Mag-log inMobil yang dikendarai oleh tuan Darsa akhirnya sampai di sebuah villa yang sangat megah dan mewah. Ada gerbang tinggi yang menghalangi masuk ke dalam villa.
Dengan gerakan luwes, Darsa mengambil remote control di balik dasboard mobilnya. Kemudian, membuka kaca jendela mobilnya dan langsung menjulurkan tangannya ke luar guna menyatukan sensor yang tertempel di dinding pagar itu.
"Wah ... Ini villa pribadi milik Tuan?" tanya Utari berdecak kagum menyaksikannya.
"Iya, ini punya saya. Tapi, sudah lama tidak ditempati. Karena saya terlalu sibuk di luar kota," jawab Darsa sekenanya.
"Berarti Tuan ini orang kaya juga di kampung ini, ya?" tanya Utari yang semakin tidak mengontrol rasa antusiasnya mengetahui seluk beluk dari seorang Darsa.
"Enggak juga lah. Saya sama kayak kalian semua, manusia yang membutuhkan sesuap nasi," elak Darsa yang tidak mau mengaku kebenarannya.
Utari hanya bisa mengulum senyuman manisnya yang malu-malu.
"Kalau jarang ditempati, berarti di dalamnya pasti kotor ya, Tuan?" Utari menatap lekat Darsa yang sedang fokus memarkirkan mobilnya.
Darsa pun juga membalas tatapan Utari tidak kalah lekatnya. "Kamu jangan takut, Utari. Setiap tiga kali sehari saya selalu menyuruh anak buah saya untuk membersihkan dan merawat villa saya."
"Ayo, silakan turun," ajak Darsa yang sudah melepas sabuk pengaman mobil.
Utari pun mengikuti Darsa yang turun dari mobil. Melihat punggung tegap dan kekar milik Darsa membuat Utari berpikir yang tidak-tidak.
"Baru kali ini Utari lihat lelaki yang berumur, tapi masih kelihatan gagah dan tampan," gumam Utari masih menatap punggung Darsa.
"Kamu mau sampai kapan berdiri di sana, Utari?" tanya Darsa yang melihat Utari masih terbengong-bengong.
"Eh, maaf Tuan." Utari pun langsung melangkah kembali mengikuti Darsa.
Mereka berdua masuk ke dalam villa dalam keadaan gelap gulita. Utari yang memang takut gelap, langsung memepetkan dirinya ke punggung Darsa.
"Tuan, kok lampunya mati, sih?" tanya Utari dengan berbisik.
Jantung Darsa berdesir hebat. Tekanan benda panjang yang berada di tengah-tengah pahanya membuat Darsa menghembuskan napasnya berat.
"Kenapa kamu nempel-nempel di saya, Utari? Buah duren kamu sangat kenyal menempel di punggung saya," ucap Darsa dengan suara serak-serak basah.
Reflek Utari menjauhkan dirinya pada punggung Darsa. "Buah duren? Saya enggak bawa buah duren, Tuan," ucap Utari yang kebingungan, masih belum mengerti maksud dari ucapan Darsa.
"Sudahlah, kamu jangan berdiri di belakang saya. Nanti saya enggak kuat kalau kamu kayak gitu terus." Darsa mencoba menahan hasratnya agar tidak meledak di detik itu juga.
"Tuan Darsa sedang sakit, ya? Mau Utari pijit, kan? Kata adik Utari, pijitan Utari enak dan bikin ketagihan," tawar Utari, yang tangannya sudah menempel di lengan dan dada bidang milik Darsa.
"Saya juga bakalan ketagihan kalau kamu pijit bagian terong saya, Utari," balas Darsa yang sudah tidak bisa mengontrol ucapannya itu.
"Tuh, tadi buah duren sekarang malah terong. Kan, dari tadi kita enggak bawa begituan, Tuan," decak Utari yang masih belum paham sama sekali atas kode yang diberikan oleh Darsa.
"Ya sudah lah. Lama-lama saya makin pusing, Utari." Darsa pun langsung menepis tangan Utari yang bertengger di tubuhnya itu.
Melihat Darsa yang pergi begitu saja membuat hati Utari merasa bersalah. Dengan cepat Utari menyusul langkah Darsa yang tergesa-gesa.
"Tuan! Tuan, marah sama Utari, ya?" tanya Utari cemas. "Kalau Tuan marah, Utari minta maaf sedalam-dalamnya sama Tuan. Atau enggak nanti Utari akan pijit kan Tuan sepuasnya," sambung Utari yang memberikan janji pada Darsa.
"Ya sudah, ayo ke kamar mandir!" titah Darsa tegas menatap tajam Utari."Loh, kok di kamar mandi Tuan?" tanya Utari kebingungan."Maksud saya, nanti kamu pijit kan saya sembari saya berendam di kamar mandi," ucap Darsa menggeram gemas.
"Tapi, Tuan. Kan, pijitnya menggeram minyak. Masa harus berendam di dalam air, sih," protes Utari.
"Ya tinggal ganti minyaknya menggunakan sabun cair nanti, Utari. Kenapa malah dibuat susah, sih!" Darsa mendengus kesal.
"Oh, begitu, ya. Ternyata orang kota sama
orang kampung dipijitnya berbeda, ya," ucap
Utari sambil menganggukkan kepalanya
mengerti. "Ayo, kamu ikut saya ke kamar mandi sekarang!" titah Darsa pada Utari.
Dengan patuh Utari mengikuti semua perintah dari Darsa. Ketika Darsa berhenti tiba-tiba, maka Utari langsung menubruk punggung Darsa yang kekar nan keras itu.
"Astaga, Utari! Kamu bisa enggak 'sih jalan yang benar, hah?" tanya Darsa menggeram marah.
"Enghhh... Maaf, Tuan. Ini juga bukan salah
Utari semuanya, kan Tuan sendiri yang berhenti tiba-tiba. Jadinya Utari enggak sengaja nabrak punggung Tuan," kilah Utari takut-takut menatap ke wajah Darsa.
22:32
...0,2KB/dl (57)
Beli Data
Buka Gratis
Mode Data
Postingan Anda
"Saya enggak mempermasalahkan soal tabrakan di punggung saya, Utari! Tapi, saya enggak akan kuat kalau kamu selalu menyodorkan buah duren kamu ke saya!" geram Darsa geregetan atas sikap polos Utari.
"Sudah dua kali loh Tuan bilang kalau saya bawa buah duren. Nih, lihat Tuan! Saya enggak bawa apa-apa di tangan saya." 11
Darsa mengerang frustasi. "Maksud saya bukan iku, Utari. Ucapan saya cuma hanya kiasan. Yang saya maksud itu, yang bulat punya kamu Utari!" tunjuk Darsa ke arah buah dada Utari yang sekal.
Utari mengerjapkan matanya pelan. Lalu, tangannya refleks menyentuh gundukan yang kenyal itu.
"Ini buah dada bukan buah duren, Tuan," ucap Utari mengoreksi ucapan Darsa.
***
Halo para pembaca. Jangan lupa untuk memberikan vote, coment dan share.
Gelap, dingin, dan bau apek yang menyengat. Larasati terbangun dengan rasa pening yang luar biasa, seolah ribuan jarum menusuk saraf di balik matanya. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun gesekan rantai besi yang dingin di pergelangan tangannya memberikan jawaban instan, ia kembali menjadi tawanan. Kali ini, bukan di gubuk kumuh atau di kamar simpanan Darsa, melainkan di sebuah ruang bawah tanah yang dindingnya dilapisi batu alam tua, mungkin ruang rahasia di bawah villa kolonial Bramantya. "Sudah bangun, Ratu kecil?" Suara itu bergema, datang dari sudut ruangan yang remang-remang. Bramantya duduk di sana, memutar-mutar gelas berisi cairan merah pekat—anggur atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan. Di atas meja di sampingnya, terletak dokumen-dokumen yang selama ini Larasati perjuangkan, sertifikat saham Wijaya Internasional dan kunci brankas bank Swiss milik Darsa. "Kamu... kamu tidak akan bisa lolos dengan ini," suara Larasati serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar
Fajar belum benar-benar pecah di langit Bogor. Kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Salak, menyembunyikan pepohonan besar yang tampak seperti raksasa diam yang mengawasi. Larasati duduk di kursi belakang mobil taktis, tangannya mengenakan sarung tangan kulit hitam, sementara matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang mulai berbatu. Di sampingnya, Bara memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan mekanis yang tenang. Di belakang mereka, dua mobil berisi personel keamanan terlatih mengikuti tanpa lampu sorot. Mereka bergerak seperti hantu. "Nona, kita hampir sampai di titik koordinat," bisik Bara. "Villa itu terisolasi. Tidak ada catatan kepemilikan di dinas pertanahan lokal. Benar-benar sebuah blind spot." Larasati hanya mengangguk. Pikirannya melayang pada boneka kain yang terbakar di panti asuhan kemarin. Bramantya Wijaya bukan sekadar pria yang ingin merebut perusahaan; dia adalah seorang arsitek penderitaan. Dia membiarkan Larasati tumbuh dalam kemiskinan agar dia memilik
Hujan di luar Lembaga Pemasyarakatan telah berubah menjadi gerimis tipis yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Larasati duduk di dalam mobil SUV hitamnya, matanya terpaku pada layar ponsel. Pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu terasa seperti siraman air es di tengah api balas dendamnya yang baru saja memuncak. “Pemilik Wijaya yang sesungguhnya bukan hanya ibumu... dan 'kakak' ibumu masih hidup di suatu tempat.” Larasati mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini, narasi yang ia terima dari Supardi dan Sanjaya adalah bahwa ibunya, Rahayu Wijaya, merupakan pewaris tunggal setelah kematian kakeknya. Sanjaya hanyalah adik sepupu yang haus kuasa yang masuk melalui celah pernikahan dan pengkhianatan. Namun jika pesan ini benar, berarti ada satu kepingan puzzle yang sengaja dihilangkan dari sejarah keluarga Wijaya. "Bara," suara Larasati terdengar parau namun tajam di keheningan kabin mobil. "Ya, Nona?" jawab Bara sambil tetap waspada menatap kaca s
Lembaga Pemasyarakatan terlihat lebih menyeramkan di bawah guyuran hujan badai. Berkat bantuan Adrian Wong yang kini terpojok, Larasati berhasil mendapatkan akses ke unit isolasi paling bawah, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai, dan hanya suara tetesan air dari atap yang bocor yang menjadi teman. Larasati melangkah melewati barisan sel besi dengan langkah yang mantap. Ia mengenakan mantel hitam panjang, wajahnya sedingin marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah termos kecil berisi teh herbal, teh dengan campuran yang sama persis seperti yang dulu diberikan Sarah untuk menggugurkan kandungannya. "Buka pintunya," perintah Larasati pada sipir yang sudah disuap. Pintu besi itu berderit terbuka. Di dalam ruangan sempit yang hanya berisi dipan semen, Darsa duduk meringkuk. Tubuhnya jauh lebih kurus, matanya cekung, dan tangannya gemetar akibat sakau atau mungkin trauma dari siksaan narapidana lain. Saat melihat Larasati, Darsa mencoba berdiri, namun kakinya lemas. "Utar
Gudang tua di kawasan pelabuhan itu masih menyisakan aroma karat dan air laut yang payau. Di sinilah, beberapa bulan lalu, Utari yang rapuh nyaris kehilangan nyawanya di tangan Juragan Somat. Namun malam ini, ia kembali bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai penguasa kegelapan yang sedang menunggu mangsanya. Larasati duduk di kursi besi yang dingin di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam yang berayun. Di belakangnya, Bara berdiri seperti bayangan maut yang siap menerjang. Suara langkah sepatu pantofel yang mahal terdengar beradu dengan lantai semen. Adrian Wong masuk dengan santai, tangan di saku jasnya, dan senyum tipis yang masih tersungging di bibirnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Tempat yang cukup nostalgik untuk sebuah pertemuan bisnis, Larasati," ucap Adrian sambil menatap sekeliling dengan jijik. "Kenapa kita tidak bicara di restoran berbintang saja?" Larasati tidak tersenyum. Ia melemparkan ransel berisi uang dan dokumen palsu milik Malik ke depan kak
Jakarta diguyur hujan deras saat Larasati melangkah keluar dari gedung Wijaya Group. Sorot lampu kamera wartawan menyambar-nyambar dari balik pagar betis pengawal, namun ia tetap bungkam. Pikirannya tertuju pada satu nama: Malik. Jika pria itu benar-benar memegang dokumen medis dari dua puluh tahun lalu, maka seluruh kemenangannya saat ini hanyalah istana pasir. "Nona, kita punya lokasi Malik," bisik Bara sambil membukakan pintu mobil SUV hitam yang antipeluru. "Dia bersembunyi di sebuah motel murah di kawasan pelabuhan. Tampaknya dia sedang menunggu instruksi selanjutnya untuk muncul di stasiun televisi besok pagi." "Jangan beri dia kesempatan untuk menghirup udara besok pagi sebagai orang merdeka," desis Larasati. "Bawa saya ke sana." Motel itu kumuh, berbau amis garam dan solar. Di kamar 204, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sedang memasukkan tumpukan uang ke dalam tas ranselnya. Dialah Malik. Wajahnya tampak cemas, matanya terus melirik ke arah pintu. Tiba-tiba,
Gemercik suara air yang bertabrakan dengan lantai menjadi pengiring irama di sela-sela tangisan Utari. Tubuh mungil nan rapuhnya bergetar hebat menahan dingin dan kehancuran secara bersamaan.“Hiks ... Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ...!” jerit Utar
Suara ketukan di kaca mobil Darsa terdengar nyaring membuat tubuh mereka refleks saling menjauh. Buru-buru Darsa membuka pintunya dengan gerakan yang lumayan tergesa. "Wah, ternyata Tuan Darsa yang ada di dalam. Saya kira tamu nyonya Indri, Tuan," ucap seorang satpam dengan sopan pa
Sepanjang malam sampai pagi, mata Utari masih terjaga dengan segar bisa dibilang mata Utari kuat melotot. Sejak kejadian di dalam kamar mandi bersama tuan Darsa membuat Utari langsung demam tinggi. Sedangkan tuan Darsa tidurnya malah tambah nyenyak setelah memainkan squisi alami milik Utari.
Di dalam ruang persegi empat yang lumayan luas dan megah, namun terasa minimalis. Ada Utari yang sedang melihat-lihat isi dari ruang tersebut. Koleksi sabun cair yang beraneka rasa dan masih banyak lagi perlengkapan untuk mandi."Tuan, Utari merasa sedang mimpi melihat kamar ma







