LOGINMatahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar, tapi kehangatan sinar itu sama sekali tak mampu mencairkan dinginnya suasana di antara mereka. Ashana sudah bangun dan langsung menyiapkan keperluan dirinya sendiri tanpa menyentuh satu pun barang milik suaminya lagi seperti dulu. Ketika Gibran memasuki kamar dengan senyum hangat dan secangkir kopi panas di tangannya, Ashana hanya melewati pria itu begitu saja seolah ia hanyalah sosok tak kasat mata.Gibran menghela napas panjang melihat penolakan halus nan menyakitkan yang kembali ditunjukkan oleh istrinya tersebut. Ia meletakkan cangkir kopi itu di atas meja rias, lalu melangkah pelan mendekati Ashana yang sedang merapikan pakaiannya di depan cermin. Pria itu menyadari bahwa dinding es yang dibangun Ashana kini jauh lebih tebal dan kokoh dibanding saat mereka masih terpisah jarak."Aku sudah buatkan kamu sarapan kesukaanmu di bawah, kita makan bersama ya pagi ini, Cha?" tawar Gibran dengan nada suara yang teramat lembut dan pen
Keesokan harinya, dipagi hari ketika Ibu Mita mendapati anak bungsunya duduk melamun di meja makan seorang diri. Rasa kasihan yang mendalam terpancar jelas dari tatapan sang ibu melihat raut wajah putrinya yang masih diliputi keraguan. Beliau teringat betapa gigihnya Gibran melangkahkan kaki setiap hari ke rumah ini meski kelelahan tampak jelas menggerogoti fisiknya.Ibu Mita meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Ashana lalu mengambil tempat duduk tepat di samping putri bungsunya. "Mami tidak tega lagi melihat Gibran terus bolak-balik dalam kondisi selelah itu, Cha," ujar Ibu Mita mengawali percakapan dengan nada sangat lembut. Beliau menatap lekat mata Ashana, mencoba menyentuh sudut terdalam dari hati sang anak yang masih keras membatu."Kesalahan Gibran memang membuatmu terluka, tapi perjuangannya selama dua minggu ini membuktikan betapa besarnya rasa penyesalannya padamu," lanjut Ibu Mita sembari mengelus jemari Ashana.Beliau tahu benar betapa suaminya itu menyiksa diri demi
Langkah kaki Ashana terasa hampa saat ia perlahan mendekati jendela kamar di lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman depan. Biasanya, deru halus mesin mobil Gibran sudah memecah heheningan malam sejak jam tujuh, tetapi hingga detik ini hanya ada kegelapan yang menyambut pandangannya. Kegelisahan asing yang tak terundang mulai merayap halus di balik dinding hatinya yang selama dua minggu ini ia bentengi begitu rapat.Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba menepis kekosongan yang tiba-tiba hadir membelenggu pikirannya yang kacau. Ia menatap deretan bunga di vas yang mulai layu, saksi bisu kegigihan suaminya yang tak pernah absen meminta maaf. Rasa aneh yang membingungkan itu terus tumbuh, membuatnya berulang kali melirik jam dinding yang kian bergulir mendekati tengah malam.Guna menghibur hatinya yang membisu, Ashana mengukir senyum sinis yang dipaksakan sembari menatap kehampaan jalanan di luar sana. "Baru segitu saja rupanya usahanya, padahal katanya tidak
Setiap malam tanpa pernah absen sedikit pun, deru mesin mobil Gibran selalu membelah keheningan halaman rumah mertuanya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, Gibran tetap memaksakan diri untuk datang demi melihat paras sang istri. Pria itu rela menembus kemacetan kota hanya untuk membawa segenggam harapan agar pintu maaf Ashana yang tertutup rapat bisa sedikit terbuka.Namun, kehadiran Gibran selalu saja disambut oleh keheningan dingin yang menusuk hingga ke dalam relung dadanya. Ashana hanya mau keluar dari kamar setelah Ibu Mita mengetuk pintu dan mendesaknya untuk menghargai suaminya yang datang. Gadis itu duduk kaku di sofa tanpa pernah sekalipun mau menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh sorot penyesalan mendalam."Mas, tahu malam ini sudah terlalu larut tapi Mas hanya ingin melihat keadaanmu sebentar, Sha," bisik Gibran lirih sembari meletakkan sebungkus martabak manis kesukaan istrinya di atas meja. Ashana tetap membisu, membuang pand
Deru mesin mobil yang membawa Ashana perlahan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Gibran yang masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Pak Esa menepuk bahu putranya dengan helaan napas berat, mencoba memberikan kekuatan pada jiwa muda yang sedang dihantam gelombang penyesalan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Gibran akhirnya melangkah lesu menuju mobilnya, menyadari bahwa perjuangan terberat dalam hidupnya baru saja dimulai.Sementara itu, suasana hangat tapi diselimuti keheningan menyambut kedatangan Ashana di rumah orang tuanya. Setibanya di kamar masa kecilnya, Ashana langsung beristirahat ditemani sang ibu yang tak henti-hentinya mengusap lembut jemari putrinya. Di ruang tamu, Aliyah duduk menunduk sembari meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan sisa keberanian yang terlambat untuk menghadapi badai yang pernah ia ciptakan.Setelah memastikan Ashana sudah terlelap damai, Pak Aris dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga di mana Aliyah telah menungg
Ruang UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa riuh oleh langkah kaki petugas medis yang berpacu dengan waktu. Gibran berdiri terpaku di depan pintu kaca berkabut, memperhatikan dari jauh saat tim dokter memasang alat pemantau detak jantung pada tubuh Ashana yang terkulai lemah. Kemeja putihnya yang kusut dihiasi noda darah kering milik istrinya, sementara jemarinya masih gemetar hebat—menahan sisa-sisa trauma dan kemarahan yang membakar dada."Gibran, duduklah dulu," bisik Pak Esa, sang ayah, seraya menepuk bahu putranya yang tegang bagai kawat baja. "Ashana sudah ditangani dokter terbaik. Kamu harus tenang.""Bagaimana aku bisa tenang, Ayah?" Suara Gibran parau, nyaris pecah. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. "Semua ini terjadi karena keputusasaanku... karena ketidakmampuanku melindunginya dari Natasya. Kalau saja aku lebih tegas dari awal, Acha tidak akan pernah melewati neraka ini."Ibu Ashana yang duduk di kursi tunggu masih menyeka sisa air mata, dirangkul erat o
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi







