로그인
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.
Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebelet pipis. Namun, saat akan belok ke bagian toilet ia tiba-tiba terjatuh ke lantai karena tabrakan dengan seseorang. Bugh "Awww, bokongku," ucap Ashana mengeluh sambil memegang bokongnya. Ia menengadah dan menatap seorang pria yang kini ikut menatapnya. "Kenapa malah lihatin saya? Minimal bantuin kek, kan saya jatuh juga karena anda!" ucap Ashana jengkel menatap pria itu yang hanya mematung menatapnya. Ashana menjulurkan tangan kanannya berharap pria itu bisa membantunya untuk berdiri karena bokongnya benar-benar sakit. Namun, yang terjadi pria itu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Ashana. "Astaga benar-benar ya, bukannya tanggung jawab malah ninggalin begitu saja!" teriak Ashana melihat ke arah pria itu yang sudah menghilang dibalik tembok. Mau tak mau Ashana bangun sendiri dengan sedikit meringis, untung di area toilet ini hanya dia dan pria aneh itu jadi ia tidak terlalu malu karena tidak ada yang melihatnya. Setelah menyelesaikan hajatnya ia segera berjalan cepat menuju lift untuk naik ke lantai tempat ia akan meeting hari ini dengan sedikit pincang karena bokongnya masih mengilu. Ia Ashana, anak magang yang sudah seminggu mulai bekerja di perusahaan Mahesa properties untuk 6 bulan kedepan. Ia berlari dengan kencang saat melihat pintu lift akan tertutup. "Tunggu!" teriaknya sambil menahan pintu lift. Pintu lift terbuka kembali, Ashana bernafas lega dan memperbaiki kembali postur tubuhnya yang sempat membungkuk tadi menahan pintu. Ia langsung kaget kala melihat didalam lift ternyata ada pria yang menabraknya tadi, pria yang berpakaian kemeja putih, celana kain hitam panjang sedang menatapnya. "Eh-anda lagi, permisi ya," ujar Ashana masih sedikit jengkel lalu ikut bergabung didalam lift. Kini hanya ada Ashana dan pria itu yang berdiri tegap sambil memasukan tangannya dikedua saku celananya. Mereka sama-sama berdiri di pojok lift dengan kebisuan. "Oh iya, anda belum minta maaf loh sama saya karena insiden tadi," ujar Ashana menoleh ke pria itu sambil membuka percakapan. "Tapi tidak apa-apa, saya akan maafkan saja karena berhubung anda sepertinya karyawan disini. Nanti anda malah mempersulit saya lagi kalau saya terus menuntut," ujar Ashana lagi terus menatap pria itu dari arah samping. Pria itu tetap menatap lurus kedepan seakan tidak memperdulikan semua ucapan Ashana. Ashana langsung cemberut karena merasa dikacangi oleh pria itu. "Dingin banget si padahal lagi tidak hujan," gerutu Ashana sambil memainkan kuku-kuku jarinya. Dari ekor matanya pria itu melihat kelakuan Ashana. Gadis muda itu membuat kesibukan sendiri mengisi keheningan didalam lift dan sesekali mengusap bokongnya. Ting Pintu lift terbuka, Ashana dengan cepat melangkah keluar meninggalkan pria itu tanpa ucapan apapun lagi. Pria itu menatap kepergian Ashana yang sudah semakin jauh, ia kemudian melangkah keluar juga. Ashana berlari memasuki sebuah ruangan dimana sudah ada beberapa teman kuliahnya yang ikut magang juga disini. Ia langsung menghampiri, Dea sang sahabat. "Belum telatkan?" tanya Ashana ngos-ngosan. Dea menggelengkan kepalanya. "Belum, duduk dulu tapi tunggu dulu, kamu kok pincang begitu, kenapa?" Ashana duduk di bangku sebelah Dea, lalu menceritakan kejadian tadi ke sahabatnya. Hari ini mereka akan melakukan meeting untuk sebuah project, anak magang memang diizinkan terlibat dalam project perusahaan untuk pembelajaran mereka. "Lagi menunggu siapa si? Kok rapatnya belum dimulai," bisik Ashana ke Dea saat melihat sudah banyak orang yang memenuhi ruang rapat. "Pak CEO, katanya hari ini ikut rapat," balas Dea dengan berbisik juga. "Oh, serius? Akhirnya aku akan melihat muka CEO kita setelah seminggu magang disini belum pernah muncul sama sekali," ucap Ashana antusias. "Kira-kira CEOnya tua apa nggak ya? Terus perutnya besar nggak ya? Atau kepalanya botak?" "Hush,jangan berisik nanti kita kedengeran yang lain bisa bahaya, Ca," tegur Dea ke sahabatnya itu. Ashana cengengesan. "Aku tuh penasaran De, makanya lagi menebak-nebak. Siapa suruh hari pertama kita magang dia malah ke luar kota jadinya aku tidak melihat dia deh." Obrolan mereka langsung terhenti kala pintu ruangan ini terbuka dan muncul 2 orang dari arah luar. Beberapa karyawan langsung berdiri otomatis Ashana dan Dea ikut berdiri juga. Mata Syakilla memicing kala melihat salah satu pria yang baru masuk adalah lagi-lagi pria yang terlibat insiden dengannya. Namun, penampilan pria itu kini sudah sangat berbeda, pria itu sudah menggunakan setelan jas yang mengkilap dan rapi. "Untuk anak magang, perhatikan semuanya. Beliau ini adalah Bapak Gibran Baskara Mahesa, CEO kita semua," ucap seorang pria yang berdiri tegap didekat sang CEO, "Kemudian saya adalah Rio, asisten pribadi beliau." Disaat yang lain tepuk tangan menyambut kedatangan CEO, Syakilla malah menutup sedikit wajahnya dengan tangan sambil tertunduk kala pak Gibran sedang menatapnya. Ia sangat malu sekaligus takut karena insiden tadi, ia bahkan sempat memarahi pria itu yang ternyata CEOnya. "Mampus, perasaan aku tiba-tiba tidak enak ini," batin Ashana masih sedikit menunduk. Setelah perkenalan singkat itu, rapat akhirnya dimulai. Ashana dan beberapa teman magangnya yang ada diruangan rapat ini menyimak dengan baik penjelasan dari divisi pemasaran. Sekitar 2 jam melakukan rapat, akhirnya selesai juga. Mereka satu persatu meninggalkan ruang rapat untuk kembali ke tempat mereka bekerja. Ashana dan Dea kebetulan ditempatkan dilantai 14 ini, sehingga ia tidak perlu naik lift lagi. Dua orang sahabatan ini langsung menuju ruangan tempat kerjanya. "Kamu!" ujar seseorang dengan suara lantang. Ashana yang merasa hanya dirinya dan Dea dilorong ini kemudian berbalik dan menatap sumber suara. Ashana langsung tersenyum kecut kala melihat pak Gibran yang ada dibelakangnya. "Ikut ke ruangan saya," ujar Gibran kemudian berjalan lebih dulu,"Rio, minta OB buatkan saya kopi lalu bawa ke ruangan saya." Muka Ashana sudah pucat pasih menatap Dea yang hanya bisa menyemangatinya. Ashana lalu mengekori pak Gibran menuju ruangannya dengan tubuh yang sudah keringat dingin. "Tamat sudah riwayatku, baru juga seminggu magang sudah buat masalah sama CEO pula," batin Ashana menepuk jidatnya pelan. Pintu yang menjulang tinggi itu terbuka dan langsung memperlihatkan ruangan yang begitu luas tapi didominasi warna gelap. Ashana, berjalan sedikit menunduk mengekori Gibran. Bugh Ashana, kembali meringis karena jidatnya kejedot dengan keras. Ia mengusap-usap jidatnya yang terkena entah bagian apa sang bos. "Kamu, sengaja tabrak saya terus?" "Nggak Pak, saya benar-benar tidak sengaja," jawab Ashana panik. Gibran mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ashana, pria itu sedikit membungkuk untuk bisa melihat jelas wajah Ashana karena gadis itu hanya sampai dipundaknya. "Kalian ngapain?" tanya Rio syok kala masuk kedalam ruangan, ia malah langsung disuguhkan pemandangan dimana wajah sang bos dan anak magang sudah begitu dekat.Gibran memegang erat cangkir teh hangat yang keasamannya perlahan mendingin di atas meja makan yang sepi. Langkah cepat Ashana berdesir menjauh dari lorong rumah, meninggalkan suara pintu depan yang tertutup rapat. Setiap sudut rumah megah itu seakan berbisik, mengingatkan Gibran bahwa usahanya untuk menembus dinding es sang istri kini terhalang oleh kesibukan baru yang sengaja diciptakan Ashana di kampus.Lantai gedung fakultas yang dingin menyaksikan bagaimana Ashana lebih memilih untuk tenggelam di antara tumpukan referensi skripsi daripada berlama-lama di rumah. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, berusaha keras mengusir bayangan tatapan bersalah Gibran yang terus mengikutinya setiap malam. Rasa gelisah merayapi tengkuknya saat sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja perpustakaan yang remang."Jadi, Pak Gibran itu benar-benar suamimu, Sha?" bisik suara berat yang begitu dikenal Ashana, memecah keheningan yang mencekam.Andre berdiri kaku di samping meja dengan be
Matahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar, tapi kehangatan sinar itu sama sekali tak mampu mencairkan dinginnya suasana di antara mereka. Ashana sudah bangun dan langsung menyiapkan keperluan dirinya sendiri tanpa menyentuh satu pun barang milik suaminya lagi seperti dulu. Ketika Gibran memasuki kamar dengan senyum hangat dan secangkir kopi panas di tangannya, Ashana hanya melewati pria itu begitu saja seolah ia hanyalah sosok tak kasat mata.Gibran menghela napas panjang melihat penolakan halus nan menyakitkan yang kembali ditunjukkan oleh istrinya tersebut. Ia meletakkan cangkir kopi itu di atas meja rias, lalu melangkah pelan mendekati Ashana yang sedang merapikan pakaiannya di depan cermin. Pria itu menyadari bahwa dinding es yang dibangun Ashana kini jauh lebih tebal dan kokoh dibanding saat mereka masih terpisah jarak."Aku sudah buatkan kamu sarapan kesukaanmu di bawah, kita makan bersama ya pagi ini, Cha?" tawar Gibran dengan nada suara yang teramat lembut dan pen
Keesokan harinya, dipagi hari ketika Ibu Mita mendapati anak bungsunya duduk melamun di meja makan seorang diri. Rasa kasihan yang mendalam terpancar jelas dari tatapan sang ibu melihat raut wajah putrinya yang masih diliputi keraguan. Beliau teringat betapa gigihnya Gibran melangkahkan kaki setiap hari ke rumah ini meski kelelahan tampak jelas menggerogoti fisiknya.Ibu Mita meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Ashana lalu mengambil tempat duduk tepat di samping putri bungsunya. "Mami tidak tega lagi melihat Gibran terus bolak-balik dalam kondisi selelah itu, Cha," ujar Ibu Mita mengawali percakapan dengan nada sangat lembut. Beliau menatap lekat mata Ashana, mencoba menyentuh sudut terdalam dari hati sang anak yang masih keras membatu."Kesalahan Gibran memang membuatmu terluka, tapi perjuangannya selama dua minggu ini membuktikan betapa besarnya rasa penyesalannya padamu," lanjut Ibu Mita sembari mengelus jemari Ashana.Beliau tahu benar betapa suaminya itu menyiksa diri demi
Langkah kaki Ashana terasa hampa saat ia perlahan mendekati jendela kamar di lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman depan. Biasanya, deru halus mesin mobil Gibran sudah memecah heheningan malam sejak jam tujuh, tetapi hingga detik ini hanya ada kegelapan yang menyambut pandangannya. Kegelisahan asing yang tak terundang mulai merayap halus di balik dinding hatinya yang selama dua minggu ini ia bentengi begitu rapat.Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba menepis kekosongan yang tiba-tiba hadir membelenggu pikirannya yang kacau. Ia menatap deretan bunga di vas yang mulai layu, saksi bisu kegigihan suaminya yang tak pernah absen meminta maaf. Rasa aneh yang membingungkan itu terus tumbuh, membuatnya berulang kali melirik jam dinding yang kian bergulir mendekati tengah malam.Guna menghibur hatinya yang membisu, Ashana mengukir senyum sinis yang dipaksakan sembari menatap kehampaan jalanan di luar sana. "Baru segitu saja rupanya usahanya, padahal katanya tidak
Setiap malam tanpa pernah absen sedikit pun, deru mesin mobil Gibran selalu membelah keheningan halaman rumah mertuanya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, Gibran tetap memaksakan diri untuk datang demi melihat paras sang istri. Pria itu rela menembus kemacetan kota hanya untuk membawa segenggam harapan agar pintu maaf Ashana yang tertutup rapat bisa sedikit terbuka.Namun, kehadiran Gibran selalu saja disambut oleh keheningan dingin yang menusuk hingga ke dalam relung dadanya. Ashana hanya mau keluar dari kamar setelah Ibu Mita mengetuk pintu dan mendesaknya untuk menghargai suaminya yang datang. Gadis itu duduk kaku di sofa tanpa pernah sekalipun mau menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh sorot penyesalan mendalam."Mas, tahu malam ini sudah terlalu larut tapi Mas hanya ingin melihat keadaanmu sebentar, Sha," bisik Gibran lirih sembari meletakkan sebungkus martabak manis kesukaan istrinya di atas meja. Ashana tetap membisu, membuang pand
Deru mesin mobil yang membawa Ashana perlahan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Gibran yang masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Pak Esa menepuk bahu putranya dengan helaan napas berat, mencoba memberikan kekuatan pada jiwa muda yang sedang dihantam gelombang penyesalan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Gibran akhirnya melangkah lesu menuju mobilnya, menyadari bahwa perjuangan terberat dalam hidupnya baru saja dimulai.Sementara itu, suasana hangat tapi diselimuti keheningan menyambut kedatangan Ashana di rumah orang tuanya. Setibanya di kamar masa kecilnya, Ashana langsung beristirahat ditemani sang ibu yang tak henti-hentinya mengusap lembut jemari putrinya. Di ruang tamu, Aliyah duduk menunduk sembari meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan sisa keberanian yang terlambat untuk menghadapi badai yang pernah ia ciptakan.Setelah memastikan Ashana sudah terlelap damai, Pak Aris dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga di mana Aliyah telah menungg
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi







