Home / Romansa / Bukan Pengantin Pilihan / Bos dan anak magang

Share

Bukan Pengantin Pilihan
Bukan Pengantin Pilihan
Author: Indri hasrun

Bos dan anak magang

Author: Indri hasrun
last update publish date: 2025-08-26 23:02:43

Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.

Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebelet pipis. Namun, saat akan belok ke bagian toilet ia tiba-tiba terjatuh ke lantai karena tabrakan dengan seseorang.

Bugh

"Awww, bokongku," ucap Ashana mengeluh sambil memegang bokongnya.

Ia menengadah dan menatap seorang pria yang kini ikut menatapnya. "Kenapa malah lihatin saya? Minimal bantuin kek, kan saya jatuh juga karena anda!" ucap Ashana jengkel menatap pria itu yang hanya mematung menatapnya.

Ashana menjulurkan tangan kanannya berharap pria itu bisa membantunya untuk berdiri karena bokongnya benar-benar sakit. Namun, yang terjadi pria itu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Ashana.

"Astaga benar-benar ya, bukannya tanggung jawab malah ninggalin begitu saja!" teriak Ashana melihat ke arah pria itu yang sudah menghilang dibalik tembok.

Mau tak mau Ashana bangun sendiri dengan sedikit meringis, untung di area toilet ini hanya dia dan pria aneh itu jadi ia tidak terlalu malu karena tidak ada yang melihatnya. Setelah menyelesaikan hajatnya ia segera berjalan cepat menuju lift untuk naik ke lantai tempat ia akan meeting hari ini dengan sedikit pincang karena bokongnya masih mengilu.

Ia Ashana, anak magang yang sudah seminggu mulai bekerja di perusahaan Mahesa properties untuk 6 bulan kedepan. Ia berlari dengan kencang saat melihat pintu lift akan tertutup.

"Tunggu!" teriaknya sambil menahan pintu lift.

Pintu lift terbuka kembali, Ashana bernafas lega dan memperbaiki kembali postur tubuhnya yang sempat membungkuk tadi menahan pintu. Ia langsung kaget kala melihat didalam lift ternyata ada pria yang menabraknya tadi, pria yang berpakaian kemeja putih, celana kain hitam panjang sedang menatapnya.

"Eh-anda lagi, permisi ya," ujar Ashana masih sedikit jengkel lalu ikut bergabung didalam lift.

Kini hanya ada Ashana dan pria itu yang berdiri tegap sambil memasukan tangannya dikedua saku celananya. Mereka sama-sama berdiri di pojok lift dengan kebisuan.

"Oh iya, anda belum minta maaf loh sama saya karena insiden tadi," ujar Ashana menoleh ke pria itu sambil membuka percakapan.

"Tapi tidak apa-apa, saya akan maafkan saja karena berhubung anda sepertinya karyawan disini. Nanti anda malah mempersulit saya lagi kalau saya terus menuntut," ujar Ashana lagi terus menatap pria itu dari arah samping.

Pria itu tetap menatap lurus kedepan seakan tidak memperdulikan semua ucapan Ashana. Ashana langsung cemberut karena merasa dikacangi oleh pria itu.

"Dingin banget si padahal lagi tidak hujan," gerutu Ashana sambil memainkan kuku-kuku jarinya.

Dari ekor matanya pria itu melihat kelakuan Ashana. Gadis muda itu membuat kesibukan sendiri mengisi keheningan didalam lift dan sesekali mengusap bokongnya.

Ting

Pintu lift terbuka, Ashana dengan cepat melangkah keluar meninggalkan pria itu tanpa ucapan apapun lagi. Pria itu menatap kepergian Ashana yang sudah semakin jauh, ia kemudian melangkah keluar juga.

Ashana berlari memasuki sebuah ruangan dimana sudah ada beberapa teman kuliahnya yang ikut magang juga disini. Ia langsung menghampiri, Dea sang sahabat.

"Belum telatkan?" tanya Ashana ngos-ngosan.

Dea menggelengkan kepalanya. "Belum, duduk dulu tapi tunggu dulu, kamu kok pincang begitu, kenapa?"

Ashana duduk di bangku sebelah Dea, lalu menceritakan kejadian tadi ke sahabatnya. Hari ini mereka akan melakukan meeting untuk sebuah project, anak magang memang diizinkan terlibat dalam project perusahaan untuk pembelajaran mereka.

"Lagi menunggu siapa si? Kok rapatnya belum dimulai," bisik Ashana ke Dea saat melihat sudah banyak orang yang memenuhi ruang rapat.

"Pak CEO, katanya hari ini ikut rapat," balas Dea dengan berbisik juga.

"Oh, serius? Akhirnya aku akan melihat muka CEO kita setelah seminggu magang disini belum pernah muncul sama sekali," ucap Ashana antusias.

"Kira-kira CEOnya tua apa nggak ya? Terus perutnya besar nggak ya? Atau kepalanya botak?"

"Hush,jangan berisik nanti kita kedengeran yang lain bisa bahaya, Ca," tegur Dea ke sahabatnya itu.

Ashana cengengesan. "Aku tuh penasaran De, makanya lagi menebak-nebak. Siapa suruh hari pertama kita magang dia malah ke luar kota jadinya aku tidak melihat dia deh."

Obrolan mereka langsung terhenti kala pintu ruangan ini terbuka dan muncul 2 orang dari arah luar. Beberapa karyawan langsung berdiri otomatis Ashana dan Dea ikut berdiri juga.

Mata Syakilla memicing kala melihat salah satu pria yang baru masuk adalah lagi-lagi pria yang terlibat insiden dengannya. Namun, penampilan pria itu kini sudah sangat berbeda, pria itu sudah menggunakan setelan jas yang mengkilap dan rapi.

"Untuk anak magang, perhatikan semuanya. Beliau ini adalah Bapak Gibran Baskara Mahesa, CEO kita semua," ucap seorang pria yang berdiri tegap didekat sang CEO, "Kemudian saya adalah Rio, asisten pribadi beliau."

Disaat yang lain tepuk tangan menyambut kedatangan CEO, Syakilla malah menutup sedikit wajahnya dengan tangan sambil tertunduk kala pak Gibran sedang menatapnya. Ia sangat malu sekaligus takut karena insiden tadi, ia bahkan sempat memarahi pria itu yang ternyata CEOnya.

"Mampus, perasaan aku tiba-tiba tidak enak ini," batin Ashana masih sedikit menunduk.

Setelah perkenalan singkat itu, rapat akhirnya dimulai. Ashana dan beberapa teman magangnya yang ada diruangan rapat ini menyimak dengan baik penjelasan dari divisi pemasaran.

Sekitar 2 jam melakukan rapat, akhirnya selesai juga. Mereka satu persatu meninggalkan ruang rapat untuk kembali ke tempat mereka bekerja.

Ashana dan Dea kebetulan ditempatkan dilantai 14 ini, sehingga ia tidak perlu naik lift lagi. Dua orang sahabatan ini langsung menuju ruangan tempat kerjanya.

"Kamu!" ujar seseorang dengan suara lantang.

Ashana yang merasa hanya dirinya dan Dea dilorong ini kemudian berbalik dan menatap sumber suara. Ashana langsung tersenyum kecut kala melihat pak Gibran yang ada dibelakangnya.

"Ikut ke ruangan saya," ujar Gibran kemudian berjalan lebih dulu,"Rio, minta OB buatkan saya kopi lalu bawa ke ruangan saya."

Muka Ashana sudah pucat pasih menatap Dea yang hanya bisa menyemangatinya. Ashana lalu mengekori pak Gibran menuju ruangannya dengan tubuh yang sudah keringat dingin.

"Tamat sudah riwayatku, baru juga seminggu magang sudah buat masalah sama CEO pula," batin Ashana menepuk jidatnya pelan.

Pintu yang menjulang tinggi itu terbuka dan langsung memperlihatkan ruangan yang begitu luas tapi didominasi warna gelap. Ashana, berjalan sedikit menunduk mengekori Gibran.

Bugh

Ashana, kembali meringis karena jidatnya kejedot dengan keras. Ia mengusap-usap jidatnya yang terkena entah bagian apa sang bos.

"Kamu, sengaja tabrak saya terus?"

"Nggak Pak, saya benar-benar tidak sengaja," jawab Ashana panik.

Gibran mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ashana, pria itu sedikit membungkuk untuk bisa melihat jelas wajah Ashana karena gadis itu hanya sampai dipundaknya.

"Kalian ngapain?" tanya Rio syok kala masuk kedalam ruangan, ia malah langsung disuguhkan pemandangan dimana wajah sang bos dan anak magang sudah begitu dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pengantin Pilihan   pelacakan

    Kegelapan di dalam gudang tua itu tempat Ashana disekap kian pekat, memperlihatkan setiap sisa cahaya sore yang tersisa. Ashana menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke tiang kayu mencoba menahan napas agar isaknya tidak terdengar ke luar. Setiap detik terasa bagai siksaan yang menggerogoti mentalnya. Di balik dinding kayu lapuk yang memenjarakannya, dua pria suruhan Natasya masih berjaga dengan sikap dingin, merasa yakin bahwa rencana mereka telah berjalan tanpa cela. Namun, dugaan mereka adalah kesalahan terbesar.Jauh di luar area bandara tadi, beberapa ratus meter dari tempat koper Ashana yang tertinggal di atas aspal dingin, sebuah mobil sedan perak terparkir samar di balik pepohonan. Dua pria berjaket gelap di dalamnya memandangi layar tablet yang merekam kejadian beberapa menit lalu secara detail. Mereka adalah tim pengawas rahasia yang diutus langsung oleh Gibran untuk menjaga Ashana dari kejauhan tanpa sepengetahuan wanita itu."Sialan! Siapa mereka? Kenapa mereka membawa Bu

  • Bukan Pengantin Pilihan   aksi penculikan

    Rencana licik Natasya mulai bergulir, tapi kenyataan di lapangan rupanya berjalan jauh lebih cepat dari kalkulasi dinginnya. Tanpa membuang waktu untuk menunggu penderitaan Ashana datang dengan sendirinya. Natasya memerintahkan anak buahnya untuk mulai melacak keberadaan wanita muda itu.Natasya pun mulai mencari tau keberadaan Ashana hingga suatu hari ia tidak sengaja melihat Ashana berjalan seorang diri. Ashana berjalan sendirian keluar dari Bandara ia baru pulang dari singapura seorang diri karena Dea sudah pulang duluan dari singapura. Sore itu, langit di luar terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta tampak mendung berawan kelabu. Ashana berjalan perlahan sambil menarik koper kecilnya. Wajahnya yang pucat menyiratkan kelelahan fisik dan batin yang luar biasa setelah pelariannya ke Singapura. Sendirian tanpa Dea yang harus kembali lebih awal karena urusan mendadak, Ashana merasa sangat ringkih. Tatapannya kosong memandangi lalu lalang kendaraan, mencoba menenangkan gemuruh di d

  • Bukan Pengantin Pilihan   Membuat rencana kembali

    Gibran mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kepalanya berdenyut hebat menahan beban pikiran dan rasa bersalah yang kian menghimpit dadanya. "Rio, segera pesan tiket. Kita terbang ke Singapura menyusul Ashana!" perintah Gibran tegas, mata merahnya menatap tajam ke arah sang sahabat.Rio mengangguk cepat dan berdiri hendak mengambil ponselnya dari saku. Namun, belum sempat membuka applikasi memesan tiket, ponsel Gibran yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah panggilan darurat masuk dari kepala proyek pembangunan villanya di luar kota dengan napas terengah dan kasar, Gibran mengangkat telepon tersebut."Pak Gibran! Mohon maaf mengganggu waktu Anda, tapi ini kondisi darurat!" suara di ujung telepon terdengar panik bercampur bisingnya suara alat berat. "Pondasi utama area timur vila roboh akibat tanah longsor! Ada pipa gas utama yang retak dan menolak inspeksi warga. Pihak kontraktor saling tuduh dan warga lokal mulai beralih anarki. Anda harus ada di lokasi sekarang, Pak, sebelum beri

  • Bukan Pengantin Pilihan   kecolongan

    Tanpa membuang waktu, Gibran dan Rio langsung berangkat menembus gelombang laut menuju pulau yang Ashana datangi. Harapan besar melubungi dada Gibran, membayangkan ia bisa melingkarkan tangannya di tubuh Ashana, memeluknya erat, dan memohon maaf atas kebodohannya. Namun, kenyataan di lapangan justru menghantam tanpa ampun.Di pulau berpasir putih itu, Villa tempat Ashana menginap sudah sepi. Gibran terus gelisah dan tidak tenang mencari keberadaan Ashana karena saat berada di pulau yang Rio beri tau ternyata dia tidak menemukan Ashana ataupun Dea."Permisi, apa ada tamu bernama Ashana dan Dea di sini?" tanya Gibran panik pada petugas front desk resor.Petugas itu mengecek daftar tamu sebentar lalu mengangguk. "Ada, Pak tapi mereka baru saja check-out dan naik speedboat menuju daratan sekitar dua jam yang lalu."Gibran meremas rambutnya frustrasi. "Dua jam yang lalu? Mereka akan pergi ke mana lagi?""Maaf, Pak, kami tidak tahu tujuan mereka selanjutnya," jawab petugas itu penuh penyesa

  • Bukan Pengantin Pilihan   Liburan dan linglung

    Malam itu, di ruangan kerja kantor megah milik Gibran. Pria itu berjalan mondar-mandir di atas karpet tebalnya, sambil memegangi kepala yang terasa ingin pecah. Ponsel di genggamannya terus-menerus memperdengarkan nada dering yang tidak aktif. Ashana benar-benar melenyapkan diri,sudah dua hari istrinya itu hilang bagai ditelan bumi."Masih belum ada kabar tentang Ashana?" suara Rio memecah kesunyian ruangan. Sahabat sekaligus asistennya itu berdiri di dekat pintu dengan wajah prihatin.Gibran membanting ponselnya kasar ke atas meja kaca. "Nihil, nomornya tidak aktif terus, akun media sosialnya juga tidak ada yang aktif bahkan nomor Dea sahabatnya juga tidak aktif ! Rio, tolong bantu aku. Cari keberadaan Ashana sampai ketemu, sekarang juga, pakai semua orangmu!"Rio menghela napas panjang, berjalan mendekat. "Kamu sudah coba ingat-ingat lagi? Cewek seusia Ashana tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan. Apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamu pergi dinas kemarin?"Pertanyaan Rio meng

  • Bukan Pengantin Pilihan   Hilang dan healing

    Sudah tak terhitung berapa kali Ashana memencet tombol daya ponselnya hanya untuk melihat layar ponsel karena diam-diam berharap ada satu pesan atau panggilan masuk dari Gibran. Namun, nihil suaminya itu tiba-tiba hilang tanpa jejak sejak kemari, tidak pulang ke rumah tanpa pesan apapun."Sebenarnya dia anggap aku apa sih? Masa hanya gara-gara kesalahpahaman begitu langsung tidak pulang rumah," gumam Ashana, melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan napas memburu. Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuat jantung Ashana melonjak. Namun, nama Dea yang malah muncul di layar, bukan Gibran."Halo, Cha?" suara Dea terdengar riang dari balik telepon. "Kamu lagi sibuk tidak? Mumpung akhir pekan, ikut aku liburan yuk! Aku dapat voucher penginapan di pulau terpencil daerah Kepulauan Seribu. Tenang saja, masih masuk wilayah Jakarta kok, tapi pantainya sepi banget. Cocok buat refreshing!"Ashana terdiam sejenak,pikirannya berputar cepat. Kebetulan sekali, Aliyah, baru saja keluar dari

  • Bukan Pengantin Pilihan   Menemukannya

    Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana

  • Bukan Pengantin Pilihan   Mencari seseorang

    "Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema

  • Bukan Pengantin Pilihan   Status baru

    Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se

  • Bukan Pengantin Pilihan   Pasutri baru

    2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status