyanggupi permintaan dari Utari, meski di dalam hatinya jelas-jelas menolak dengan mentah. "Oke, saya akan matikan lampunya.
Setelah lampu di dalam mobil memang benar-benar padam. Utari langsung bergegas berpindah tempat ke kursi penumpang dengan melewati sela-sesa kursi yang ada di depan. Kain rok kebaya yang dipakai oleh Utari telah tersibak sampai sebatas betis atas. Dan lagi-lagi Darsa dibuat panas dingin oleh kemolekan tubuh dari Utari.
"Astaga, lama-lama saya bisa gila bersama Utari. Keimanan saya selalu diuji saat melihat keindahan dari tubuh Utari,'' gumam Darsa berdecak kesal dari dalam hatinya.
Tidak mau kehabisan akal, Darsa memutar kaca spion tengah mobilnya dan mengarahkan ke arah posisi Utari berada. Senyuman lega milik Darsa kembali terukir di bibirnya. Gerakan jemari Utari yang gemulai membuka kancing kebaya membuat kepala Darsa semakin pening. Meski dalam keadaan gelap, Darsa sangat yakin sekali jika bukit kembar milik Utari sangat besar sekali.
"Untung cuma Bagain atas yang kelihatan, apalagi yang bagian bawah. Bisa-bisa saya jadi gila," ucap Darsa.
***
Halo para pembaca. Jangan lupa untuk memberikan vote, coment dan share.
Gelap, dingin, dan bau apek yang menyengat. Larasati terbangun dengan rasa pening yang luar biasa, seolah ribuan jarum menusuk saraf di balik matanya. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun gesekan rantai besi yang dingin di pergelangan tangannya memberikan jawaban instan, ia kembali menjadi tawanan. Kali ini, bukan di gubuk kumuh atau di kamar simpanan Darsa, melainkan di sebuah ruang bawah tanah yang dindingnya dilapisi batu alam tua, mungkin ruang rahasia di bawah villa kolonial Bramantya. "Sudah bangun, Ratu kecil?" Suara itu bergema, datang dari sudut ruangan yang remang-remang. Bramantya duduk di sana, memutar-mutar gelas berisi cairan merah pekat—anggur atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan. Di atas meja di sampingnya, terletak dokumen-dokumen yang selama ini Larasati perjuangkan, sertifikat saham Wijaya Internasional dan kunci brankas bank Swiss milik Darsa. "Kamu... kamu tidak akan bisa lolos dengan ini," suara Larasati serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar
Fajar belum benar-benar pecah di langit Bogor. Kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Salak, menyembunyikan pepohonan besar yang tampak seperti raksasa diam yang mengawasi. Larasati duduk di kursi belakang mobil taktis, tangannya mengenakan sarung tangan kulit hitam, sementara matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang mulai berbatu. Di sampingnya, Bara memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan mekanis yang tenang. Di belakang mereka, dua mobil berisi personel keamanan terlatih mengikuti tanpa lampu sorot. Mereka bergerak seperti hantu. "Nona, kita hampir sampai di titik koordinat," bisik Bara. "Villa itu terisolasi. Tidak ada catatan kepemilikan di dinas pertanahan lokal. Benar-benar sebuah blind spot." Larasati hanya mengangguk. Pikirannya melayang pada boneka kain yang terbakar di panti asuhan kemarin. Bramantya Wijaya bukan sekadar pria yang ingin merebut perusahaan; dia adalah seorang arsitek penderitaan. Dia membiarkan Larasati tumbuh dalam kemiskinan agar dia memilik
Hujan di luar Lembaga Pemasyarakatan telah berubah menjadi gerimis tipis yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Larasati duduk di dalam mobil SUV hitamnya, matanya terpaku pada layar ponsel. Pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu terasa seperti siraman air es di tengah api balas dendamnya yang baru saja memuncak. “Pemilik Wijaya yang sesungguhnya bukan hanya ibumu... dan 'kakak' ibumu masih hidup di suatu tempat.” Larasati mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini, narasi yang ia terima dari Supardi dan Sanjaya adalah bahwa ibunya, Rahayu Wijaya, merupakan pewaris tunggal setelah kematian kakeknya. Sanjaya hanyalah adik sepupu yang haus kuasa yang masuk melalui celah pernikahan dan pengkhianatan. Namun jika pesan ini benar, berarti ada satu kepingan puzzle yang sengaja dihilangkan dari sejarah keluarga Wijaya. "Bara," suara Larasati terdengar parau namun tajam di keheningan kabin mobil. "Ya, Nona?" jawab Bara sambil tetap waspada menatap kaca s
Lembaga Pemasyarakatan terlihat lebih menyeramkan di bawah guyuran hujan badai. Berkat bantuan Adrian Wong yang kini terpojok, Larasati berhasil mendapatkan akses ke unit isolasi paling bawah, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai, dan hanya suara tetesan air dari atap yang bocor yang menjadi teman. Larasati melangkah melewati barisan sel besi dengan langkah yang mantap. Ia mengenakan mantel hitam panjang, wajahnya sedingin marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah termos kecil berisi teh herbal, teh dengan campuran yang sama persis seperti yang dulu diberikan Sarah untuk menggugurkan kandungannya. "Buka pintunya," perintah Larasati pada sipir yang sudah disuap. Pintu besi itu berderit terbuka. Di dalam ruangan sempit yang hanya berisi dipan semen, Darsa duduk meringkuk. Tubuhnya jauh lebih kurus, matanya cekung, dan tangannya gemetar akibat sakau atau mungkin trauma dari siksaan narapidana lain. Saat melihat Larasati, Darsa mencoba berdiri, namun kakinya lemas. "Utar
Gudang tua di kawasan pelabuhan itu masih menyisakan aroma karat dan air laut yang payau. Di sinilah, beberapa bulan lalu, Utari yang rapuh nyaris kehilangan nyawanya di tangan Juragan Somat. Namun malam ini, ia kembali bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai penguasa kegelapan yang sedang menunggu mangsanya. Larasati duduk di kursi besi yang dingin di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam yang berayun. Di belakangnya, Bara berdiri seperti bayangan maut yang siap menerjang. Suara langkah sepatu pantofel yang mahal terdengar beradu dengan lantai semen. Adrian Wong masuk dengan santai, tangan di saku jasnya, dan senyum tipis yang masih tersungging di bibirnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Tempat yang cukup nostalgik untuk sebuah pertemuan bisnis, Larasati," ucap Adrian sambil menatap sekeliling dengan jijik. "Kenapa kita tidak bicara di restoran berbintang saja?" Larasati tidak tersenyum. Ia melemparkan ransel berisi uang dan dokumen palsu milik Malik ke depan kak
Jakarta diguyur hujan deras saat Larasati melangkah keluar dari gedung Wijaya Group. Sorot lampu kamera wartawan menyambar-nyambar dari balik pagar betis pengawal, namun ia tetap bungkam. Pikirannya tertuju pada satu nama: Malik. Jika pria itu benar-benar memegang dokumen medis dari dua puluh tahun lalu, maka seluruh kemenangannya saat ini hanyalah istana pasir. "Nona, kita punya lokasi Malik," bisik Bara sambil membukakan pintu mobil SUV hitam yang antipeluru. "Dia bersembunyi di sebuah motel murah di kawasan pelabuhan. Tampaknya dia sedang menunggu instruksi selanjutnya untuk muncul di stasiun televisi besok pagi." "Jangan beri dia kesempatan untuk menghirup udara besok pagi sebagai orang merdeka," desis Larasati. "Bawa saya ke sana." Motel itu kumuh, berbau amis garam dan solar. Di kamar 204, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sedang memasukkan tumpukan uang ke dalam tas ranselnya. Dialah Malik. Wajahnya tampak cemas, matanya terus melirik ke arah pintu. Tiba-tiba,
"Assalamu’alaikum, Mbak Utari,” salam Ajeng kepada kakaknya. “Wa'alaikum salam, adik Mbak yang cantik,” jawab Utari, yang menghentikan kegiatan menyapunya. “Mbak Utari enggak sekolah lagi hari ini, ya?” tebak Ajeng. “Iya, Mbak enggak sekolah lagi untuk hari ini. Karena Mba
Mobil yang dikendarai oleh tuan Darsa akhirnya sampai di sebuah villa yang sangat megah dan mewah. Ada gerbang tinggi yang menghalangi masuk ke dalam villa.Dengan gerakan luwes, Darsa mengambil remote control di balik dasboard mobilnya. Kemudian, membuka kaca jendela mobilnya dan langsung
"Sayang, kenapa kamu menghindar terus, hem? Kita enggak akan melakukan hubungan suami istri sekarang juga sebelum saya mengucapkan ijab qobul,” ucap Somat dengan suara mendayu dilembut-lembutkan.Tangan Utari semakin mencengkram kuat kaos usang yang dipakainya. Apalagi tatapan cabul
Sore yang hampir menjemput malam yang sunyi. Ada Utari yang diseret paksa oleh bapaknya untuk pergi menuju rumah juragan Somat.Banyak pasang mata tetangga yang memperhatikan mereka berdua, namun tidak ada yang berani untuk melawan kebengisan seorang Saman, sang preman kampung yang ker







